Tuesday, May 10, 2016

Ketika Hidup Seperti Benang Kusut

Pernah ngga sih mengalami satu fase kehidupan, dimana saat  itu koq ya rasanya dari pagi ke malam, dari Senin ke Senin, hati selalu rungsing. Kesal, marah, kecewa, sedih bercampur aduk?

Alhamdulillah, sampai tulisan ini dibuat,  selama 40 tahun sekian (sekiannya rahasia. Haha, padahal banyak juga yang sudah tahu) sudah saya hidup, saya pernah mengalami belum lebih dari 3 kali. Seingat saya. Mungkin lebih banyak. Tapi selain yang 3 kali itu, yang lainnya saya sudah lupa blassss.

3 kali dan tidak pernah berlarut-larut hingga berbulan-bulan. Karena saya tipe orang yang tidak tahan berlama-lama berada dalam suatu masalah. Saya selalu bergegas menyelesaikan masalah. Prinsip saya dalam mengatasi masalah selalu : Aku akan hadapi apapun resikonya. Resiko maksimal adalah mati. Toh suatu saat, cepat atau lambat, akan mati juga.

Tapi ada loh orang yang tahan berbulan-bulan, bahkan bertahan-tahun, berada dalam kondisi tidak nyaman secara psikologisnya karena mendiamkan sebuah masalah. 

Seperti halnya seorang teman yang beberapa hari lalu menemui saya untuk curhat panjang lebar. 
Padahal jauh sebelumnya, saya dan seorang sahabat lain telah mencoba mengingatkan. Namun setiap diingatkan untuk menyelesaikan masalahnya, jawabnya selalu; “Biarin ajalah. Nanti juga selesai sendiri”.
Sampai kapan?.
Dia pun tidak tahu akan sampai kapan masalah tersebut akan terus ada. 

Lalu, masalah tersebut kini telah berkerak.
Pembiaran yang begitu lama menyebabkan masalah terus membelit dan membelit dirinya. Ibarat seutas benang, maka benang itu semakin kusut.

Lalu ia pun menemui kami meminta bantuan untuk mengatasi masalahnya.
Masalah yang sudah demikian lama tentu perlu treatment tertentu. Seperti halnya upaya dalam meluruskan benang kusut, diperlukan kesabaran, ketabahan dan kesadaran melepaskan ego. Sehingga, jika di satu titik ternyata harus menggunting benang yang sudah benar-benar tidak lagi bisa terurai, usahakan benang yg akan digunting itu adalah di ujung terjauh. Karena mungkin memang pokok permasalahan itu ada di situ.
Ada di awal.

Komunikasi diantara pihak yang terlibat permasalahan tersebut juga perlu dibuka jalurnya. Karena tidak jarang masalah timbul karena miskomunikasi. Jika terjadi miskomunikasi, sekali lagi lepaskan EGO.  Miskomunikasi terjadi biasanya karena masing-masing pihak merasa dirinya benar. Tapi TITIK BENAR diantara keduanya tidak saling bertemu pada titik yang sama.

Satu hal lagi yang terpenting, jika merasa hidup selalu menghadapi masalah berat, masalah berat, masalah berat, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan temui orangtua.  Termasuk mertua. (Karena mertua ya orang tua kita . Titik tanpa ’juga’) Bersimpuh mohon maaf dan minta ridhonya. Mungkin ada kesalahan -entah kapan dulu- yang menjengkelkan hatinya. Ridho Allah beserta ridho orang tua. Jika Allah Ridho atas hidup kita maka masalah apapun akan terasa ringan.


0 komentar:

Post a Comment

 
;