Trip Ke Belitung (4)

by - Sunday, June 07, 2015

Hari Senin, 1 Juni 2015


Pagi jam 07.30 Aku, A Pin dan A Ming sudah siap melanjutkan petualangan di Negeri Batu Granit ini ( hehe, ngumpet, takut dilempar ama batu segede gunung oleh orang Belitung). Rencana hari ini kami akan hoping island.

Dengan mobil sewaan kami melaju menuju Pantai Tanjung Kelayang. 
Di pantai berpasir putih ini kami bermaksud menyewa perahu. Karena kami hanya bertiga maka tukang-tukang perahu di sana menawarkan sebuah perahu kecil dengan harga 450.000/hari. Tapi setelah melihat fisik perahu yang imut-imut, nyali saya langsung ciut. Membayangkan berada di dalam perahu itu di tengah hamparan laut lepas, rasanya jeri banget.
Belitung
Perahu sewaan yang bisa memuat max 10 orang

Lalu tukang perahu menawarkan perahu yang lebih besar berkapasitas 30 orang, tapi harga sewanya 1 juta rupiah. 
Glek!!!

Saat saya menimbang-nimbang sambil minum es kelapa muda di warung di tepi pantai, datanglah serombongan lansia 
Kami saling bertegur sapa dan ngobrol basa-basi. Salah seorang oma bercerita bahwa mereka teman perkumpulan gereja, tapi tempat tinggal mereka berbeda-beda. Ada yang tinggal di Kepa Duri dan salah satu peserta tinggal di Alam Sutra.
 "Waahhh kita tetanggaan dong, Bu, Pak." Kata saya.  Padahal Alam Sutra - Karawaci, ya lumayan jauh Boooo...
Tiba-tiba , ting!!
Hehe...Dapat ide. Semoga mereka mau. 
"Pak, boleh ngga saya dan anak-anak ikut rombongan Bapak? Tadi kami berniat menyewa perahu, tapi perahunya kecil jadi saya ngeri, kalau perahu besar, koq ya lumayan mahal. Nanti saya ikut bayar iuran perahu, deh Pak" Kata saya kepada ketua rombongan mereka.
"Oh, boleh, boleh, Nak. Ketambahan satu anak dan dua cucu kecil-kecil ngga bikin perahu kelebihan kapasitas koq. Ngga usah bayar. Gratis saja. Sewa perahu ini sudah kami bayar di Jakarta, koq" kata si Bapak.
Alhamdulillah. Ketemu sekumpulan orang baik.

Perahu yang kami tumpangi. Ngga terlalu kecil kan?
Mereka rombongan yang kami nunuti

A Pin dan Aming happy sebentar lagi berlayar
Setelah semua rombongan beserta tambahan tiga makhluk imut dan manis ini naik,  perahu pun buang sauh. 
Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau Batu Berlayar. Pulau yang luasnya hanya beberapa ratus meter persegi ini dinamakan Pulau Batu Berlayar karena memiliki jajaran batu granit besar-besar yang berdiri tegak menyerupai layar perahu dan jika dilihat dari kejauhan, pulau ini seperti sedang berlayar di tengah lautan. Pulau Batu Berlayar hanya bisa dikunjungi saat laut surut, karena pada saat laut pasang pulau ini akan menghilang.


Pulau Batu Berlayar Belitung
Batu-batu tegak seperti ini lah yang membuat Pulau di sebut Batu Berlayar

Pulau Batu Berlayar Belitung
Jasmine sedang mengexplorasi

Jika rekan-rekan berkunjung ke pulau ini, perlu diperhatikan bahwa beberapa batu ditempeli sejenis kerang-kerang yang sudah membatu dan mengeras, sehingga kerang-kerang tersebut membentuk serpihan-serpihan tajam di permukaan batu. Permukaan batu seperti ini jangan sampai terinjak atau terpegang karena akan melukai kulit.
Pulau Batu Berlayar Belitung
Kerang-kerang yang sudah mengapur menyebabkan permukaan batu menjadi tajam

Walau sudah lansia, tapi tetap mesra

Setelah puas berfoto-foto dan Jasmine berendam di tepian pantainya, kami naik kembali ke dalam perahu. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Pulau Burung. Pulau Burung juga memiliki luas hanya beberapa ratus meter persegi. Berpasir putih dengan batu-batu granit besar. 

