Tuesday, February 24, 2015 0 komentar

Kurang Kasih Sayang


Hari Senin ini rencana saya adalah rehat sejenak setelah beberapa pekan sebelumnya jadwal pekerjaan di dalam dan di luar kota cukup padat, bahkan hingga Sabtu-Minggu. 
Namun setelah mengantar suami ke kantornya, saya koq tiba-tiba ingin mengunjungi salah satu agen di daerah Senen, Jakarta Pusat. 

Dalam kunjungan kali ini saya tidak bertemu dengan enci pemilik toko, namun saya bisa mengobrol panjang lebar dengan beberapa karyawannya.

Sambil ngobrol, saya melakukan survey kecil-kecilan. Baik tentang produk saya sendiri maupun tentang produk kompetitor. 

Lalu terjadilah percakapan sebagai berikut, "Bu, punya kue yang model begini ngga?" Tanya supervisor toko ke saya sambil menunjukkan sebuah kue kering.
"Wah, belum ada, Mbak" jawab saya.
"Bisa bikin ngga, Bu? Kalau Ibu bisa bikin,  masukkin kue ini juga dong, Bu" Lanjut si Supervisor.
"Ya, bisa sih. Tapi mesti setel mesin lagi.  Jadi agak ribet."
"Bikin deh, Bu. Nanti kita ambil ke Ibu aja. Malas saya berhubungan ama bos kue ini" kata Supervisor, yang diamini anak buahnya.
"Kenapa? Kan dia udah lama ngisi kue kering ke sini?" Tanya saya.
"Iya. Tapi dia sih kurang kasih sayang. Kalau abis taruh kue, ya udah, lempeng aja langsung pulang. Abis ambil tagihan, ngga pernah tuh kami dibeliin teh botol. Bahkan tester dikasih waktu pertama kali datang aja. Beda deh ama Ibu yang perhatian ke kita-kita" lanjut si Supervisor Toko.
Maksud lempeng aja di sini adalah hanya mengurus hal pokok saja lalu langsung meninggalkan toko, tanpa  menyempatkan buang waktu sejenak untuk berbincang-bincang dengan karyawan toko. 

Saya hanya mengangguk-angguk.

Bagi saya, selain customer pengguna produk saya (end-user), karyawan toko agen juga merupakan partner kerja yang penting. Karena justru merekalah yang berinteraksi dengan end-user, sehingga dari merekalah saya bisa mendapat berbagai informasi penting mengenai perilaku konsumen, penerimaan konsumen terhadap produk saya dan juga sepak terjang kompetitor. Dan dengan seringnya saya berinteraksi dengan mereka tentu mereka tidak merasa segan untuk membagi informasi tersebut kepada saya. 

Dan saya juga sangat menyadari bahwa Ini adalah BIsnis, sehingga ada nilai uang dan penghargaan di dalamnya. Maka saya mengalokasikan sekian persen dari budget pemasaran saya untuk informasi yang mereka bagikan, juga untuk antusiasme mereka menawarkan produk saya kepada (calon) pembeli di toko. 
Bentuk terima kasih saya tidak selalu berupa uang, tapi lebih sering dalam berupa barang, misalnya kaos, buah tangan saat saya kembali dari perjalanan luar kota, voucher makan dan lain-lain.

Yang jelas saya menyadari bahwa mereka membantu kesuksesan bisnis saya dan saya menghargainya. Dengan demikian mereka pun merasa saya berterima kasih dan menunjukkan perhatian agar mereka tidak merasa saya tidak sayang pada mereka.
Monday, February 16, 2015 0 komentar

Bagaimana Menverifikasi Blog Anda ke Alexa

Pada Maret 2014, Alexa mengubah tampilan websitenya. Dan nampaknya untuk meningkatkan pendapatan dari pengguna Alexa berbayar, untuk mengklaim sebuah situs web atau blog, kita langsung diarahkan menuju laman berbayar.
Setelah saya telusuri, ternyata kita bisa menklaim atau memverifikasi blog kita secara gratis.

