Friday, January 30, 2015

Dua Hati (Bagian II)


Atikah

Jam besar di ruang tengah berdentang sebanyak tujuh kali. Berarti masih pukul 07.00 pagi. Dan sepagi ini seluruh pekerjaan rumah tangga telah selesai kukerjakan.
Aku telah selesai membersihkan seluruh perabot dan seluruh jendela, menyapu dan mengepel lantai, merapikan halaman yang luasnya nyaris 300 meter, sarapan bahkan aku telah selesai memasak untuk bekal makan siangku nanti.
Sendirian.
Lagi.

Aku telah menikah dengan Kang Harso selama dua tahun. Namun selama itu belum pernah sekalipun kami makan berdua di rumah. Entah itu saat sarapan, makan siang atau makan malam. Kami  makan bersama hanya saat di pesta undangan. Atau ketika sesekali Ia mengajakku pelesir.

Tapi, Aku tidak bisa protes atau mengeluhkan hal ini, karena Aku sudah paham kondisi yang akan kuhadapi saat memutuskan menerima lamarannya

Kini Aku mulai merasa berat menjalani pernikahan ini. Ada penyesalan yang tidak bisa kuingkari. 
Kian hari rasa itu kian menggerogoti hatiku.

Dan penyesalanku makin terasa berat karena Aku tidak bisa berkeluh kesah kepada siapapun. Kedua orang tuaku  sejak awal menentang pernikahan kami. Sahabatku pun sejak hari ijab kabul itu, tidak sudi lagi menyapaku.

Memang terlalu besar pertaruhanku untuk pernikahan ini. Kini kurasakan kebenaran nasehat-nasehat yang dulu didengungkan oleh Ibu atau Ninih. Dan Sekarang pun kusesali telah mengabaikan permohonan sahabatku untuk menolak pinangan Kang Harso.

Ya.
Aku menjadi buta, dulu.
Aku dibutakan oleh hasrat dan rasa putus-asa.
Sehingga segala cara kulakukan agar Aku terbebas dari predikat yang memalukan : seorang perawan tua.   

Bersambung,...
-------
Fiksi lainnya:

1 komentar:

Andyani said...

bagus :)

mampir yuk ke stylediaryofmilkteabunda.blogspot.com :)

Post a Comment

 
;