Thursday, December 1, 2016 2 komentar

DECEPTION

Tulisan ini saya dapatkan dari sebuah WAG, dibagikan secara viral sehingga saya tidak tahu penulis aslinya.  Saya tuliskan di sini karena memberikan pencerahan buat saya:
--
Murin hendak melintasi pos perbatasan antara dua negara yang dijaga ketat supaya tidak terjadi penyelundupan barang. Dia bersepeda dan membawa 2 tas besar di pundaknya.
Tentara perbatasan segera memerintahkan dia berhenti,
"Pinggirkan sepedamu itu. Apa isi kedua tas itu?"
"Pasir," jawab Murin.
Tentara itu tdk percaya begitu saja. Mereka membongkar kedua tas itu dan benar mereka menemukan pasir didalamnya. Akhirnya mereka melepaskan Murin dan membiarkan dia melintasi perbatasan menuju wilayah negara tetangga.
Keesokan harinya, kejadian yg sama berulang kembali. Tentara itu menghentikan sepeda Murin dan bertanya,
"Apa yang kamu bawa?"
Murin menjawab, "Pasir."
Tentara2 itu memeriksa dgn teliti kedua tas itu dan tetap menemukan benda yg sama, pasir.
Kejadian yg sama berulang kali terjadi hingga 3 th lamanya. Akhirnya, Murin tdk muncul lagi.
Suatu ketika tentara itu menjumpainya sdg bersantai ria di luar kota.
"Hei, kamu yg suka bawa pasir," tegur tentara itu. "Saya menduga kamu selama ini membohongi kami saat melintas perbatasan. Tapi saya selalu menemukan pasir didalam tasmu. Selama 3 th, saya sepertinya menjadi gila, tdk bisa makan / tidur memikirkan barang selundupan kamu itu. Baiklah, ini di antara kita berdua saja! Saya mau tanya, apa sih yg kamu selundupkan tiap hari selama 3 tahun?"
Murin menjawab dengan kalem :
"Sepeda!"
Terkadang apa yg ada di pelupuk mata kita tdk dapat terlihat dengan jelas Terutama bila fokus kita tertuju pada sesuatu yg menarik perhatian kita.
Oleh karenanya perhatikanlah atau berikan fokus kita pada hal2 yg mungkin tidak menarik...atau jika sdg mengarahkan fokus kita pada bakat2 kita, lihatlah hal2 yg mungkin bukan menjadi keahlian utama kita. Barangkali kalau kita tekuni hal2 yang sekunder tersebut jangan-jangan itu malahan bisa menjadi kekuatan dahsyat bagi hidup kita.

"You can always find a distraction if you're looking for one." Tom Kite



1 komentar

Sebelum Butuh Pertolongan, Menolonglah Lebih Dulu

Camkan baik-baik ya Teman-teman, di saat masa kejayaanmu, di saat masa kemudahanmu, jalinlah silaturahmi dan saling tolong menolong.
Silaturahmi bukan cuma kepada rekan bisnis atau orang-orang yang akan memberikan keuntungan padamu. Tapi juga kepada orang-orang yang tampak lemah, saudara yang sedang sakit, anak yatim, janda-janda miskin (jangan cuma janda kembang muda nan molek, biasanya mereka masih ada tenaga buat mencari nafkah. Melainkan janda-janda tua yang miskin).
Tolong menolonglah bukan hanya pada orang yang akan balik memberikan keuntungan dari pertolongan tersebut. Tapi menolonglah siapapun yang bisa kita tolong.
Sunatullah hidup ini seperti roller coaster. DidesainNYA seperti itu agar kita mau berpikir dan berikhtiar.
Dengan silaturahmi yang terjalin luas, dengan banyaknya kebaikan yang kita tebar, InsyaAllah pada saat kita sedang terjun ke bawah, akan ada tangan- tangan yang akan siap menangkap jatuhnya kita dan membantu untuk berdiri.
Pahamkan, Cinta?
Tuesday, July 12, 2016 1 komentar

When We Met (Part II)

Lanjutan dari cerita  When We Met (Part I)

Ask : Kapan kamu menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta dan mengapa?

Jawaban Rinny:

Jatuh cinta kan berarti lebih dari sekedar suka. Iya ngga sih? Kapan persisnya merasa lof-lofan saya ngga tahu. Yang jelas sih saya mulai jatuh suka ketika kami kerja praktek di LAPAN (oya, kemarin ada yang bertanya, "LAPAN itu apaan?" LAPAN itu singkatan dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Merupakan sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Kami saat itu jadi Trainee di Pusat Teknologi Penerbangan & Roket - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara di Rumpin - Bogor, Jawa Barat) 

Saat di LAPAN saya dan Aa dijadikan satu tim. Sedangkan George dan Suroto berada dalam tim lain.
Saya sempat merasa kecewa dijadikan satu tim dengannya. Soalnya kan sebelumnya kami ngga saling mengenal banget. Lingkaran pertemanan kami berbeda. 

Tapi, yah begitulah TAKDIR. Selalu ada jalan untuk mencapai takdir tersebut walau mungkin awalnya dengan cara yang tidak kita sukai 

Pemicu saya merasa connect dengan Aa adalah karena datangnya seorang Intruder ke mess kami di LAPAN. Intruder itu adalah saudara sepupu jauh dari pihak Bapak, yang naksir saya.

Ceritanya, si Intruder  dapat informasi entah dari siapa, bahwa saya berada di LAPAN Rumpin, yang lumayan dekat dari kampusnya di ITI Serpong. Jadi sowanlah ia ke mess kami sekalian mau coba-coba cari celah buat mendeklarasikan cintanya
Tapi sungguh, saya  ilfil  banget sama orang ini. Karena ada suatu sebab yang kapan-kapan akan saya ceritakan.

Si Intruder terus mendesak saya supaya menerima dia. Sampai saya kehabisan alasan menolak. Segala omongan saya selalu bisa diputar-balikkan. Lalu, tiba-tiba saya melihat Aa melintas dari kamarnya ke arah ruang makan. 
Nah!
"Lagian, Kak. Saya sudah pacar, koq. Tuh, pacar saya." Tunjuk saya ke teman satu tim itu. Sebenarnya saya berharap Aa ngga mendengar omongan saya ini. Karena jelas saya bohong banget.
Tiba-tiba si Intruder  menghampiri Aa dan bertanya, "Bener kamu pacarnya Rinny?"
Aa menoleh ke saya dengan pandangan bingung. Saya salting.
"Rinny bilang begitu?"
"Iya."
"Oh. Ya berarti saya memang pacarnya" Terus Aa ngeloyor masuk ke kamarnya lagi.
Mampus gw!!!

Setelah si Intruder pulang. Saya langsung dengan heboh mencoba menjelaskan ke Aa.
Blablablabla.....
Komentarnya "Ya udah. Lu tenang aja, kenapa sih. Yang penting masalah lu bereskan? Lagian ngga apa-apa juga kali kalau gw jadi pacar lu.

Tragedi itu  terjadi pada tanggal 21 Juli.

Karena merasa sudah terselamatkan, saya jadi lebih ramah kepada Aa. Karena saya lebih ramah, ya otomatis dia juga jadi lebih nyaman berteman dengan saya. Sebelumnya saya lebih jutek, Mungkin karena saya merasa lebih senior.

Jadi ngga ada sih cerita pertama kali ditembak.  Apalagi pakai kiriman bunga atau boneka Teddy Bear. Maka dari itu saya ngga 'ngeh kapan saya  jatuh cinta.

Kenapa saya jatuh cinta?

Ya karena saya merasa nyaman bersama dia. Aa mengerti jalan pikiran saya. Dia bisa memahami mimpi-mimpi saya dan membantu saya meraih impian saya. (Saya ngga bakalan menyelesaikan kuliah-kuliah saya kalau dia tidak jadi supporter utama. Dari mulai tenaga antar-jemput, tukang ketik tugas, dan sebagainya. Dia adalah The Wind Beneath My Wings. Dia adalah pendengar terbaik. Tempat saya berkeluh kesah. Bertanggung jawab. Pokoknya segala kriteria saya tentang pendamping hidup saya, -dalam perjalanan waktu bertahun-tahun kemudian-, bisa saya dapatkan pada Aa.

