Jangan Memotret Model, ya, Pa.

by - Friday, June 12, 2015


Salah satu hobi suami adalah motret. Untuk menyalurkan hobinya tersebut ia masuk ke dalam beberapa klub fotografi agar bisa belajar teknik fotografi atau hunting foto bersama. 
Suami termasuk penggemar foto landscape alias foto pemandangan. 
Sekarang.

Kalau diingat-ingat awalnya suami lebih menyukai memotret kegiatan-kegiatan yang berlangsung disekitar lokasi bidikannya. Human interest. Orang yang sedang ngobrol, orang yang sedang berdagang, kaki-kaki yang berbaris, tangan-tangan yang bergantungan di commuter dan apapun yang di matanya menarik secara fotografi. 

Sampai suatu hari di sebuah pameran otomotif ia banyak memotret SPG-SPG dengan berbagai tingkahnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa gadis-gadis kinclong, langsing-langsing dan muda-muda ini rata-rata fotogenic sehingga indah dikeker lensa kamera. 

Tapi kan bikin aku sebel tingkat jenderal.

Dan akibatnya suami aku paksa untuk memenuhi permintaanku : Dilarang keras memotret perempuan yang bukan muhrimnya (kecuali aku) lebih dari 3 foto.

Ketentuan 3 foto ini aku anggap sebagai bentuk pengertianku bahwa memang di suatu tempat, mungkin ada tingkah seorang perempuan yang menarik untuk di foto candid
Soalnya aku juga sering tiba-tiba menemukan suatu objek yang menarik untuk di foto. Objek ini bisa manusia, binatang, tumbuhan atau benda. 

Tapi pembatasanku ini bertujuan mencegah jangan sampai suami ikut di sebuah grup yang sengaja membayar seorang atau beberapa orang model perempuan untuk di foto. Karena dalam kondisi begini tidak jarang - bahkan nyaris selalu- perempuan-perempuan model tersebut berpose seksi dan mengundang dengan menunjukkan keindahan yang mereka miliki. 

Saya aja yang sesama perempuan seringkali berdecak kagum terhadap keindahan dan kecantikan perempuan lain koq, apalagi lelaki. 

Suami saya pernah berkata:"Memangnya semudah itu jatuh cinta? Cuma gara-gara ngelihat perempuan cantik?"
Jatuh cinta mungkin tidak. Tapi kalau suka melihatnya pasti kan? Buktinya pasti ngejepret kameranya berulang-ulang dan mencari berbagai macam angle sehingga bisa semua sisi kecantikan perempuan tersebut terekam.

Lah, saya saja kalau ketemu Dian Satro pasti merasa ngga cukup memotretnya sekali koq. Apalagi kalau lelaki yang ketemu Dian Sastro, lalu diizinkan memotret. Pasti kalap jeprat-jepret hingga menghabiskan isi memory card nya. (Koq bawa-bawa Dian Sastro sih? Yah, maksud saya perempuan cantik lah) 
 
Dan, Alhamdulillah, usulan keberatan saya dipenuhi suami. Sampai saat ini saya belum pernah mendapati suami sengaja memotret model bayaran. Sebagai istri tentu saya bahagia dong, yah, amanat hati nurani saya diperhatikan.

Sampai kemudian, di sebuah acara gathering sebuah komunitas yang kami ikuti, suami terlibat di kepanitiaan sebagai seksi dokumentasi. Lokasi acara  di sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Saat melihat suami menjeprat-jepret  berbagai kegiatan para peserta beserta keluarganya, salah seorang peserta perempuan –yang memang cantik, hiks- menarik tangan suami,
“Mas, fotoin saya dong” Katanya.
Karena memang sudah tugasnya, maka suami memotret perempuan itu beberapa kali. Setelah itu suami memotret peserta lain dan peserta perempuan itu pergi. 

Tidak sampai 10 menit kemudian perempuan itu kembali lagi dengan sudah berganti baju, memakai topi pantai lebar dan membawa tas besar. Yang kemudian saya tahu isi tas tersebut berbagai properti kostum buat pemotretan di pantai. Jadi ia memang sudah niat berfoto-foto tampaknya. 

