Tuesday, July 12, 2016 1 komentar

When We Met (Part II)

Lanjutan dari cerita  When We Met (Part I)

Ask : Kapan kamu menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta dan mengapa?

Jawaban Rinny:

Jatuh cinta kan berarti lebih dari sekedar suka. Iya ngga sih? Kapan persisnya merasa lof-lofan saya ngga tahu. Yang jelas sih saya mulai jatuh suka ketika kami kerja praktek di LAPAN (oya, kemarin ada yang bertanya, "LAPAN itu apaan?" LAPAN itu singkatan dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Merupakan sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Kami saat itu jadi Trainee di Pusat Teknologi Penerbangan & Roket - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara di Rumpin - Bogor, Jawa Barat) 

Saat di LAPAN saya dan Aa dijadikan satu tim. Sedangkan George dan Suroto berada dalam tim lain.
Saya sempat merasa kecewa dijadikan satu tim dengannya. Soalnya kan sebelumnya kami ngga saling mengenal banget. Lingkaran pertemanan kami berbeda. 

Tapi, yah begitulah TAKDIR. Selalu ada jalan untuk mencapai takdir tersebut walau mungkin awalnya dengan cara yang tidak kita sukai 

Pemicu saya merasa connect dengan Aa adalah karena datangnya seorang Intruder ke mess kami di LAPAN. Intruder itu adalah saudara sepupu jauh dari pihak Bapak, yang naksir saya.

Ceritanya, si Intruder  dapat informasi entah dari siapa, bahwa saya berada di LAPAN Rumpin, yang lumayan dekat dari kampusnya di ITI Serpong. Jadi sowanlah ia ke mess kami sekalian mau coba-coba cari celah buat mendeklarasikan cintanya
Tapi sungguh, saya  ilfil  banget sama orang ini. Karena ada suatu sebab yang kapan-kapan akan saya ceritakan.

Si Intruder terus mendesak saya supaya menerima dia. Sampai saya kehabisan alasan menolak. Segala omongan saya selalu bisa diputar-balikkan. Lalu, tiba-tiba saya melihat Aa melintas dari kamarnya ke arah ruang makan. 
Nah!
"Lagian, Kak. Saya sudah pacar, koq. Tuh, pacar saya." Tunjuk saya ke teman satu tim itu. Sebenarnya saya berharap Aa ngga mendengar omongan saya ini. Karena jelas saya bohong banget.
Tiba-tiba si Intruder  menghampiri Aa dan bertanya, "Bener kamu pacarnya Rinny?"
Aa menoleh ke saya dengan pandangan bingung. Saya salting.
"Rinny bilang begitu?"
"Iya."
"Oh. Ya berarti saya memang pacarnya" Terus Aa ngeloyor masuk ke kamarnya lagi.
Mampus gw!!!

Setelah si Intruder pulang. Saya langsung dengan heboh mencoba menjelaskan ke Aa.
Blablablabla.....
Komentarnya "Ya udah. Lu tenang aja, kenapa sih. Yang penting masalah lu bereskan? Lagian ngga apa-apa juga kali kalau gw jadi pacar lu.

Tragedi itu  terjadi pada tanggal 21 Juli.

Karena merasa sudah terselamatkan, saya jadi lebih ramah kepada Aa. Karena saya lebih ramah, ya otomatis dia juga jadi lebih nyaman berteman dengan saya. Sebelumnya saya lebih jutek, Mungkin karena saya merasa lebih senior.

Jadi ngga ada sih cerita pertama kali ditembak.  Apalagi pakai kiriman bunga atau boneka Teddy Bear. Maka dari itu saya ngga 'ngeh kapan saya  jatuh cinta.

Kenapa saya jatuh cinta?

