Friday, January 30, 2015 1 komentar

Dua Hati (Bagian II)


Atikah

Jam besar di ruang tengah berdentang sebanyak tujuh kali. Berarti masih pukul 07.00 pagi. Dan sepagi ini seluruh pekerjaan rumah tangga telah selesai kukerjakan.
Aku telah selesai membersihkan seluruh perabot dan seluruh jendela, menyapu dan mengepel lantai, merapikan halaman yang luasnya nyaris 300 meter, sarapan bahkan aku telah selesai memasak untuk bekal makan siangku nanti.
Sendirian.
Lagi.

Aku telah menikah dengan Kang Harso selama dua tahun. Namun selama itu belum pernah sekalipun kami makan berdua di rumah. Entah itu saat sarapan, makan siang atau makan malam. Kami  makan bersama hanya saat di pesta undangan. Atau ketika sesekali Ia mengajakku pelesir.

Tapi, Aku tidak bisa protes atau mengeluhkan hal ini, karena Aku sudah paham kondisi yang akan kuhadapi saat memutuskan menerima lamarannya

Kini Aku mulai merasa berat menjalani pernikahan ini. Ada penyesalan yang tidak bisa kuingkari. 
Kian hari rasa itu kian menggerogoti hatiku.

Dan penyesalanku makin terasa berat karena Aku tidak bisa berkeluh kesah kepada siapapun. Kedua orang tuaku  sejak awal menentang pernikahan kami. Sahabatku pun sejak hari ijab kabul itu, tidak sudi lagi menyapaku.

Memang terlalu besar pertaruhanku untuk pernikahan ini. Kini kurasakan kebenaran nasehat-nasehat yang dulu didengungkan oleh Ibu atau Ninih. Dan Sekarang pun kusesali telah mengabaikan permohonan sahabatku untuk menolak pinangan Kang Harso.

Ya.
Aku menjadi buta, dulu.
Aku dibutakan oleh hasrat dan rasa putus-asa.
Sehingga segala cara kulakukan agar Aku terbebas dari predikat yang memalukan : seorang perawan tua.   

Bersambung,...
-------
Fiksi lainnya:

Sunday, January 25, 2015 4 komentar

Dua Hati

Atikah

Gema adzan subuh selalu menjadi alarm yang efektif bagiku. Kubuka mata dan langsung tertatap bantal di sebelahku.
Kosong.
Seperti biasanya.
Karena pemiliknya pasti sudah bangun dan keluar rumah setengah jam sebelumnya.
Kurapikan seprai dan kulipat selimut. Kemudian Aku menuju dapur untuk menjerang air.
Sedikit saja.
Karena hanya segelas teh panas yang harus kubuat.
Untuk diriku sendiri.
Setelah menjerang air dan membuat segelas teh panas, aku menuju kamar mandi. Aku selalu mandi di waktu subuh, baik pada saat musim kemarau maupun musim penghujan seperti saat ini. Tak peduli setiap mandi subuh tubuhku pasti akan menggigil. 
Aku terima. 
Karena gigil ini selalu menjadi mengingatku, inilah salah satu konsekwensi yang harus kutanggung seumur hidup akibat mau dinikahi Kang Harso.

Sulastri

Sayup-sayup kudengar adzan Subuh dari mushalla. Kurapalkan do’a-do’a. Aku bersyukur karena telah diidzinkan Sang Maha Kuasa melewatkan satu hari lagi, kemarin.
Kutatap bantal disebelahku.
Ah, mestinya tidak kulakukan.
Karena Aku tahu, sudah dua tahun ini Aku selalu tidur sendiri.

Sesaat kemudian, pintu kamarku dibuka oleh seseorang.
Aku tersenyum.
Aku telah tahu sosok siapa yang sebentar lagi akan muncul di kamar ini.
Dan, benar saja, kini Ia masuk dan berjalan menghampiriku.

“Mama sudah bangun?” Sapanya. Aku mengangguk.
Seperti biasa Ia akan mencium keningku.
Begitupun subuh ini.

“Mama mau langsung mandi?” Tanyanya.
Meskipun Ia berbicara dengan nada bertanya, tapi sesungguhnya Ia memerintah.
Tak ada pilihan bagiku.
Karena Ia harus segera bergegas ke tempat kerjanya di Kota.

Aku segera bangkit dan duduk di tempat tidurku.  Aku akan meraih lengannya agar Ia bisa mengangkat tubuhku dan menggendongku menuju kamar mandi.

