Wednesday, December 31, 2014

Tidak Nyamannya Ziarah Ke Masjid Luar Batang

Kunjungan Kami ke Mesjid Luar Batang kemarin (30 Desember 2014) sebenarnya tidak direncanakan. Saat itu dari arah Muara Karang kami bermaksud menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa, namun karena situasi lalu lintas yang macet maka kami membelokkan mobil menuju ke Masjid ini.
Gerbang Masjid Luar Batang
Untuk menuju Masjid Luar Batang kita harus melewati sebuah jalan sempit (gang) sejauh kurang lebih 100 meter. Hari itu kondisi sebagian jalan tersebut sedang dicor, sehingga jalan berbatu-batu. Kira-kira 50 meter masuk gang, di depan kantor RW, setiap mobil yang bukan milik warga setempat akan ditarik retribusi sebesar Rp. 3000,-

Jalan sempit menuju Mesjid Luar Batang. 
Karcis bukti retribusi jalan yang ditarik oleh RW setempat.
Dari "pos retribusi" tersebut, kami harus berbelok ke kiri lalu berbelok ke kanan. Hanya berdasarkan feeling. Sama sekali tidak ada tanda petunjuk arah menuju masjid di dalam gang ini, selain Plang besar di depan Jalan Penjaringan. 
Begitu turun dari mobil di halaman parkir masjid, kami disambut oleh segerombolan ibu penjual bunga tabur kubur dan anak-anak pengemis. ‘Serbuan’ mereka terasa sangat menganggu karena mereka menjual bunga dengan cara memaksa –bahkan cenderung licik, karena bungkusan bunga tersebut dijejalkan ke tangan anak-anak balita, yang tentu terbengong-bengong saja menerima bunga tersebut. Saat anak memegang bungkusan bunga tersebut, maka sang penjual ‘menodong’ ke orang tua anak untuk membayar seharga Rp. 5000,- jika anda ngotot menolak membayar, maka siap-siap anda dikeroyok gerombolan penjual bunga tersebut dengan kata-kata kasar. Bahkan Saya mereka soraki karena kekeuh memulangkan bunga tabur tersebut.(Sebenarnya bukan masalah uang 5000 nya, tapi Saya ngga suka dengan cara mereka)  
Saat Kami melangkah masuk ke dalam lingkungan Masjid, Kami langsung dikerumuni oleh segerombolan pengemis anak. Mereka bukan hanya mengulurkan tangan meminta-minta, tapi juga memegangi dan mengguncang-guncang lengan Saya. "Buuu, sedekah, Bu". Kakak yang tidak tega melihat tampang memelas anak-anak itu, mengeluarkan uang Rp.5000 dari sakunya dan menyerahkan kepada salah seorang anak. Selesai memberi anak itu uang, dalam hitungan detik Kakak langsung dikelilingi anak-anak dan Ibu-ibu pengemis lain hingga Ia ketakutan.

Melihat Kakak dikerumuni orang, Suami segera mengajak kami keluar dari kawasan Masjid padahal kami belum sempat masuk ke dalam masjid. Maka foto-foto yang bisa Saya bagikan kali ini hanya gambar Masjid Luar Batang dari sisi luar masjid.
Teras Dalam Masjid yang Cukup Luas
Tempat Wudhu
Mesjid Luar Batang Pada Tahun 1920
Foto Koleksi Troppenmuseum

2 komentar:

Anonymous said...

Bner mbk..bgtulah..setiap hr nya disana. ..

Anonymous said...

Pernah saya ke atm bri d dlm sepulng kerja malam..parkir motor. .tdk ada yg memberi karcis. Retribusi...sebelum saya parkir..otomatis donk..saya kunci stang trs masuk ke lokasi untuk transaksi ..hanya 2 mnt kurang..begitu saya keluar ambil motor. Mau nyalaiin..saya d tagih uang parkir..sambil d kata2in kasar lg.. seandainya motor saya hilang saat saya sdng transaksi...apakah ad yg bertnggung jawab atas kehilangan saya..past mereka berdalih. Karcis nya mana??menurut saya d tertib kan saja area parkir. .bila perlu d gratiskan..

Post a Comment

 
;