Ya karena saya merasa nyaman bersama dia. Aa mengerti jalan pikiran saya. Dia bisa memahami mimpi-mimpi saya dan membantu saya meraih impian saya. (Saya ngga bakalan menyelesaikan kuliah-kuliah saya kalau dia tidak jadi supporter utama. Dari mulai tenaga antar-jemput, tukang ketik tugas, dan sebagainya. Dia adalah The Wind Beneath My Wings. Dia adalah pendengar terbaik. Tempat saya berkeluh kesah. Bertanggung jawab. Pokoknya segala kriteria saya tentang pendamping hidup saya, -dalam perjalanan waktu bertahun-tahun kemudian-, bisa saya dapatkan pada Aa.

Jawaban Suami:

"Waduh!!! Pertanyaannya diganti ajalah! Pindah ke pertanyaan lain."
Ngga bisa. Pertanyaan ini harus tetap dijawab.
"Serius. Saya ngga tahu kapan mulai jatuh cinta sama kamu. Yah pokoknya selama di LAPAN." Jawabnya.
Ok. Berarti jawabannya sama dengan saya.

Alasan jatuh cinta?
"Apa ya? Ya karena udah takdir harus begitu. Sudah ketentuan ALLAH kalau kita memang harus jadi suami-istri. Kalau saya ngga diberiNYA rasa cinta dan sayang sama kamu, ya, ngga bakalan betah bertahun-tahun hidup bareng. Ngga bakalan tuh ada anak-anak."

(Rinny: "Bener banget, Pak Ustadz".
Padahal saya berharap dia menjawab : Karena kamu cantik. -boleh dong. Karena cantik kan relatip-, atau ' karena kamu pintar', atau ' karena karena kamu baik'. Atau apalah gitu yang bisa bikin saya ge-er. maximal).

Ya sudahlah. Saya terima saja jawabannya ini. Dia memang begitu orangnya.


Bersambung....
Monday, July 11, 2016 0 komentar

When We Met


Beberapa hari lagi menuju  tanggal 21 Juli yang merupakan salah satu tanggal keramat bagi keluarga kami. Tanggal penting karena merupakan tonggak sejarah (cieee...) awal mula komitmen bahwa Aku dan Kamu menjadi Kita atau Kami

Awalnya saya ingin menuliskan kisah nostalgia kami dari kenangan versi saya, sebagai bagian dari cerita saya disini. Tetapi ketika sedang bersiap akan menulis, mata saya mendapat pemandangan suami yang sedang melayani AMing dan APin (2 dari 4 anak kami) makan. Tiba-tiba saya mendapat ide untuk menuliskan dari versi kami berdua.

Menulis kenangan awal mula cerita 'jadian kami' menurut versi saya, mudah saja. Alhamdulillah saya dikaruniai ingatan yang kuat. Yang agak susah adalah mengorek kenangan dari suami.

Bukan karena suami ngga ingat. Melainkan suami adalah tipe orang yang malas bernostalgia. Tapi jika ada pemicunya, dia bisa menjabarkan dengan detail kejadian demi kejadian. Namun  jika secara sengaja ditanya soal roman-romanan, seringkali dia enggan menjawab.
"Apaan sih, nanya-nanya begituan. Kan kita udah sama-sama tahu juga." Begitu jawabannya.

Saat pacaran hingga awal menikah, sebelum kami heboh dengan kehamilan, mengurus anak-anak hingga jatuh-bangun menata hidup, kami punya diary yang kami tulis berdua dengan isi berbagai macam cerita. Dari mulai kegiatan kami di kantor masing-masing, curhat kekesalan pada pasangan, bahkan bertengkar melalui tulisan disaat kami ngambeg mogok bicara. Ketika pernikahan kami di ujung tanduk, cerita-cerita di dalam diary tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa kami diketemukan dan diikat oleh takdir selain cinta. (yaiyalaahhh)


Kembali ke niat saya menulis tentang Kami di blog ini. Setelah dirayu beberapa kali, akhirnya suami setuju saya wawancarai. Dengan syarat saya harus mentraktir di tempat kongkow favoritnya.
Ya sudahlah.
Deal.
Toh, sumber uangnya dari dia juga. *Ketawa licik*
---
Interview Day 1:

Ternyata mewancarai suami ngga semudah mewawancarai narasumber lain untuk tulisan-tulisan saya sebelumnya. Malam ini saya hanya dapat satu jawaban dari beberapa pertanyaan. Sisanya dijawab dengan 'nyengir, lalu suami konsen nonton pertandingan final Euro 2016, Perancis vs Portugal.