Aku selalu suka saat-saat begini.
Mengingatkanku pada masa Aku sebagai pengantin baru. 
Dulu sekali, beberapa dekade lalu, ketika Aku dan Suamiku baru menempati rumah ini berdua saja, setiap subuh Suamiku akan menggendongku ke kamar mandi dan Kami akan mandi bersama.
Air mandi yang berasal dari sumur di samping rumah, kadangkala membuat Kami menggigil kedinginan. Terutama di bulan-bulan musim penghujan.

“Terima saja. Inilah salah satu konsekwensi yang harus kita tanggung karena kita menikah” Bisik Suamiku.

Saturday, January 24, 2015 0 komentar

My All

Jarum jam tanganku menunjukkan pukul 06.10, masih ada waktu 30 menit lagi untuk boarding. Aku pun mematikan laptop lalu mengemas tas ranselku. Bersiap meninggalkan kenyamanan lounge ini.
Tiba-tiba kudengar sebuah suara bariton, “Permisi, Mbak, Saya boleh memakai stop kontak itu?”
“Silakan”  Aku mengulurkan sebuah kabel berikut sederet stop kontak yang menempel di kabel tersebut. Tanpa sengaja kami bertatapan.
Edo!” Pekikku pelan.
“Wow. Niken” Pria itu pun tidak kalah terkejutnya denganku
“Apa kabar?” Ia mengulurkan tangan dan kami pun berjabatan “Aku nyaris tidak mengenalimu”
“Kabar baik” Kutarik cepat telapak tanganku.
Aduh, kenapa tiba-tiba jantungku berdebar cepat begini?
“Maaf, Ed, Sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu, tapi sayang sekali aku harus segera boarding. Pesawatku berangkat setengah jam lagi”
“Oh. Tujuanmu kemana?” Tanyanya
Balikpapan”  
“Loh, tujuanku juga ke Balikpapan, tapi pesawatku pukul 08.50 nanti.”  
Lalu Edo mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya.”Ini kartu namaku. Ada nomor ponselku di situ."
Secara otomatis karena mengikuti kebiasaan, aku pun membuka dompet dan menyerahkan kartu namaku kepadanya.
“Ok. Aku akan mengontakmu nanti malam, ya." Katanya setelah membaca sekilas kartu nama yang kuulurkan "Mungkin kita bisa makan malam sambil bertukar kabar”.Katanya 
“Entahlah, Ed. Jadwalku sengaja kubuat padat di sana. Aku harus presentasi dan meeting dengan beberapa klien.  Mungkin aku akan kembali ke hotel agak larut malam”.
Ok, then. Telepon aku jika jadwalmu sudah longgar.”  
Kami berjabat tangan kembali. 
“Aku merasa, ini bukan jabat tangan perpisahan, Ken” Bisiknya.
Aku hanya tersenyum. 
Ah, jujur kurasakan kini langkahku terasa berat saat keluar dari lounge menuju ruang tunggu untuk boarding. Belasan tahun kami terpisah, tentu banyak sekali cerita yang ingin kudengar darinya.

Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Sepinggan. Tepat waktu. Sekarang hampir pukul sepuluh pagi waktu Balikpapan. Masih ada waktu untuk check-in  dan menaruh koporku di hotel, sebelum menuju kantor klien untuk memenuhi janji presentasi setelah jam istirahat siang nanti.
Tink!
Ponselku berbunyi, tanda ada sebuah pesan masuk.
Dari Edo.  
Nginep di mana, Ken?”
“Swiss-Bell” Jawabku singkat.

