Wednesday, June 24, 2015 0 komentar

Mengalahkan Ketakutan



Sadar ngga sih, kalau sejak bayi 'baru lahir sampai detik ini, kita mengalahkan banyak sekali ketakutan-ketakutan?

Saat lahir kita menangis keras,selain sedang mengembangkan fungsi paru-paru, tentu seorang bayi merasa takut karena pertama kalinya kehilangan rasa nyaman dan aman berada di dalam kandungan ibu.
Lalu takut jatuh saat belajar merangkak dan belajar berdiri.
Takut teman asing saat masuk sekolah pertama kali .
Dan seterusnya.

Jutaan ketakutan telah kita kalahkan.
Hanya sedikit ketakutan yang tidak bisa kita taklukkan.
Namun yang sedikit itu begitu terasa mencekam, sehingga kadangkala mengurangi keindahan hidup kita.

Saya pernah menuliskan bahwa saya merasa demikian takut terhadap laut. Saat itu laut begitu menyeramkan buat saya. Penuh misteri. Dan saya berusahaan tidak mau berada lebih jauh dari garis pasir pantai. Air laut hanya "saya ijinkan" maksimal menyentuh sedalam lutut saya.
Berlayar?
Boro-boro!

Lalu saya memaksakan diri melaut.
Dan meskipun belum sampai taraf mencintai laut, tapi sekarang saya suka bermain di laut. Walau akibatnya kulit jadi kelam.
Saya tidak takut lagi terhadap laut melainkan menjadi sangat respek.
Laut itu ternyata....
ternyata...
Ah, main aja sendiri ke laut, biar bisa merasakan keagungan Pencipta laut.

Ketakutan lain yang baru beberapa pekan lalu saya kalahkan adalah ....
MOBIL MATIC!!!
Hahaha..
Iya. Mobil Matic.
Januari saya "dapat" mobil matic dari suami, karena katanya kasihan dengan betis saya yang makin "mbecak", gegara Jakarta kian macet.
Sejak sebelum mobil itu ada, saya selalu berkilah : "tough women use 3 pedals". Tapi sejatinya saya ngeri karena mendengar dan membaca berita mobil matic yang ajaib bisa meloncat dan terbang saat dinyalakan. Kalau meloncat dari lantai 3 gedung parkir kan jadi rempeyek hancur saat sampai dibawah.
Ditambah pengalaman pribadi saat menebeng teman. Ketika mobilnya berjalan mundur akan diparkir, mobil matic itu meluncur kencang. Untung masih diselamatkan Allah. Tidak menabrak orang yang kebetulan lewat di belakang mobil.
Maka saya cuek membiarkan tuh mobil ngejogrok di garasi. Saya tetap setia dengan "mobil sejuta umat" yang berkopling itu.
Lalu kebahagiann saya berdampingan dengan si Apanjah berakhir saat ada Sales baru. Dan daripada mengharap diantar kesana-kemari saya pun memberanikan diri menstater si Matt(ic).
Daaannn.. selamatlah saya pergi-pulang
Ke dan dari Indomaret.
Lalu, makin jauh,
makin jauh,
Alhamdulillah, akhir pekan lalu berhasil sampai Taman Mini pergi-pulang tanpa aksi si Matt "terbang dan melompat".

Pekan ini rencana ke Cirebon, kerja sekaligus njajal Cikapali.
Kuncinya adalah belajar.
Belajar supaya tahu
Belajar dari kesalahan.
Dan tentu berdoa
Biar selamat dunia akhirat.
Aamiin.

Monday, June 22, 2015 1 komentar

Mbak Titi vs Mbok Sri



Mbok Sri adalah pedagang kue keliling. Dia menjaja dagangannya hingga ke pelosok gang di sebuah kampung. Cara unik Mbok Sri berjualan adalah menghutangkan kue-kue tersebut dan menerima pembayaran dari konsumennya secara mencicil. Biasanya sebungkus kue seharga 10.000 dicicil dalam waktu 5x bayar. Sehari 2.000 jika yang dihutang hanya 1 bungkus kue.

Mbok Sri si tukang kredit kue cukup terkenal di kampung tersebut, karena sering menjadi penyelamat di saat anak merengek minta jajanan sementara orang tuanya tidak punya duit. Atau jika tiba-tiba datang tamu dan tidak punya panganan untuk disuguhi.

Suatu hari Mbak Titi, salah satu penghuni baru di kontrakan Haji Zulham pusing karena sebentar sore mertua akan datang sowan, sementara ia sedang tidak punya uang untuk membeli penganan.
"Masa mertua datang jauh-jauh di 'anggurin', sih" Begitu pikir Mbak Titi.
Lalu dia teringat pada Mbok Sri yang tenar itu.