Ask  : Kapan kamu 'ngeh kalau saya ada di dunia ini diantara sekian milyaran manusia?

Jawaban Rinny:

Saya ingat pertama kali 'ketemu' Aa (Setelah pacaran tapi sebelum menikah, saya memanggil suami begitu) adalah pada masa orientasi siswa baru setelah penataran P4. Sebagai anak baru, adik-adik kelas ini diwajibkan untuk berkenalan dengan para kakak kelasnya.

Yup. Aa adalah adik angkatan. Hihi.

Saya ingat, waktu itu saya duduk bergerombol dengan beberapa teman sekelas di pinggir lapangan basket. Kemudian seorang adik kelas cowok, tinggi dan kurus, datang mendekati kami.
"Kakak-kakak, minta tandatangannya dong" Katanya. 
Mereka memang harus mengumpulkan tandatangan para senior. Sebagai kakak kelas yang baik hati, maka kami dengan sukarela membubuhkan tandatangan kami di buku tulisnya.
"Hobinya apa, Dik?" Tanya saya.
"Ngeband, Kak." Jawabnya
"Ooo..kamu punya grup band?"
"Ada, Kak."
"Kamu bisa main alat musik apa?"
"Gitar, Drum. Tapi paling sering saya jadi drummer, Kak"
"Wih, keren. Coba kamu peragakan saat kamu main drum."
Si Adik kelas cemberut.

Entah mengapa, diantara puluhan adik kelas yang meminta tandatangan , saya terkesan dengan si Drummer ini. Yang lain udah blass lupa, tapi koq ya scene yang ini masih ingat teruuusss.
Bertahun-tahun setelah itu, bisa dikatakan kami ngga pernah sama sekali berkomunikasi. Lah wong circle dia beda dengan saya. 

Hingga tiga tahun kemudian.

Waktu itu suasana sekolah sedang sepi karena adik-adik kelas sedang ujian semesteran. Siang itu saya, Suroto dan George yang sudah 'merdeka dari ujian' sedang kasak-kusuk di kantin tentang rencana kami untuk Praktek Penelitian di LAPAN. Tiba-tiba si Drummer mendekati kami dan berbicara dengan George.
"Kalian rencananya mau praktek dimana? Gw ikutan dong" Pintanya.
Sebenarnya saya agak berat hati karena dia berasal dari luar circle kami. Tapi karena kedua teman saya setuju, yah terpaksa deh saya juga setuju.
Beberapa pekan kemudian, kami berempat bergabung sebagai Trainee dalam tim riset LAPAN yang saat itu sedang uji coba bahan bakar dan motor untuk engine roket terbaru.

And the story begin....
--
Jawaban Suami:

"Saya ngga inget sama sekali tentang kejadian masa orientasi itu." (*Rinny: huaaaaaa......hiks).
"Soalnya semua senior kayaknya sama jahilnya."
(Pause...lamaaa...dia serius nonton bola dari layar proyektor yang disediakan oleh restoran untuk nobar Liga Euro 2016. Sampai kemudian saya colek,.Dia pura-pura berpikir mengingat-ingat)
"Saya sering lihat kamu jalan bareng ama Petrus. Saya pikir kalian pacaran, loh. Untungnya kalian engga pacaran, ya. Kalau kalian pacaran, kan saya jadi merasa bersalah kepada Petrus."
(Pause lagi. Nonton bola lagi. Sa
mpai saya colek lagi. Mmppffhh)
"Saya baru tahu nama lengkap kamu ya saat kita diabsen dan dijadikan satu tim di LAPAN. Jadi saya baru 'ngeh sama kamu, ya saat kita di LAPAN. Gitu"