Adapun yang harus kita lakukan adalah :
  1. Masuk ke web www.alexa.com , lakukan sign-in jika sudah memiliki akun disitus tersebut, jika belum lakukan pendaftaran lebih dahulu dengan cara mengklik “create account”. Lebih mudah kita mendaftar dengan akun facebook.
  2. Setelah memiliki akun di Alexa, maka ketikkan di browser anda http://www.alexa.com/siteowners/claim
  3. Ketikkan URL website atau blog anda dikotak dialog yang tersedia. Klik “Continue”
  4. Klik Methode 2
  5. Kemudian anda menuju ‘back-end blog anda. Klik “Template
  6. Klik “Edit HTML
  7. Lalu cari kode HTML  :   copas kode HTML Alexa tersebut tepat SETELAH
  8. SIMPAN Perubahan Blog anda.
  9. Tunggu 2-3 detik
  10. Lalu klik Verify My ID pada situs Verifikasi Alexa tadi.
  11. Proses verifikasi biasanya hanya berlangsung beberapa detik tergantung kecepatan internet anda.


Klaim website anda

Pilih no 2 jika anda tidak punya akses ke cPanel


Copas kode HTML tersebut


Semoga bermanfaat


0 komentar

Bagaimana Melihat Ranking Alexa Web/Blog Anda

Alexa adalah situs pemeringkat sebuah website atau blog berdasarkan tolok ukur tertentu, diantaranya rata-rata banyaknya kunjungan perhari, rata-rata jumlah halaman yang dikunjungi oleh setiap visitor, lamanya visitor berada diblog/ atau website ada, dan prosentasi bounching (pengunjung yang hanya mengunjungi satu halaman lalu keluar blog atau website anda).

Semakin kecil angka peringkat Alexa maka faktor-faktor diatas tadi semakin baik. Sebagai contoh saat ini Google memiliki peringkat Alexa: 1, Facebook memiliki peringkat Alexa: 2, sedangkan blog saya , saat artikel ini ditulis, memiliki peringkat Alexa 800.000-an (hiks).

Bagaimana cara melihat ranking Alexa situs anda?   

  1. Klik www.alexa.com
  2. Ketikkan URL website atau Blog anda
  3. Klik Go
  4. Maka akan terbaca berapa Rank Alexa website anda secara global maupun di wilayah negara anda
  5. Anda juga bisa melihat kualitas website atau blog anda. Berapa persentase bounching rate, berapa rata-rata jumlah halaman yang di kunjungan oleh visitor, lamanya waktu visitor berada di blog anda.
  6. Bahkan kita bisa melihat demografi pengunjung blog/website 

Angka Rangking Alexa Blog ini per 16/02/2015

Beberapa Faktor yang Dinilai oleh Alexa

Demografi Pengunjung Blog

Saturday, February 14, 2015 0 komentar

Saat Kujatuh Cinta Pada Pandangan Pertama (II)

Season 2 
(Hahaha, udah mulai kayak sinetron)

Jadi begitulah.
Gerombolan, eh, komunitas (biar enak aja dibacanya) kecil kami begitu akrab satu dengan lainnya. Setiap hari main bareng, berantem bareng, main bareng lagi, lama-lama kami merasa nyaman. Serasa bersaudara. Walau lain emak, lain bapak, lain moyang, meskipun mungkin kucing kami berbesanan.

Saking nyamannya kami bermain dengan orang yang itu-itu saja, kemudian malah jadi 'galak' dan was-was dengan masuknya 'orang baru'. Karena dengan masuknya orang baru ke dalam komunitas kami, segala kejelekan anggota grup harus segera ditutupi. 
Misalnya saat salah satu teman mulai pacaran dan mengajak pacar barunya 'hang-out' dengan kami. Teman lain yang diam-diam sudah merokok sejak kelas 6 SD, langsung (sementara) berhenti merokok. Karena khawatir si orang baru ini akan mengadukan ke bapaknya kelakuan buruknya tersebut. Lah, notabene kami semua bertetangga. Jadi si A tahu si B rumahnya dimana, anaknya siapa, bahkan sesama ayam peliharaan kami pun juga saling bertegur sapa. Buktinya saat subuh mereka berkokok bersahutan. Akhirnya, karena merasa atmosfir saat kongkow menjadi tidak enak, lama-lama teman yang sudah berpacaran ini menjauh dengan sendirinya.

Jadi bisa paham dong, ya,  kenapa jaman abege saya begitu sengsara tanpa cinta membara kayak abege di sinetron-sinetron itu. Pingin kayak di foto-foto abege "ditembak" dan dibawakan cake ultah yang heboh itu? Huuuu.. jauhhhhh!!! Ngimpi kaleee!