Jawaban Suami:

"Waduh!!! Pertanyaannya diganti ajalah! Pindah ke pertanyaan lain."
Ngga bisa. Pertanyaan ini harus tetap dijawab.
"Serius. Saya ngga tahu kapan mulai jatuh cinta sama kamu. Yah pokoknya selama di LAPAN." Jawabnya.
Ok. Berarti jawabannya sama dengan saya.

Alasan jatuh cinta?
"Apa ya? Ya karena udah takdir harus begitu. Sudah ketentuan ALLAH kalau kita memang harus jadi suami-istri. Kalau saya ngga diberiNYA rasa cinta dan sayang sama kamu, ya, ngga bakalan betah bertahun-tahun hidup bareng. Ngga bakalan tuh ada anak-anak."

(Rinny: "Bener banget, Pak Ustadz".
Padahal saya berharap dia menjawab : Karena kamu cantik. -boleh dong. Karena cantik kan relatip-, atau ' karena kamu pintar', atau ' karena karena kamu baik'. Atau apalah gitu yang bisa bikin saya ge-er. maximal).

Ya sudahlah. Saya terima saja jawabannya ini. Dia memang begitu orangnya.


Bersambung....
Monday, July 11, 2016 0 komentar

When We Met


Beberapa hari lagi menuju  tanggal 21 Juli yang merupakan salah satu tanggal keramat bagi keluarga kami. Tanggal penting karena merupakan tonggak sejarah (cieee...) awal mula komitmen bahwa Aku dan Kamu menjadi Kita atau Kami

Awalnya saya ingin menuliskan kisah nostalgia kami dari kenangan versi saya, sebagai bagian dari cerita saya disini. Tetapi ketika sedang bersiap akan menulis, mata saya mendapat pemandangan suami yang sedang melayani AMing dan APin (2 dari 4 anak kami) makan. Tiba-tiba saya mendapat ide untuk menuliskan dari versi kami berdua.

Menulis kenangan awal mula cerita 'jadian kami' menurut versi saya, mudah saja. Alhamdulillah saya dikaruniai ingatan yang kuat. Yang agak susah adalah mengorek kenangan dari suami.

Bukan karena suami ngga ingat. Melainkan suami adalah tipe orang yang malas bernostalgia. Tapi jika ada pemicunya, dia bisa menjabarkan dengan detail kejadian demi kejadian. Namun  jika secara sengaja ditanya soal roman-romanan, seringkali dia enggan menjawab.
"Apaan sih, nanya-nanya begituan. Kan kita udah sama-sama tahu juga." Begitu jawabannya.

Saat pacaran hingga awal menikah, sebelum kami heboh dengan kehamilan, mengurus anak-anak hingga jatuh-bangun menata hidup, kami punya diary yang kami tulis berdua dengan isi berbagai macam cerita. Dari mulai kegiatan kami di kantor masing-masing, curhat kekesalan pada pasangan, bahkan bertengkar melalui tulisan disaat kami ngambeg mogok bicara. Ketika pernikahan kami di ujung tanduk, cerita-cerita di dalam diary tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa kami diketemukan dan diikat oleh takdir selain cinta. (yaiyalaahhh)


Kembali ke niat saya menulis tentang Kami di blog ini. Setelah dirayu beberapa kali, akhirnya suami setuju saya wawancarai. Dengan syarat saya harus mentraktir di tempat kongkow favoritnya.
Ya sudahlah.
Deal.
Toh, sumber uangnya dari dia juga. *Ketawa licik*
---
Interview Day 1:

Ternyata mewancarai suami ngga semudah mewawancarai narasumber lain untuk tulisan-tulisan saya sebelumnya. Malam ini saya hanya dapat satu jawaban dari beberapa pertanyaan. Sisanya dijawab dengan 'nyengir, lalu suami konsen nonton pertandingan final Euro 2016, Perancis vs Portugal.


Ask  : Kapan kamu 'ngeh kalau saya ada di dunia ini diantara sekian milyaran manusia?

Jawaban Rinny:

Saya ingat pertama kali 'ketemu' Aa (Setelah pacaran tapi sebelum menikah, saya memanggil suami begitu) adalah pada masa orientasi siswa baru setelah penataran P4. Sebagai anak baru, adik-adik kelas ini diwajibkan untuk berkenalan dengan para kakak kelasnya.

Yup. Aa adalah adik angkatan. Hihi.

Saya ingat, waktu itu saya duduk bergerombol dengan beberapa teman sekelas di pinggir lapangan basket. Kemudian seorang adik kelas cowok, tinggi dan kurus, datang mendekati kami.
"Kakak-kakak, minta tandatangannya dong" Katanya. 
Mereka memang harus mengumpulkan tandatangan para senior. Sebagai kakak kelas yang baik hati, maka kami dengan sukarela membubuhkan tandatangan kami di buku tulisnya.
"Hobinya apa, Dik?" Tanya saya.
"Ngeband, Kak." Jawabnya
"Ooo..kamu punya grup band?"
"Ada, Kak."
"Kamu bisa main alat musik apa?"
"Gitar, Drum. Tapi paling sering saya jadi drummer, Kak"
"Wih, keren. Coba kamu peragakan saat kamu main drum."
Si Adik kelas cemberut.

Entah mengapa, diantara puluhan adik kelas yang meminta tandatangan , saya terkesan dengan si Drummer ini. Yang lain udah blass lupa, tapi koq ya scene yang ini masih ingat teruuusss.
Bertahun-tahun setelah itu, bisa dikatakan kami ngga pernah sama sekali berkomunikasi. Lah wong circle dia beda dengan saya. 

Hingga tiga tahun kemudian.

Waktu itu suasana sekolah sedang sepi karena adik-adik kelas sedang ujian semesteran. Siang itu saya, Suroto dan George yang sudah 'merdeka dari ujian' sedang kasak-kusuk di kantin tentang rencana kami untuk Praktek Penelitian di LAPAN. Tiba-tiba si Drummer mendekati kami dan berbicara dengan George.
"Kalian rencananya mau praktek dimana? Gw ikutan dong" Pintanya.
Sebenarnya saya agak berat hati karena dia berasal dari luar circle kami. Tapi karena kedua teman saya setuju, yah terpaksa deh saya juga setuju.
Beberapa pekan kemudian, kami berempat bergabung sebagai Trainee dalam tim riset LAPAN yang saat itu sedang uji coba bahan bakar dan motor untuk engine roket terbaru.

And the story begin....
--
Jawaban Suami:

"Saya ngga inget sama sekali tentang kejadian masa orientasi itu." (*Rinny: huaaaaaa......hiks).
"Soalnya semua senior kayaknya sama jahilnya."
(Pause...lamaaa...dia serius nonton bola dari layar proyektor yang disediakan oleh restoran untuk nobar Liga Euro 2016. Sampai kemudian saya colek,.Dia pura-pura berpikir mengingat-ingat)
"Saya sering lihat kamu jalan bareng ama Petrus. Saya pikir kalian pacaran, loh. Untungnya kalian engga pacaran, ya. Kalau kalian pacaran, kan saya jadi merasa bersalah kepada Petrus."
(Pause lagi. Nonton bola lagi. Sa
mpai saya colek lagi. Mmppffhh)
"Saya baru tahu nama lengkap kamu ya saat kita diabsen dan dijadikan satu tim di LAPAN. Jadi saya baru 'ngeh sama kamu, ya saat kita di LAPAN. Gitu"

Segitu doang jawabannya. Setelah itu BELIAU asik nonton bola.Saya pikir wawancara disudahi saja. Karena narasumbernya ngga konsen menjawab. Saya juga sudah males mencolek-colek dia buat mengingatkan. Memangnya sabun colek apahhh..Rugi saya, padahal kan sudah mentraktirnya makan malam *gigit sendok


Bersambung ke:  When We Met (Part II)
Saturday, July 9, 2016 1 komentar

Pak Fuad Bawazier, Money Changer di mana?

