Friday, December 5, 2014

Wacana Pengurangan Jam Kerja Ibu Pekerja Jadi 6 Jam

Wakil Presiden Jusuf  Kalla melontarkan wacana pengurangan jam kerja menjadi 6 jam , bagi pekerja perempuan yang memiliki anak berusia balita. Dari pengurangan jam kerja itu, Pak JK menginginkan agar kaum ibu bisa menjaga dan mengajari anaknya dengan baik pada masa-masa rentan. Ia tak mau kesibukan para ibu sampai melupakan hak anak, yang merupakan calon penerus masa depan bangsa ini.

"Supaya bangsa ini ke depan tetap punya masa depan, merasa cinta terhadap keluarga dan sebagainya. Jangan sampai anak dilupakan," tutur Pak JK.

Sebagai Ibu dengan 4 anak, Saya sangat paham bagaimana beratnya meninggalkan balita di rumah. Tapi, disisi lain sebagai entrepreneur Saya juga harus berhitung kembali soal 'product cost' jika peraturan ini diterapkan.

Dengan berkurangnya jam bekerja tentu akan berkurang produktifitas yang dihasilkan. Misalnya pekerja perempuan yang bekerja di bagian produksi, jumlah produk yang dihasilkan dari 8 jam kerja tentu berbeda dengan jumlah yg dihasilkan saat bekerja selama 6 jam.

Yang jadi pertimbangan berikutnya adalah UMD - Upah Minimum Daerah. Apakah UMD untuk pekerja dengan jam bekerja 8 jam dibanding dengan yang bekerja 6 jam akan disamakan? Bagaimana jika dibedakan? Apakah akan didemo?

Belum lagi hitungan insentif produktivitas,  yang di perusahaan kami biasanya dihitung berdasarkan produktivitas kelompok kerja. Insentif yang dihasilkan suatu kelompok dibagi rata sejumlah banyaknya pekerja dalam kelompok tersebut. Dengan adanya kesenjangan jam kerja maka kami harus mencari lagi formulasi pembagian yang adil bagi para pekerja.

Hal lain, Saya memperkirakan akan menimbulkan kecemburuan dalam kelompok kerja. Karena ada anggota kelompok yang bekerja 8 jam dan ada yang bekerja 6 jam. Disisi lain Saya tidak mungkin menerapkan 1 kelompok kerja isinya semua perempuan dengan 6 jam kerja semua.  karena bakalan ada alur produksi yg mandeg saat jam-jam kosong operator.
-----
Selama ini, agar jam "perpisahan" ibu-anak tidak terlalu panjang, kami memilih pegawai dari ibu-ibu yang bertempat tinggal di sekitar tempat produksi. Sehingga dengan perjalanan maksimal 30 menit dari rumah, mereka sudah bisa tiba di pabrik. Kami juga mengizinkan anak mereka bebas datang kapan saja ke "pabrik" untuk menjenguk ibunya selama tidak mengganggu pekerjaan ibunya, (biasanya sih minta uang jajan). Dan mulai beberapa pekan belakangan ini, untuk anak-anak karyawan kami buatkan kelompok bermain dan TPA setiap ba'da ashar di ruang kosong  di samping ‘pabrik’.
---
Saat tulisan ini Saya buat. Saya belum mendapat ide untuk menyiasati berkurangnya produktivitas jika "peraturan 6 jam kerja" tersebut jadi diterapkan dan harus kami patuhi. 

0 komentar:

Post a Comment

 
;