Tapi kalau Saya bilang jaman abege Saya sama sekali ngga punya pacar, huuuu.. teman-teman Facebook saya dari jaman jadul saat SMP seperti Rully Wind, Agus SubandiEka KustiawatiRoss Gond,dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya itu, akan tertawa terbahak-bahak. Belum lagi teman SMA kayak Kangmas Suami, dan sederet lainnya.
Mereka akan koor dengan suara  kompak : Bohong banget!!!!.

Karena serombongan saksi hidup berada dan terhubung dengan dunia nyata maupun dunia maya, maka Saya ngga bisa berkelit. Memang, sih, saat SMP saya punya pacar. Tapi teteup saya bersikukuh, kami pacaran bukan karena jatuh cinta yang berbunga-bunga dan berbintang-bintang!

Jadi begini, ehem..ehem..(batuk), saat saya kelas 1 SMP jadi wakil OSIS, tuh 'orang' (wkwkwk.. Saya sudah menghindari menyebut nama, biar kupingnya ngga panas disebut-sebut, jadi saya memilih menyebut 'orang'. wkwkwk, sadis betul!) kelas 2 dan punya jabatan Ketua OSIS. Lalu saat Saya kelas 2, naik jabatan jadi ketua OSIS , sedangkan dia naik ke kelas tiga namun tanpa jabatan. Alasan guru-guru, biar seluruh murid kelas 3 ngga sibuk dan hanya konsen mempersiapkan Ebtanas .
Untuk orang yang terbiasa berorganisasi, bengong tanpa kesibukan yang padat, rasanya melangut kan?
Jadi, dari pada 'orang' itu kena post power sindrom, merana dipojokan merasa tersisih, akhirnya, ya udah, saya pacarin aja. Jadi tujuan Saya memacari dia adalah karena panggilan jiwa sosial. (wkwkwk, alasannya, pera' banget kayak beras!).
Dengan memacarinya Saya dapat keuntungan juga, sih, saat jam istirahat ada yang yg traktir, juga pulang pergi sekolah ada yang menjemput dan mengantar sampai perempatan dekat rumah. Cuma berani sampai disitu, soalnya kalau sampai kelihatan bokap bahwa saya pacaran? wuiihh tamatlah riwayatku!.
Dan begitu dia dinyatakan lulus, ,yah, pacaran kami juga tamat.
(Ssstt, cukup lama dia mendendam kesumat, karena ngga terima dicampakkan begitu saja. Duileee...)

Sedangkan saat SMA, Saya pacaran dengan (calon) Suami saat di kelas terakhir. Sebelumnya Saya bersahabat erat dengan Petrus Darmawan, Alm. George Budi, dll dsb. Sejak awal mengenal dekat (calon) Suami, Saya mendapat semacam ilham bahwa Beliau inilah yang akan mendampingi hidup Saya kelak. Makanya, Saya tenang melanglang buana dan menjalani kehidupan sebagai jomblo hingga nyaris berusia 30 tahun.

Proses Saya jatuh cinta dengan Suami juga bukan jenis yang terngiung-ngiung, gitu koq. Ngga pakai susah makan dan susah tidur karena memendam rindu. 
Tapi slowly but sure.

Garing ya, hidup saya?

Saya memang belum pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki. Tapi Saya terantuk cinta yang langsung menghujam ke seluruh sanubari, seluruh jaringan tubuh, seluruh serabut syaraf dan seluruh panca indera, ketika pertama kali melihat perempuan-perempuan ini : Vania AgustinRifda Agustin AulianaJasmine Fairuzzahra dan Safira Aziza Noor Yasin.


Dan ternyata benar, jatuh cinta pada pandangan pertama itu sangat luar biasa.
Cetar membahana. 
Menggonjang-ganjing kehidupan.
Karena sejak detik itu, rasanya seluruh eksistensi selama 31 tahun sebelumnya tidak berarti apa-apa. 

Sejak dimulai detik pertama Saya jatuh cinta pada mereka, Saya menjadi manusia baru.
Sebagai Ibu.

0 komentar

Saat Kujatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Ceileee... Hari ini, hari 'Valentine' nih yeee.. 

Kali ini Emak-emak matang manggis yang masih terlihat kinyis-kinyis ini (sumpee, ini pengakuan terjujur yang keluar dari sanubari terdalam dari Sang Kompasianer senior yang merupakan 'fotokopian Brad Pitt', Pakde Kartono), mau ngomongin soal cinta, ah.

