Tuesday, March 31, 2015 1 komentar

Fenomena Abbot

Andrew Chan dan Myuran Sukumaran adalah dua dari sembilan orang warga Australia yang tertangkap pada 17 April 2005 di Bali, -sehingga kesembilan orang ini disebut ‘Bali Nine’- dalam upaya mereka menyelundupkan heroin seberat 8.2 kg dari Bali ke Australia. Kini Andrew Chan dan Myuran Sukumaran diputuskan oleh pengadilan akan dieksekusi mati dihadapan regu tembak. Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Australia Tony Abbott meminta agar pemerintah Indonesia meninjau kembali hukuman mati itu. Namun dalam pernyataannya PM ini melakukan slip of tongue dengan mengungkit-ungkit bantuan yang telah diberikan Australia saat musibah tsunami Aceh pada Desember 2004. Ia ingin agar pemerintah Indonesia membalas kebaikan mereka dengan tidak menjatuhkan hukuman mati kepada kedua penyelundup heroin itu. "Australia telah mengirimkan bantuan dalam jumlah besar. Australia juga telah mengirimkan angkatan bersenjata untuk menolong Indonesia sebagai bagian bantuan kemanusia. Bahkan beberapa relawan Australia meninggal kala membantu Indonesia saat itu. Saya ingin katakan kepada rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia, kami Australia selalu membantu Anda dan kami berharap Anda membalasnya saat ini," Kata Abbot.

Pernyataan ini tentu menyakiti dan membuat tersinggung rakyat Indonesia terutama sekali rakyat Aceh sehingga mereka melakukan gerakan “Coin For Abbot

Meskipun saya ikut-ikutan sebel, -koq ya politisi selevel PM nyin nyir gitu- namun cukup sekian saya membahas tentang PM Australia tersebut. Selanjutnya saya ingin menyoroti kelakuan yang mirip-mirip, eh, bukan cuma mirip, tapi memang sama, dengan kelakuan PM Abbot, sehingga kelakuan ini saya sebut Fenomena Abbot. Yaitu kelakuan suka mengungkit apa yang telah dilakukan atau apa yang telah diberikan kepada orang lain. 

“Tahu, ngga , Mbak, kalau bukan saya yang menolongnya dulu, uh, mungkin sekarang dia keblangsak

“Kamu jadi manusia, koq, tidak tahu berterima kasih. Kalau bukan karena saya, ngga tahu deh, jadi apa kamu sekarang. Tahu diri dong”

Kalimat-kalimat diatas sudah beberapa kali saya mendengarnya. 

Bahkan saya sendiri pernah mengalami dibegitukan oleh seseorang.
Apa yang bisa saya lakukan saat itu? Saya cuma bisa diam walau sakit hati, kesal sekaligus tak berdaya. Karena kondisi saat itu saya memang dalam sedang butuh bantuan, dan kebetulan bantuan datang darinya.  Tapi setelah tahu dampaknya seperti itu sekarang, ingin rasanya meminjam pintu kemana saja dari Doraemon, atau meminjam jam pasir Pembalik Waktunya Hermione Granger, sehingga saya bisa kembali ke masa tersebut dan berusaha bertahan  tanpa bersedia menerima bantuan orang tersebut.
Tapi apa daya, hari kemarin tidak mungkin diulang.
Jadi saya lebih memilih menggigit lidah agar tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat saya makin disebut ‘orang yang tidak tahu berterima kasih

Kenapa orang bisa terjangkit fenomena Abbot ini?
Saya bukan psikolog, tapi saya mencoba memahami situasinya.
Mungkin orang tersebut sedang membutuhkan bantuan, dan ia berharap bantuan datang dari orang yang dulu pernah ditolongnya, namun karena sesuatu hal bantuan tersebut tidak bisa diberikan.
Mungkin seseorang yang dulu dibantunya terlihat lebih oke dibandingkan dirinya, sehingga ia butuh pengakuan bahwa ia berperan besar bagi orang tersebut.
Dan banyak mungkin lainnya.

Sahabat pernah mengalami kejadian tersebut?
Duh, pasti, sakitnya tuh disini: (pegang dada). Iya'kan?