Kebetulan siang itu Mbok Sri muncul di deretan rumah-rumah kontrakan Haji Zulham.
"Mbok Sri, sini dong, bawa dagangan apa?" Panggil Mbak Titi.
"Wah, macem-macem, Mbak. Ada Nastar Safira yang terkenal enak itu, (teteup ya, promo), ada kue lupis, banyak nih Mbak. Semuanya 10.000 perbungkus." Mbok Siti dengan semangat menghampiri calon customernya.
"Nastarnya beneran enak nih Mbok? Ngga keras kan?" Tanya Mbak Titi
"Aduh, Mbak. Ini sih udah paten banget deh. Cobain aja, nih" Mbok Sri menawarkan nastar untuk dicicipi.
"Maaf, Mbok. Aku sedang puasa. Aku percaya aja deh ama Mbok Sri kalau Mbok bilang enak. Aku ambil 5 bungkus ya. Tapi, ssttt, aku ngutang dulu ya, Mbok" Kata Mbak Titi.
"Oh, puasa apa tho, ini kan bukan hari Senin atau Kamis. Ramadhan juga masih bulan depan?" Tanya Mbok Sri.
"Justru itu Mbok. Puasa Ramadhan kan bulan depan. Nah, saya masih ada hutang puasa tahun lalu nih. Seminggu." Kata Mbak Titi sambil memilih-milih nastar yang akan dihutanginya.
"Waduh..waduh...Maaf Mbak Titi, ma'aaaaffffff banget. Saya ngga bisa 'ngutangi Mbak Titi." Mbok Sri buru-buru berkemas.
"Loh kenapa? Nanti kalau suamiku gajian dari pabrik hari Sabtu saya bayar lunas kue-kuenya, Mbok"
"Maaf, Mbak Titi. Saya ngga percaya. Lah wong hutang puasa yang wajib dan 'ngutangnya ama Gusti Allah saja sampai 11 bulan baru mau dibayar. Itu juga karena sudah deadline. Lah, bagaimana kalau 'ngutang sama saya? Kapan bisa bayarnya? Nanti tiap saya tagih malah tar-sok-tar-sok melulu. Sudahlah, saya pamit ya Mbak Titi. Permisi. Assalamu'alaikum." Mbok Sri pun buru-buru pergi meninggalkan kontrakan Haji Zulham.
Meninggalkan Mbak Titi yang terbengong-bengong.

*nama dan kejadiaan hanya rekaan semata*
Disadur dari status FB

Friday, June 19, 2015 0 komentar

Strategi Pemasaran Paling Efektif



Menurut ‘Infusionsoft’, 'word-of-mouth” alias getok tular adalah strategi pemasaran yang paling efektif bagi UKM.
Strategi lain yang juga dianggap efektif adalah email (34%), Networking (25%), media sosial (23%), Search Engine Marketing alias SEO/SEM (14%), dan Content Marketing  (13%).
Sedangkan iklan melalui televisi / radio memiliki keefektifan hanya sekitar 2%.
Sumber Gambar : Infusionsoft




















Bagaimana jika produk anda adalah sebuah produk yang benar-benar baru lahir? Bagaimana menciptakan word of  mouth?
Anda bisa menggunakan beberapa cara diantara menyewa seseorang yang memiliki banyak follower serta berpengaruh positip dalam sebuah komunitas sebagai corong bicara untuk produk anda. Atau dengan cara membuat sebuah event di lokasi usaha anda, atau aktif berkampanye di sosial media, dan sebagainya. Untuk menjadi sebuah trend setter baru produk anda harus unik namun bisa diterima masyarakat.

Jika anda ingin menggunakan sarana email sebagai bagian dari alat marketing anda, pastikan bahwa penerima email adalah orang yang sukarela menerima update informasi dari anda secara rutin.
Saya sangat tidak menyarankan anda membeli database alamat email receiver dari penjual database. Adalah sangat penting receiver merasa 'rela' menerima email anda sehingga ia sendiri memberikan datanya pada anda.
Apakah ada orang yang mau memberikan alamat emailnya dengan sukarela?
Banyak.
Asalkan mereka meyakini bahwa setiap email dari anda kelak akan bermanfaat bagi mereka.
Lalu bagaimana membuat konten email yang bermanfaat?
Tulislah isi email berdasarkan kebutuhan penerima. Bukan hanya berisi hal-hal yang penting dari sisi anda. Untuk itu anda bisa bertanya atau melakukan survey. Berdirilah pada posisi penerima email anda.

Strategi berikutnya agar anda dikenal, tidak bisa tidak, anda harus berjejaring. Networking adalah segalanya dalam sebuah bisnis. Dari jejaring, anda bukan hanya akan mendapatkan konsumen tetapi juga supplier, jaringan distribusi, sumber pemodalan dan sebagainya. Makin luas jejaring bisnis anda  maka akan makin luas juga sebaran penyangga bisnis bisa anda dapatkan.
0 komentar

Pelajaran Dari "The World's Most Authentic Brands"


Saya baru saja membaca sebuah artikel menarik, yang isinya menyatakan McDonald's, Samsung, dan Apple dinyatakan sebagai "The World's Most Authentic Brands".
Diikuti oleh Starbuck, Walmart dan Carrefour.

Setelah membaca dari artikel yang lumayan panjang itu saya mengintisarikan sebagai berikut :
Customer yang disurvey menyatakan bahwa
1. 91% konsumen puas akan 'kejujuran' tentang produk
2. Mengakui bahwa telah dilakukan inovasi yang terus menerus
3 Produk dirasa bermanfaat bagi konsumen
4. Produk lebih unggul dibanding kompetitor
5. Produk lebih populer dibanding kompetitor.