Walau banyak beraktifitas di Jakarta dan tinggal di kota yang menempel pada Jakarta, kami (kayaknya kita, deh) termasuk jarang berinteraksi dengan pejabat negara. Sekali-kalinya saya berinteraksi dengan salah seorang diantara mereka, pas kami kebetulan umrah.
Ketemu pejabat di luar negeri, bukan kami manfaatkan buat menggosipkan politik di Tanah Air. Tapi cuma buat bertanya dimana letak lokasi Money Changer terdekat.

Ini cerita kami saat umrah Akhir Ramadhan Tahun 2015.
----

Biasanya saat mengunjungi sebuah negara asing salah satu persiapan yang mutlak diadakan adalah memiliki uang dengan mata uang setempat. (Yaiyalahhh emangnya di sana bisa bayar pake daun?)
Tetapi karena kesibukan di hari-hari menjelang berangkat umrah, kami tidak mempersiapkan menukar uang rupiah ke Real. Kami pikir cukup bawa USD dan akan ditukar di bandara Soeta saja.

Dan karena (lagi) kesibukan mengurus bagasi ditambah sempat ngelirik kurs di (satu-satunya) money changer di terminal 3 yang ratenya bikin melotot, berubah lagi niat kami. Tukar uang nanti di Jeddah aja. Sayangnya di Jeddah pun tidak sempat menukar uang karena menunggu antri imigrasi saja menghabiskan waktu 'setahun' baru dapat giliran.

Dari Jeddah kami langsung ke Mekkah. Begitu sampai Mekkah kami  langsung menjalankan prosesi umrah dan kemudian balik ke hotel.
Tepar.
Perjalanan transit 8 jam di KL (maklum, karena tiket promo), ngga bisa tidur di pesawat, prosesi umrah di siang hari, bikin energi terkuras....ras...ras. Sehingga tidak sempat lagi ke money changer untuk menukarkan uang ke Real . Bersyukur untuk makanan, ada aja yang memberi. (Ih, gretongan sih bangga)

Pada hari kedua, ba'da dzuhur kami berangkat ke Masjidil Haram. Tapi sebelumnya ke Grand Zamzam dulu, niatnya ke money changer.
Seperti biasa jika sudah tawaf di mall, biarpun sedang ngga punya duit, tapi teteup ya mata belanja. Setelah keliling di beberapa lantai, tengok ke kanan lihat ke kiri sampai pegel baru inget tujuan awal: Ke Money Changer!

Langsung kami ke basement mall.
Kami sudah tahu dan sudah pernah ke sana sebelumnya- tapi karena kondisi badan ngga fit, kami jadi disorientasi. Sudah tanya ke beberapa askar yang lagi duduk-duduk di pojok-pojok mall, mereka cuma geleng-geleng. Mungkin ngga paham dengan "bahasa planet".
Lagi bingung cari arah, saya melihat Pak Fuad Bawazier, yang mantan Menteri Keuangan itu, dan 2 orang asistennya lewat. Saya pikir pasti salah satu asistennya adalah pemandu dan pasti tahu lokasi money changer terdekat.
Saya pun mendekati rombongan  itu dan memanggil, " Pak.. Pak Fuad"
Pak Fuad menoleh "Kenapa Dik?"
"Pak money changer di mana ya? Saya udah muter-muter, ngga ketemu nih"
Pak Fuad pun menoleh ke anak buahnya yang langsung sigap memberi petunjuk arah dengan jelas.
"Makasih ya Pak" kami pun pamit.
"Iya hati-hati, Dik"
Dan kemudian lokasi money changer kami temukan tepat seperti petunjuk asisten beliau.
0 komentar

Semua Salah Si Anu

Beberapa hari ini timeline Facebook saya rame lagi dengan cacian kepada Anu karena dianggap tidak becus mengerjakan tugasnya. Saya sengaja tidak menyebut nama dan jabatannya, karena ada saja orang yang sepertinya kena alergi kronis stadium IV terhadap Anu. Bahkan ada yang baru membaca inisial namanya saja, orang-orang tersebut langsung gatal ngga tahan ingin melontarkan cacian. Saya heran dengan orang-orang ini karena selalu saja menemukan kesalahan pada tindak tanduk si Anu, sehingga ia selalu dijadikan sasaran bullying berjamaah.

Bagi mereka Anu = masalah

Mereka menyalah-nyalahkan si Anu, tapi mereka ngga ada action untuk membantu mengatasi masalah. Padahal membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut bukan untuk kepentingan si Anu saja loh. Tapi untuk kepentingan dan kemashlahatan penduduk Indonesia. Mereka sama sekali ngga bergerak. Malah sepertinya mereka gembira ketika ada masalah. Ngga jarang masalah keciiill di besar-besarkan.  

Padahal bukankah tugas kita dalam hidup ini adalah menyelesaikan setiap masalah yg datang? Entah masalah keciiiillll sampai masalah segede megaloman (cuma angkatan gw yg tau megaloman).
Terus, kenapa kebanyakan kita malah hanya berpangku tangan, ya? Dan memilih opsi paling 'enak dan menyenangkan' yaitu melempar tanggungjawab dan menyalahkan pihak lain.

Enak dan menyenangkannya, pakai tanda kutip ya. 

Karena dengan melempar tanggungjawab dan menyalahkan orang lain seolah membuat diri kita terbebas dari keharusan berpikir mencari solusi. Kita cukup cuma nunggu doang sampai solusi itu datang sendiri atau masalah diselesaikan oleh orang lain.Padahal justru kepuasaan dan kebanggaan terhadap diri sendiri adalah ketika kita bisa menyelesaikan masalah dengan kemampuan berpikir dan bertindak.
---
Contohnya nih: 
Sudah tahu jumlah mobil bertumbuh beratus kali lipat dibanding jumlah pertambahan panjang jalan, yang mengakibatkan macet jika semua mobil beredar di jalan. Koq ya ngga mau membantu si Anu dengan naik kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan? 
(Kami lebih memilih naik shuttlebus dan janjian ketemuan untuk meeting di daerah yang terjangkau shuttlebus. Jadi tulisan di atas, saya sudah melakukannya) 

Katanya adalah salah si Anu yang ngga becus mengurus sehingga banyak anak miskin yang terlantar pendidikannya, banyak dhuafa yang susah untuk makan. Tapi koq mereka ngga mau membantu mengulurkan tangan. Tetapi lebih memilih bungkam dan menutup rapat dompetnya saat tim #SedekahOksigen bolak-balik posting tentang ajakan bersedekah.

Yah, gitu deh.
----
Pola pikir kita, mempengaruhi ucapan dan tindakan kita. 
Ucapan dan tindakan kita mempengaruhi kepribadian kita.

0 komentar

Cantengan dan Masalah Hidup

Sudah beberapa hari ini saya merasa jempol kaki kiri saya ada sedikit rasa sakit. Saya bisa memastikan karena akibat ada bagian daging jempol yang tertusuk ujung kuku yang runcing. Maka pagi ini saya mengeksekusi ujung kuku tersebut.

Tapi rasa sakit saat mengeluarkan ujung kuku kecil ini, membuat saya mengaduh-aduh. Apalagi punggung bawah saya sedang kumat sakitnya, gara-gara princess kembali jadi upik abu. Sehingga saat membungkuk untuk menggunting kuku, jadi double sakitnya.

Melihat saya begitu, suami menawarkan bantuan untuk memotongkan kuku saya. Tapi saya tolak.  Memotong kuku yang menusuk kayak gini harus saya lakukan sendiri walau sakit. Karena untuk urusan kuku saya,  cuma saya sendiri yang paling tahu cara yang paling tepat buat mengeksekusinya.