Segitu doang jawabannya. Setelah itu BELIAU asik nonton bola.Saya pikir wawancara disudahi saja. Karena narasumbernya ngga konsen menjawab. Saya juga sudah males mencolek-colek dia buat mengingatkan. Memangnya sabun colek apahhh..Rugi saya, padahal kan sudah mentraktirnya makan malam *gigit sendok


Bersambung ke:  When We Met (Part II)
Saturday, July 9, 2016 1 komentar

Pak Fuad Bawazier, Money Changer di mana?

Walau banyak beraktifitas di Jakarta dan tinggal di kota yang menempel pada Jakarta, kami (kayaknya kita, deh) termasuk jarang berinteraksi dengan pejabat negara. Sekali-kalinya saya berinteraksi dengan salah seorang diantara mereka, pas kami kebetulan umrah.
Ketemu pejabat di luar negeri, bukan kami manfaatkan buat menggosipkan politik di Tanah Air. Tapi cuma buat bertanya dimana letak lokasi Money Changer terdekat.

Ini cerita kami saat umrah Akhir Ramadhan Tahun 2015.
----

Biasanya saat mengunjungi sebuah negara asing salah satu persiapan yang mutlak diadakan adalah memiliki uang dengan mata uang setempat. (Yaiyalahhh emangnya di sana bisa bayar pake daun?)
Tetapi karena kesibukan di hari-hari menjelang berangkat umrah, kami tidak mempersiapkan menukar uang rupiah ke Real. Kami pikir cukup bawa USD dan akan ditukar di bandara Soeta saja.

Dan karena (lagi) kesibukan mengurus bagasi ditambah sempat ngelirik kurs di (satu-satunya) money changer di terminal 3 yang ratenya bikin melotot, berubah lagi niat kami. Tukar uang nanti di Jeddah aja. Sayangnya di Jeddah pun tidak sempat menukar uang karena menunggu antri imigrasi saja menghabiskan waktu 'setahun' baru dapat giliran.

Dari Jeddah kami langsung ke Mekkah. Begitu sampai Mekkah kami  langsung menjalankan prosesi umrah dan kemudian balik ke hotel.
Tepar.
Perjalanan transit 8 jam di KL (maklum, karena tiket promo), ngga bisa tidur di pesawat, prosesi umrah di siang hari, bikin energi terkuras....ras...ras. Sehingga tidak sempat lagi ke money changer untuk menukarkan uang ke Real . Bersyukur untuk makanan, ada aja yang memberi. (Ih, gretongan sih bangga)

Pada hari kedua, ba'da dzuhur kami berangkat ke Masjidil Haram. Tapi sebelumnya ke Grand Zamzam dulu, niatnya ke money changer.
Seperti biasa jika sudah tawaf di mall, biarpun sedang ngga punya duit, tapi teteup ya mata belanja. Setelah keliling di beberapa lantai, tengok ke kanan lihat ke kiri sampai pegel baru inget tujuan awal: Ke Money Changer!

Langsung kami ke basement mall.
Kami sudah tahu dan sudah pernah ke sana sebelumnya- tapi karena kondisi badan ngga fit, kami jadi disorientasi. Sudah tanya ke beberapa askar yang lagi duduk-duduk di pojok-pojok mall, mereka cuma geleng-geleng. Mungkin ngga paham dengan "bahasa planet".
Lagi bingung cari arah, saya melihat Pak Fuad Bawazier, yang mantan Menteri Keuangan itu, dan 2 orang asistennya lewat. Saya pikir pasti salah satu asistennya adalah pemandu dan pasti tahu lokasi money changer terdekat.
Saya pun mendekati rombongan  itu dan memanggil, " Pak.. Pak Fuad"
Pak Fuad menoleh "Kenapa Dik?"
"Pak money changer di mana ya? Saya udah muter-muter, ngga ketemu nih"
Pak Fuad pun menoleh ke anak buahnya yang langsung sigap memberi petunjuk arah dengan jelas.
"Makasih ya Pak" kami pun pamit.
"Iya hati-hati, Dik"
Dan kemudian lokasi money changer kami temukan tepat seperti petunjuk asisten beliau.
0 komentar