------
Catatan: saya sebut Fenomena karena bagi saya kelakuan tersebut adalah sesuatu yang luar biasa. Yang bisa menyebabkan perubahan perilaku korbannya menjadi serba salah, tidak pede, marah dan sakit hati. Lihat saja bagaimana reaksi masyarakat Indonesia, Aceh khususnya.


KBBI: fenomena /fe·no·me·na/ /fénoména/ n 1 hal-hal yg dapat disaksikan dng pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (spt fenomena alam); gejala: gerhana adalah salah satu -- ilmu pengetahuan; 2 sesuatu yg luar biasa; keajaiban: sementara masyarakat tidak percaya akan adanya pemimpin yg berwibawa, tokoh itu merupakan -- tersendiri; 3 fakta; kenyataan: peristiwa itu merupakan -- sejarah yg tidak dapat diabaikan


Monday, March 30, 2015 18 komentar

Waspadalah Terhadap Predator Anak

Subuh tadi saya mendapat telepon dari suami salah seorang sahabat, ia meminta agar saya berkunjung ke rumah mereka, karena ada suatu hal yang penting akan mereka bicarakan. Tapi sayangnya hari ini jadwal saya penuh sampai sore, karena hari Rabu sampai Ahad kami berencana keluar kota. Selain itu janji-janji temu yang terlanjur saya buat sulit untuk saya batalkan mendadak.

Setelah beberapa kali saling balas menelpon, akhirnya sahabat saya menyampaikan permasalahan mereka melalui telepon.

Mendengar curhatnya, sebagai sahabat dan seorang ibu saya miris sekaligus ikut merasa marah dengan kejadian yang mereka alami.

Sahabat saya sedang tertimpa musibah, yang sekaligus bisa jadi peringatan bagi kita semua.

Salah seorang anak perempuan teman saya ini, berumur 17 tahun, kelas 2 SMU, sakit panas beberapa hari, semula dikira kedua orang tuanya ia menderita demam biasa, anaknya pun ngga banyak mengeluh. Tapi setelah lebih dari seminggu demam tidak kunjung sembuh, mereka membawa anak tersebut ke dokter. Setelah diperiksa darah ternyata anak tersebut menderita penyakit kelamin. Sipilis, positip , gonorrhoea, positip. Kedua orang tuanya bagai tersambar petir.

Kepada orang tuanya, anak tersebut tidak mau mengakui perbuatannya kenapa ia bisa sampai tertular penyakit - penyakit kotor itu. Ia melakukan aksi tutup mulut. Orang tuanya sempat menuduh pacarnya yang menularkan penyakit tersebut. Kecurigaan mereka menjadi-jadi ketika si Pacar ditelepon, diSMS, dan diBBM tidak mau juga kunjung menjawab. Apalagi menemui mereka.

Akhirnya melalui bantuan seorang psikolog terungkaplah cerita sesungguhnya, yang jauh lebih mengenaskan.

Sambil menangis terisak-isak sahabat saya bercerita semuanya berawal dari Instagram dan Path. (bagi sebagian anak muda Facebook is too old fashioned). Dari kedua jaringan sosmed ini sang anak berkenalan dengan seorang anak muda lelaki. Sekian bulan berkenalan mereka ketemuan lalu pacaran. Beberapa bulan pacaran mereka melakukan hubungan suami-istri, lalu entah alasannya apa, si anak gadis diputuskan oleh pacarnya. Dalam keadaan sedih, anak perempuan tersebut didekati teman mantan pacarnya (yang sekarang menjadi ‘pacar’nya), dihibur dan diajak bergaul dengan kelompok tertentu. Ternyata seluruh anggota perempuan kelompok tersebut adalah gadis yang pernah dinodai oleh pacarnya. Dengan bujuk rayu, anak-anak gadis belasan tahun  ini dijadikan “ayam online”.

Kenapa mau, Nak?
“Kan aku sudah ngga perawan, sekalian saja dilanjut, bisa dapat duit lagi” Kalimat ini dikatakan sendiri oleh anak sahabat saya kepada psikolognya.

