Wednesday, December 31, 2014

Telat Mandi

Setiap hari Saya selalu mandi pagi. Sudah pasti, bahkan jika pun Saya tengah sakit. Saya tidak betah jika tidak mandi. 
Terkadang Saya mandi pagi masih di tengah malam, terutama jika Saya mengejar jadwal penerbangan sangat pagi. Terkadang di jam-jam normal, antara sebelum adzan Subuh hingga sebelum matahari bersinar terik. Tapi sesekali, eh, duduakali, eh, titigakali, ah, banyak kali ternyata, Saya mandi pagi bukan di waktu pagi hari.

Seperti halnya hari ini.
Hari ini Saya ingin berambisi menulis 20 artikel dalam satu hari. Keinginan ini semata-mata untuk sedikit melebihi“prestasi” menulis sebanyak 334 artikel di tahun 2013 pada tiga buah blog yang berbeda. Pada saat menulis artikel ini, Saya masih memiliki hutang 13 artikel lagi, karena Saya telah menulis 7 artikel sebelumnya. Ambisi ini membuat Saya terpaku di depan komputer sejak ba’da shalat Dhuha, shalat Dzuhur Saya hanya berwudhu, karena sudah kegerahan, saat azan Ashar bergema Saya baru mandi pagi.
 “Ih, jorok!” protes  si Sulung

Loh, Saya jelas tersinggung.
Karena meskipun belum mandi, dalam arti menyabuni seluruh tubuh dan berkeramas, lalu menyiram dengan bergalon air, tapi  Saya telah mencuci muka, sikat gigi, berkali-kali berwudhu karena batal telah berkali-kali pula. Saya juga telah mengganti seragam baju tidur sekseh (karena lebih banyak ventilasi) dengan gamis batik andalan (Dulu Ibu saya menyebutnya dengan daster). Dan yang terpenting adalah Saya tidak bau kasur lepek. Dibuktikan bolak-balik Suami rela duduk mepet  dan si Bungsu nempel lagi-nempel lagi.

Sungguh, telat mandi pagi itu tak ada hubungannya dengan kejorokan, melainkan gambaran  yang sedang menegaskan kemerdekaan Saya sebagai pribadi yang sedang tidak ditekan keadaan yang mengharuskan segera mandi pagi. 

Harap dicatat, telat mandi pagi itu bukannya TIDAK mandi, melainkan hanya sekedar jadwal mandi yang tertunda.

0 komentar:

Post a Comment

 
;