Semua Salah Si Anu

Beberapa hari ini timeline Facebook saya rame lagi dengan cacian kepada Anu karena dianggap tidak becus mengerjakan tugasnya. Saya sengaja tidak menyebut nama dan jabatannya, karena ada saja orang yang sepertinya kena alergi kronis stadium IV terhadap Anu. Bahkan ada yang baru membaca inisial namanya saja, orang-orang tersebut langsung gatal ngga tahan ingin melontarkan cacian. Saya heran dengan orang-orang ini karena selalu saja menemukan kesalahan pada tindak tanduk si Anu, sehingga ia selalu dijadikan sasaran bullying berjamaah.

Bagi mereka Anu = masalah

Mereka menyalah-nyalahkan si Anu, tapi mereka ngga ada action untuk membantu mengatasi masalah. Padahal membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut bukan untuk kepentingan si Anu saja loh. Tapi untuk kepentingan dan kemashlahatan penduduk Indonesia. Mereka sama sekali ngga bergerak. Malah sepertinya mereka gembira ketika ada masalah. Ngga jarang masalah keciiill di besar-besarkan.  

Padahal bukankah tugas kita dalam hidup ini adalah menyelesaikan setiap masalah yg datang? Entah masalah keciiiillll sampai masalah segede megaloman (cuma angkatan gw yg tau megaloman).
Terus, kenapa kebanyakan kita malah hanya berpangku tangan, ya? Dan memilih opsi paling 'enak dan menyenangkan' yaitu melempar tanggungjawab dan menyalahkan pihak lain.

Enak dan menyenangkannya, pakai tanda kutip ya. 

Karena dengan melempar tanggungjawab dan menyalahkan orang lain seolah membuat diri kita terbebas dari keharusan berpikir mencari solusi. Kita cukup cuma nunggu doang sampai solusi itu datang sendiri atau masalah diselesaikan oleh orang lain.Padahal justru kepuasaan dan kebanggaan terhadap diri sendiri adalah ketika kita bisa menyelesaikan masalah dengan kemampuan berpikir dan bertindak.
---
Contohnya nih: 
Sudah tahu jumlah mobil bertumbuh beratus kali lipat dibanding jumlah pertambahan panjang jalan, yang mengakibatkan macet jika semua mobil beredar di jalan. Koq ya ngga mau membantu si Anu dengan naik kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan? 
(Kami lebih memilih naik shuttlebus dan janjian ketemuan untuk meeting di daerah yang terjangkau shuttlebus. Jadi tulisan di atas, saya sudah melakukannya) 

Katanya adalah salah si Anu yang ngga becus mengurus sehingga banyak anak miskin yang terlantar pendidikannya, banyak dhuafa yang susah untuk makan. Tapi koq mereka ngga mau membantu mengulurkan tangan. Tetapi lebih memilih bungkam dan menutup rapat dompetnya saat tim #SedekahOksigen bolak-balik posting tentang ajakan bersedekah.

Yah, gitu deh.
----
Pola pikir kita, mempengaruhi ucapan dan tindakan kita. 
Ucapan dan tindakan kita mempengaruhi kepribadian kita.

0 komentar

Cantengan dan Masalah Hidup

Sudah beberapa hari ini saya merasa jempol kaki kiri saya ada sedikit rasa sakit. Saya bisa memastikan karena akibat ada bagian daging jempol yang tertusuk ujung kuku yang runcing. Maka pagi ini saya mengeksekusi ujung kuku tersebut.