Anak sahabat saya ini masih bersekolah seperti biasa, berpenampilan wajar layaknya anak sekolahan, namun nyaris tiap sore ia dijemput oleh pacarnya untuk keluar dan kembali pada pukul 10 malam. Tidak pernah lewat dari waktu tersebut.
Sahabat saya menganggap jam keluar anaknya masih wajar, sehingga ia tidak curiga. Beberapa kali ia memang mendapati foto-foto gadis tersebut dengan tampilan bermake-up. Tapi anak gadis itu beralasan bahwa foto tersebut dibuat setelah iseng-iseng mencoba peralatan make-up di rumah temannya.

Pada psikolog, anak tersebut juga mengakui bahwa pacar barunya sebenarnya cuma sahabat yang sering mengantar dia jika mendapat order. Saya pikir, mungkin semacam kurir, ya.

Anak sahabat saya tidak pernah tahu dari mana lelaki pengorderanya, karena jika mendapat ‘job’ ia akan di WA oleh Mbak xxx, salah satu senior di kelompoknya, ia lalu akan dijemput si ‘pacar’. Jika telah selesai, pacarnya juga yang akan mengantar pulang. Setiap kali dapat job, ia akan dibayar 300 ribu dari si pacar. Katanya si Pacar juga dapat uang dari transferan seseorang yang disebutnya Mbak xxxx tadi .
Anak sahabat saya ternyata ikut ‘gerombolan’ ini sejak kelas 1 SMU. Jadi sudah setahun lebih ia jadi ‘ayam online’. Sedangkan kejadian ia ‘kerjain’ oleh pacarnya adalah saat SMP kelas 3.

Sebuah pelajaran yang sangat mahal. Tolong ambil hikmahnya saja. Jangan menghakimi sahabat saya sebagai orang tua yang kurang begini-begitu. Karena sebagai orang tua kita pun tidak sempurna.

Terima kasih untuk sahabat saya dan suaminya mengizinkan saya membagikan cerita ini agar kita, para orang tua, lebih waspada terhadap para predator-predator yang mengintai untuk memangsa anak-anak kita.
Saturday, March 21, 2015 0 komentar

*Mimpi dan impian*

Pernah mimpi? Saya tiap kali tidur. Kadang mimpi tersebut begitu indah sampai saat terbangun saya pingin tidur lagi dan melanjutkan mimpi yang tadi. Bisa dikatakan saya selalu bermimpi bahkan ketika saya dipaksa tidur karena dibius saat sedang dioperasi Tapi ada loh orang yang ngga pernah mimpi. Tidurnya blank. Saya ngga tahu rasanya, karena rasanya seumur hidup belum pernah tidur saya blank.

"It's the probability to make a dream come true that make life interesting!"
Adanya kemungkinan untuk mewujudkan impian yang membuat hidup menjadi menarik.

Itulah, tanpa disadari sering kali mimpi-mimpi saya adalah harapan-harapan yang begitu kuat hingga terbawa mimpi. Mimpi yang kuat akan menjadi Impian. Impianlah yang membuat saya bertahan berada di dunia ini, walaupun ada yang bilang hidup ini kejam.

Mungkin teman-teman ada yang pernah mengalami situasi 'dream comes true'? Waaahh, indah banget'kan? Kita akan merasa puas dan bahagia. Apalagi jika untuk mencapai impian tersebut perlu usaha ekstra keras.

Menurut analisis saya (Sentilun mode), salah satu jenis manusia yang paling tidak bahagia adalah individu yang hidupnya mudah, bergelimang fasilitas dan privilege. Misalnya orang tajir seatret-atret, pingin haji langsung jreng! Bayar seratus juta lebih, ngga masalah. Pingin mobil Porche, jreng!, beli. Pingin ke Eropa, makbul!, langsung berangkat. Pingin ngegebet cewek cantik, tuh cewek langsung ngikut, karena termasuk jenis mata duitan.

Tapi, suwer Prenz, ngga enak hidup dengan nyaris semua hal gampang diraih. Bayangkan si Kang Obed yang mimpi meraih hati si Maemunah, bunga desa impiannya. Kang Obed harus bersaing dengan anak Juragan, anak Pak Kades, dan pemuda lainnya. Makanya begitu Maemunah ho-oh ama proposal cintanya, waduh...Kang Obed langsung merasa lebih hensem dari Brad Pitt 

Mak Ijah yang pingin naik haji sampai sinetronnya berpuluh episode, begitu bisa naik haji beneran, wuihhh Mak Ijah langsung berlinang-linang air mata bahagia.