Sesuai rencana, dari Bandara aku menuju hotel untuk check-in lalu menuju kantor klien untuk presentasi. Setelah itu diikuti beberapa meeting dengan klien yang berbeda.
Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa jarum jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam saat aku membuka pintu kamar.
“Kring!” Telepon kamar hotel berbunyi saat aku baru selesai melepaskan sepatu.
“Hallo. Selamat Malam” Jawabku.
Tapi tidak ada suara dari seberang sana.
“Tok tok tok” Kini giliran pintu kamarku diketuk. Kuintip melalui lubang intai di pintu.
Oh! Edo!
“Selamat malam, Niken. Baru sampai, ya.” Katanya saat aku membuka pintu.
“Tampak jelas’kan? Aku masih memakai pakaian resmi begini. Tidak mungkin aku akan tidur dengan blazer dan rok seperti ini”
Ia tertawa. Tapi pandangannya  ke dalam kamarku seperti sedang memindai.  
“Bagaimana kamu bisa naik ke sini, Ed? Bukankan harus ada kartu pintu kamar?” Tanyaku heran.
Ia mengacungkan sebuah kartu magnetik untuk membuka pintu kamar. “Malam ini aku stay di kamar sebelah” Tunjuknya ke kamar sebelah kiri kamarku. 
“Barusan aku mendengar kau membuka pintu. Lalu kutelepon untuk memastikan bahwa  benar kau yang datang. “ Katanya “Boleh Aku masuk?”
Aku berpikir cepat. 
Tidak etis rasanya memasukkan lelaki ke dalam kamar.
“Kita mengobrol di lobby aja, yuk” Jawabku ”Sebentar, Aku pakai sandal dulu.”
Tapi Edo mengikutiku masuk ke dalam kamar.
“Di sini saja, Ken. Di lobby banyak orang lalu-lalang. Kita tidak bisa bebas mengobrol.”
Meeting terakhirku tadi dengan salah satu klien, dilakukan lobby. Tidak ada orang yang mengganggu, tuh” Sanggahku.
“Kalau cuma ngobrolin bisnis, sih, ngga apa-apa di lobby, Ken. Tapi kan pembicaraan kita lebih dari soal bisnis. Kita akan bicara tentang hati.” Katanya.
”Maksudmu?”
”Kau tentu paham, Ken. Kita bukan hanya sekedar teman. Setidaknya dulu. Jujur saja diam-diam aku sering merindukanmu. Tapi, aku tidak tahu kemana harus menghubungimu. Kita nampaknya sama-sama menghilang.” Ia berusaha menggenggam tanganku, dengan cepat segera kutepiskan.
”Aku bersyukur kita bertemu tadi pagi. Tidak ada yang kebetulan kan? Aku berharap pertemuan tadi pagi bisa berlanjut ke pertemuan berikutnya” Katanya.
“Ya, tentu aku juga berharap silaturahmi kita yang sempat terputus ini bisa tersambung kembali. Bagaimanapun aku pernah mengenalmu dengan baik” Jawabku.
“Yuk, Kita lanjutin obrolannya di lobby saja.” Ajakku lagi sambil bersiap keluar dari kamar. Tapi, Edo tiba-tiba menarik tanganku.
“Di sini, aja, Ken. Di lobby Aku tidak bisa bebas menciummu, nanti”.
Edo!”
Come on, Niken. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku tahu kau sudah menikah. Aku pun juga sudah menikah. Tapi tidak ada salahnya kan jika sesekali kita bersenang-senang. Apalagi aku bukan orang asing bagimu”. 
“Maksudmu, kau mengajakku agar terlibat affair denganmu, begitu?”
“Terserah dengan apapun istilahmu, Ken. Yang jelas, aku berharap kita bisa jadi sepasang kekasih kembali. Karena aku memang masih mencintaimu.”
Aduh!
Lelaki ini adalah kekasih pertamaku, saat kami masih remaja dulu. Kami berpisah karena ia mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jerman.
Jujur saja, di tahun-tahun awal setelah perpisahanan kami, kadang kala aku memimpikannya. Kadang kala aku merindukannya. Tapi kemudian aku bisa melupakannya. Terutama setelah kehadiran lelaki lain dalam hidupku. Yang kini menjadi suami dan ayah anak-anakku.
Edo, Bukankah kau tahu aku sudah menikah?.”Tanyaku
“Ya. Aku mendengarnya saat aku masih di Jerman.” Katanya
“Dan kau pun sudah menikah dengan gadis Jerman.”
”Tapi, Aku masih menyimpan cinta untukmu, Ken. Aku yakin kau pun masih mencintaiku.”
“Tidak lagi” Gelengku. “Aku tidak melupakanmu, memang. Tapi bagiku cerita kita sudah berakhir sejak 15 tahun lalu.”
“Selain itu, apakah kau pikir aku bersedia mencampakkan jabatan terhormatku sebagai seorang istri dan menggantikan dengan predikat sebagai perempuan selingkuhanmu? Tidak akan Ed. Tidak akan” Tegasku.
“Jadi, kau menolakku, Ken?” Ia terlihat sedih.
Tapi aku tidak bisa mengasihaninya.
“Ya, Ed. Kita akan terus berteman. Hanya berteman. Sama seperti hubungan aku dengan Jiwo, Danang, Eka, Tanti dan teman-teman sekolah kita dulu.”Jawabku.
“Baiklah. Aku sebenarnya sedih dengan keputusanmu” Katanya.
"Tidak perlu, Ed. Karena memang seharusnya aku, juga kau, tidak mudah tergoda. Meskipun kita sedang jauh dari pasangan kita masing-masing saat ini."Kataku. 
Ia hanya terdiam.
Oke, lah. Kalau begitu, sampai bertemu saat sarapan besok di restoran di bawah.”Katanya.
Aku mengangguk.
Ia pun segera berlalu, masuk ke dalam kamar di sebelah kiri kamarku.
“Selamat malam, Edo.”Bisikku, sambil menutup pintu kamarku.