Seperti yang pernah ditulis entah di status Facebook Saya yang keberapa juta, -yayaya, Saya emang rajin mantengin Facebook-, bahwa sejak kecil Saya lebih banyak bersahabat dengan para cowok. Bukan karena mereka ngga hobi ngegosip. Karena saat kami kecil, belum tahu soal gosip dan infotemen. Yang jelas Saya merasa nyaman berteman dengan cowok. 

Kenapa?
Soalnya mereka ngalahan sama cewek. Dan mereka tahu banget bahwa Saya seorang cewek. Kalau Kami berantem rebutan gundu, pasti emak si teman cowok akan menghardiknya,
"Kamu ngga malu, berantem ama cewek? Ha!" 
Atau jika kalah lomba lari rebutan layangan, dengan entengnya Saya akan bilang,
"Yaaa, gue kan cewek. Larinya ngga cepet. Layangan itu buat gue deh, lu entar ngejar layangan yang lain lagi aja." sambil nyodorin permen Sugus. Rayuan yang seperti itu biasanya jarang gagal.

Begitupun saat abege, Saya masih termasuk cewek yang lebih sering beredar diantara cowok. Pun demikian, Saya tetap bisa membedakan antara cowok ganteng dan cowok "apa adanya". Termasuk juga bisa membedakan "cowok apa adanya" dengan "asset ganteng" (meskipun masih milik bokapnya) dan "cowok ganteng" dengan "asset apa adanya". Tetapi karena masih abege, saya ngga begitu 'aware' dengan yang namanya "asset". Dilain sisi, sangat aware terhadap cowok yang hobi menumpuk liability.
Ogah aja lagi asik-asik nongkrong tahu-tahu dicolek, 
"Rin, bagi gopek, dong, asem nih belum ngerokok." 
(xixixi..ketahuan dong jamannya, duit gopek udah bisa buat beli rokok beberapa batang). Eh, kamu tahu gopek nggak? Aduh! tepok jidat deh. Gaul dong, Gopek tuh artinya 500 rupiah.

Kembali ke laptop.

Ok. Sejak abege udah tahu cowok ganteng, tapi entah mengapa ya, belum pernah tuh, Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi kayak di sinetron-sinetron gitu. Bertabrakan, buku atau belanjaannya jatuh, saling jongkok, lalu bertatapan, jantung berdebar, iler beleleran.
Ups.
Dan Cupid pun menembakkan panahnya. 
Mak jleb!!
Langsung terngiung-ngiung. Ngga bisa makan, ngga bisa tidur, kayak dikejar debt collector karena belum bayar tagihan leasing motor 3 bulan.
Yang ada, kalau Saya bertabrakan dengan cowok (entah bertampang ganteng atau apa adanya), Saya akan buru-buru berucap,
"Ups, sori, Bro".
Berharap si cowok cepat ngacir. Karena jika cowok itu balik ngelihatin, ngga pake lama, langsung aja bodyguard-bodyguard pengiring akan meledak,
"Apa lu lihat-lihat! Nantang lu! Ngga terima lu!" 
Maklum, saat abege Saya diasuh di Tanjung Priok.

Kalau sudah begitu mana bisa Cupid berkonsentrasi menembakkan panah asmaranya. Malah bisa jadi yang kemudian akan berterbangan adalah panah beracun.

Bersambung, aja lah,
Kesini

----------
Foto dari Supercoloring


Tuesday, February 10, 2015 2 komentar

Menambahkan Gadget Facebook ke Blog

Memasang lencana Facebook di Blog  selain menambah asesoris tampilan blog anda, juga mengundang pembaca  agar terhubung dengan akun Facebook anda.


Adapun langkah-langkah yang harus anda kerjakan adalah sebagai berikut: 

1.  Login ke akun Facebook anda Lalu Klik "Nama Anda" , Lalu klik tanda "---" di sudut kanan dibawah foto cover anda (lihat tanda panah 1). Lalu Klik "Add A Badge to Your Site" 

2.  Login ke akun blogspot anda,
3. Lalu pilih tempat badge tersebut akan diletakkan , Klik Lambang Blogspot (Lihat Panah)
4. Lalu 

5. Atau Klik "Edit Konten" dan di copy semua kode HTML, yang tertulis dalam kota dialog 

6. Kita berpindah ke halaman blog anda. Klik "Tata Letak/ Layout"


7. Klik Tambah Gadget/ Add Gadget 


8. Klik "HTML/ Java Script

9. Lalu di "paste" semua kode-kode yang telah kita copy di langkah nomor 5


10. Klik "Save/Simpan"
Maka Gadget Facebook Pun akan terpasang di Blog anda.

Selamat mencoba.
Semoga bermanfaat.



