Saturday, January 24, 2015

My All

Jarum jam tanganku menunjukkan pukul 06.10, masih ada waktu 30 menit lagi untuk boarding. Aku pun mematikan laptop lalu mengemas tas ranselku. Bersiap meninggalkan kenyamanan lounge ini.
Tiba-tiba kudengar sebuah suara bariton, “Permisi, Mbak, Saya boleh memakai stop kontak itu?”
“Silakan”  Aku mengulurkan sebuah kabel berikut sederet stop kontak yang menempel di kabel tersebut. Tanpa sengaja kami bertatapan.
Edo!” Pekikku pelan.
“Wow. Niken” Pria itu pun tidak kalah terkejutnya denganku
“Apa kabar?” Ia mengulurkan tangan dan kami pun berjabatan “Aku nyaris tidak mengenalimu”
“Kabar baik” Kutarik cepat telapak tanganku.
Aduh, kenapa tiba-tiba jantungku berdebar cepat begini?
“Maaf, Ed, Sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu, tapi sayang sekali aku harus segera boarding. Pesawatku berangkat setengah jam lagi”
“Oh. Tujuanmu kemana?” Tanyanya
Balikpapan”  
“Loh, tujuanku juga ke Balikpapan, tapi pesawatku pukul 08.50 nanti.”  
Lalu Edo mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya.”Ini kartu namaku. Ada nomor ponselku di situ."
Secara otomatis karena mengikuti kebiasaan, aku pun membuka dompet dan menyerahkan kartu namaku kepadanya.
“Ok. Aku akan mengontakmu nanti malam, ya." Katanya setelah membaca sekilas kartu nama yang kuulurkan "Mungkin kita bisa makan malam sambil bertukar kabar”.Katanya 
“Entahlah, Ed. Jadwalku sengaja kubuat padat di sana. Aku harus presentasi dan meeting dengan beberapa klien.  Mungkin aku akan kembali ke hotel agak larut malam”.
Ok, then. Telepon aku jika jadwalmu sudah longgar.”  
Kami berjabat tangan kembali. 
“Aku merasa, ini bukan jabat tangan perpisahan, Ken” Bisiknya.
Aku hanya tersenyum. 
Ah, jujur kurasakan kini langkahku terasa berat saat keluar dari lounge menuju ruang tunggu untuk boarding. Belasan tahun kami terpisah, tentu banyak sekali cerita yang ingin kudengar darinya.

Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Sepinggan. Tepat waktu. Sekarang hampir pukul sepuluh pagi waktu Balikpapan. Masih ada waktu untuk check-in  dan menaruh koporku di hotel, sebelum menuju kantor klien untuk memenuhi janji presentasi setelah jam istirahat siang nanti.
Tink!
Ponselku berbunyi, tanda ada sebuah pesan masuk.
Dari Edo.  
Nginep di mana, Ken?”
“Swiss-Bell” Jawabku singkat.