Ada salah satu teman saya  yang pernah 'mengabaikan' rasa sakit tertusuk kuku yang tajam, hingga kemudian kuku mereka menusuk ke daging jempolnya semakin dalam, lalu menimbulkan infeksi. Bukan cuma jempol kaki mereka yang bernanah, tapi badan juga jadi demam. Kena CANTENGAN, istilah awamnya

Kalau sudah cantengan, maka untuk mengeluarkan kuku tersebut harus dengan bantuan orang ketiga, dokter, dan dengan proses yang lebih rumit. Dibius lokal, operasi kecil, harus minum obat, dan lain-lain

Nah, kasus cantengan ini persis kan dengan beberapa permasalahan hidup?
Kadang kita mengabaikan saat masalah masih kecil. Kita ngga berani mengambil konsekwensi dari penyelesaian masalah karena bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Daripada merasa tidak nyaman, kita memilih mendiamkan masalah.

Padahal beberapa masalah ada yang tidak bisa diselesaikan dengan cara mendiamkan atau mengabaikannya. Masalah jenis ini, semakin didiamkan malah semakin memburuk. Hingga suatu saat 'amputasi' adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikannya.

Untuk urusan kuku, saya belum pernah mengalami cantengan sampai saat ini. Alhamdulillah. Karena saya berani menahan sakit saat harus mencokel kuku yg menancap di daging jempol saya. Tapi jujur, ada satu masalah yang belum saya selesaikan, walau telah bertahun-tahun, yang kadangkala masalah ini merusak kewarasan saya.
Karena saya..
Ah sudahlah. ...

(Haha, kepo kan kamyuh....)
0 komentar

Antara Saya dan Agus

Saat remaja, saya bukan jenis gadis yang mudah jatuh cinta. Saya tahan bertahun-tahun berjomblo-ria. Entah mengapa, saya ngga pernah ngiri tuh dengan teman yang kesono-sini rendeng-rendeng macam truk gandeng, dengan pacarnya. Toh, saya juga kesitu-kemari bergerombol dengan sahabat-sahabat saya. Kalau pas kebetulan mereka sedang sibuk dengan pacarnya, ya saya bepergian sendiri saja. 

No problemo.

Tapi sebagai high quality jomblo (yaah, pede kan is my middle name) selalu saja ada jomblo pejantan yang berusaha mendekati saya. Dan uniknya, lelaki yang pertama naksir saya dan lelaki terakhir di hidup saya, InsyaAllah, memiliki nama depan yang sama , yaitu AGUS

Tapi bukan cuma mereka berdua, melainkan ada empat Agus yang pernah  bersenggolan dalam hidup saya.

Mereka adalah:

Agus Libels

Hehe, sebenarnya saya masih ingat nama lengkap para Agus tersebut, cuma saya lebih suka menyebutnya begini aja. Biar gampang identifikasinya.

Agus Libels 
adalah teman sekelas di kursus bahasa Inggris di LIA Matraman. Anak A1 SMA 15 kelas 2 (waktu itu). Agus ini saat kursus tunggangannya memakai motor Honda CB. Dan karena kami sama-sama dari Tanjung Priok, maka setiap pulang kursus saya selalu nebeng membonceng ama dia. Beberapa kali mengantar pulang, eh kemudian, setiap mau berangkat kursus dia juga datang menjemput. 

Ya saya sih senang-senang aja diantar jemput begitu. Lumayan bisa menghemat ongkos bis cepek.

Tapi Bapak saya yang ngga senang. 

Suatu hari Bapak menunggui saya pulang dari kursus. Begitu saya turun dari boncengan motor, Agus Libels dipanggil Bapak. Dinasehati.
"Kalau Agus sudah pantas punya pacar. Sudah kelas 2 SMA. Tapi kalau Rinny masih terlalu kecil. Masih kelas enam SD. Agus sebaiknya cari pacar yang seumuran aja, ya."

Ya. Kelas 6 SD!!!

Hahaha.

(Sekarang saya bisa membayangkan bagaimana cemasnya perasaan Bapak dan Ibu setiap melihat anaknya yang masih piyik diantar jemput bujang.) 

Setelah kejadian itu, saya dan Agus Libels ya tetap berteman baik. Saya ngga merasa patah hati sama sekali. Lah wong saya juga belum tahu soal "jatuh cinta". Saya juga masih sering nebeng ikut motor dia, tapi naik-turunnya di ujung gang.
Backstreet?
Big No!
Sekali lagi, biar jelas : kami cuma temenan.

Sampai suatu saat dia ngaku kalau mulai pacaran dengan kawan sekelas kursus lainnya. Yaitu Fryda.
Iya, Fryda yang penyanyi itu. Yang bahkan salah satu lagu (luaaamaaa)nya masih kadang-kadang saya nyanyikan kalau lagi iseng. Setelah itu berakhirlah masa penghematan cepek rupiah seminggu dua kali, karena saya harus kembali 'ngebis.
Saya adem-adem aja ngelihat posisi di boncengan Agus Libels kemudian ditempati Fryda Penyanyi. Sampai sekitar setahun kemudian saya berhenti melanjutkan kursus.
  
Agus Penyiar.

Agus yang ini adalah seorang penyiar salah satu stasiun radio anak muda yang sedang ngetren saat itu. Stasiun radio ini terletak di Jalan Wijaya - Kebayoran Baru. Sayangnya stasiun radio tersebut sudah almarhum sekarang. 

Jaman dulu kan ada ya program radio yang kirim-kiriman lagu dan titip pesan, gitu. Di rumah saya kebetulan sudah masuk jaringan telepon (wuuaaahh...masih jarang dulu rumah yang punya telepon. Masih 5-6 digit nomor teleponnya.) Dan karena  masa abege saya lebih banyak dihabiskan di kamar, maka saya adalah penggemar berat siaran radio sebagai hiburan. Jadi ngga heran kan kalau saya sering menelpon stasiun radio untuk request lagu.

Nah, saat menerima request lagu dari saya, penyiarnya sering tanya "Lagunya dikirim buat siapa, nih?"
Karena saya ngga punya pacar yang bisa saya kirimi lagu, maka dengan centilnya saya menjawab "Nggg...Buat Mas Penyiar aja deh, kiriman lagunya."
Lama-lama saya dan Agus Penyiar sering telepon-teleponan. Saya suka suaranya yang merdu 'ngebas gimana gitu..
Naksir?
Bisa iya, andai situasinya ngga begini: Suatu Sabtu siang kami janji ketemuan di Pasar Baru. Di halte bisnya. Dia janji pakai kemeja biru, celana panjang biru dongker dan pakai rompi berlogo radio tempatnya bekerja.  Untuk memenuhi janji ini, hari itu saya dan sahabat saya, Ruli, bolos sekolah. (Karena harusnya saya masih sekolah siang itu) 

Begitu bis mendekati halte Pasar Baru, kami mulai searching cowok berpakaian seperti yang Agus Penyiar sebutkan. Nah, ternyata dia sudah menunggu di pojokan halte. Dia pun mengamati satu persatu penumpang bis yang turun. Sebelum turun dan mendekati Agus Penyiar,  sekali - duakali lagi kami memandanginya diam-diam.
"Yakin lu itu orangnya?" Kata sobat saya, Ruli.
"Dari baju, celana dan rompi yang dipakainya sih, iya itu orangnya. Tapi koq dia kayak gitu ya"
Maaf, antara suara nya -yang saya taksir- berbanding dengan tampangnya, sekitar 100 derajat bertolak belakang. Ngga sampai 180 derajat sih. Ngga sejelek itu koq.
"Ngga jadi ah ketemuannya." Putus saya.
Dan kami akhirnya tidak turun, melainkan ikut kembali dengan bis yang sama ke Tanjung Priok.

Silly, banget ya.
Tapi mohon dimaklumkan, waktu itu saya masih kelas 2 SMP. (Waks!!!)

