Saturday, December 6, 2014

BPJS Bagi Pedagang Asongan

Pada tanggal 30 November 2014 malam , ada seorang teman yang mengirimkan pesan ke ponsel bahwa Ia sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening Saya dan minta tolong dibelikan sejumlah #NasiKotak pada kegiatan #SedekahNasi yang kami motori. Ia  juga menitipkan uang untuk dikirimkan kepada seorang Sahabat yg menderita lupus dan memang sedang sangat membutuhkan bantuan. 

Jadi pagi hari Tanggal 1 Desember, sepulang berenang, Saya membeli beberapa #NasiKotak dan langsung menuju terminal untuk membagikannya kepada para pedagang asongan dan pemulung yang beroperasi diseputaran terminal.

Saat sedang ngobrol sambil sarapan dengan mereka, didepan warung rokok, salah seorang Tukang Koran mendekati, 
"Bu, kalau Saya minjem 200 ribu, ngembaliinnya berapa perhari? Selama berapa hari?"
"Hah? Maksudnya, Bang" Saya merasa kaget mendapat pertanyaan tersebut
"Gini, Bu, Saya butuh uang buat berobat anak, jadi Saya mau ngutang ke Ibu 200 ribu. Terus Saya mesti ngembaliin berapa kalo dicicil tiap hari?"katanya.
"Yeee... Lu kata Ibu ini rentenir?" Protes temen-temennya.
Si Abang nampak malu.
"Emang buat apa, Bang, uangnya? Bener, buat berobat anak? Bohong dosa loh." Sahut Saya. Karena Saya sering banget mendengar keluhan mereka berhutang buat menutup hutang sebelumnya plus bunga.
"Bener, Bu, anak Saya sakit buang-buang air udah 3 hari. Udah dikasih obat diare masih ngocor aja." Si Abang berbicara dengan mimik sangat serius.
"Ya udah, Saya percaya saja. Nih, uang buat ke Puskesmas. Segini cukup”. Saya memberinya sejumlah uang untuk berobat anaknya.
“Abang-abang, pernah dengar BPJS,?” Tanya Saya kepada Para Pengasong tersebut.
“Pernah, lah, Bu. Saya kan jualan koran. Jadi sekali-kali ikutan baca” Kata salah seorang dari mereka yang pedagang koran keliling.
“Daftar aja, Bang, Gratis.” Hehehe, mulai deh Saya jadi penyuluh BPJS amatiran ,
“Ribet ah, Bu, ngurusnya. Belum lagi nanti pas sakit kita ditolak Rumah sakit”. Kata si Tukang Koran.”Tuh, ada beritanya di koran. Ada bayi yang sampai meninggal”
Mendengar keluhan-keluhan semacam itu, Saya pun mencoba menjelaskan sesuai pengetahuan Saya yang alakadarnya.  Toh, Saya bukan petugas BPJS beneran.

Contoh e-ID Kartu BPJS

”Begitu, Bang. Jadi ini program Pemerintah biar semua masyarakat yang sakit bisa berobat. Termasuk Abang-abang dan keluarga” Kata Saya “Begini aja deh, Bang. Abang-abang kan punya KTP? Nanti Saya daftarin BPJS secara online. Abis Ashar Saya balik lagi ke sini. Kartu BPJSnya entar Saya titipin di warung ini,. Saya kasih surat penjelasan juga bagaimanacara pakainya kartunya ya. Kalau bingung, Abang boleh  telepon Saya."

Dan, pagi itu Saya pun pulang dari terminal dengan membawa 4 KTP untuk Saya bantu mendaftar BPJS. Semoga hal kecil yang Kami lakukan bisa bermanfaat bagi masyarakat marjinal. Walau baru sangat sedikit yang tersentuh tangan kami.

1 komentar:

Arifah Abdul Majid said...

Kenyataannya, masih aja ada diskriminasi antara orang yang punya duit dan yang gak punya duit, dalam hal pelayanan di rumah sakit..

Post a Comment

 
;