Thursday, May 28, 2015 0 komentar

Always Answer Your Phone Ring

Dulu, ada saat-saat saya begitu takut mendengar bunyi telepon berdering.  Yaitu ketika bisnis saya sedang hancur-hancurnya dan daftar tagihan yang belum bisa saya bayar begitu panjang.
Jujur, saya takut dimarahi.

Tapi kemudian supplier-supplier tersebut malah berdatangan ke rumah, dan daftar malu saya bertambah.
Yang tadinya hanya supplier yang tahu saya punya kredit macet, sekarang dari mulai satpam, Pak RT dan tetangga-tetangga ikutan tahu.

Biarpun demikian, saya tetap ngga bisa ngumpet atau lari terus-terusan. Saya tidak ingin masalah perdata malah menjadi pidana karena dianggap menipu. Jadi mau ngga mau harus dihadapi.

Setelah dihadapi, eaalahhh...walaupun ada juga yang marah-marah, tapi lebih banyak yang mau diajak bernegosiasi.
Dan masalah tagihan bisa selesai dengan cara yang lebih nyaman.

Namun ada akibat lari-lari, mereka jadi kehilangan kepercayaan. Kapok mau mensupply. Seandainya saya saat itu bisa 'gagah berani' menghadapi, mungkin mereka masih ada pertimbangan-pertimbangan. Sebagai pebisnis mereka tentu sudah sering menghadapi kredit macet.

Dari situ saya belajar.

Sekarang tidak takut lagi dengan tagihan, jika belum ada dana untuk membayar, saya akan katakan terus terang. Dan masalah-masalah pembayaran saya handle langsung. Jika ada keterlambatan saya kasihan dengan anak buah jika mereka yang dimarahi supplier.

Namun, Alhamdulillah, saya belum pernah lagi menghadapi debt collector.

Sekarang siapapun mau menelpon saya, pagi-siang-sore-malam, sepanjang ponsel saya tidak sedang off, atau kebetulan saya jauh dari ponsel, Insya Allah akan selalu saya jawab.


Karena tidak jarang saya mendapat kesempatan baru justru dari orang-orang/perusahaan-perusahaan yang sebelumnya tidak saya kenal. Dan saya tidak ingin kehilangan kesempatan itu.
0 komentar

MEMILIH

Seringkali sebagai istri dan ibu, kita dihadapkan pada kondisi harus memilih dan membiarkan angan-angan kita surut sejenak.
Kondisi memilih antara berbisnis dan mengurus anak seringkali saya temui. 
Bahkan hingga hari ini.
Saya sudah lupa berapa kali membatalkan janji karena anak sakit atau anak tidak bisa ditinggal saat tidak ada yang menjaga. Bahkan pernah mundur dari sebuah tender karena pada hari tersebut saya tidak bisa meninggalkan anak, sementara dibawa juga tidak memungkinkan.
Tahun 2008, saat bisnis fashion saya mulai jalan cepat, tetiba saya hamil. Meskipun masih dilanjutkan, namun jalannya mulai timik-timik. Akhirnya di hand-over saat hamil lagi (Ih, hobi!).
Dengan mengurus bayi dan batita cukup membuat saya langsing. Sehingga tidak perlu lebih langsing dengan mengeluarkan energi tambahan buat berbisnis.
Saat itu saya 'lupakan' soal target, omset dan sebagainya. Urusan beralih ke popok, masak bubur dan sejenisnya. 
Padahal kondisi bisnis sudah dipersiapkan sedemikian rupa dan 'siap masuk medan tempur'. Website, kemasan dan segala persiapan branding sudah mulai dilakukan.
Tapi, yah itulah namanya qadar saya. Harus saya terima.
Saya simpan sementara rencana dan mimpi saya. Kadang-kadang kalau lagi jenuh muter aja di rumah ngurus susu dan ompol anak, rasanya 'gatal' kangen merasakan hebohnya dikejar deadline dan target, chit-chat dengan berbagai orang, Customer atau supplier.
Tapi, ya sudahlah. Saat itu diterima saja pilihan yang tersedia lengkap konsekwensinya.
Hal yang berbeda yang harus dipilih Ibu saya. Adik bungsu saya berusia dua bulan saat Bapak meninggal. Tapi anak lainnya yang berjumlah 7 orang harus diberi makan dan perlu uang sekolah serta biaya hidup lainnya. Tak ada pilihan lain bagi Ibu selain harus menitipkan 3 balitanya kepada nenek dan kakek saya. Jika Ibu mempertahankan ke 8 anak bersamanya saat itu, maka 3 balitanya tidak akan terurus karena Ibu harus bekerja dan kami yang besar-besar bisa seharian di sekolah dan perjalanan, karena jarak kami bersekolah rata-rata jauh dari rumah.
Memilih dan memutuskan mengambil pilihan yang mungkin terasa paling pahit, tapi bisa jadi pilihan tersebut adalah yang terbaik.
Jadi emak-emak yang sekarang sedang galau karena merasa terjebak dengan kondisi, perbanyak istighfar dan shalat istiharoh saja agar ditunjukkan cara dan jalan yang terbaik. 
Seringkali yang terbaik belum tentu sesuai perkiraan kita. Karena Yang Maha Pengatur lah yang tahu skenario hidup kita.
Just enjoy your days, Mommies


0 komentar

Operator Baru

Tanggal-tanggal segini biasanya saatnya bayar-bayar tagihan. Karena saya pun merangkap bagian penagihan (sebut aja bagian apa, saya pasti ada jabatannya di situ. Haha), maka saya langsung searching tagihan customer yang sudah lewat jatuh tempo. Ada beberapa dan kemudian saya telepon mereka satu persatu.
Saat menelpon salah satu perusahaan:
Operator : Selamat sore, PT X, ada yang bisa saya bantu? 
Saya; Selamat sore. Saya Rinny dari Harvest Chemical. Bisa tolong disambungkan ke Finance?
O : Baik Bu Rinny. Mohon tunggu sebentar.
Lalu terdengar alunan nada tunggu.
O : Maaf Bu. Tadi mau bicara dengan siapa? 
Saya : Dengan finance, Mbak.
O : Baik Bu. Mohon tunggu
Lalu terdengar suara alunan nada tunggu lagi. 
O : Maaf Bu. Saya sudah cek beberapa kali, di perusahan kami ngga ada karyawan yang namanya seperti Ibu sebutkan
Saya: Hah! Yang bener Mbak? Saya beberapa kali koq menelpon ke Finance di perusahaan ini.
O : Ibu tidak salah nama perusahaan kan? Mungkin nama perusahaannya mirip Bu?
Saya : Ya ngga salah dong, Mbak. PT. X kan?
O : Iya Bu, benar. Tapi ngga ada yang namanya F A I N E N S di sini. Nih Bu, extension 100 itu Bapak (Bos), 102 Pak Tono, 103 Marketing, 104...(lalu disebut beberapa extension lain). 
Saya : Gini Mbak. Manajer Finance tuh Pak Tono. Tapi biasanya saya bicara ke Mbak Laksmi atau Mbak Tika aja.
O : ooohh... Mbak Laksmi di extensi 116. Sebentar ya Bu saya sambungkan.
*gigit ordner*
Note: 
Hasil bicara dengan 'Fainens': oooh pembayaran tagihan Harvest Chemical kami jadwalkan 12 Juni, Bu.
*makan ordner*


 
;