Atau contoh teranyar adalah keponakan suami yang nyaris tiga puluh tahun lebih hidup menjomblo, begitu sukses bersanding dengan lelaki pujaan hati, kelihatan banget bahaaagiiaaa banget. Nyengirrr melulu selama duduk di pelaminan.
Aaaihhh...senangnya.

Begitulah, Prenz. Percaya aja deh, walaupun dalam meraihnya harus berdarah-darah, kita akan merasa bahagia banget jika mimpi menjadi nyata dan impian bisa teraih. Semua luka-luka yang berdarah langsung sembuh, semua kepahitan menjadi semanis madu.


Monday, March 9, 2015 0 komentar

Kerupuk

Meskipun belum sampai tahap penggila, tapi saya adalah fans berat kerupuk. Buat saya kerupuk itu adalah salah satu temuan kuliner tercerdas bangsa ini. Dari berbagai jenis kerupuk, kerupuk favorit saya adalah kerupuk putih yang dijual di dalam kaleng-kaleng di etalase warung.
Kerupuk adalah panganan ajaib buat saya, bentuknya sederhana, putih polos tanpa perlu kehadiran warna lain. Tapi dengan kesederhanaannya itu, ia akan membuat riuh makan siangku. Sayur hambar jadi nikmat jika dicampur gigitan kerupuk. Sambal yang pedas makin maknyus jika dicocol kerupuk ini.
Dibanding kerupuk udang atau kerupuk ikan tenggiri yang 'wah', kerupuk putih ini terkategori cemilan biasa-biasa aja, tapi ia sudah ratusan kali menunjukkan kedigjaannya tanpa banyak gaya. Setidaknya dalam piring nasiku. Contohnya siang ini. Saya sudah memesan 1 set menu makan siang berupa olahan seafood, saat makan itu dihidangkan, aroma yang menguar, waaaahhh... bikin saya rasanya segera pingsan jika tidak menyantapnya. Karena lapar sejak pagi belum sempat sarapan. 

Tapi begitu suapan pertama menyentuh lidah saya, whuaaahhhh... pedesnya bikin saya berasap. Sempet kesal karena sudah lapar berat dan kini makin terasa berat karena mengira akan gagal makan Untunglah saya selalu cepat menjelajah, Aha! Ada sebuah kaleng mengelantung di tiang warung, penuh berisi kerupuk putih. Tanpa berpikir dua kali, langsung saya ambil dua buah kerupuk.

Siang ini menu makan saya  cukup dengan nasi putih dan kecap.Tapi saya merasa puas. Sure, you saved my life, kerupuk, dari kemungkinan 'masuk angin'. Soal gizinya yang rendah, saya ngga khawatir, karena akan saya tambahkan dengan berbagai cemilan, nanti.


Sunday, March 8, 2015 0 komentar

Ketika Air Tanah Kami Tercemar

Beberapa hari lalu saya menjual jerigen dan drum bekas yang menumpuk di halaman belakang ke sebuah lapak barang bekas. Setelah deal harga, mereka menjemput untuk mengambil jerigen-jerigen dan drum-drum tersebut Namun, ternyata  cerita tentang jerigen-drum tersebut bukan hanya sampai di situ aja, tapi berlanjutnya sampai hari ini. 

Jadi, sebagian jerigen-jerigen tersebut memang ngga kosong, ada beberapa yang berisi produk cairan pembersih untuk boiler (boiler pabrik yg segede megaloman itu, jadi kebayangkan konsentrasi larutan di dalamnya), nah, saat jerigen-drum tsb dijual, saya sudah menyatakan bahwa sebagian berisi limbah, jadi saya minta sekalian limbah tersebut  dibawa aja beserta drumnya. Karena di rumah saya tidak ada bak pengolahan limbah.

