Monday, February 9, 2015

Mendaki Gunung Anak Krakatau

Cerita sebelumnya silakan klik di sini.

Kelelahan menempuh perjalanan ratusan kilometer ditambah aktifitas yang menguras energi menyebabkan malam itu Kami tidur sangat pulas. Sehingga rasanya baru tidur sebentar, tahu-tahu pintu kamar sudah diketuk-ketuk Leader 
"Bangun..bangun...manjat...manjat..." Katanya

Mendengar agenda subuh itu akan ‘manjat’, maka Kami pun bangun dengan bersemangat. Segera cuci muka dan sikat gigi, lalu berganti baju.
Tanpa mandi pagi. (aaahhh…biasaaaa..hehe)

Pukul 03 pagi Kami pun keluar rumah menuju dermaga Pulau Sebesi. Dari Pulau Sebesi perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau di tempuh lebih dari satu jam.
Angin laut yang dingin membuat Kami memilih duduk di dalam palka kapal, mencari posisi enak, lalu melanjutkan tidur.

Pukul 04.20 subuh Kami tiba di pantai Gunung Anak Krakatau. Setelah dibriefing sebentar, Kami pun memulai pendakian. Sekitar 15-20 menit mendaki Kami berhenti sebentar di sebuah dataran yang cukup landai untuk melaksanakan shalat subuh.

Sungguh, pagi itu adalah salah satu shalat subuh tersyahdu dalam hidup saya. Dalam gelapnya suasana sekitar, yang hanya diterangi oleh lampu senter LED yang kami bawa, Kami berenam berdiri untuk mengakui keesaan Sang Pencipta. Beralaskan pasir gunung, kami bersujud menyembah Sang Maha Agung. Alam dalam rembang pagi, seolah terdiam. Angin berhenti bertiup. Burung-burung pun diam tak berkicau. 3 menit itu, Kami berada dalam Suasana yang  benar-benar hening.
Magis.
Tak terasa air mata Saya menetes.
Syahdu.
Jiwa menggigil.
Berada antara takut dan kagum.
ALLAHU AKBAR. Allah Maha Besar.

Selesai shalat Kami bergegas menyusul teman-teman yang sudah lebih dahulu melanjutkan pendakian.
Jalur berpasir dengan track yang memiliki kemiringan yang sangat landai, nyaris 45 derajat, membuat nafas saya ngos-ngosan, kepala pun menjadi  pusing karena tekanan udara rendah. Saya pun sempat njeblak di punggung Anak Krakatau. (Kisahnya Saya bagikan di sini)

Lalu, tiba-tiba kabut turun yang disertai bau belerang. Beberapa detik kemudian angin kencang berhembus diikuti turunnya hujan deras. Kami pun bergegas turun.
Karena jalur yang sangat landai dan berpasir, turun dari gunung kali ini terasa sangat mudah.
Tinggal menggelinding.
Eh, ngga ding, dengan berlari-lari kecil, kadang-kadang nabrak-nabrak ranting cemara, dampailah Kami di pantai Anak Gunung Krakatau.

Setelah berfoto-foto, perjalanan Kami lanjutkan menuju Lagoon Cabe untuk snorkeling lagi.

Melewati Hutan Pohon Cemara di kala hujan
(aaiihh, jadi ingin menulis lirik lagu)
Saya sempat 'njeblak' di punggung Anak Krakatau

6 komentar:

Susindra said...

Luar biasa mbak. Pengen banget ke sana karena mambaca artikel ini.

Rinny Ermiyanti said...

Semoga terlaksana ya keinginannya.
Yuk... jalan-jalan...Mbak Susindra

Unknown said...

Wah bagus banget krakatau
semoga pariwisata Indonesia makin maju

adi Generator said...

saya pikirnya anak gunung krakatau itu berbahaya, ini bisa jadi tempat wisata rupanya
dan ternyata tempatnya bagus bgt gitu ya..

Bunga said...

gunung krakatau unik bgt yak... udah meletus besar2an sampe hancur, skrg dari ledakannya tumbuh baru jadi anak krakatau, pemandangan di sana indah bgt lagi

koperasi said...

saya juga sering naik gunung mba, ternyata krakatau keren juga yahh...
next trip wajib kesini nih, nabung dulu kuy.

Post a Comment

 
;