Monday, February 9, 2015 6 komentar

Mendaki Gunung Anak Krakatau

Cerita sebelumnya silakan klik di sini.

Kelelahan menempuh perjalanan ratusan kilometer ditambah aktifitas yang menguras energi menyebabkan malam itu Kami tidur sangat pulas. Sehingga rasanya baru tidur sebentar, tahu-tahu pintu kamar sudah diketuk-ketuk Leader 
"Bangun..bangun...manjat...manjat..." Katanya

Mendengar agenda subuh itu akan ‘manjat’, maka Kami pun bangun dengan bersemangat. Segera cuci muka dan sikat gigi, lalu berganti baju.
Tanpa mandi pagi. (aaahhh…biasaaaa..hehe)

Pukul 03 pagi Kami pun keluar rumah menuju dermaga Pulau Sebesi. Dari Pulau Sebesi perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau di tempuh lebih dari satu jam.
Angin laut yang dingin membuat Kami memilih duduk di dalam palka kapal, mencari posisi enak, lalu melanjutkan tidur.

Pukul 04.20 subuh Kami tiba di pantai Gunung Anak Krakatau. Setelah dibriefing sebentar, Kami pun memulai pendakian. Sekitar 15-20 menit mendaki Kami berhenti sebentar di sebuah dataran yang cukup landai untuk melaksanakan shalat subuh.

Sungguh, pagi itu adalah salah satu shalat subuh tersyahdu dalam hidup saya. Dalam gelapnya suasana sekitar, yang hanya diterangi oleh lampu senter LED yang kami bawa, Kami berenam berdiri untuk mengakui keesaan Sang Pencipta. Beralaskan pasir gunung, kami bersujud menyembah Sang Maha Agung. Alam dalam rembang pagi, seolah terdiam. Angin berhenti bertiup. Burung-burung pun diam tak berkicau. 3 menit itu, Kami berada dalam Suasana yang  benar-benar hening.
Magis.
Tak terasa air mata Saya menetes.
Syahdu.
Jiwa menggigil.
Berada antara takut dan kagum.
ALLAHU AKBAR. Allah Maha Besar.

Selesai shalat Kami bergegas menyusul teman-teman yang sudah lebih dahulu melanjutkan pendakian.
Jalur berpasir dengan track yang memiliki kemiringan yang sangat landai, nyaris 45 derajat, membuat nafas saya ngos-ngosan, kepala pun menjadi  pusing karena tekanan udara rendah. Saya pun sempat njeblak di punggung Anak Krakatau. (Kisahnya Saya bagikan di sini)

Lalu, tiba-tiba kabut turun yang disertai bau belerang. Beberapa detik kemudian angin kencang berhembus diikuti turunnya hujan deras. Kami pun bergegas turun.
Karena jalur yang sangat landai dan berpasir, turun dari gunung kali ini terasa sangat mudah.
Tinggal menggelinding.
Eh, ngga ding, dengan berlari-lari kecil, kadang-kadang nabrak-nabrak ranting cemara, dampailah Kami di pantai Anak Gunung Krakatau.

Setelah berfoto-foto, perjalanan Kami lanjutkan menuju Lagoon Cabe untuk snorkeling lagi.

Melewati Hutan Pohon Cemara di kala hujan
(aaiihh, jadi ingin menulis lirik lagu)
Saya sempat 'njeblak' di punggung Anak Krakatau
Friday, February 6, 2015 11 komentar

Biaya Masuk SD Syafanah Islamic School 2015/2016

Beberapa bulan lagi anak ketiga Saya , Jasmine, sudah saatnya masuk sekolah SD. Berbeda pada “jamannya” kakak-kakaknya dulu, dimana Saya jauh-jauh hari, bahkan sejak setahun sebelum tahun ajaran baru,  sudah hunting ke berbagai sekolah, sekarang Saya anteng-anteng saja, hingga Jasmine sendiri yang bolak-balik tanya “Ma nanti SD aku sekolah dimana?”
Saya selalu menjawab : Nanti Jasmine sekolah ke Syafanah , Insya Allah.”