Saat mereka mengumpulkan jerigen-drum tersebut dan akan diangkat, mungkin karena merasa berat, maka dengan enaknya isi jerigen tersebut mereka buang ke lubang-lubang biopori yang saya buat di halaman belakang.
Alamak!!!!
Akibatnya tercemarlah air tanah kami, padahal dari air tanah itulah kami bergantung untuk mandi-cuci-minum-masakm karena kualitas air tanah kami selama ini masih bagus. Akibatnya sudah hampir seminggu ini kami kesulitan air bersih. Untungnya rembesan limbah tersebut tidak merembes ke tetangga sehingga masih bisa minta air ke mereka sesekali.
Tapi karena ngga enak berkali-kali minta, dan air adalah salah satu pendukung vital, akhirnya kami mengungsi ke hotel dan pakaian kotorpun di laundry.
Untuk mengembalikan kondisi tanah ke keadalaan semula, saat ini kami sedang melakukan proses bioremediasi untuk tanah pekarangan yang seuprit itu. Bioremediasi adalah proses 'menyembuhkan' tanah yang rusak karena over-ekspos, entah karena tercemar bahan kimia, minyak atau bekas lahan tambang dengan menggunakan bakteri atau jamur tertentu. Bakteri akan 'memakan' polutan lalu menguraikan dan mengubahnya menjadi gas-gas yang tidak berbahaya, seperti menjadi CO2 dan H2O.

Dalam kasus tanah pekarangan kami, jadi tanah dipacul lalu diberi beberapa jenis bakteri penetralisir deterjen. Ini kami lakukan setiap hari. Dan Alhamdulillah, alam pun sepertinya membantu dengan menurunkankan hujan setiap hari. Dengan adanya limpahan air hujan , diharapkan kandungan polutan semakin menyusut.
Semula kami kesal luar biasa kepada para tukang lapak drum tersebut, tapi lalu kami bersyukur mereka membuang limbah tersebut ke tanah kami, seandanya mereka membuang ke sungai atau tanah pekarangan entah milik siapa, dimana orang lain yang bergantung thd air tanah di situ, aduh, betapa bersalahnya kami. Setidaknya biarpun air tanah kami tercemar, kami tahu harus berbuat apa untuk me-recovery tanah yang tercemar itu. Meskipun biaya yang kami keluarkan sudah lebih dari 20x dari harga jual jerigen-drum tersebut


Monday, March 2, 2015 1 komentar

Kutu

Saat menjemput Rifda dari Pesantren, Vania berpesan agar dikirimi obat pembasmi kutu secepatnya, "Aku kutuan,Ma. Temen-temen sekamarku ngga mau dekat aku kalau aku ngga jilbaban" Katanya sedih. Meskipun kutuan adalah penyakit umum anak pesantren, tapi tidak dengan anak-anak di pesantren ini. Karena tiap kamar mereka punya guru pengawas masing-masing yang sangat aware dengan kebersihan kamar dan kesehatan tiap anak. Maka kami heran setengah tahun lebih si Kembar di pesantren, baru kali ini Vania kutuan. 
Maka begitu sampai Tangerang setelah menjemput Rifda, hal pertama yang Papanya lakukan adalah ke apotik dan memborong selusin obat pembasmi kutu "Mungkin ada temannya yang tertular, biar dibagikan ke mereka" katanya.

Keesokan paginya, melihat jejeran obat kutu di atas meja komputer saya, khadimat cuci-setrika saya berkata,"Bu, boleh minta satu botol ngga, buat si Puput tuh dia kutunya banyak banget." Saya mengangguk. "Bawa dua botol,Bi, jangan-jangan Bibi juga kutuan"

Sore harinya, saat menyisiri Jasmine khadimat saya yang lain mendapati telor kutu di rambut Jasmine. "Bu, koq rambut  Jasmine ada telor kutunya?"
"Hah! Coba cari induknya, Wi." Kata Papanya. Saya yang saat itu masih sakit cuma bisa memandangi kepala Jasmine, terlalu lemah buat berkomentar.
Dan benar saja, sebentar saja ditemukan dua kutu hitam. Rambut Jasmine pun langsung dilumuri pembasmi kutu dan dibungkus rapat. 