Diinspirasikan dari lagu "My All"


Friday, January 23, 2015 0 komentar

Jangan Pelit

Ada orang yang enggan membagi makanan.
Saya pernah mendengar sebuah cerita, dua keluarga yang saling bertetangga bermusuhan hanya karena anak-anak balita mereka bertengkar. Suatu hari Tetangga A  mendapat oleh-oleh buah-buahan dari kampung halamannya dalam jumlah sangat banyak. Alih-alih membagi kepada tetangga terdekatnya, Tetangga A malah berujar “Daripada dibagi ke situ, lebih baik dibiarkan busuk aja buah-buahan ini.”

Ada orang yang enggan berbagi pakai sebuah benda.
Saya juga pernah mendapati teman anak Saya yang tidak bersedia meminjamkan pensil kepada si Kakak meski Ia memiliki pensil lebih dari satu, “Jangan, ah, nanti Kamu hilangkan.”. Padahal belum tentu juga nanti akan hilang pensil tersebut.

Dan anehnya , ada orang yang royal berbagi makanan tapi sangat “susah” mengeluarkan uang bahkan untuk sesuatu kebutuhan yang dipakainya sendiri. Contohnya, salah satu teman kerja Saya dulu hampir setiap hari membawa kudapan dari rumah, dan Ia senang menawari teman-teman yang duduk dekat cubiclenya. Tetapi untuk perjalanan dari rumahnya ke kantor, Ia selalu berusaha cari tebengan, namun sayangnya jarang mau berbagi uang pembeli bensin.

Orang-orang dengan kelakuan seperti ini sering disebut sebagai orang pelit
Menurut KBBI : pe.lit a kikir; lokek: orang -- tidak suka memberi sedekah;
Padahal Pak Ustadz guru mengaji Saya mengatakan banyak sekali manfaat bersedekah diantara menolak marabahaya. 

Dan sedekah tidak selalu dalam bentuk pemberian uang.
Bayangkan jika berada dalam kondisi sebagai berikut : Saat kau perlu menuliskan sebaris nomor telepon, tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan pulpen dan kertas. Senang, bukan? 
Saya yang sering traveling tentu akan bergembira ketika sedang mengemas barang bawaan, tiba-tiba ada yang menawarkan tali pengikat agar Saya bisa mengikat barang dengan lebih rapi. 
Saya pun akan berterima kasih jika ada teman yang berbagi permen sementara menunggu pesanan makanan datang. Lumayan untuk pengganjal lapar.

Pulpen, kertas, tali dan permen yang diulurkan tersebut memiliki makna silaturahmi.
Kasih sayang.
Kepedulian.

Lalu, apa yang akan didapat sebagai imbalan bagi orang yang tidak pelit? Kalau dari cerita-cerita yang pernah Saya dengar, orang-orang dermawan akan mendapat banyak saudara dan rejeki yang tidak disangka datangnya.

Jadi, jika ingin banyak saudara dan hidup yang berkah, jangan jadi orang pelit, ya.
Thursday, January 22, 2015 2 komentar

Cerita Rebutan Bangku di Kereta Api

Ini kisah perjalanan saat Saya ber #LoneTraveler

Biasanya saat beli tiket kereta, Saya agak cerewet memilih posisi bangku. Kepada Petugas loket karcis, Saya selalu meminta tempat duduk yang dekat jendela, malah kalau bisa tidak ada penumpang di samping, jadi diperjalanan nanti Saya bisa tidur berbaring. Hehe. Tapi rupanya di awal pekan ketiga Januari 2015 ini, penumpang kereta api cukup penuh.