Yang bisa dipelajari dari "Brand-brand" tersebut adalah :
1. Be clear from the start about your business practices (terjemahin aja sendiri, yak).
Transparansi.
Dalam hal kebijakan perusahaan, administrasi dan keuangan terutama yang berhubungan dengan pajak,
Biar ngga puyeng nanti-nanti.

2. Stick to what you know.
Starbucks biarpun berjualan kopi, sampai saat ini belum membeli perkebunan kopi sendiri.
Apple dalam membuat dan merakit produknya masih 'makloon'. Padahal kalau mau beli pabrik sendiri , bisa banget.
Mereka terus dan makin mempertajam keahlian mereka sebelum expand ke bidang lain (Plak! tampar pipi sendiri)

3. Give customers a voice
Saat ada sebuah film dokumenter berjudul "Supersize Me" yang berpotensi memporakporandakan bisnisnya, cara McD "melawan" bukannya dengan mati-matian menyangkal film dokumenter tersebut, melainkan dengan membuat sebuah program "Our Food Your Questions" yang membebaskan konsumen bertanya apapun tentang 'jerohan' produk mereka, termasuk pertanyaan-pertanyaan ngaco pun mereka jawab dengan baik. Saya sudah buka website nya. Ada sebuah pertanyaan unik : "Benar ngga sih French Fries dibuat dari kentang asli?"

4. Learn to turn PR disasters into opportunities
saat Greenpeace menyerang McD dengan isu bahwa kemasan stirofoam akan merusak bumi, McD malah bergabung dengan Greenpeace untuk mendukung program mereka dan mengubah kemasan menjadi karton yang lebih mudah terurai. Lalu ikutan kampanye "Planet Champion Programme"

5. Be consistent
Yah, konsistenlah. Jangan berbisnis kalau pas lagi mood aja. Jatuh-bangun-jatuh-bangun, sudah biasa dalam mebesarkan bisnis.

Wednesday, June 17, 2015 0 komentar

Broadcast Mesage Jangan Bikin Kesal

Booosseeeeennnnn tau isi broadcast messagemu itu-itu aja!
"Kami menjual baju dengan kualitas paling ok, harga paling murah, stok model berlimpah ruah, ukuran lengkap blablabala...."

Hadeughhh...
Berapa juta orang pedagang yang broadcast message mirip-mirip begitu.
Penerima  'aware' ama produkmu kalau emang pas butuh ,pas kamu broadcast.
Kalau pas ngga butuh yang ada mereka keseeell. Ponselnya tang-tung berkali-kali ternyata pesan yang diterima isinya  hal yang ngga penting.

Saya ngga pernah kirim pesan massal yang sama plek ke titik koma, harus berbeda. Harus ada "personal touch"-nya, walau isi pesan sama ke tiap customer/supplier , saya jarang lupa mengisi nama penerima pesan.
Capek?
Yaiyalaaaahhh...
Karena saya masih yakin bahwa yang saya kirimi dan yang akan membaca broadcast saya adalah manusia. Bukannya mesin.
Dan selama ia masih manusia dan belum berwatak mesin, pasti masih seneng di-manusia-kan.
Kalau ia beragama, setidaknya mengucapkan 'Aamiiin' saat membaca contoh broadcast ini:

Selamat Pagi, Bapak XXXX / Ibu YYYY
Saya Rinny dari Harvest Chemical.
Saya sekedar menyapa Bapak/Ibu pagi ini serasa mendoakan agar Bapak /Ibu sekeluarga sehat selalu, murah rezeki dan selalu dalam perlindungan yang Maha Kuasa. Semoga hari ini dan hari-hari selanjutnya keberkahan dan kesuksesan dapat kita raih bersama.
Salam Hormat,
Rinny Ermiyanti.



1 komentar

Pentingnya Izin Suami (Bagian 2)


Saya termasuk istri yang beruntung karena mendapat anugerah suami yang selalu support kegiatan saya. Yang kadangkala "aneh" dan harus mengeluarkan biaya (yang kadang ngga sedikit). Tapi jika saat meminta izin suami diam tidak merespon walau saya sudah 2-3 kali 'ngomong'. Yah, saya ngga mau ngotot. Kadang alasan ia tidak mengizinkan karena ia menilai dalam bulan tersebut saya sudah kebanyakan berkegiatan di luar rumah, atau cuma karena ia ingin ditemani.

Sayangnya, banyak suami diluar sana yang melarang sama sekali aktifitas istri di luar rumah. Ada yang karena ego, mudah cemburu, merasa istri jadi mengabaikan keluarga atau berprinsip 'tempat istri tuh di rumah. Titik.'

Saat hamil si Kembar dan saat-saat awal kelahiran mereka, saya berbulan-bulan tidak keluar rumah. Saat itu saya harus bedrest karena Hb dan tekanan darah yang rendah, tidak kuat berdiri selama beberapa menit. Masa turun dari bajaj, nunggu tukang bajaj mengembalikan kembalian lalu berjalan ke pintu pagar saja, saat itu bisa bikin saya jatuh pingsan juga repot mengurus 2 bayi sekaligus, jadi rasanya saat-saat itu saya mesti di rumah saja. Karena kesibukan, hari berlalu terasa sangat cepat.