Sesuai rencana, dari Bandara aku menuju hotel untuk check-in lalu menuju kantor klien untuk presentasi. Setelah itu diikuti beberapa meeting dengan klien yang berbeda.
Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa jarum jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam saat aku membuka pintu kamar.
“Kring!” Telepon kamar hotel berbunyi saat aku baru selesai melepaskan sepatu.
“Hallo. Selamat Malam” Jawabku.
Tapi tidak ada suara dari seberang sana.
“Tok tok tok” Kini giliran pintu kamarku diketuk. Kuintip melalui lubang intai di pintu.
Oh! Edo!
“Selamat malam, Niken. Baru sampai, ya.” Katanya saat aku membuka pintu.
“Tampak jelas’kan? Aku masih memakai pakaian resmi begini. Tidak mungkin aku akan tidur dengan blazer dan rok seperti ini”
Ia tertawa. Tapi pandangannya  ke dalam kamarku seperti sedang memindai.  
“Bagaimana kamu bisa naik ke sini, Ed? Bukankan harus ada kartu pintu kamar?” Tanyaku heran.
Ia mengacungkan sebuah kartu magnetik untuk membuka pintu kamar. “Malam ini aku stay di kamar sebelah” Tunjuknya ke kamar sebelah kiri kamarku. 
“Barusan aku mendengar kau membuka pintu. Lalu kutelepon untuk memastikan bahwa  benar kau yang datang. “ Katanya “Boleh Aku masuk?”
Aku berpikir cepat. 
Tidak etis rasanya memasukkan lelaki ke dalam kamar.
“Kita mengobrol di lobby aja, yuk” Jawabku ”Sebentar, Aku pakai sandal dulu.”
Tapi Edo mengikutiku masuk ke dalam kamar.
“Di sini saja, Ken. Di lobby banyak orang lalu-lalang. Kita tidak bisa bebas mengobrol.”
Meeting terakhirku tadi dengan salah satu klien, dilakukan lobby. Tidak ada orang yang mengganggu, tuh” Sanggahku.
“Kalau cuma ngobrolin bisnis, sih, ngga apa-apa di lobby, Ken. Tapi kan pembicaraan kita lebih dari soal bisnis. Kita akan bicara tentang hati.” Katanya.
”Maksudmu?”
”Kau tentu paham, Ken. Kita bukan hanya sekedar teman. Setidaknya dulu. Jujur saja diam-diam aku sering merindukanmu. Tapi, aku tidak tahu kemana harus menghubungimu. Kita nampaknya sama-sama menghilang.” Ia berusaha menggenggam tanganku, dengan cepat segera kutepiskan.
”Aku bersyukur kita bertemu tadi pagi. Tidak ada yang kebetulan kan? Aku berharap pertemuan tadi pagi bisa berlanjut ke pertemuan berikutnya” Katanya.
“Ya, tentu aku juga berharap silaturahmi kita yang sempat terputus ini bisa tersambung kembali. Bagaimanapun aku pernah mengenalmu dengan baik” Jawabku.
“Yuk, Kita lanjutin obrolannya di lobby saja.” Ajakku lagi sambil bersiap keluar dari kamar. Tapi, Edo tiba-tiba menarik tanganku.
“Di sini, aja, Ken. Di lobby Aku tidak bisa bebas menciummu, nanti”.
Edo!”
Come on, Niken. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku tahu kau sudah menikah. Aku pun juga sudah menikah. Tapi tidak ada salahnya kan jika sesekali kita bersenang-senang. Apalagi aku bukan orang asing bagimu”. 
“Maksudmu, kau mengajakku agar terlibat affair denganmu, begitu?”
“Terserah dengan apapun istilahmu, Ken. Yang jelas, aku berharap kita bisa jadi sepasang kekasih kembali. Karena aku memang masih mencintaimu.”
Aduh!
Lelaki ini adalah kekasih pertamaku, saat kami masih remaja dulu. Kami berpisah karena ia mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jerman.
Jujur saja, di tahun-tahun awal setelah perpisahanan kami, kadang kala aku memimpikannya. Kadang kala aku merindukannya. Tapi kemudian aku bisa melupakannya. Terutama setelah kehadiran lelaki lain dalam hidupku. Yang kini menjadi suami dan ayah anak-anakku.
Edo, Bukankah kau tahu aku sudah menikah?.”Tanyaku
“Ya. Aku mendengarnya saat aku masih di Jerman.” Katanya
“Dan kau pun sudah menikah dengan gadis Jerman.”
”Tapi, Aku masih menyimpan cinta untukmu, Ken. Aku yakin kau pun masih mencintaiku.”
“Tidak lagi” Gelengku. “Aku tidak melupakanmu, memang. Tapi bagiku cerita kita sudah berakhir sejak 15 tahun lalu.”
“Selain itu, apakah kau pikir aku bersedia mencampakkan jabatan terhormatku sebagai seorang istri dan menggantikan dengan predikat sebagai perempuan selingkuhanmu? Tidak akan Ed. Tidak akan” Tegasku.
“Jadi, kau menolakku, Ken?” Ia terlihat sedih.
Tapi aku tidak bisa mengasihaninya.
“Ya, Ed. Kita akan terus berteman. Hanya berteman. Sama seperti hubungan aku dengan Jiwo, Danang, Eka, Tanti dan teman-teman sekolah kita dulu.”Jawabku.
“Baiklah. Aku sebenarnya sedih dengan keputusanmu” Katanya.
"Tidak perlu, Ed. Karena memang seharusnya aku, juga kau, tidak mudah tergoda. Meskipun kita sedang jauh dari pasangan kita masing-masing saat ini."Kataku. 
Ia hanya terdiam.
Oke, lah. Kalau begitu, sampai bertemu saat sarapan besok di restoran di bawah.”Katanya.
Aku mengangguk.
Ia pun segera berlalu, masuk ke dalam kamar di sebelah kiri kamarku.
“Selamat malam, Edo.”Bisikku, sambil menutup pintu kamarku.

Diinspirasikan dari lagu "My All"


0 komentar:

Post a Comment

 
;