Saya berangkat dari Stasiun Gumilir. Sebuah stasiun kecil setelah stasiun Cilacap. Saat naik ternyata bangku Saya sudah diduduki sepasang suami-istri. Sedangkan di kursi seberang (dekat jendela juga ) sudah duduk seorang lelaki.
Kepada suami-isteri tersebut Saya protes dambil menunjukkan nomor kursi yang tertera di tiket KA "Yang dekat jendela kursi yang Saya pesan, Bu"
"Tukeran ,ya, Mbak. Mbak pindah ke kursi sebelah Bapak itu." kata si Ibu.
"Saya ngga mau, Bu. Saya mau duduk dekat jendela. Saya beli tiket dari pagi supaya bisa memilih tempat duduk" Kata Saya.
"Atau Mbak tukeran aja dengan Mas itu" Kata si Bapak menunjuk lelaki yang duduk di bangku seberang 
"Saya ngga berurusan dengan Mas itu, Pak. Saya mau minta kursi Saya yang diduduki si Ibu"
"Wis, Pak, nek wonge ngga gelem. Aku pindah wae" Si Ibu pun pindah duduk di samping lelaki di seberang. Si Bapak duduk di sebelah Saya. 
Saya pun kemudian menaruh ransel dan duduk manis bersenderan ke jendela,  memejamkan mata mencoba tidur (saat itu sekitar pukul 19)
Tapi,rupanya si Ibu masih ngga legowo juga setelah mengembalikan kursi Saya.
Dia menyindir- nyindir terus: betapa jaman sudah berubah, orang ngga toleran lagi, soal kursi aja diributin seperti pejabat. Bagaimana nanti kalau jadi pejabat beneran? blablabla.
3 hari kurang tidur rupanya membuat ambang batas emosi saya anjlok.Saya pun menegur si Ibu.   "Ibu ngga usah menyindir-nyindir begitu! Saya tahu maksud Ibu. Seharusnya Ibu yang malu menuntut kursi yang bukan hak Ibu. Kita memang membayar dengan harga yang sama. Tapi supaya bisa dapat duduk di bangku ini, Saya harus meluangkan waktu ekstra datang ke stasiun lebih pagi. Waktu Saya ada nilainya. Ada harganya. Jadi Saya ada upaya lebih untuk mendapat kursi ini  Ibu menyindir-nyindir saya kayak pejabat yang ngga mau kehilangan kursi. Lah, Ibu sendiri koq memaksa mengambil jatah kursi orang lain?"
Si suami menengahi: “Sudah. Sudah. Maaf ,Mbak. Malu ribut-ribut”.
Saya: Saya tidak malu mempertahankan hak Saya, Pak. Tapi, kalau Saya mau mengambil hak orang lain, yah baru lah Saya malu"

Dan sepanjang jalan malam itu si Suami duduk memunggungi Saya.


Bodo amat. Pegel lu yang rasain sendiri!
----
Jika orang baik itu digambarkan sebagai orang yang selalu mau mengalah, maka , kali ini Saya bukan orang baik.
Thursday, January 8, 2015 2 komentar

Bagaimana Mendapatkan Visa Mesir

Warga negara asing yang akan memasuki Mesir harus memiliki passport yang sah dan mendapatkan visa entry dari Misi Diplomatik dan Konsuler Luar Negeri Mesir atau dari bagian  visa di Travel Document and Immigration (TDINA) Mesir. Selain itu, bagi warga negara tertentu visa Mesir bisa didapatkan dari salah satu pelabuhan  atau bandara kedatangan di Mesir (Visa on Arrival). 
Warga negara asing yang memasuki Mesir dari pos perbatasan darat Mesir di daerah Taba (Mayoritas warga Israel) dengan tujuan untuk berkunjung ke pantai Teluk Aqaba dan St.Catherine tidak harus memperoleh visa Mesir, namun hanya akan diberikan izin tinggal selama 14 hari.
Warga Negara Indonesia diharuskan mendapatkan visa terlebih dahulu sebelum berkunjung ke Mesir. Visa tersebut dapat diperoleh melalui Kedutaan Besar Mesir di Jakarta atau melalui agen travel Mesir untuk diurus di kantor Imigrasi di Cairo. Adapaun biaya yang dibutuhkan adalah sekitar USD 25,- untuk mendapatkan single entry yang di dapatkan dari Kedutaan Besar Mesir di Jakarta  Sedangkan untuk multiple entry yang dikeluarkan melalui Kedubes Mesir di Jakarta memerlukan biaya USD 35,-