Tapi saya merasa stres.
Mungkin ibarat burung di dalam sangkar. Meski tetap masih bisa melihat dunia sekeliling dan masih bisa berkicau indah, tentu lebih berbahagia burung yang bebas berterbangan ke mana ia mau.

Saya manusia dan bukan burung. Tentu ada 'rules' yang harus saya patuhi. Tertulis maupun tidak.
Diantaranya ketentuan harus seizin suami saat berkegiatan diluar rumah. Bagi saya, bersosialisasi merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan sebagai makhluk sosial. Berbicara atau mendengarkan. Berbagi dan belajar pengetahuan. Mengaji. Sesekali bersenang-senang dengan teman sehati walau cuma dengan ngebakso bareng di pasar.

Hasil dari sosialisasi adalah saya merasa mengenal dan dikenal. Memahami dan dipahami. Oleh orang lain di dunia ini, selain suami dan anak-anak. Ujung-ujungnya kehadiran saya di dunia ini diketahui oleh khalayak, walaupun cuma hitungan jari kaki-tangan.

Yah, eksistensi saya di dunia ini diketahui.

Bayangkan jika saya tidak pernah keluar rumah. Yang saya kenal hanya teman dunia maya. Dimana sosok-sosok mereka tidak bisa saya pegang atau dengar suaranya. Padahal makhluk nyata itu adalah makhluk yang harus bisa dilihat, di dengar suaranya, bisa dirasakan kehadirannya serta bisa disentuh. Jika bisa dilihat, atau cuma bisa didengar, atau cuma bisa dirasakan, tapi tidak bisa dipegang kemungkinan ia hantu.
Iiihhh....

Lalu, soal hobi. Setiap orang punya hobi. Memasak, menjahit, membaca, berkebun dan sebagainya. Bayangkan seorang yang hobi memasak lalu ia dilarang untuk keluar rumah belajar memasak agar ilmunya bertambah, meski ia bisa belajar dari buku atau You Tube, tapi kepuasaan yang berbeda bisa didapat jika belajar langsung dari seorang guru lengkap dengan tip dan trik memasak yang benar.
Dan sebagai seorang istri, hal-hal tersebut bisa dilakukan dengan hati yang riang gembira jika sudah mendapat 'visa' dari suami. Ada sebagian istri yang rela mbambung karena keinginannya melakukan hobi dihalangi suami. Melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.
Saya yakin si istri merasa sangat tidak nyaman menjalani kegiatan tersebut. Ditambah resiko dimarahi suami jika ketahuan.
Siapa sih yang senang dimarahi?

Tak ada cara lain negosiasilah pemecahannya. Lepaskan ego sesaat dan masing-masing mencoba melihat dari sisi seberangnya.
Saling berbesar hati saja.

Istri berbesar hatilah jika ternyata kegiatannya tidak diizinkan suami karena lebih terasa mudharatnya.
Suami berbesar hatilah mengizinkan, jika kegiatan tersebut bisa sedikit menambah kebahagiaan istri.
0 komentar

Pentingnya Izin Suami



Menikmati sore di akhir pekan, saya leha-leha membaca artikel-artikel di K. Dan seperti biasa artikel yang paling dulu saya baca biasanya artikel Headline.
Selain isi artikel, saya membaca juga komentar-komentar yang masuk karena kadang kala lucu, inspiratif atau memberi persfektif yang berbeda. Maklum 'isi kepalanya' tiap orang kan berbeda.
Nah, di artikel yang saya baca, ada salah satu komentar bernada hujatan yang membuat saya terkejut. Lalu ternyata hujatan-hujatan tersebut ada disetiap artikel yang ditulis oleh penulis itu. Intinya tentang ' Si Penulis tidak mendapat izin suami'. (mungkin suaminya terlalu baper sampai ngejam setiap tulisannya.

Saya tidak akan menulis tentang 'komentar negatip' tersebut, tapi lebih kepada izin pasangan pada setiap kegiatan yang dilakukan .  Karena saya seorang istri, lebih tepatnya izin suami.

Saya memahami, hobi yang ditekuni terlalu getol juga menyebabkan pengabaian terhadap hal lain. Dalam diri saya adalah hobi membaca. Saat saya sudah membuka sampul sebuah novel, majalah atau buku apapun, kebiasaan saya adalah selalu berusaha menuntaskan bacaan dalam 'sekali duduk'. Yang berarti bisa berjam-jam. Jika dilakukan saat senggang tidak masalah. Tapi kadang-kadang saya 'iseng' memulai kegiatan membaca diantara kegiatan lain. Akibatnya kemudian, beberapa pekerjaan terbengkalai atau suami dan anak-anak terabaikan karena saya jadi 'terlena' untuk terus membaca. Susah berhenti. Lebih tepatnya sih ngga mau berhenti karena penasaran dengan isi bacaan tersebut.