Ia menghampiri kami “Mas, foto lagi dong. Mumpung pemandangannya bagus “ Katanya “Mbak, pinjem Mas-nya sebentar ya buat motret aku” 

Aku hanya bisa menonton dari jauh saat tangan suami ditarik ke sana ke mari agar ia mempunyai berbagai background  foto dengan berbagai pose. Sampai akhirnya salah seorang panitia menghampiri suami karena akan memotret suatu momen.   

Ah, ternyata bukan suami (maksud saya para suami) yang hobi memotret saja yang harus dibuatkan peraturan, ternyata para perempuan yang hobi dipotret juga  juga harus tahu aturan: DILARANG KERAS MINTA DIPOTRET SECARA EKSLUSIF SENDIRIAN LEBIH DARI 3 FOTO, kecuali ia memang membayar secara profesional untuk tujuan pemotretan.

Jika tidak ingin membuat istri si tukang foto menjadi kesal tingkat "jenderal bintang empat". 
Dan tahu dong yah, kalau "Jenderal Bintang Empat" itu punya power yang luar biasa?

You May Also Like

5 komentar

  1. Hadeeeeh, itu kalau aku..... ga bakal sesabaaar mak Rinny...... bacanya aja ikut emosi, apalagi kalau ngalamin sendiri... hhhrggh...."Mbak,pinjem mas-nya sebentar ya buat motret aku"

    ReplyDelete
  2. Di Jogja sering banget ada event motret model gitu. Ya ampun, dari posternya aja gayanya ser*n*k banget. Untung si mas gak punya kamera canggih meski hobi foto2 juga. xD Ada foto cewek lain di ponselnya aja saya hapusin. -_-

    ReplyDelete
  3. Wah, aku ngerti banget perasaan Mak Rinny. Suamiku juga hobi motret dan ikut komunitas fotografi. Sebelum kami nikah, blio rajin banget motret model. Eh pas nikah berhenti sendiri, padahal aku nggak larang.
    Tapiiiii itu kelakuan si mbak cantiknya mah ud jelas nggak sopan, orang di situ ada istrinya, kok maen tarik-tarik.
    Doain aja semoga segera berjodoh dengan fotografer juga, supaya hobi difotonya tersalurkan :)
    Salam kenal ya, Mak ^^

    ReplyDelete
  4. setujuuuu...
    agak OOT dikit ya mak. maafkan.
    seharusnya pengertian tentang foto memfoto ini juga disosialisasikan ke laki-laki. di medsos kan dah banyak perempuan yg ga mau majang fotonya (termasuk saya). nah kl lelaki kan jarang. maksud saya, ayolah, laki-laki menarik juga banyak lho. jangan cuma perempuan yang dibidik terus.

    ReplyDelete
  5. Hahahahahahah... Kalau begitu saya beruntung Mbak. Istri saya bahkan akan menunjukkan kepada saya bila ada obyek menarik, termasuk di antaranya wanita cantik. Tidak jarang bahkan dia yang menyarankan sudut pengambilan. Padahal dia bukan penggemar fotografi.

    Saya justru sering menunjukkan hasil jepretan kamera (bahkan foto wanita cantik) ke dia dan minta masukan dari mata seorang awam.

    Soal model yang dibayar, kebetulan saya sendiri memang belum pernah dan juga tidak tertarik untuk melakukannya. Sebagai penggemar street photography atau fotografi jalanan, saya tidak begitu menyukai "cantik" atau sesuatu yang bersifat polesan dan tidak natural.

    Tetapi, dalam hal ini, pendapat suami Mbak sebenarnya ada benarnya. Masalah sayang atau cinta bukan hanya sekedar soal cantik atau enak dipotret. Berulangkali saya memotret wanita cantik dalam berbagai acara, dan itu tidak merubah apapun.

    Kamera dan fotografi adalah merekam keindahan yang ada, dan wnaita cantik itu salah satunya. Tetapi, itu tidak akan menggantikan orang-orang yang kita sayang.

    Jujur saja mbak, peraturannya lucu sekali... :D Karena itulah saya merasa beruntung tidak diberikan peraturan seperti itu. Jadi bisa berkreasi bebas dan pada akhirnya saya malah jarang memotret wanita cantik (dan sepertinya tidak akan pernah memotret model).

    ReplyDelete