Batuan Granit yang menghiasi Pulau- pulau di Belitung


Saat akan menepi ke Pulau Burung saya ditawari oleh salah seorang anak buah perahu untuk menyelam mencari si Patrik, Bintang Laut. Dan tentu saja tidak saya tolak tawaran tersebut. 
Dalam waktu sebentar saya mendapat dua buah bintang laut. Yang kemudian diajak foto-foto narsis oleh A Ping - A Ming sebelum dikembalikan ke habitatnya

A Pin dan Patrik

A Ming mengejar Duo Patrik

Narsis di Pulau Burung. Panasnya udara

A Pin masih kuat pose cantik, padahal pasir mulai terasa panas

Karena waktu telah tengah hari, matahari semakin panas dan perut mulai berbunyi tanda lapar, kami naik kembali ke perahu. Dalam perjalanan menuju Pulau Lengkuas kami makan nasi kotak di perahu. Alhamdulillah, selain dapat angkutan perahu secara gratis, kami pun mendapat juga gratis 3 nasi kotak. 
Pulau Lengkuas yang memiliki luas tidak sampai satu hektar persegi ini merupakan salah satu objek wisata andalan propinsi Bangka-Belitung. Pulau yang memiliki mercusuar yang dibangun pada tahun 1883 ini, menurut informasi salah seorang penjaga mercusuar, pada long weekend pekan tersebut dikunjungi oleh tidak kurang 2500 orang. 
 
Pulau Lengkuas dari kejauhan

 
Pulau Lengkuas Belitung
Menara Mercusuar
Pulau Lengkuas Belitung 
Pemandangan dari atas menara mercusuar


Pulau Lengkuas Belitung
Laut dan Perahu, sahabat sejati.

Laut di sekitar Pulau Lengkuas yang berair jernih dan pantainya yang berpasir putih halus, membuat Jasmine tidak pernah capek berenang. Anak itu dari sejak kami mendarat di pulau sampai pulang selalu berada di dalam air dan baru mau ke pantai saat perutnya benar- benar merasa lapar.

Pulau Lengkuas Belitung
Lapar ya, Ming?


Selanjutnya kami menuju agak ketengah laut untuk snorkeling. Awalnya saya ngga berniat ikutan karena A Pin sudah mulai mengantuk dan minta ditemani tidur di atas perahu. Namun tiba-tiba saya mendengar beberapa ibu anggota rombongan berseru-seru memanggil,
"Mama A Ming! Itu si A Ming udah siap turun ke laut" 
Mata saya yang tadinya sudah mulai kelap-kelip 5 watt karena ikutan mengantuk dibuai alunan laut dan ditiup semilir angin, jadi tiba-tiba terang benderang dan was-was. 
Walah! Si A Ming dengan pedenya menuruni tangga mesti dilarang-larang, dan selangkah lagi masuk laut. Spontan saya melompat ke laut sebelum A Ming turun duluan. 
Pulau Lengkuas Belitung
Jasmine siap nyemplung, bikin Mama harus nyebur
Sejak semalam di hotel, saya memang menjanjikan untuk melatihnya berenang di laut. Jadi sepertinya sekarang saat menepatinya.
Pulau Lengkuas Belitung
Melatih Jasmine berenang di laut

Pulau Lengkuas Belitung
Melatih Jasmine berenang di laut

Sedangkan A Pin dari atas perahu cuma bisa memandang kami cemas. Berkali-kali ia berteriak "Awas tenggelam Ma! Hati-hati Ma!"

Pulau Lengkuas Belitung
A Pin memandang kami dengan cemas
Puas berenang dan snorkelling di sini, tujuan hoping island berikutnya adalah Pulau Kepayang. Di pulau ini kami makan lagi (dan gratis lagi) dan oleh ketua rombongan ditraktir minum kelapa muda sampai puas. 
Alhamdulillah. 

Kemudian kami kembali ke Pantai Tanjung Kelayang. 
Edisi ngelayap hari ini rasanya luar biasa. Selain karena mendapat teman seperjalanan yang baik hari, pemandangan alam yang luar biasa juga belajar mengelola rasa yang campur aduk karena mengawal dua bocah aktif yang tidak bisa diam dengan segala resiko dari aktifitas mereka.

Alhamdulillah,..

Bersambung.... 

Trip Ke Belitung 3
Trip Ke Belitung 4
Trip Ke Belitung 5


You May Also Like

0 komentar