Dan sampai berminggu-minggu kemudian, Agus Penyiar rupanya kecewa berat dengan janji yang tak tuntas itu. Saya dibullynya habis-habisan setiap dia siaran. Sayapun berhenti menelpon stasiun radio tersebut.

Agus Supervisor

Kayaknya kisah persinggungan saya dengan Agus Supervisor ini ngga semenarik cerita dua Agus di atas, deh. Tapi ya tetap akan saya ceritakan juga, sih.

Saya dan Agus Supervisor adalah sama-sama karyawan divisi Sales di sebuah perusahaan farmasi. Sebagai teman satu divisi kadang-kadang kami makan siang bareng atau mengunjungi customer bareng.
Suatu hari selesai meeting mingguan divisi kami, dia mentraktir saya makan siang di sebuah rumah makan sekitar Blok M. Kantor kami di Sudirman, jadi ya lumayan jauh.
Sambil makan Agus Supervisor bertanya kepada saya, "Rin, guwe denger lu lagi deketan ama dokter itu ya?"
"Lu denger dari siapa?"
"Gosipnya. Tapi guwe mau denger sendiri jawaban lu"
"Apa urusannya guwe kudu klarifikasi ama lu?" Saya jadi sewot dong ya, saat urusan pribadi diobok-obok orang lain.
"Gini, kalau seandainya lu ngga ada apa-apa ama tuh dokter, ya mendingan lu ada apa-apa ama guwe aja."
"Maksud lu?"
"Gimana kalau guwe ngelamar lu? Guwe pusing nih ditodong disuruh merit melulu ama bokap." Keluhnya.
"Emangnya lu ngga punya pacar?"
"Ngga. Guwe naksir lu sih, sebenernya."

Hahaha..
Hebat! 

Selanjutnya hubungan kami masih terus seperti biasa. Saya ngga grogi kalau bertemu dia (Yah ngga bisa ngelak juga, kan tiap hari seruangan kerja). Dia juga ngga over-acting sok baper. Sampai beberapa bulan kemudia dia mengulangi omongan diatas. Tapi kali ini alasannya pingin kawin adalah karena dia mau resign dari pekerjaan saat itu dan mau mendaftar menjadi anggota DPR Dapil Sumatera (Bagian sebelah mana, ngga usah saya sebutkan.) Dia butuh Nyonya untuk memuluskan rencananya berpindah haluan profesi.

Tentu dengan ringan hati saya tolak lamarannya. 
Gila aja, ada gitu alasan mau ngajak nikah karena urusan "kayak gitu".
Tahun lalu, saat kampanye legislatif, saya dengar Agus Supervisor mencalonkan diri kembali menjadi Caleg Dapil Sumatera.

Dan kini tibalah cerita saya pada, 

The Last and The Best 'Agus' in my life.

Ah, kayaknya cerita tentang Agus yang ini dibikin satu judul postingan sendiri : When I Met My Husband.
Gitu aja kali ya..Soalnya Agus ini very-very-very special.
cie...cie....
Friday, May 27, 2016 3 komentar

Marketing Mix

Ilmu Marketing terus berkembang. Yang tadinya saya cuma tahu Marketing Mix 4P, Lalu Marketing Mix 5P, kemudian menjadi Marketing Mix 7P.
4P Marketing Mix sendiri merupakan dasar dari menentukan target pasar. Bagaimana saat kita memasuki bisnis, kita harus tahu:
1. APA  yang dibutuhkan (atau kita buat supaya dibutuhkan)--> Product, 
2. BAGAIMANA cara menyampaikan informasi tentang produk,---> Promotion 
3. BERAPA harga yang paling pas di pasar tersebut---> Price
4. serta DIMANA kita berbisnis. ---> Place
4P Marketing Mix ini adalah teori Marketing yang fokus terhadap PRODUK.

Lalu setelah fokus terhadap PRODUK, mungkin baru disadari oleh para pembuat teori tersebut, bahwa dalam berbisnis dibutuhkan tambahan 1P (sehingga menjadi 5P) yaitu PEOPLE. Yaitu orang yang terlibat dengan alur dan proses sebuah produk. Dan juga orang yang bersedia membayar harga produk tersebut.

Ketika sudah melibatkan PEOPLE atau Masyarakat dalam sebuah bisnis, maka yang harus dipertimbangkan dalam strategi pemasaran berikutnya adalah SERVICE. Karena jika sebuah bisnis ingin membangun"Brand Image" ataupun "Corporate Image" tentu tidak bisa "jualan lalu lupakan". Tetapi harus ada proses berkesinambungan. Maka kemudian dalam Marketing Mix ditambahkan 2P lainnya (sehingga menjadi 7P) yaitu PROCESS dan Physical Environment (atau Physical Evidence).
Di teori 7P Marketing Mix lain, yang ditujukan bagi bisnis yang terfokus pada Produk, maka tambahan 2P tersebut adalah PACKAGING dan POSITIONING
Pertama kali belajar Marketing saya diajarin tentang Marketing Mix 4P, yaitu Product, Place, Price dan Promotion.
*1) Product / Produk
Adalah Sesuatu yang dijual kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan mereka. Produk bisa saja benda yang 'Tangible' atau yang 'Intangible' seperti Sevice/Jasa/Pelayanan.
Setiap produk memiliki masa "life cycle". Dari mulai masa persiapan produk, masa tumbuh, menjadi produk unggulan hingga suatu saat produk tersebut mulai ditinggalkan. Entah karena pasar sudah bosan atau sudah ada produk baru yang lebih bermanfaat atau up-to-date. 
Misalkan ASPIRIN. Setelah melalui serangkaian test dan pengenalan ke publik, Aspirin pernah menjadi "obat Dewa". Tapi sekarang pengguna Aspirin sudah sangat sedikit. 
Nah, seorang 'Marketer' (Karena ini sedang bahasan Marketing) harus mempertimbangkan kira-kira "umur" produk tersebut bisa diterima pasar berapa lama, akan bertahan berapa lama. Dan strategi apa yang harus dilakukan terhadap Produk tersebut.
*2) Price
Alias Harga. Adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk membeli Produk.
Seorang Marketing harus memikirkan dengan hati-hati, produknya akan dijual dengan harga berapa? Tentu untuk memutuskan berapa harga produk tersebut harus juga dengan memperhitungkan detil segala biaya yang dikeluarkan, value produk dan siapa pangsa pasarnya. 
Yang pasti sih, kudu SURVEY ya, agar harga produk kita bisa diterima pasar sekaligus bisa memberikan keuntungan optimal.
*3) Place
Adalah tempat dimana produk tersebut mau dijual.
Di kota, di desa. Di Jawa, di Kalimantan. Di warung kaki lima, di Mall. Toko Online , toko Offline
Karena tiap tipe "tempat " akan memiliki stategi pemasaran yang berbeda-beda. Penentuan "tempat berjualan" juga bisa ditetapkan berdasarkan Jenis produk, fungsi produk, pelayanan, kekuatan financial yg dimiliki pemilik produk atau sosial budaya masyarakat tempat lokasi pasar berada.
Misalkan berjualan MARNING (Hayoo tau "marning" ngga?) di kantin Panti Jompo ya ngga cocok.
*4) Promotion
adalah segala macam metode komunikasi untuk menyampaikan berbagai macam informasi tentang produk. Yang termasuk kedalam "Promotion" ini adalah segala hal tentang informasi produk/ iklan, promosi penjualan (diskon, pemberian sample, produk gratis, dsb) serta informasi HUMAS.
Jadi "Promotion" bukan melulu tentang HARD SELLING ya, tetapi juga penyampaian informasi yang bisa menjadi "Image" produk.
Nah, cara berpromosi sangat menentukan apakah Marketer bisa mempengaruhi pikiran konsumen sehingga mau membeli produknya