Lalu mulailah suami komplain. Kadangkala pakai bumbu ngomel.
Karena yang paling sering merasa diabaikan atau merasa akibat dari 'saya tidak tahu waktu' adalah suami.
Sering merasa aneh sih, untuk membaca sebuah novel saja, saya harus izin suami.
"Besok Minggu saya mau baca novel ini sampai tuntas ya, soalnya kalau baca sepotong-sepotong feel nya ngga nyeresep."
Jawaban suami memang lebih banyak “Hhmmm..” yang berarti setuju. Tapi tidak jarang juga ia meminta saya menunda. Karena jika sampul novel terlah dibuka berarti dari pagi, mungkin sampai siang, -bahkan menjelang malam jika novel setebal Harry Potter jilid 7- saya minta jangan diganggu gugat dari keasikan membaca.
 
Jika sudah begitu, berarti beberapa urusan harus dihandle suami sendiri.
Dan suami harus legawa jika mendapati istrinya seperti hilang meskipun ada.

Begitupun dalam kegiatan lain, seperti menulis cerita, berbisnis, ikut seminar atau workshop. Bahkan ke pasar pun saya butuh izin suami (kalau ini sih, kali aja dianter, lumayan irit ongkos ojek)
Tanpa izin suami sebenarnya semua bisa saya kerjakan. Tapi yah gitu, Suami pasti akan merasa terabaikan. Ujung-ujungnya kesal bahkan bisa marah.

Rasa kesal dan marah pada pasangan hidup sering terjadi jika komunikasi suami-istri mampet. Tak jarang komunikasi yang tersumbat total menjadikan dunia maya sebagai jalan penyalurannya. Namun akibatnya sekian ribu orang teman dunia maya tahu sedang pecah perang dunia ketiga di rumah tangga kita.

Friday, June 12, 2015 5 komentar

Jangan Memotret Model, ya, Pa.


Salah satu hobi suami adalah motret. Untuk menyalurkan hobinya tersebut ia masuk ke dalam beberapa klub fotografi agar bisa belajar teknik fotografi atau hunting foto bersama. 
Suami termasuk penggemar foto landscape alias foto pemandangan. 
Sekarang.

Kalau diingat-ingat awalnya suami lebih menyukai memotret kegiatan-kegiatan yang berlangsung disekitar lokasi bidikannya. Human interest. Orang yang sedang ngobrol, orang yang sedang berdagang, kaki-kaki yang berbaris, tangan-tangan yang bergantungan di commuter dan apapun yang di matanya menarik secara fotografi. 

Sampai suatu hari di sebuah pameran otomotif ia banyak memotret SPG-SPG dengan berbagai tingkahnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa gadis-gadis kinclong, langsing-langsing dan muda-muda ini rata-rata fotogenic sehingga indah dikeker lensa kamera. 

Tapi kan bikin aku sebel tingkat jenderal.

Dan akibatnya suami aku paksa untuk memenuhi permintaanku : Dilarang keras memotret perempuan yang bukan muhrimnya (kecuali aku) lebih dari 3 foto.

Ketentuan 3 foto ini aku anggap sebagai bentuk pengertianku bahwa memang di suatu tempat, mungkin ada tingkah seorang perempuan yang menarik untuk di foto candid
Soalnya aku juga sering tiba-tiba menemukan suatu objek yang menarik untuk di foto. Objek ini bisa manusia, binatang, tumbuhan atau benda. 

Tapi pembatasanku ini bertujuan mencegah jangan sampai suami ikut di sebuah grup yang sengaja membayar seorang atau beberapa orang model perempuan untuk di foto. Karena dalam kondisi begini tidak jarang - bahkan nyaris selalu- perempuan-perempuan model tersebut berpose seksi dan mengundang dengan menunjukkan keindahan yang mereka miliki. 

Saya aja yang sesama perempuan seringkali berdecak kagum terhadap keindahan dan kecantikan perempuan lain koq, apalagi lelaki. 

Suami saya pernah berkata:"Memangnya semudah itu jatuh cinta? Cuma gara-gara ngelihat perempuan cantik?"
Jatuh cinta mungkin tidak. Tapi kalau suka melihatnya pasti kan? Buktinya pasti ngejepret kameranya berulang-ulang dan mencari berbagai macam angle sehingga bisa semua sisi kecantikan perempuan tersebut terekam.

Lah, saya saja kalau ketemu Dian Satro pasti merasa ngga cukup memotretnya sekali koq. Apalagi kalau lelaki yang ketemu Dian Sastro, lalu diizinkan memotret. Pasti kalap jeprat-jepret hingga menghabiskan isi memory card nya. (Koq bawa-bawa Dian Sastro sih? Yah, maksud saya perempuan cantik lah) 
 
Dan, Alhamdulillah, usulan keberatan saya dipenuhi suami. Sampai saat ini saya belum pernah mendapati suami sengaja memotret model bayaran. Sebagai istri tentu saya bahagia dong, yah, amanat hati nurani saya diperhatikan.