Mesir memiliki tiga jenis visa, yaitu:
Visa wisata : rata-rata memiliki masa berlaku yang tidak lebih dari tiga bulan dan diberikan kepada pemohon yang telah memiliki visa entry baik single entry maupun multiple entry.
Visa Entry : dibutuhkan untuk setiapwarga asing yang tiba di Mesir selain untuk tujuan wisata, seperti bekerja, belajar dll. Memperoleh visa entry yang sah adalah syarat untuk mengurus izin tinggal selanjutnya di Mesir
Visa transit.
 
Pembebasan dari Bea Visa
 
Beberapa golongan WNA mendapatkan bebas bea untuk memperoleh visa Mesir, antara lain pemegang passport diplomatik,pejabat organisasi internasional, badan khusus dan delegasi negara yang akan mengikuti konferensi di Mesir. Pelajar asing yang belajar pada institusi pendidikan Mesir serta beberapa warga negara seperti Jerman, Norwegia, Rusia dan USA.
 
Pembebasan dari Visa
Beberapa warga negara asing dapat masuk Mesir tanpa visa, seperti Bahrain, Jordania, Kuwait, Libya, Oman, Saudi Arabia, Syria dan Persatuan Emirat Arab. Serta pemegang passport diplomatik beberapa negara seperti 
 
Cara Mendapatkan Visa Mesir
Isilah Formulir Visa
Bayar biaya sesuai dengan jenis visa yang diinginkan
Prosedur pengurusan Visa lebih kurang 15 hari kerja.
 
Dokumen Pendukung yang dibutuhkan:  
Passport dengan masa berlaku 6 bulan ke depan
2 buah pas foto dengan latar putih
Foto copy kartu identitas (KTP)
Mengisi form permohonan visa            

Pembebasan dari Visa
Beberapa warga negara asing dapat masuk Mesir tanpa visa, seperti Bahrain, Jordania, Kuwait, Libya, Oman, Saudi Arabia, Syria dan Persatuan Emirat Arab. Serta pemegang passport diplomatik beberapa negara

Cara Mendapatkan Visa Mesir
Isilah Formulir Visa
Bayar biaya sesuai dengan jenis visa yang diinginkan
Prosedur pengurusan Visa lebih kurang 15 hari kerja.

Dokumen Pendukung yang dibutuhkan:  
Passport dengan masa berlaku 6 bulan ke depan
2 buah pas foto dengan latar putih
Foto copy kartu identitas (KTP)
Mengisi form permohonan visa            
                
  
Rinny ERmiyanti di Cairo
Di Depan Great Piramide

Sumber : 
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Arab Republic of Egypt Ministry of Foreign Affairs
                             

Sunday, January 4, 2015 0 komentar

Es Pisang Hijau Ala Saya

Tahu Es Pisang Hijau kan?
Meskipun kuliner satu ini merupakan makanan khas dari Makassar, tapi kelezatannya sudah mengindonesia. Maksudnya terkenal ke seluruh Indonesia, begitu.
Rasa manis-guris Es Pisang Hijau bisa diterima lidah masyarakat Indonesia, terbukti gerai penganan ini banyak terdapat di foodcourt mall- mall di berbagai kota besar di Indonesia. Bahkan sudah ada beberapa perusahaan sebagai franchisor produk ini.
Bagi Saya dan keluarga, makanan yang terdiri dari pisang kukus yang disalut tepung beras diberi pewarna hijau, bersauskan bubur sumsum dan diberi susu kental dan sirup merah (biasanya sirup cocopandan atau Tjampolai) sebagai pemanis, taburan meises, serta –tentu saja- es serut ini, merupakan salah satu kuliner favorit. Bila ada penjual Es Pisang Hijau dalam jangkauan pandangan mata Saya saat berada di sebuah lokasi , misalnya di mall, maka Saya akan memilih mendatangi gerai tersebut dibanding gerai makanan lain.
Es Pisang Hijau itu : Endes Gandes, pokoke!