Marketing Mix 5P
Tambahan 1P dari 4P pada tulisan sebelumnya:
*5) People.
Yaitu Orang, kalau bisa 1 milyar orang, yang mau mengeluarkan uang untuk membeli produk yang kita jual.
Tentu bukan sembarang orang. Karena kalau orang-orangan sawah ngga punya duit. Tapi orang yang tepat. 
Untuk mengetahui siapakah orang yang tepat bagi produk kita tentu kita harus melakukan survei.
Kenapa harus "orang yang tepat"? Karena agar strategi komunikasi kita bisa diterima dengan baik oleh mereka. Karena agar harga jual kita bisa "masuk akal" bagi mereka. Karena setiap value dari produk yang kita punya memiliki nilai yang dibutuhkan mereka.
Survei kuncinya : Siapa 'People' bagi produk kita?
Lelaki atau Perempuan?
Dewasa, Remaja atau anak-anak?
Single atau Menikah?
Tinggal di kota atau di desa?
Tinggal di Jawa atau Papua?
Berapa penghasilan mereka?
Berapa kemampuan nominal uang yg bisa mereka keluarkan untuk membeli produk kita?
Dst...
Setelah 5P Marketing Mix, terjadi lagi perkembangan dalam Teori Metode Pemasaran, Kali ini menjadi 7P Marketing Mix.
Bagi bisnis yang mengedepankan Metode Pemasaran terpusat pada "Produk" maka tambahan 2 P adalah Positioning dan Packaging. Sedangkan pada perusahaan yang melihat Service terhadap konsumen merupakan hal yang penting bagi stategi Pemasarannya maka mereka bisa menambahkan Process dan Physical Evidence/ Physical Environment bagi Strategi Pemasarannya.
Tapi tentu saja, dengan dinamisnya kondisi bisnis , maka para Marketer harus bisa menyesuaikan strategi pemasarannya dengan kondisi pasar terkini.
PRODUCT, PLACE, PEOPLE, POSITIONING : merupakan bagian "Stategis" dalam metode pemasaran. Karena keempat "P" tersebut tidak mudah diubah-ubah.
Sedangkan PRICE, PROMOTION, PROCESS, PACKAGING, dan Physical Evidence bisa saja mudah diubah-ubah tergantung kondisi terbaru. Sehingga "P" ini bersifat taktis dalam metode pemasaran.

*6 a) Packaging 
Alias Kemasan. Kemasan adalah tampilan terluar sebelum Konsumen memanfaatkan fungsi produk. Ingatlah, Impresi visual 15 detik pertama sangat berperan dalam keputusan awal apakah (calon) konsumen akan membeli produk atau tidak. Pemilihan kemasan harus dengan mempertimbangkan faktor 5P yang saya tulis di status sebelumnya. Jangan sampai anda "memasangkan" kemasan yang salah pada produk anda. Sekali lagi, lakukanlah survey untuk tampilan kemasan produk agar sesuai dengan target market anda.
Oya, perhatikan deh kemasannya "Coca cola". Poduk yang menjadi andalan utama mereka adalah Coca Cola "rasa original", Namun untuk tetap menjaga keberlangsungan pasar mereka melakukan strategi gonta-ganti tema kemasan.
b) Process
Sistem dan proses berjalannya suatu bisnis memberikan efek terhadap keputusan apa dan bagaimana pelayanan yg dapat diberikan kepada konsumen. Sehingga dibutuhkan suatu proses pemasaran yang tepat -dari mulai hulu hingga hilir hingga produk sampai ke tangan konsumen- sehingga kebutuhan konsumen dapat terpenuhi.

*7 a) Physical Evidence
A.K.A Bukti fisik. Apapun bentuk 'produk' yang dijual, harus ada bukti fisik dari proses jual beli. Begitupun jika anda menjual "jasa/ service/pelayanan.
Bisnis salon kecantikan: konsumen harus setuju dan "melihat" hasil dari pelayanan yang anda lakukan. Bisnis asuransi: konsumen memiliki dasar bahwa mereka telah membeli "produk" anda melalui polis atau kartu asuransi yang dikeluarkan.
Bukti fisik tersebut bisa menjadi "penanda" eksistensi bisnis anda. Bila target pasar anda puas dengan jasa layanan anda maka 'bukti fisik' bisa menjadi 'Produk Image' anda. Misalkan sebuah provider asuransi yang memberikan pelayanan terbaik bagi konsumennya, maka seseorang yang memiliki kartu asuransi provider tersebut akan merasa aman karena ia telah terlindungi jika terjadi kecelakaan

b) Positioning
Positioning adalah Bagaimana konsumen berpikir dan berbicara tentang produk (bisnis) anda. Untuk itu strategi dalam membentuk Positioning produk anda harus dilakukan terus menerus.
Strategi Pemasaran dalam menentukan "Positioning" tidak bisa dipisahkan dari "P" yang lain.



Wednesday, May 11, 2016 1 komentar

(Kisah Klien) Tim Kecil Namun Solid

(Sub Label Kisah Klien adalah kesan-kesan yang saya tangkap dari para Klien -dan juga Supplier- kami. Terutama kisah yang unik atau inspiratif.)


Balikpapan 11 Mei,

Customer yang barusan saya kunjungi sudah berumur nyaris 70 tahun. Dia sendiri yang mengaku. Masih energik, walau khas orang tua banget: royal memberikan wejangan.

Dalam pertemuan sebelumnya beliau cerita bahwa sudah berbisnis sekitar 30 tahun. Sebelumnya  beliau bersekolah dan bekerja di Australia. 15 tahun pertama berbisnis ia punya banyak customer, karyawannya pun puluhan orang. Lalu saat 1998, dia termasuk salah satu korban penjarahan. Hartanya habis dijarah. Dan mereka sekeluarga menyelematkan diri ke Singapura.

2 tahun di Singapura mereka kembali ke Indonesia untuk melanjutkan bisnisnya. Tapi kali ini customernya yang tersisa cuma 1. Customer yang  lain ada yang sudah tutup perusahaannya. Ada banyak yang udah tidak merepon tawarannya. Ya, ia menemui berbagai rintangan dengan berbagai alasan deh.

Nah, customer yang 1 ini dia rawat baik-baik. Katanya, ibaratnya setiap inchi tanah di lingkungan perusahaan  tersebut dia kenal. Termasuk nyaris seluruh karyawan perusahaan customernya. Dia pasang "CCTV" dan "Penyadap". Sehingga setiap berita atau aktifitas pengadaan barang nyaris selalu beliau tahu.

Disitu beliau "bermain". Jadi kontaktor “Palugada".

Dia buat beberapa perusahaan agar fungsi dan spesifikasi kontraktor dipenuhinya. Padahal pekerjanya hanya berlima. Si Bapak, kedua anaknya, Istrinya dan seorang petugas administrasi. Mereka semua super cekatan. Berada bersama mereka seperti berada ditengah-tengah angin puting beliung mini. Muter dan selalu bergerak.

“Untuk hal-hal yang kurang kami kuasai, kami memilih memakai jasa outsourching, Mbak” Katanya “Yang ada disini hanya tenaga inti”
Jadi jika mereka menang sebuah tender pekerjaan yang mensyaratkan termasuk service purna jual, maka ia akan menggandeng perusahaan lain sebagai co-contractor.
Tapi diatas semua kecekatan mereka, saya salut dengan kerendah-hatian mereka. Si Bapak, istri, anak-anak dan si Mbak, sangat ramah.  Keramahan yang sama sekali bukan pura-pura. Karena pasti bisa dirasakan.