Sampai kemudian, di sebuah acara gathering sebuah komunitas yang kami ikuti, suami terlibat di kepanitiaan sebagai seksi dokumentasi. Lokasi acara  di sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Saat melihat suami menjeprat-jepret  berbagai kegiatan para peserta beserta keluarganya, salah seorang peserta perempuan –yang memang cantik, hiks- menarik tangan suami,
“Mas, fotoin saya dong” Katanya.
Karena memang sudah tugasnya, maka suami memotret perempuan itu beberapa kali. Setelah itu suami memotret peserta lain dan peserta perempuan itu pergi. 

Tidak sampai 10 menit kemudian perempuan itu kembali lagi dengan sudah berganti baju, memakai topi pantai lebar dan membawa tas besar. Yang kemudian saya tahu isi tas tersebut berbagai properti kostum buat pemotretan di pantai. Jadi ia memang sudah niat berfoto-foto tampaknya. 

Ia menghampiri kami “Mas, foto lagi dong. Mumpung pemandangannya bagus “ Katanya “Mbak, pinjem Mas-nya sebentar ya buat motret aku” 

Aku hanya bisa menonton dari jauh saat tangan suami ditarik ke sana ke mari agar ia mempunyai berbagai background  foto dengan berbagai pose. Sampai akhirnya salah seorang panitia menghampiri suami karena akan memotret suatu momen.   

Ah, ternyata bukan suami (maksud saya para suami) yang hobi memotret saja yang harus dibuatkan peraturan, ternyata para perempuan yang hobi dipotret juga  juga harus tahu aturan: DILARANG KERAS MINTA DIPOTRET SECARA EKSLUSIF SENDIRIAN LEBIH DARI 3 FOTO, kecuali ia memang membayar secara profesional untuk tujuan pemotretan.

Jika tidak ingin membuat istri si tukang foto menjadi kesal tingkat "jenderal bintang empat". 
Dan tahu dong yah, kalau "Jenderal Bintang Empat" itu punya power yang luar biasa?
Sunday, June 7, 2015 0 komentar

Trip Ke Belitung (Tamat)

Selasa 2 Juni 2015

Hari ini adalah hari terakhir Trip di Belitung ini. Pesawat Sriwijaya Air yang akan kami tumpangi akan mengudara pada pukul 12.05. Maka kami memanfaatkan waktu yang terbatas ini untuk mengunjungi beberapa obyek wisata yang dekat dan berada di dalam kota Belitung. Hari ini saya menyewa mobil lengkap dengan supirnya agar bisa sekalian mengantar kami nanti ke Bandara.
Destinasi wisata yang pertama kami kunjungi pagi itu adalah Pantai Tanjung Tinggi. Kami tiba di tempat ini sekitar pukul 07.30 sehingga pantai masih sepi dari pengunjung.
Pantai yang berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Belitung ini memiliki pemandangan alam yang luar biasa. Pantai yang bersih, berpasir putih dengan air laut yang jernih membuat Jasmine dan Safira berkali-kali merengek ingin bermain pasir dan berenang. Tapi tentu saja Mama galak  ini melarang. Wong  sebentar lagi mau pulang. Malas saja jika harus memandikan ulang dan menggantikan pakaian mereka. (Huh! Mama pemalas! Plak!). Pantai ini juga dijadikan salah satu lokasi scene syuting film Laskar Pelangi.
Bukti kami pernah berada di lokasi ini. Hehehe
Mengintip aktifitas anak-anak diantara sela batu
Air dan Batu, bersisian walau berbeda.
Pantai yang diapit oleh dua semenanjung ini, menjadikan air laut di pantai ini begitu tenang sehingga seringkali pengunjung berkano dan berenang di sini. Keunikan lain dari pantai Tanjung Tinggi adalah pantai yang dihiasi oleh puluhan batu-batu granit dengan berbagai ukuran. Dari yang kecil hingga raksasa .Letak batu-batu granit ini pun seperti disusun sehingga kita bisa melompat-lompat diantara batu.

Laut yang tenang menjadikannya spot yang oke berkano
Batu-batu di sisi selatan pantai (kalau ngga salah arah mata angin), adalah sekumpulan batu-batu granit raksasa yang berdiri bergerombol dan beberapa saling menumpuk sehingga seolah membentuk dinding batu kokoh dengan labirin dan goa-goa mini.

Anak-anak, dimanapun menjadi area bermain mereka
Bermain diantara batu raksasa
Mengorek-ngorek pasir, berharap menemukan harta karun..hehe
Anak-anak tak mengenal takut, bahkan hingga ke "goa" dan dihimpit batu raksasa


Puas mengeksplorasi pantai ini, kami melanjutkan perjalanan ke spot wisata berikutnya, yaitu Rumah Adat Belitung. Rumah adat yang kami kunjungi adalah replika. Rumah adat yang berada di sebelah gedung rumah dinas Bupati Belitung ini, terbuat dari kayu dengan interior bergaya lama.
Rumah ini disekat menjadi 3 ruang. Ruang paling belakang adalah (seolah) ruang dapur dan ruang keluarga Di ruang ini kita akan menemui berbagai peralatan masak dan makan dari tembikar dan anyaman, ayunan bayi dari kain, serta lemari-lemari jati yang  penuh dengan barang-barang jadul, seperti alat musik tradisional, radio transistor dan lain-lain.


