Pentingnya Izin Suami

by - Wednesday, June 17, 2015



Menikmati sore di akhir pekan, saya leha-leha membaca artikel-artikel di K. Dan seperti biasa artikel yang paling dulu saya baca biasanya artikel Headline.
Selain isi artikel, saya membaca juga komentar-komentar yang masuk karena kadang kala lucu, inspiratif atau memberi persfektif yang berbeda. Maklum 'isi kepalanya' tiap orang kan berbeda.
Nah, di artikel yang saya baca, ada salah satu komentar bernada hujatan yang membuat saya terkejut. Lalu ternyata hujatan-hujatan tersebut ada disetiap artikel yang ditulis oleh penulis itu. Intinya tentang ' Si Penulis tidak mendapat izin suami'. (mungkin suaminya terlalu baper sampai ngejam setiap tulisannya.

Saya tidak akan menulis tentang 'komentar negatip' tersebut, tapi lebih kepada izin pasangan pada setiap kegiatan yang dilakukan .  Karena saya seorang istri, lebih tepatnya izin suami.

Saya memahami, hobi yang ditekuni terlalu getol juga menyebabkan pengabaian terhadap hal lain. Dalam diri saya adalah hobi membaca. Saat saya sudah membuka sampul sebuah novel, majalah atau buku apapun, kebiasaan saya adalah selalu berusaha menuntaskan bacaan dalam 'sekali duduk'. Yang berarti bisa berjam-jam. Jika dilakukan saat senggang tidak masalah. Tapi kadang-kadang saya 'iseng' memulai kegiatan membaca diantara kegiatan lain. Akibatnya kemudian, beberapa pekerjaan terbengkalai atau suami dan anak-anak terabaikan karena saya jadi 'terlena' untuk terus membaca. Susah berhenti. Lebih tepatnya sih ngga mau berhenti karena penasaran dengan isi bacaan tersebut.

Lalu mulailah suami komplain. Kadangkala pakai bumbu ngomel.
Karena yang paling sering merasa diabaikan atau merasa akibat dari 'saya tidak tahu waktu' adalah suami.
Sering merasa aneh sih, untuk membaca sebuah novel saja, saya harus izin suami.
"Besok Minggu saya mau baca novel ini sampai tuntas ya, soalnya kalau baca sepotong-sepotong feel nya ngga nyeresep."
Jawaban suami memang lebih banyak “Hhmmm..” yang berarti setuju. Tapi tidak jarang juga ia meminta saya menunda. Karena jika sampul novel terlah dibuka berarti dari pagi, mungkin sampai siang, -bahkan menjelang malam jika novel setebal Harry Potter jilid 7- saya minta jangan diganggu gugat dari keasikan membaca.
 
Jika sudah begitu, berarti beberapa urusan harus dihandle suami sendiri.
Dan suami harus legawa jika mendapati istrinya seperti hilang meskipun ada.

Begitupun dalam kegiatan lain, seperti menulis cerita, berbisnis, ikut seminar atau workshop. Bahkan ke pasar pun saya butuh izin suami (kalau ini sih, kali aja dianter, lumayan irit ongkos ojek)
Tanpa izin suami sebenarnya semua bisa saya kerjakan. Tapi yah gitu, Suami pasti akan merasa terabaikan. Ujung-ujungnya kesal bahkan bisa marah.

Rasa kesal dan marah pada pasangan hidup sering terjadi jika komunikasi suami-istri mampet. Tak jarang komunikasi yang tersumbat total menjadikan dunia maya sebagai jalan penyalurannya. Namun akibatnya sekian ribu orang teman dunia maya tahu sedang pecah perang dunia ketiga di rumah tangga kita.

You May Also Like

0 komentar