Saya tidak bertanya atau mencari tahu berapa omset perusahaan mereka. Tapi dari apa yang mereka miliki bersama, menurut pendapat saya, mereka adalah orang-orang yang "berhasil" dalam hidup. Sekilas dalam beberapa kali pertemuan, mereka saling support satu dengan lainnya, kompak dan saling menyayangi. Itu lah kunci kesolidan bisnis mereka.
2 komentar

Kegalauan Atikah

Sebagian hari kemarin adalah hari galau bagi saya. Saya maju-mundur-maju -mundur syantik ragu-ragu menghubungi seseorang  untuk menjadi narasumber. Meskipun pada akhirnya saya telepon narasumber tersebut menjelang malam. Hadeugh, kegalauan saya karena person yang harus saya hubungi ini bukan orang biasa.
Lalu saya juga ditelepon salah seorang teman seperjalanan saat touring tahun lalu. Dia menelpon gara-gara (telat) membaca status saya tentang Ahmad Dhani di Facebook yang saya posting beberapa hari lalu.
“Mbak menulis Ahmad Dhani ngga waras pasti karena hubungannya dengan Mulan Jamila kan?”Katanya
“Mulan Jamila hanya salah satu faktor. Faktor terbesar karena dia kegedean Ego” Jawab saya.
“Tapi saya membaca banyak banget orang yang menghujat Mulan Jamila semenjak Ahmad Dhani pisah dengan Maia. Mulan dianggap sebagai penyebabnya. Padahal kan belum tentu begitu, Mbak." Katanya 

"Memang menjadi orang ketiga tuh ngga enak, Mbak. Orang-orang ngga mau tahu, pokoknya jadi perempuan lain dianggapnya nista, aja. Perusak kebahagian rumah tangga.” Atikah (saya sebut aja begitu, deh) mulai curhat. “Mbak kan dari tahun lalu janji mau menulis cerita saya. Sudah jadi?”
Saya tiba-tiba teringat tulisan cerber- cerber saya yang terbengkalai.
“Sudah mulai ditulis sih, Tik” Jawab saya. “Saya publish tuh di blog saya”
(Saya tulis disini dan disini)

Please, Tulis aja semua yang saya ceritakan ke Mbak.  Kadang-kadang saya pingin deh ‘nyulik Mbak lagi supaya saya bisa menumpahkan unek-unek.”
“Boleh. Kapan saya mau diculik? Kita ke Maroko lagi?” Tantang saya sambal tertawa.
“Waktu kita di Maroko, saya jadi orang yang egois ya, Mbak. Saya ngomong terus. Cerita terus. Mbak  Rinny cuma ngangguk-angguk. Hehe” Katanya.
“Ngga apa-apa. Kan saya mendengarkan Tika lagi curhat.” Jawab saya.
“Saya menyesal juga percuma, ya, Mbak. Sudah terjadi. Tapi beneran deh, menjadi perempuan kedua tuh ngga enak. Padahal saya punya penghasilan sendiri. Punya gaji sendiri. Tapi setiap saya beli barang baru pasti disangka meminta ke suami. Padahal mestinya saya ngga minta, kewajiban suami kan Mbak, untuk menafkahi saya?” Tika mulai curhat lagi.
“Iya” Jawab saya
“Tiap hari saya seperti menghadapi sekumpulan konspirasi musuh, Mbak” Lanjutnya.

“Ah. Tika ngga boleh berlebihan begitu dong.”
“Mungkin, Mbak. Tapi perasaan saya ya begitu itu” Jawabnya “Seperti yang saya ceritakan ke Mbak dulu, saya ngga mau harta suami saya. Saya cuma pingin diterima di keluarga besar suami. Saya kan sudah terlanjur jadi istri kedua. Suami juga kan butuh saya, koq.”
“Saran saya masih sama seperti tahun lalu, Tik. Kalau Tika mau mempertahankan perkawinan, ya, Tika harus bisa berdamai dengan keadaan. Tika yang harus legowo. Kita kan ngga bisa memaksa bagaimana orang bersikap terhadap kita”. Kata saya.
“Iya, Mbak. Tapi legowo itu melelahkan. Bathin saya sakit terus.”
“Jiaaah, kalau bathin kamu masih sakit, itu berarti belum sepenuhnya legowo.” Kata saya “Saat Mas Harso melamar, kan kamu tahu ia sudah beristri. Tapi kamu mau menerima.”
“Iya, Mbak. Tapi ngga nyangka akan sakit begini, hati saya. Setiap hari.”Keluhnya.
“Tika, Mbak kan juga udah pernah bilang, deh.  Membaca Al Qur’an itu menenangkan hati. Al Qur’an itu menyembuhkan penyakit hati.” Kata saya “Jadi saat hati gelisah, sakit, tidak nyaman, bacalah Al Qur’an. Dan lebih baik lagi sambil belajar memahami maknanya.”
“Iya, Mbak.”
“Ya sudah, sekarang Tika ambil wudhu, terus baca Al Qur’an. Besok insya Allah, Mbak lanjutin menulis cerita Tika di blog. Kalau ada hal-hal yang meragukan, boleh ya saya menelpon Tika?”
“Boleh, Mbak. Terima kasih ya sudah mendengarkan cerita saya. Assalamu’alaikum,Mbak”
“Wa’alaikumsalam, Tika”

Tahukah kau, Tika, setiap selesai mendengar curhatmu, sebagian kegalauanmu jadi berpindah ke aku. Mungkin berbeda dengan orang-orang profesional di bidang ini (apa?), saya selalu membayangkan 'jika saya adalah kamu' supaya saya bisa memahamimu.
Ah. Saya butuh membaca Al Qur'an saat ini.

Semoga Allah memberikan ketentuan dan takdir terbaik bagimu, sahabatku Atikah.


(Kisah Atikah ini akan saya tulis pada Postingan berbeda, dalam bentuk fiksi, tentunya. Biar kalau ada yang meng-sue saya bisa ngeles : Yeee itu kan cerita fiksi...hehehe)

Fiksi lainnya:


Tuesday, May 10, 2016 0 komentar

Ketika Hidup Seperti Benang Kusut

Pernah ngga sih mengalami satu fase kehidupan, dimana saat  itu koq ya rasanya dari pagi ke malam, dari Senin ke Senin, hati selalu rungsing. Kesal, marah, kecewa, sedih bercampur aduk?

Alhamdulillah, sampai tulisan ini dibuat,  selama 40 tahun sekian (sekiannya rahasia. Haha, padahal banyak juga yang sudah tahu) sudah saya hidup, saya pernah mengalami belum lebih dari 3 kali. Seingat saya. Mungkin lebih banyak. Tapi selain yang 3 kali itu, yang lainnya saya sudah lupa blassss.

3 kali dan tidak pernah berlarut-larut hingga berbulan-bulan. Karena saya tipe orang yang tidak tahan berlama-lama berada dalam suatu masalah. Saya selalu bergegas menyelesaikan masalah. Prinsip saya dalam mengatasi masalah selalu : Aku akan hadapi apapun resikonya. Resiko maksimal adalah mati. Toh suatu saat, cepat atau lambat, akan mati juga.

Tapi ada loh orang yang tahan berbulan-bulan, bahkan bertahan-tahun, berada dalam kondisi tidak nyaman secara psikologisnya karena mendiamkan sebuah masalah. 

Seperti halnya seorang teman yang beberapa hari lalu menemui saya untuk curhat panjang lebar. 
Padahal jauh sebelumnya, saya dan seorang sahabat lain telah mencoba mengingatkan. Namun setiap diingatkan untuk menyelesaikan masalahnya, jawabnya selalu; “Biarin ajalah. Nanti juga selesai sendiri”.
Sampai kapan?.
Dia pun tidak tahu akan sampai kapan masalah tersebut akan terus ada. 

Lalu, masalah tersebut kini telah berkerak.
Pembiaran yang begitu lama menyebabkan masalah terus membelit dan membelit dirinya. Ibarat seutas benang, maka benang itu semakin kusut.

Lalu ia pun menemui kami meminta bantuan untuk mengatasi masalahnya.
Masalah yang sudah demikian lama tentu perlu treatment tertentu. Seperti halnya upaya dalam meluruskan benang kusut, diperlukan kesabaran, ketabahan dan kesadaran melepaskan ego. Sehingga, jika di satu titik ternyata harus menggunting benang yang sudah benar-benar tidak lagi bisa terurai, usahakan benang yg akan digunting itu adalah di ujung terjauh. Karena mungkin memang pokok permasalahan itu ada di situ.
Ada di awal.