Di rumah adat Belitung

Ngga kayak gitar Papa ya, Ma?
Ruang kedua adalah ruang tidur. Di ruang ini terdapat pelaminan dan tempat tidur bagi pengantin adat Belitung. Lengkap dengan sepasang patung pengantin berbaju adat dan belasan tanda seserahan.

Ruang terdepan adalah ruang tamu. Dan terdapat pula teras terbuka yang luas. Di teras ini rasanya nyaman banget buat duduk-duduk ngobrol dan bersilaturahim dengan kerabat .

Duh,jadi kepingin punya rumah model begini. (Hehe, banyak maunya. Tapi tolong di ‘Aamiiin –kan ya)

Spot destinasi wisata terakhir kami adalah Danau-Biru-Kaolin. Mengunjungi danau ini menyebabkan dilema bagi saya. Pulau ini mengandung Kaolin dalam jumlah besar, sayangnya eksplorasi Kaolin (Clay) terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan. Saya akan menambahkan foto-foto lain yang menunjukkan sedihnya bopek-bopeng permukaan bumi karena penambangan ini. 
Namun di sisi lain, danau ini merupakan spot yang cantik untuk fotografi. Baik di saat siang hari terik seperti pada saat saya berada di sana maupun saat senja hari menjelang sunset.

Danau Kaolin Belitung

Danau yang jernih memang oke buat spot foto
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.30, saatnya saya segera ke Bandara, agar tidak telat check in.


Sekian ceritanya. 
Yah, gitu aja koq.



Trip Ke Belitung 3
Trip Ke Belitung 4
Trip Ke Belitung 5





0 komentar

Trip Ke Belitung (4)

Hari Senin, 1 Juni 2015

Pagi jam 07.30 Aku, A Pin dan A Ming sudah siap melanjutkan petualangan di Negeri Batu Granit ini ( hehe, ngumpet, takut dilempar ama batu segede gunung oleh orang Belitung). Rencana hari ini kami akan hoping island.

Dengan mobil sewaan kami melaju menuju Pantai Tanjung Kelayang. 
Di pantai berpasir putih ini kami bermaksud menyewa perahu. Karena kami hanya bertiga maka tukang-tukang perahu di sana menawarkan sebuah perahu kecil dengan harga 450.000/hari. Tapi setelah melihat fisik perahu yang imut-imut, nyali saya langsung ciut. Membayangkan berada di dalam perahu itu di tengah hamparan laut lepas, rasanya jeri banget.
Belitung
Perahu sewaan yang bisa memuat max 10 orang

Lalu tukang perahu menawarkan perahu yang lebih besar berkapasitas 30 orang, tapi harga sewanya 1 juta rupiah. 
Glek!!!

Saat saya menimbang-nimbang sambil minum es kelapa muda di warung di tepi pantai, datanglah serombongan lansia 
Kami saling bertegur sapa dan ngobrol basa-basi. Salah seorang oma bercerita bahwa mereka teman perkumpulan gereja, tapi tempat tinggal mereka berbeda-beda. Ada yang tinggal di Kepa Duri dan salah satu peserta tinggal di Alam Sutra.
 "Waahhh kita tetanggaan dong, Bu, Pak." Kata saya.  Padahal Alam Sutra - Karawaci, ya lumayan jauh Boooo...
Tiba-tiba , ting!!
Hehe...Dapat ide. Semoga mereka mau. 
"Pak, boleh ngga saya dan anak-anak ikut rombongan Bapak? Tadi kami berniat menyewa perahu, tapi perahunya kecil jadi saya ngeri, kalau perahu besar, koq ya lumayan mahal. Nanti saya ikut bayar iuran perahu, deh Pak" Kata saya kepada ketua rombongan mereka.
"Oh, boleh, boleh, Nak. Ketambahan satu anak dan dua cucu kecil-kecil ngga bikin perahu kelebihan kapasitas koq. Ngga usah bayar. Gratis saja. Sewa perahu ini sudah kami bayar di Jakarta, koq" kata si Bapak.
Alhamdulillah. Ketemu sekumpulan orang baik.

Perahu yang kami tumpangi. Ngga terlalu kecil kan?
Mereka rombongan yang kami nunuti

A Pin dan Aming happy sebentar lagi berlayar
Setelah semua rombongan beserta tambahan tiga makhluk imut dan manis ini naik,  perahu pun buang sauh. 
Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau Batu Berlayar. Pulau yang luasnya hanya beberapa ratus meter persegi ini dinamakan Pulau Batu Berlayar karena memiliki jajaran batu granit besar-besar yang berdiri tegak menyerupai layar perahu dan jika dilihat dari kejauhan, pulau ini seperti sedang berlayar di tengah lautan. Pulau Batu Berlayar hanya bisa dikunjungi saat laut surut, karena pada saat laut pasang pulau ini akan menghilang.