Ba'da Maghrib, Saya yang merasa bergembira karena sudah merasa sembuh, berniat mandi. Tapi sebelum mandi dengan berselempang handuk di pundak berhenti dulu di depan meja makan, menyantap beberapa potong buah. Rifda setengah berseru,"Ma, ada kutu tuh di handuknya."
What! Ini handuk bersih baru keluar dari lemari.
"Cek kepala Mama, Rifda, jangan-jangan kutuan juga" Kata si Papa.
"Enak aja, kecuali saat di pesantren, seumur-umur Mama ngga pernah kutuan lagi" bela diri, dong, gue.
"Ini, Ma. Ngga banyak sih, tapi ada telurnya." 
Waks!
Maka tanpa pikir panjang Saya segera melumuri rambut saya dengan obat pembasmi kutu. Perlu 3 botol supaya dari kepala hingga ujungnya basah oleh obat tersebut, maklum rambut saya 'lumayan' panjang, terakhir potong rambut saat hamil Jasmine. 
Mandi pun ditunda.

Merasa baru sembuh, saya ngga mau berlama-lama meracuni kulit kepala, meski saran di kemasan, obat tersebut didiamkan semalaman, saya merasa 4 jam sudah cukup, (kebetulan juga nunggu masa kerja obat tersebut sambil nonton film The Man in The Iron Mask-nya Leonardo Di Caprio) maka pukul 11 malam saya mandi dan keramas dengan air hangat. Merasa sudah sangat mengantuk, saya tidur dalam kondisi rambut setengah kering.

Rambut basah terkena udara AC kamar rupanya lama-lama membuat kepala saya kedinginan. Dan sebagai mekanisme pertahanan tubuh, otomatis otak memerintahkan menambah suhu tubuh saya. Dini hari saya terbangun dengan kepala dan muka panas dan seluruh otot saya mengigil hingga gigi gemeretuk sendiri. 

Ketika sakit tiga hari kemarin saya merasa legowo. Tapi karena tahu apa penyebab demam kali ini, saya merasa menjadi manusia tergoblok, terbodoh dan tertolol sedunia. Saya pun menangis.
Sekaligus saya merasa sangat kesal dengan penyebab ini semua : Kutu rambut! Dan saya tahu siapa tersangka utamanya : Si Bibi dan Anaknya! 
"Besok pagi Si Bibi gua pecat! Gara-gara dia gua jadi demam tinggi lagi" umpat saya di sela tangis.

Anak bibi jadi 'tertuduh' karena Sabtu dan Minggu pekan lalu ia ikut ibunya ke rumah, dan ia bermain, menggambar bahkan tidur-tiduran bersama anak-anak. Selain itu, ketika mendapati kutu di rambut Jasmine kemarin sore , pura-pura mengelus-elus kepala teman-teman main Jasmine, suami saya sudah mengecek mereka sayu persatu, dan hasilnya semua anak bersih. 

Melihat tubuh saya menggigil, suami memutuskan akan membawa saya ke UGD RS saja. Saat sedang packing beberapa helai pakaian saya ke tas, sebagai persiapan jika harus dirawat, Safira yang terbangun masuk ke kamar kami, lalu tidur di sebelah saya "Mama peluk" katanya. 
Saya pun menghapus air mata dan mengatur nafas agar tenang. Jangan sampai kegalauan saya dirasakan Safira, karena khawatir nanti dia ngga bisa tertidur lagi. Dan jika ia ngga tidur, saat kami berangkat ke RS pasti akan menangis karena merasa ditinggal. 
"Mama nyanyi" katanya. Biasanya saat-saat seperti ini saya akan menepuk-nepuk pahanya sambil bergumam lirih. 
Kali ini karena mengharapkannya tenang dan cepat tidur maka saya bernyanyi lirih
"Tenang... Tenang... Tenang"
"Tidur...tidur...tidur....
"Apin tenang, Apin tidur, Apin lekas tidur"
Dan... saya pun tiba-tiba merasa menghilang.

Saya terbangun karena kawanan burung yang biasa mendapat jatah beras tiap pagi, bersuara berisik di depan rumah. 

Alhamdulillah, suhu tubuh saya sudah normal. Saya memang baru tidur 3-4 jam, tapi rasanya tubuh cukup sehat. Dan pagi yang indah ini membuat saya berpikir ulang tentang rencana saya memecat si Bibi. Tak perlu dipecat, hanya dipastikan mereka tidak berkutu lagi


 
;