Komunikasi diantara pihak yang terlibat permasalahan tersebut juga perlu dibuka jalurnya. Karena tidak jarang masalah timbul karena miskomunikasi. Jika terjadi miskomunikasi, sekali lagi lepaskan EGO.  Miskomunikasi terjadi biasanya karena masing-masing pihak merasa dirinya benar. Tapi TITIK BENAR diantara keduanya tidak saling bertemu pada titik yang sama.

Satu hal lagi yang terpenting, jika merasa hidup selalu menghadapi masalah berat, masalah berat, masalah berat, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan temui orangtua.  Termasuk mertua. (Karena mertua ya orang tua kita . Titik tanpa ’juga’) Bersimpuh mohon maaf dan minta ridhonya. Mungkin ada kesalahan -entah kapan dulu- yang menjengkelkan hatinya. Ridho Allah beserta ridho orang tua. Jika Allah Ridho atas hidup kita maka masalah apapun akan terasa ringan.


Monday, May 9, 2016 0 komentar

Bekal Buat Bunuh Diri

Kabayan : "Nyai...Nyai... Jangan berdiri di rel kereta, nanti kalau ada kereta lewat, Nyai bisa ketabrak".
Nyai Iteung: "Biarin aja, Kang Kabayan. Iteung sedih, tiap hari diomelin Ambu ama Abah. Iteung jadi hopeless".
Kabayan : "Yah, jangan desperate gitu dong, Nyai. Kalau sedih kan bisa cerita ama Akang. Kali aja Akang bisa bantu."
Nyai Iteung: "Udahlah, Kang. Jangan sok baik gitu. Padahal Iteung juga ngerasa , Akang baik karena ada maunya. Semua emang gak ada yang tulus sayang ama Iteung"
Kabayan: "Ah, tuduhan Nyai ngga bener. I do care about you, Nyai. Tapi beidewai baswei, Nyai Iteung bawa apaan tuh? Koq kayaknya berat banget. Mau bunuh diri, ngapain bawa barang banyak-banyak, Nyai?."
Nyai Iteung: "Sembarangan! Siapa juga yang bawa barang banyak-banyak. Ini bekel tau! Nih, lihat. Ada nasi, sambel goreng pete, tumis oncom, ayam goreng, kerupuk miskin. Yang ini termos isi es teh manis."
Kabayan: "Bekelnya banyak banget"
Nyai Iteung: "Iyalah. Ini namanya persiapan, tauk! Kalau kereta telat lewatnya, Iteung ogah sampai mati kelaparan karena kelamaan nungguinnya".

0 komentar

Ongkos Metromini


2 malam yang lalu saya naik metromini, karena kelupaan bawa uang untuk membayar ongkosnya akhirnya saya diturunin di pinggir jalan.
Bingunglah saya. 
Padahal saat itu ngga ada orang yang saya kenal yang bisa dimintai tolong.
Saat sedang kebingungan begitu, tiba-tiba anak saya memanggil-manggil minta diantar pipis.
Saya pun terbangun.
Ah, untung cuma mimpi.
Tapi sejak malam itu, sebelum berangkat tidur, saya memastikan membawa uang di saku daster saya. Barangkali saja saya bermimpi lagi naik metromini tersebut.  Sudah saya niatkan, mau saya bayar deh sekarang ongkosnya. 
Beneran!
0 komentar

Menulis Unek-unek

Sebagai manusia yang berperasaan, saya juga sering merasa kesal, marah, dan perasaan negatif lainnya. Dan karena saya juga manusia yang ekspresif maka setiap apa yang saya rasakan akan saya ungkapkan. 

Dulu, saya sering meletup-letup. Sering marah-marah jika merasa ada hal yang tidak sesuai ekspetasi. Namun seiring bertambahnya pengalaman hidup, saya berusaha lebih sabar. Apalagi ketika saya menyadari ternyata perilaku doyan marah-marah memberi efek yang tidak baik bagi anak-anak.  

Namun kemarahan yang disimpan juga punya efek yang sama tidak baiknya. Hati saya jadi gosong karena terbakar emosi terpendam.



Lalu saya memakai cara lain untuk  mengungkap segala perasaan negatip, yaitu dengan menulisnya lalu dihapus. Setelah semua tulisan unek-unek tersebut dihapus, ya kemudian buat saya "that's it". 

Sampai situ doang.

Saya ngga mau memampangkan kekesalan, kemarahan dan seterusnya, berlama-lama. Nanti saya jadi cemberut terus. Kalau saya cemberut terus, nanti kecantikan saya akan berkurang. Itu yang paling saya khawatirkan.
0 komentar

Pikiranmu Ibarat Sebuah Teko

Kenyataannya, apa yang dialirkan teko saat dituang isinya ke dalam gelas, adalah tergantung apa yang kau isikan ke dalamnya teko tersebut sebelumnya.
Jika diisi kopi, maka teko akan mengalirkan kopi. Begitupun jika disi susu maka akan mengalirkan susu.

Demikian pula dengan perkataan kita. Mulut berkata, namun perkataan yang dikeluarkan adalah hasil olahan dari pikiran. Perbuatan pun berasal dari hasil pikiran.
Karena segala yang terjadi pada tubuh berpusat di otak,

Pikiran adalah ibarat teko.
Jika isi pikiranmu baik, maka akan mengeluarkan hal-hal yang baik.
Teko mengeluarkan minuman manis jika isi di dalam teko ditambah gula.
Kelakuan kita akan terasa manis bagi orang lain jika kita berpikiran husnudzon.

Namun bisa saja teko mengeluarkan susu. Tetapi ternyata susu basi. Bikin yang minum susu murus-murus keluar masuk toilet tiada henti. Akibat kelakuan kita yang lain di mulut lain di hati.

0 komentar

Sedekah Nasi Bersama SedekahOksigen di Cilacap

*Pesan untuk anak-anakku generasi penerus bangsa*

Saya dapat kiriman beberapa foto dari Sebuah SDN di Cilacap lewat WA. Melihat foto ini, murid yang bersalaman dan hormat pada gurunya dengan takzim, membuat saya haru. Berbuatlah seperti itu seterusnya, Nak. Menghormati guru, orang tua dan bahkan orang yang lebih muda darimu.

Jangan ikuti perilaku nyeleneh sebagian teman-temanmu yang telah kehilangan akhlak baiknya. Dengan menentang guru, tawuran, membully teman dan perilaku negatip lainnya.
Perilaku seperti itu sama sekali tidak keren, Nak. Jika kemudian menjadi tabiatmu, akan menyusahkan hidupmu kelak.

Camkan, Nak,  kesantunan adalah "bahasa" pergaulan yang bisa diterima dimanapun di belahan bumi Allah ini. Apapun warna kulitmu, apapun suku bangsamu, apapun agamamu, jika engkau santun akan selalu diterima dengan tangan terbuka.

Para Donatur dan relawan #SedekahOksigen dan #SedekahNasi telah memberi tauladan yang baik dengan kepedulian mereka terhadap sesama. Contohlah mereka. Agar dunia tempatmu hidup bisa menjadi dunia yang bertabur Rahmat Illahi.

#SarapanJumatPagi

Monday, May 2, 2016 0 komentar

I Came To Love You

Lagu ini saya "ketemukan" dengan tidak sengaja di suatu malam,
-----
Silly me,
Sometimes I lose my mind
Like a child Has lost his way
Then so soon I'll see
What keeps guiding me
And the reasons and traces are clear

I came to love you
Might as well make up your mind
Darling you know I can't wait for your love
Playing no games with my time

You have helped me see so much more than myself
And my life is getting richer all the time
Now we'll see the best
Of all of the rest
Thru the eyes of lovers looking at all time

I came to love you
All I can give is myself
I will not try to be nobody else
Can I give more than my heart?

I came to love you
All I can give is myself
I will not try to be nobody else

Can I give more than my heart?


 
;