Sunday, January 25, 2015

Dua Hati

Atikah

Gema adzan subuh selalu menjadi alarm yang efektif bagiku. Kubuka mata dan langsung tertatap bantal di sebelahku.
Kosong.
Seperti biasanya.
Karena pemiliknya pasti sudah bangun dan keluar rumah setengah jam sebelumnya.
Kurapikan seprai dan kulipat selimut. Kemudian Aku menuju dapur untuk menjerang air.
Sedikit saja.
Karena hanya segelas teh panas yang harus kubuat.
Untuk diriku sendiri.
Setelah menjerang air dan membuat segelas teh panas, aku menuju kamar mandi. Aku selalu mandi di waktu subuh, baik pada saat musim kemarau maupun musim penghujan seperti saat ini. Tak peduli setiap mandi subuh tubuhku pasti akan menggigil. 
Aku terima. 
Karena gigil ini selalu menjadi mengingatku, inilah salah satu konsekwensi yang harus kutanggung seumur hidup akibat mau dinikahi Kang Harso.

Sulastri

Sayup-sayup kudengar adzan Subuh dari mushalla. Kurapalkan do’a-do’a. Aku bersyukur karena telah diidzinkan Sang Maha Kuasa melewatkan satu hari lagi, kemarin.
Kutatap bantal disebelahku.
Ah, mestinya tidak kulakukan.
Karena Aku tahu, sudah dua tahun ini Aku selalu tidur sendiri.

Sesaat kemudian, pintu kamarku dibuka oleh seseorang.
Aku tersenyum.
Aku telah tahu sosok siapa yang sebentar lagi akan muncul di kamar ini.
Dan, benar saja, kini Ia masuk dan berjalan menghampiriku.

“Mama sudah bangun?” Sapanya. Aku mengangguk.
Seperti biasa Ia akan mencium keningku.
Begitupun subuh ini.

“Mama mau langsung mandi?” Tanyanya.
Meskipun Ia berbicara dengan nada bertanya, tapi sesungguhnya Ia memerintah.
Tak ada pilihan bagiku.
Karena Ia harus segera bergegas ke tempat kerjanya di Kota.

Aku segera bangkit dan duduk di tempat tidurku.  Aku akan meraih lengannya agar Ia bisa mengangkat tubuhku dan menggendongku menuju kamar mandi.

Aku selalu suka saat-saat begini.
Mengingatkanku pada masa Aku sebagai pengantin baru. 
Dulu sekali, beberapa dekade lalu, ketika Aku dan Suamiku baru menempati rumah ini berdua saja, setiap subuh Suamiku akan menggendongku ke kamar mandi dan Kami akan mandi bersama.
Air mandi yang berasal dari sumur di samping rumah, kadangkala membuat Kami menggigil kedinginan. Terutama di bulan-bulan musim penghujan.

“Terima saja. Inilah salah satu konsekwensi yang harus kita tanggung karena kita menikah” Bisik Suamiku.

4 komentar:

Nova Novili said...

penasaran dengan kelanjutan ceritanya..... kerwn banget...bisa nulis cerbung...

Nova Novili said...

penasaran...ditunggu kelanjutan ceritanya.... hebat bisa nulis cerbung...

Blogs Of Hariyanto said...

mandi bersama sebagai konsekuensi pernikahan..hmm romantis banget :-)
keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

Liana Handayani said...

Aduh saya jadi penasaran

Post a Comment

 
;