Kedua kakak Jasmine adalah alumni sekolah tersebut, bahkan mereka bersekolah di sana sejak Play group. Menurut pendapat kami sistem dan materi ajar di sekolah tersebut cukup baik. Meskipun pernah mengalami ‘sandungan’ kecil 2-3 kali , tapi  kepada sesama murid, bukan dengan manajemen Syafana. Untuk lebih jelas tentang apa dan bagaimana sistem belajar di syafanah, kunjungi saja webnya disini


Saya sudah browsing mencari biaya masuk sekolah ini, tapi belum ketemu. Maka Saya tulis dan bagikan di sini. Mungkin ada calon orang tua murid lain  perlu informasi yang sama. 

Pagi ini Saya menelpon ke SD Syafana untuk mendapat penjelasan biaya masuk SD sekolah tersebut. Daaannn…hiks, Saya langsung sesak nafas.

Adapun biaya masuk SD Syafana Islamic School adalah sebagai berikut :
Uang formulir          : Rp. 450.000
Biaya masuk            : Rp.  29.800.000
SPP  per bulan        : Rp  1.500.000.
Uang kegiatan         : Rp. 3.000.000 Pertahun. Dan biasanya tahun berikutnya naik.
Uang Seragam        : Rp   1. 300.000 (akan dikonfirmasikan kembali)
Uang Buku               : Rp.  800.000 (akan dikonfirmasikan kembali)
Jadi, jika Jasmine akan dimasukkan sekolah tersebut, berarti Kami harus mendebet tabungan sebanyak  Rp. 35.350.000 hanya untuk bulan Juni nanti. Belum lagi buat mobil antar jemput sekitar 500.000/ bulan (xixixi, itu sih tahun lalu, saat Kakak-kakaknya ikutan antar jemput)

Aduuhh, tiap tahun koq ya, tambah mahal.

Kami jadi bertanya-tanya, berapa kira-kira biayanya saat Si Bungsu nanti masuk sekolah SD, dua tahun ke depan?

Saat Kakak dan Deka "Graduation"
dari SD Syafanah Islamic School
Saat Kakak dan Deka "Graduation"
dari SD Syafanah Islamic School 
Thursday, February 5, 2015 4 komentar

Menjelajah Pulau Sebuku dan Pulau Umang-Umang di Lampung

Saya bergabung dengan beberapa grup di Facebook. Salah satunya adalah grup Backpacker Indonesia. 
Salah satu anggota grup tersebut merencanakan untuk mengadakan trip ke Gunung Anak Krakatau pada tanggal 30 Januari – 1 Februari 2015. Karena perkiraan biaya yang terjangkau (sekitar 500 ribu rupiah) maka Kami -Saya dan Suami- memutuskan untuk ikut. Kami janjian bertemu di Pelabuhan Merak.

Maka pada Jum'at 30 Januari 2015 pukul 20.00, Kami berangkat dari Pool Arimbi di Kebon Nanas- Tangerang. Kami yang kurang tidur sejak beberapa malam sebelumnya, begitu mendapat tempat duduk dengan posisi pe-we, segera tertidur. Terbangun sebentar ketika bis berhenti di Terminal Serang. Terbangun lagi karena kaget mendengar teriakan kondektur bis,
"Merak..Merak..Siap-siap. Awas barang ketingggalan" Katanya.
Jam tangan menunjukkan pukul 23.05.

Saya lalu mengirim pesan singkat ke Group Leader "Kami sudah di Merak. Kumpul di mana?"
"Di dekat loket masuk" Jawabnya. 
Oke lah kalau begitu.
Bergegas Kami menuju ke area loket masuk. Ternyata di situ telah menunggu anggota rombongan sebanyak 10 orang. Sedangkan total peserta 20 orang termasuk Kami. Jadi masih harus menunggu 8 orang lainnya
"Mereka dari Bandung dan Pelabuhan Ratu. Jadi mungkin tiba di sini 1 jam lagi." Kata Leader

Kami berangkat dari Pelabuhan Merak dengan kapal feri sekitar pukul satu pagi dan tiba di Pelabuhan Bakauheuni pukul empat. Kami beristirahat sejenak di pelataran ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni untuk menunggu subuh tiba.

Ngampar di Terminal.
Kaleng kencreng Saya koq ngilang?

Setelah shalat subuh, kami bergerak menuju ke Dermaga Canti dengan menyewa angkot. Dermaga Canti adalah sebuah Dermaga kecil yang terletak di Kalianda - Lampung Selatan. Disini rombongan kami menyewa sebuah kapal kayu untuk menuju Pulau Sebesi.

