Saturday, February 14, 2015

Saat Kujatuh Cinta Pada Pandangan Pertama (II)

Season 2 
(Hahaha, udah mulai kayak sinetron)

Jadi begitulah.
Gerombolan, eh, komunitas (biar enak aja dibacanya) kecil kami begitu akrab satu dengan lainnya. Setiap hari main bareng, berantem bareng, main bareng lagi, lama-lama kami merasa nyaman. Serasa bersaudara. Walau lain emak, lain bapak, lain moyang, meskipun mungkin kucing kami berbesanan.

Saking nyamannya kami bermain dengan orang yang itu-itu saja, kemudian malah jadi 'galak' dan was-was dengan masuknya 'orang baru'. Karena dengan masuknya orang baru ke dalam komunitas kami, segala kejelekan anggota grup harus segera ditutupi. 
Misalnya saat salah satu teman mulai pacaran dan mengajak pacar barunya 'hang-out' dengan kami. Teman lain yang diam-diam sudah merokok sejak kelas 6 SD, langsung (sementara) berhenti merokok. Karena khawatir si orang baru ini akan mengadukan ke bapaknya kelakuan buruknya tersebut. Lah, notabene kami semua bertetangga. Jadi si A tahu si B rumahnya dimana, anaknya siapa, bahkan sesama ayam peliharaan kami pun juga saling bertegur sapa. Buktinya saat subuh mereka berkokok bersahutan. Akhirnya, karena merasa atmosfir saat kongkow menjadi tidak enak, lama-lama teman yang sudah berpacaran ini menjauh dengan sendirinya.

Jadi bisa paham dong, ya,  kenapa jaman abege saya begitu sengsara tanpa cinta membara kayak abege di sinetron-sinetron itu. Pingin kayak di foto-foto abege "ditembak" dan dibawakan cake ultah yang heboh itu? Huuuu.. jauhhhhh!!! Ngimpi kaleee!

Tapi kalau Saya bilang jaman abege Saya sama sekali ngga punya pacar, huuuu.. teman-teman Facebook saya dari jaman jadul saat SMP seperti Rully Wind, Agus SubandiEka KustiawatiRoss Gond,dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya itu, akan tertawa terbahak-bahak. Belum lagi teman SMA kayak Kangmas Suami, dan sederet lainnya.
Mereka akan koor dengan suara  kompak : Bohong banget!!!!.

Karena serombongan saksi hidup berada dan terhubung dengan dunia nyata maupun dunia maya, maka Saya ngga bisa berkelit. Memang, sih, saat SMP saya punya pacar. Tapi teteup saya bersikukuh, kami pacaran bukan karena jatuh cinta yang berbunga-bunga dan berbintang-bintang!

Jadi begini, ehem..ehem..(batuk), saat saya kelas 1 SMP jadi wakil OSIS, tuh 'orang' (wkwkwk.. Saya sudah menghindari menyebut nama, biar kupingnya ngga panas disebut-sebut, jadi saya memilih menyebut 'orang'. wkwkwk, sadis betul!) kelas 2 dan punya jabatan Ketua OSIS. Lalu saat Saya kelas 2, naik jabatan jadi ketua OSIS , sedangkan dia naik ke kelas tiga namun tanpa jabatan. Alasan guru-guru, biar seluruh murid kelas 3 ngga sibuk dan hanya konsen mempersiapkan Ebtanas .
Untuk orang yang terbiasa berorganisasi, bengong tanpa kesibukan yang padat, rasanya melangut kan?
Jadi, dari pada 'orang' itu kena post power sindrom, merana dipojokan merasa tersisih, akhirnya, ya udah, saya pacarin aja. Jadi tujuan Saya memacari dia adalah karena panggilan jiwa sosial. (wkwkwk, alasannya, pera' banget kayak beras!).
Dengan memacarinya Saya dapat keuntungan juga, sih, saat jam istirahat ada yang yg traktir, juga pulang pergi sekolah ada yang menjemput dan mengantar sampai perempatan dekat rumah. Cuma berani sampai disitu, soalnya kalau sampai kelihatan bokap bahwa saya pacaran? wuiihh tamatlah riwayatku!.
Dan begitu dia dinyatakan lulus, ,yah, pacaran kami juga tamat.
(Ssstt, cukup lama dia mendendam kesumat, karena ngga terima dicampakkan begitu saja. Duileee...)

Sedangkan saat SMA, Saya pacaran dengan (calon) Suami saat di kelas terakhir. Sebelumnya Saya bersahabat erat dengan Petrus Darmawan, Alm. George Budi, dll dsb. Sejak awal mengenal dekat (calon) Suami, Saya mendapat semacam ilham bahwa Beliau inilah yang akan mendampingi hidup Saya kelak. Makanya, Saya tenang melanglang buana dan menjalani kehidupan sebagai jomblo hingga nyaris berusia 30 tahun.

Proses Saya jatuh cinta dengan Suami juga bukan jenis yang terngiung-ngiung, gitu koq. Ngga pakai susah makan dan susah tidur karena memendam rindu. 
Tapi slowly but sure.

Garing ya, hidup saya?

Saya memang belum pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki. Tapi Saya terantuk cinta yang langsung menghujam ke seluruh sanubari, seluruh jaringan tubuh, seluruh serabut syaraf dan seluruh panca indera, ketika pertama kali melihat perempuan-perempuan ini : Vania AgustinRifda Agustin AulianaJasmine Fairuzzahra dan Safira Aziza Noor Yasin.


Dan ternyata benar, jatuh cinta pada pandangan pertama itu sangat luar biasa.
Cetar membahana. 
Menggonjang-ganjing kehidupan.
Karena sejak detik itu, rasanya seluruh eksistensi selama 31 tahun sebelumnya tidak berarti apa-apa. 

Sejak dimulai detik pertama Saya jatuh cinta pada mereka, Saya menjadi manusia baru.
Sebagai Ibu.

0 komentar:

Post a Comment

 
;