Pentingnya Izin Suami (Bagian 2)

by - Wednesday, June 17, 2015


Saya termasuk istri yang beruntung karena mendapat anugerah suami yang selalu support kegiatan saya. Yang kadangkala "aneh" dan harus mengeluarkan biaya (yang kadang ngga sedikit). Tapi jika saat meminta izin suami diam tidak merespon walau saya sudah 2-3 kali 'ngomong'. Yah, saya ngga mau ngotot. Kadang alasan ia tidak mengizinkan karena ia menilai dalam bulan tersebut saya sudah kebanyakan berkegiatan di luar rumah, atau cuma karena ia ingin ditemani.


Sayangnya, banyak suami diluar sana yang melarang sama sekali aktifitas istri di luar rumah. Ada yang karena ego, mudah cemburu, merasa istri jadi mengabaikan keluarga atau berprinsip 'tempat istri tuh di rumah. Titik.'

Saat hamil si Kembar dan saat-saat awal kelahiran mereka, saya berbulan-bulan tidak keluar rumah. Saat itu saya harus bedrest karena Hb dan tekanan darah yang rendah, tidak kuat berdiri selama beberapa menit. Masa turun dari bajaj, nunggu tukang bajaj mengembalikan kembalian lalu berjalan ke pintu pagar saja, saat itu bisa bikin saya jatuh pingsan juga repot mengurus 2 bayi sekaligus, jadi rasanya saat-saat itu saya mesti di rumah saja. Karena kesibukan, hari berlalu terasa sangat cepat.

Tapi saya merasa stres.
Mungkin ibarat burung di dalam sangkar. Meski tetap masih bisa melihat dunia sekeliling dan masih bisa berkicau indah, tentu lebih berbahagia burung yang bebas berterbangan ke mana ia mau.

Saya manusia dan bukan burung. Tentu ada 'rules' yang harus saya patuhi. Tertulis maupun tidak.
Diantaranya ketentuan harus seizin suami saat berkegiatan diluar rumah. Bagi saya, bersosialisasi merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan sebagai makhluk sosial. Berbicara atau mendengarkan. Berbagi dan belajar pengetahuan. Mengaji. Sesekali bersenang-senang dengan teman sehati walau cuma dengan ngebakso bareng di pasar.

Hasil dari sosialisasi adalah saya merasa mengenal dan dikenal. Memahami dan dipahami. Oleh orang lain di dunia ini, selain suami dan anak-anak. Ujung-ujungnya kehadiran saya di dunia ini diketahui oleh khalayak, walaupun cuma hitungan jari kaki-tangan.

Yah, eksistensi saya di dunia ini diketahui.

Bayangkan jika saya tidak pernah keluar rumah. Yang saya kenal hanya teman dunia maya. Dimana sosok-sosok mereka tidak bisa saya pegang atau dengar suaranya. Padahal makhluk nyata itu adalah makhluk yang harus bisa dilihat, di dengar suaranya, bisa dirasakan kehadirannya serta bisa disentuh. Jika bisa dilihat, atau cuma bisa didengar, atau cuma bisa dirasakan, tapi tidak bisa dipegang kemungkinan ia hantu.
Iiihhh....

Lalu, soal hobi. Setiap orang punya hobi. Memasak, menjahit, membaca, berkebun dan sebagainya. Bayangkan seorang yang hobi memasak lalu ia dilarang untuk keluar rumah belajar memasak agar ilmunya bertambah, meski ia bisa belajar dari buku atau You Tube, tapi kepuasaan yang berbeda bisa didapat jika belajar langsung dari seorang guru lengkap dengan tip dan trik memasak yang benar.
Dan sebagai seorang istri, hal-hal tersebut bisa dilakukan dengan hati yang riang gembira jika sudah mendapat 'visa' dari suami. Ada sebagian istri yang rela mbambung karena keinginannya melakukan hobi dihalangi suami. Melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.
Saya yakin si istri merasa sangat tidak nyaman menjalani kegiatan tersebut. Ditambah resiko dimarahi suami jika ketahuan.
Siapa sih yang senang dimarahi?

Tak ada cara lain negosiasilah pemecahannya. Lepaskan ego sesaat dan masing-masing mencoba melihat dari sisi seberangnya.
Saling berbesar hati saja.

Istri berbesar hatilah jika ternyata kegiatannya tidak diizinkan suami karena lebih terasa mudharatnya.
Suami berbesar hatilah mengizinkan, jika kegiatan tersebut bisa sedikit menambah kebahagiaan istri.

You May Also Like

1 komentar