Dermaga Canti

Sebelum berlayar Kami memutuskan untuk sarapan dulu di warung di tepi dermaga. Menu Saya pagi itu adalah setengah piring nasi, telor dadar dan sayur oseng plus segelas susu jahe hangat. Lumayan sebagai pengganjal perut yang memang belum diisi sejak semalam. 
Hiks.. 
Semoga tidak masuk angin dan hoek-hoek kena gelombang laut nanti.

Beruntung, sesaat sebelum kapal bertolak, hujan berhenti turun. Dan angin pun berhembus sepoi-sepoi saja sehingga tidak menimbulakn gelombang laut yang tinggi. Didukung matahari yang bersinar tidak terlalu terik, maka duduk di atap kapal lebih menjadi pilihan ditimbang duduk dibagian dalam kapal yang berisik karena suara mesin. 

Kapal yang kami sewa.
foto by Langlang Bhuawa
Perjalanan Dermaga Canti- Pulau Sebesi memakan waktu kurang lebih dua jam. Saat melalui gugusan pulau- pulau sekitar Gunung Krakatau - Gunung Anak Krakatau dan Gunung Sebesi pemandangan yang kami dapatkan begitu indah. 

Gugusan pulau dan Gunung-gunung tersebut dalam kabut pagi yang mendung hari itu terlihat seperti pemandangan pada film Lord of The Ring. 
Menimbulkan rasa magis. 
Membuat jiwaku ingin merunduk sedalam-dalamnya, namun sekaligus takjub.

Selamat Datang di Pulau Sebesi

Setiba di Pulau Sebesi, kami di briefing oleh Leader sekaligus dibagikan peralatan sepatu katak, pelampung dan snorkel. Setelah itu kami berganti pakaian renang di guest house.
Tanpa mandi pagi, hihi.

Suasana perkampungan Pulau Sebesi.


(Keterangan Foto: Suasana perkampungan Pulau Sebesi. Rumah hijau di sebelah kiri adalah guest house yang Kami sewa)

Selesai berganti pakaian, Kami kembali ke kapal untuk menuju spot snorkeling di Pulau Sebuku. Dan pada sorenya kami menuju Pulau Umang-umang untuk memotret sunset


Walau ke Laut , Tongsis teteup kudu dibawa




Sayangnya sebelum matahari terbenam, hujan lebat mulai turun lagi disertai petir, makakami memutuskan untuk segera kembali ke kapal untuk pulang ke guest house.

Dan petualangan akan dilanjutkan esok pagi. : Mendaki Anak Krakatau

Kisah lain yang kubawa sebagai oleh-oleh dari perjalanan ini :

Catatan: Penyelenggara perjalanan adalah Langlang Bhuwana.  Leader : Om Hendra, Co Leader : Om Akbar.

Artikel Wisata Lain:


Tuesday, February 3, 2015 0 komentar

Mengalahkan Diri Sendiri (Bagian II)

Saya pernah menuliskan kekhawatiran dan ketakutan Saya tentang laut di sini

Lalu, Hari Sabtu dan Ahad tanggal 31 Januari dan 1 Februai 2015, Saya membongkar ketakutan yang terendap di mental Saya, dengan langsung nyempung ke laut.
Bukan sekedar nyemplung, tapi Saya snorkeling dan menyelam ke dasar laut.
Menyapa ikan-ikan.

Meski bagi Pasukan Katak TNI kita yang gagah-gagah itu,  apa yang Saya lakukan ini hanya seujung kuku dari kemampuan mereka, tapi untuk Saya, hal ini adalah sebuah prestasi karena Saya berhasil menaklukan ketakutan sendiri.

Ah, ada sebuah pepatah yang mengatakan : Sesungguhnya tidak ada keberanian tanpa pernah merasa ketakutan.


Eureka!!!

4 komentar

Mengalahkan Diri Sendiri

Bagian I

Sering kali Kita mendengar pepatah “Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri”.
Mengapa begitu?

Kita bisa mengatakan tidak pada ajakan orang lain.
Kita bisa merasa tersinggung dan marah bila ada seseorang berani melemahkan semangat Kita.
Kita bisa kesal bila seseorang meremehkan kemampuan Kita.

Tapi bagaimana jika pikiran Kita sendiri yang mengatakan: Ah, Aku tidak mampu mengerjakannya?
Atau “Aku cuma seperti ini, mana mungkin bisa melakukan hal tersebut?” 
Bila kalimat negatif tersebut keluar dari pikiran Kita, tanpa banyak bantahan Kita langsung mempercayainya.

