Tuesday, February 24, 2015

Kurang Kasih Sayang


Hari Senin ini rencana saya adalah rehat sejenak setelah beberapa pekan sebelumnya jadwal pekerjaan di dalam dan di luar kota cukup padat, bahkan hingga Sabtu-Minggu. 
Namun setelah mengantar suami ke kantornya, saya koq tiba-tiba ingin mengunjungi salah satu agen di daerah Senen, Jakarta Pusat. 

Dalam kunjungan kali ini saya tidak bertemu dengan enci pemilik toko, namun saya bisa mengobrol panjang lebar dengan beberapa karyawannya.

Sambil ngobrol, saya melakukan survey kecil-kecilan. Baik tentang produk saya sendiri maupun tentang produk kompetitor. 

Lalu terjadilah percakapan sebagai berikut, "Bu, punya kue yang model begini ngga?" Tanya supervisor toko ke saya sambil menunjukkan sebuah kue kering.
"Wah, belum ada, Mbak" jawab saya.
"Bisa bikin ngga, Bu? Kalau Ibu bisa bikin,  masukkin kue ini juga dong, Bu" Lanjut si Supervisor.
"Ya, bisa sih. Tapi mesti setel mesin lagi.  Jadi agak ribet."
"Bikin deh, Bu. Nanti kita ambil ke Ibu aja. Malas saya berhubungan ama bos kue ini" kata Supervisor, yang diamini anak buahnya.
"Kenapa? Kan dia udah lama ngisi kue kering ke sini?" Tanya saya.
"Iya. Tapi dia sih kurang kasih sayang. Kalau abis taruh kue, ya udah, lempeng aja langsung pulang. Abis ambil tagihan, ngga pernah tuh kami dibeliin teh botol. Bahkan tester dikasih waktu pertama kali datang aja. Beda deh ama Ibu yang perhatian ke kita-kita" lanjut si Supervisor Toko.
Maksud lempeng aja di sini adalah hanya mengurus hal pokok saja lalu langsung meninggalkan toko, tanpa  menyempatkan buang waktu sejenak untuk berbincang-bincang dengan karyawan toko. 

Saya hanya mengangguk-angguk.

Bagi saya, selain customer pengguna produk saya (end-user), karyawan toko agen juga merupakan partner kerja yang penting. Karena justru merekalah yang berinteraksi dengan end-user, sehingga dari merekalah saya bisa mendapat berbagai informasi penting mengenai perilaku konsumen, penerimaan konsumen terhadap produk saya dan juga sepak terjang kompetitor. Dan dengan seringnya saya berinteraksi dengan mereka tentu mereka tidak merasa segan untuk membagi informasi tersebut kepada saya. 

Dan saya juga sangat menyadari bahwa Ini adalah BIsnis, sehingga ada nilai uang dan penghargaan di dalamnya. Maka saya mengalokasikan sekian persen dari budget pemasaran saya untuk informasi yang mereka bagikan, juga untuk antusiasme mereka menawarkan produk saya kepada (calon) pembeli di toko. 
Bentuk terima kasih saya tidak selalu berupa uang, tapi lebih sering dalam berupa barang, misalnya kaos, buah tangan saat saya kembali dari perjalanan luar kota, voucher makan dan lain-lain.

Yang jelas saya menyadari bahwa mereka membantu kesuksesan bisnis saya dan saya menghargainya. Dengan demikian mereka pun merasa saya berterima kasih dan menunjukkan perhatian agar mereka tidak merasa saya tidak sayang pada mereka.

0 komentar:

Post a Comment

 
;