Pulau Batu Berlayar Belitung
Batu-batu tegak seperti ini lah yang membuat Pulau di sebut Batu Berlayar

Pulau Batu Berlayar Belitung
Jasmine sedang mengexplorasi

Jika rekan-rekan berkunjung ke pulau ini, perlu diperhatikan bahwa beberapa batu ditempeli sejenis kerang-kerang yang sudah membatu dan mengeras, sehingga kerang-kerang tersebut membentuk serpihan-serpihan tajam di permukaan batu. Permukaan batu seperti ini jangan sampai terinjak atau terpegang karena akan melukai kulit.
Pulau Batu Berlayar Belitung
Kerang-kerang yang sudah mengapur menyebabkan permukaan batu menjadi tajam

Walau sudah lansia, tapi tetap mesra

Setelah puas berfoto-foto dan Jasmine berendam di tepian pantainya, kami naik kembali ke dalam perahu. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Pulau Burung. Pulau Burung juga memiliki luas hanya beberapa ratus meter persegi. Berpasir putih dengan batu-batu granit besar. 

Batuan Granit yang menghiasi Pulau- pulau di Belitung


Saat akan menepi ke Pulau Burung saya ditawari oleh salah seorang anak buah perahu untuk menyelam mencari si Patrik, Bintang Laut. Dan tentu saja tidak saya tolak tawaran tersebut. 
Dalam waktu sebentar saya mendapat dua buah bintang laut. Yang kemudian diajak foto-foto narsis oleh A Ping - A Ming sebelum dikembalikan ke habitatnya

A Pin dan Patrik

A Ming mengejar Duo Patrik

Narsis di Pulau Burung. Panasnya udara

A Pin masih kuat pose cantik, padahal pasir mulai terasa panas

Karena waktu telah tengah hari, matahari semakin panas dan perut mulai berbunyi tanda lapar, kami naik kembali ke perahu. Dalam perjalanan menuju Pulau Lengkuas kami makan nasi kotak di perahu. Alhamdulillah, selain dapat angkutan perahu secara gratis, kami pun mendapat juga gratis 3 nasi kotak. 
Pulau Lengkuas yang memiliki luas tidak sampai satu hektar persegi ini merupakan salah satu objek wisata andalan propinsi Bangka-Belitung. Pulau yang memiliki mercusuar yang dibangun pada tahun 1883 ini, menurut informasi salah seorang penjaga mercusuar, pada long weekend pekan tersebut dikunjungi oleh tidak kurang 2500 orang. 
 
Pulau Lengkuas dari kejauhan

 
Pulau Lengkuas Belitung
Menara Mercusuar
Pulau Lengkuas Belitung 
Pemandangan dari atas menara mercusuar


Pulau Lengkuas Belitung
Laut dan Perahu, sahabat sejati.

Laut di sekitar Pulau Lengkuas yang berair jernih dan pantainya yang berpasir putih halus, membuat Jasmine tidak pernah capek berenang. Anak itu dari sejak kami mendarat di pulau sampai pulang selalu berada di dalam air dan baru mau ke pantai saat perutnya benar- benar merasa lapar.

Pulau Lengkuas Belitung
Lapar ya, Ming?


Selanjutnya kami menuju agak ketengah laut untuk snorkeling. Awalnya saya ngga berniat ikutan karena A Pin sudah mulai mengantuk dan minta ditemani tidur di atas perahu. Namun tiba-tiba saya mendengar beberapa ibu anggota rombongan berseru-seru memanggil,
"Mama A Ming! Itu si A Ming udah siap turun ke laut" 
Mata saya yang tadinya sudah mulai kelap-kelip 5 watt karena ikutan mengantuk dibuai alunan laut dan ditiup semilir angin, jadi tiba-tiba terang benderang dan was-was. 
Walah! Si A Ming dengan pedenya menuruni tangga mesti dilarang-larang, dan selangkah lagi masuk laut. Spontan saya melompat ke laut sebelum A Ming turun duluan. 
Pulau Lengkuas Belitung
Jasmine siap nyemplung, bikin Mama harus nyebur
Sejak semalam di hotel, saya memang menjanjikan untuk melatihnya berenang di laut. Jadi sepertinya sekarang saat menepatinya.
Pulau Lengkuas Belitung
Melatih Jasmine berenang di laut

Pulau Lengkuas Belitung
Melatih Jasmine berenang di laut

Sedangkan A Pin dari atas perahu cuma bisa memandang kami cemas. Berkali-kali ia berteriak "Awas tenggelam Ma! Hati-hati Ma!"

Pulau Lengkuas Belitung
A Pin memandang kami dengan cemas
Puas berenang dan snorkelling di sini, tujuan hoping island berikutnya adalah Pulau Kepayang. Di pulau ini kami makan lagi (dan gratis lagi) dan oleh ketua rombongan ditraktir minum kelapa muda sampai puas. 
Alhamdulillah. 

Kemudian kami kembali ke Pantai Tanjung Kelayang. 
Edisi ngelayap hari ini rasanya luar biasa. Selain karena mendapat teman seperjalanan yang baik hari, pemandangan alam yang luar biasa juga belajar mengelola rasa yang campur aduk karena mengawal dua bocah aktif yang tidak bisa diam dengan segala resiko dari aktifitas mereka.

Alhamdulillah,..

Bersambung.... 

Trip Ke Belitung 3
Trip Ke Belitung 4
Trip Ke Belitung 5


 
;