Padahal bisa jadi perasaan tidak mampu tersebut berasal dari rasa rendah diri atau ketidaktahuan. Bahkan kemungkinan terbesar berasal dari kemalasan.

Berikut ini Saya bagikan kisah nyata penaklukan diri sendiri melawan rasa tidak mampu.

Beberapa bulan lalu,. Seorang Ibu tertarik mengunjungi salah satu artikel di blog ini yang tautannya Saya bagikan di status Facebook Saya. Tertarik melihat tampilan blog ini, Ia mengirim pesan melalui layanan pesan Facebook yang isinya meminta diajarkan cara membuat blog. 
“Tapi Saya buta ilmu komputer, Mbak.” Tulisnya. “
“Ngga apa-apa, Bu. Kita belajar pelan-pelan.” Kata Saya menyemangatinya.
Kami selanjutnya mengatur waktu dan tempat pertemuan.

Di hari pertama belajar, Saya jadi tahu bahwa ibu tersebut bukan hanya buta terhadap cara pengoperasian komputer saja, bahkan bagaimana menggerakkan mouse pun, ibu yang berusia nyaris 60 tahun ini,  belum terbiasa.

Lalu, tarrraaa….
Dalam 10 kali pertemuan, blog yang diimpikan ibu tersebut telah selesai Kami bangun bersama-sama. Dan sekarang, Saya lihat beliau aktif menulis di blog tersebut serta rajin berbagi tautan artikel-artikel yang ditulisnya melalui akun Facebook dan Twitternya

Saya salut pada Beliau.

Setiap datang belajar, Ia selalu membawa semangat dan keinginan untuk bisa. Padahal saat itu, jika Ia merasa malas mengunjungi Saya, Ia punya alasan tepat, yaitu sering turun hujan yang membuat jalanan yang dilaluinya menjadi banjir dan macet
Tapi si Ibu berhasil melawan segala alasan dan hambatan yang merintangi keinginannya untuk bisa membuat dan mengelola sebuah blog.
  
Kisah kedua adalah pengalaman diri Saya sendiri.
Pada Hari Minggu 1 Februari 2015 lalu di subuh hari pukul 03.00, Saya beserta rombongan melakukan pendakian ke Gunung Anak Krakatau. Saat berangkat sebenarnya kondisi tubuh Saya sedang tidak terlalu fit. Saya kelelahan setelah snorkeling dan diving sehari sebelumnya. Saya kecapekan. 
Untuk bangun dari tidur di subuh itu saja terasa berat. 

Lalu Saya teringat, bahwa tujuan utama trip Saya kali ini adalah mendaki Gunung Anak Krakatau. Justru snorkeling dan diving yang kami lakukan kemarin hanyalah extra menu. Ingatan ini memaksa Saya bangun dari tidur dan melangkahkan kaki bersama rombongan subuh itu.

Singkat cerita, saat di tengah pendakian nafas Saya mulai ngos-ngosan.
Kepala Saya pun terasa pusing.

Namun, Alhamdulillah, Saya bersama Suami yang selalu menyemangati.
“Sedikit lagi sampai. Kita naik sampai batu itu, ya, nanti istirahat di sana" Katanya.
Setelah istirahat beberapa menit dia akan menarik tangan Saya agar bangkit lagi.  “Ayo, sudah makin siang. Nanti ngga dapat sunrise

Kecapekan, pusing dan kemudian turun hujan deras,  sebenarnya bisa menjadi alasan tepat bagi Saya untuk berhenti dan memilih turun saja. 
Tapi Saya memutuskan mengikuti ajakan Suami. 
Terus melangkah ke atas.

Dan, Alhamdulillah, meskipun tidak mendapat sunrise karena turun hujan, tapi Saya merasa puas karena bisa menaklukan berbagai alasan yang menggagalkan Saya mencapai batas tertinggi Gunung Anak Krakatau.

EUREKA!!! 



Info Foto : 
Atas : Saya tepar. Terlentang pasrah dengan nafas ngos-ngosan. 
Bawah : Keep on moving...


PS : Terima kasih buat Belahan Jiwa yang selalu hadir untuk menyemangati, membimbing dikala perjalanan terasa berat, mendorong dikala Saya berhenti dan mengangkat dikala kuterjatuh.

Silakan baca juga artikel lainnya :

Mengalahkan Diri Sendiri (Bagian II)

 
;