Resep Es Pisang Hijau Ala Saya : 

A. Bagian Pisang Hijau
  1. Kukus setengah matang pisang raja atau pisang tanduk.
  2. Buat adonan dari tepung beras, air, air perasan daun suji, beberapa tetes pewarna hijau,  diaduk hingga seluruh tepung beras larut.
  3. Masak hingga mendidih. Dinginkan. Tambahkan tepung beras lagi lalu diaduk-aduk hingga kalis dan bisa digiling atau dipipihkan.
  4. Balutlah pisang raja yang telah dikukus setengah matang, dengan adonan tepung beras diatas.
  5. Kukus kembali pisang raja yang telah dibalut, hingga lapisan tepung beras tersebut matang.

B. Bagian Bubur Sumsum

  1. Larutkan 250 gram tepung beras ke dalam 500 ml air
  2. Tambahkan 150 ml santan kental
  3. Garam secukupnya
  4. Beberapa lembar daun pandan sebagai pewangi.
  5. Dimasak sambil diaduk hingga mengental dan menjadi bubur sumsum

C. Cara Menghidangkannya.
  1. Taruh bubur sumsum secukupnya ke dalam sebuah mangkuk
  2. Irislah sebuah pisang hijau menjadi beberapa bagian. Taruh di atas bubur sumsum
  3. Siram dengan sirup Tjampolay
  4. Beri susu kental manis secukupnya.
  5. Tambahkan taburan meisis
  6. Beri serutan es batu.
  7. Es Pisang Hijau siap dinikmati.


0 komentar

Membaca Laporan Laba-Rugi

Bagian VII  : Bacalah Keseluruhan Laporan Laba- Rugi

Laporan Laba-rugi mengandung kesimpulan mengenai pendapatan bersih, yang merupakan jumlah pendapatan yang tersisa setelah dikurangi semua pengeluaran dan biaya. 
Laporan laba-rugi menunjukkan pendapatan dan biaya yang terjadi selama periode waktu tertentu, biasanya satu bulan, satu caturwulan atau satu tahun. Laporan ini juga menyediakan perhitungan pendapatan kotor dan pendapatan bersih, yang kemudian berujung pada perhitungan laba kotor dan laba bersih.
Laba Kotor adalah penjualan  atau pendapatan penjualan dikurangi harga pokok penjualan (HPP). Harga Pokok Penjualan mencakup inventaris, biaya tenaga kerja untuk memproduksi barang dan biaya-biaya lain yang berhubungan dengan produksi barang.
Laba Bersih adalah pendapatan penjualan dikurangi semua pengeluaran dan biaya. Laba bersih biasanya dicantumkan sebelum dan sesudah pengaruh pajak penghasilan. Laba bersih perlembar saham juga dicantumkan.
Sambil membaca laporan Laba rugi perusahaan, perhatikan hal-hal berikut:
Angka laba -rugi tahun sebelumnya yang biasanya dicantum disebelah angka tahun laporan.
Rugi kotor atau rugi bersih atau bukan laba. Riset lebih jauh perlu dilakukan untuk mencaritahu penyebabnya.  


0 komentar

Bacalah Neraca Dengan Cermat

Bagian VI : Pelajari Neraca Dengan Cermat.

Saat anda membaca neraca keuangan, anda harus mempelajari dengan cermat laporan tersebut . Karena meskipun laporan neraca merupakan sebuah persamaan sederhana, yaitu : Aktiva = Pasiva + Modal Pemilik/ Pemegang Saham., namun Neraca merupakan penggambaran kekuatan keuangan perusahaan di akhir periode akuntansi. Apabila salah satu sisi dari persamaan diatas meningkat, maka sisi seberangnya semesti meningkat pula. Begitupun sebaliknya.
Aktiva yang ditampilkan dalam neraca dibagi atas Aktiva lancar dan Aktiva tetap. Aktiva lancar adalah uang kas atau barang-barang berharga lainnya yang diharapkan dapat diubah menjadi uang kas dalam waktu satu tahun.Tipikal aktival lancar adalah kas, piutang dan inventaris. Aktiva tetap mencakup gedung, properti dan peralatan.
Pasiva juga dibagi atas Pasiva lancar dan Pasiva tetap. Pasiva lancar diharapkan dibayar dalam jangka satu tahun dan mencakup utang serta utang gaji. Pasiva tetap biasanya berupa kontrak sewa dan utang yang akan dibayar kembali dalam satu tahun.
Modal Pemilik atau modal pemegang saham adalah nilai pemilik dam bisnis.

