Saturday, December 6, 2014

Tangan Ibu

gambar oleh healthyvitagarden
Kutatap tangan Ibu.
Tangan yang telah melemah  setelah kalah terserang stroke.
Tangan yang dulu berotot dan berwarna tembaga karena sering terpanggang Matahari. Yang selalu bergerak nyaris tiada henti mengerjakan berbagai hal  demi bisa mendapatkan rupiah-rupiah pembayar uang sekolahku. Sepasang tangan yang kuat, yang selalu bekerja keras agar bisa menghasilkan uang untuk membeli beras pengusir lapar anak-anaknya.

Sepasang tangan yang bergerak tak terhadang, meski sesungguhnya pemiliknya pada saat yang sama harus menahan deraan sakit di kepalanya. Rasa sakit itu dengan tangguh diabaikannya demi menjauhkan anak-anaknya dari perihnya lapar. Sepasang tangan itu tanpa putus asa berupya menuntun anak-anaknya menjauh dari jalur kemiskinan.

Sepasang tangan itulah yang memberi peluang bagi anak-anak Ibu untuk duduk dibangku sekolah, menyimak setiap pelajaran dan pengetahuan dari para Guru. Pengetahuan yang akan mengantarkanku pada arah hidup yang lebih baik. Arah hidup yang memberikan lebih banyak pilihan jalur kehidupan. Bukan jalur tanpa pilihan selain penderitaan dengan kemiskinan.

Tangan Ibu adalah tangan yang tak gentar menanggung berbagai resiko yang keras dan tanpa belas kasihan mendera hidup. Tangan yang kasar, melegam, tetapi penuh belas kasih menuntun dan berjuang untuk keluarganya.
Ibuku adalah seorang perempuan yang memiliki ketabahan tidak berkesudahan, ketangguhan yang tidak tergerus oleh penderitaan apapun dan kasih yang tak terbatas pada kami, anak-anaknya.

Apakah Ibu lain memiliki tangan yang serupa tangan Ibuku?
Mungkin.
Bukankah setiap Ibu selalu mempertaruhkan nyawanya setiap kali melahirkan anak-anaknya. Maka niscaya juga akan dipertaruhkannya kekuatan tangannya demi anak-anak yang terlahir itu.

Satu hal kuyakini, tangan Ibuku adalah tangan tersempurna seorang perempuan. Bagi anak-anaknya. Bagiku.

Maka suatu ketika nanti akan kujadikan tanganku serupa tangan Ibu. Tanganku akan membuka jalan bagi anak-anakku, saudaraku, kerabatku dan siapapun yang teraih olehku untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan menjalani takdir hidup yang tanpa pilihan.

Tanganku, suatu hari nanti akan memiliki kekuatan ketangguhan serupa tangan Ibuku. Tangan yang berjuang dengan segala daya. Aku tidak akan menjadikan hidupku sia-sia. Aku akan menjadi seseorang yang tidak biasa.

Aku tidak akan menyerah dan gentar menghadapi hidup. Sungguh tidak.

Tangan Ibu telah membantuku mengukir keteguhan dalam perjalanan hidupku.
Tanpa tangan Ibu, aku tak akan ada. Tanpa tuntunan tangan Ibuku entah akan berada di mana aku hari ini. Ibu yang menjadikan ini semua untukku dan memperkenan aku, putrinya, untuk tumbuh dewasa menjadi diriku sendiri.

Aku akan menjadi seseorang yang berarti, sebagai penebus lelahnya tangan Ibuku.

--------
Fiksi:


1 komentar:

Anna Farida said...

Tangan Ibu, tangan yang kurindu, hingga akhir waktu :-)

Post a Comment

 
;