Sambil membaca Neraca, simpanlah beberapa poin ini penting ini dalam benak anda:
1. Piutang : Bagaimana perusahaan mengadakan penyesuaian bagi pelanggan yang memiliki kemungkinan tidak membayar piutangnya?
2. Inventaris : Apakah semua inventaris dapat dijual? 
3.Utang jangka panjang: Apakah bagian yang terkait dengan utang jangka panjang muncul di bawah total pasiva lancar?


Saturday, January 3, 2015 0 komentar

Auditor Independen

Bagian V : Pahami Apa yang Dikerjakan Auditor Independen.

Perusahaan- perusahaan besar biasanya memiliki auditor internal yang merupakan karyawan perusahaan tersebut. Namun dalam laporan keuangan tahunan , mereka seringkali mencantumkan opini auditor independen tentang laporan keuangan perusahaan tersebut.
Orang awam seringkali mengira bahwa auditor independen bertugas memeriksa keakuratan laporan tersebut. Sesungguhnya bagi auditor independen akan sulit memastikan bahwa laporan keuangan tersebut 100% akurat, kecuali firma auditor tersebutlah yang melakukan pencatatan transaksi dan menyiapkan laporannya. Namun, jika hal tersebut dilakukan, maka firma tersebut tidak bisa disebut Auditor Independen lagi.
Dalam kapasitas auditor independen sebagai orang luar perusahaan yang obyektif, mereka mengevaluasi apakah laporan keuangan tersebut menampilkan posisi keuangan perusahaan dan hasil operasi serta arus kasny dengan benar. Untuk memastikan hal tersebut, auditor akan melakukan berbagai cara seperti bertanya dan meminta konfirmasi kepada para pelanggan, pemasok dan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan keuangan perusahaan.
Auditor juga akan memeriksa prosedur dan alur pemeriksaan berkas keuangan (seperti: faktur invoice, dll) untuk meminimalkan kesalahan dan penipuan dalam pencatatan. Auditor juga akan memastikan bahwa berkas keuangan (misalnya faktur) sudah dicocokkan dengan dokumen pendukung lain secara benar.
Program komputasi keuangan termasuk juga akan diperiksa oleh auditor. Mereka akan melihat apakah ada kesalahan dalam program tersebut. Misalnya dalam pembulatan angka dalam faktur tagihan (biasanya satuan sen). Apakah pembulatan tersebut ditanggung oleh perusahaan atau ditanggung oleh pelanggan. Apabila kesalahan pembulatan tersebut memiliki nilai yang besar, auditor akan menilai kesalah tersebut sebagai kesalahan material dan akan meminta perusahaan merevisi kembali laporan keuangannya.

Opini auditor dapat memberi opini “bersih” , atau “wajar dengan syarat” tentang laporan keuangan.

Friday, January 2, 2015 0 komentar

Pentingnya Pengaturan Waktu

Bagian IV : Pentingnya Pengaturan Waktu

Seperti dalam banyak bidang lain, Dalam Akuntansi penentuan pengaturan waktu dan waktu tenggat adalah penting. Karena berhubungan dengan waktu pencatatan dalam laporan keuangan.
Dalam bisnis biasanya ada dua metode pencatatan transaksi :kas dan akrual. Pada metode akuntansi kas transaksi dicatat ketika telah terjadi pemindahan uang. Sedangkan metode akuntansi Akrual adalah pencatatan dilakukan ketika transaksi telah selesai terjadi, meskipun belum ada proses pemindahan uang.
Dalam bisnis kecil umumnya menggunakan akuntansi Kas karena lebih sederhana, dimana pendapatan dicatat ketika pelanggan telah membayar atau ketika biaya-biaya dan hutang telah dibayar.
Sedangkan dalam bisnis besar biasanya memakai metode akuntansi akrual. Tujuannya adalah untuk mencocokkan pendapatan dengan biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan. Contohnya: transaksi dicatat saat produk dikirimkan kepada pelanggan bukannya ketika produk dibayarkan setelah pengiriman.

Setelah mengetahui masing-masing metode pencatatan akuntansi, maka anda bisa memilih metode yang paling tepat bagi bisnis anda. Dengan demikian anda bisa menentukan jangka waktu untuk pembayaran utang serta waktu tenggat untuk mendapatkan pembayaran piutang dari pelanggan. Sehingga dalam proses jual-beli, anda bisa menetapkan apakah anda akan menerapkan suatu sistem, misalnya  Cash and carry , atau dengan memberikan Term of payment .

 
;