Tapi rasa sakit saat mengeluarkan ujung kuku kecil ini, membuat saya mengaduh-aduh. Apalagi punggung bawah saya sedang kumat sakitnya, gara-gara princess kembali jadi upik abu. Sehingga saat membungkuk untuk menggunting kuku, jadi double sakitnya.

Melihat saya begitu, suami menawarkan bantuan untuk memotongkan kuku saya. Tapi saya tolak.  Memotong kuku yang menusuk kayak gini harus saya lakukan sendiri walau sakit. Karena untuk urusan kuku saya,  cuma saya sendiri yang paling tahu cara yang paling tepat buat mengeksekusinya.

Ada salah satu teman saya  yang pernah 'mengabaikan' rasa sakit tertusuk kuku yang tajam, hingga kemudian kuku mereka menusuk ke daging jempolnya semakin dalam, lalu menimbulkan infeksi. Bukan cuma jempol kaki mereka yang bernanah, tapi badan juga jadi demam. Kena CANTENGAN, istilah awamnya

Kalau sudah cantengan, maka untuk mengeluarkan kuku tersebut harus dengan bantuan orang ketiga, dokter, dan dengan proses yang lebih rumit. Dibius lokal, operasi kecil, harus minum obat, dan lain-lain

Nah, kasus cantengan ini persis kan dengan beberapa permasalahan hidup?
Kadang kita mengabaikan saat masalah masih kecil. Kita ngga berani mengambil konsekwensi dari penyelesaian masalah karena bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Daripada merasa tidak nyaman, kita memilih mendiamkan masalah.

Padahal beberapa masalah ada yang tidak bisa diselesaikan dengan cara mendiamkan atau mengabaikannya. Masalah jenis ini, semakin didiamkan malah semakin memburuk. Hingga suatu saat 'amputasi' adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikannya.

Untuk urusan kuku, saya belum pernah mengalami cantengan sampai saat ini. Alhamdulillah. Karena saya berani menahan sakit saat harus mencokel kuku yg menancap di daging jempol saya. Tapi jujur, ada satu masalah yang belum saya selesaikan, walau telah bertahun-tahun, yang kadangkala masalah ini merusak kewarasan saya.
Karena saya..
Ah sudahlah. ...

(Haha, kepo kan kamyuh....)
0 komentar

Antara Saya dan Agus

Saat remaja, saya bukan jenis gadis yang mudah jatuh cinta. Saya tahan bertahun-tahun berjomblo-ria. Entah mengapa, saya ngga pernah ngiri tuh dengan teman yang kesono-sini rendeng-rendeng macam truk gandeng, dengan pacarnya. Toh, saya juga kesitu-kemari bergerombol dengan sahabat-sahabat saya. Kalau pas kebetulan mereka sedang sibuk dengan pacarnya, ya saya bepergian sendiri saja. 

No problemo.

Tapi sebagai high quality jomblo (yaah, pede kan is my middle name) selalu saja ada jomblo pejantan yang berusaha mendekati saya. Dan uniknya, lelaki yang pertama naksir saya dan lelaki terakhir di hidup saya, InsyaAllah, memiliki nama depan yang sama , yaitu AGUS

Tapi bukan cuma mereka berdua, melainkan ada empat Agus yang pernah  bersenggolan dalam hidup saya.

Mereka adalah:

Agus Libels

Hehe, sebenarnya saya masih ingat nama lengkap para Agus tersebut, cuma saya lebih suka menyebutnya begini aja. Biar gampang identifikasinya.

Agus Libels 
adalah teman sekelas di kursus bahasa Inggris di LIA Matraman. Anak A1 SMA 15 kelas 2 (waktu itu). Agus ini saat kursus tunggangannya memakai motor Honda CB. Dan karena kami sama-sama dari Tanjung Priok, maka setiap pulang kursus saya selalu nebeng membonceng ama dia. Beberapa kali mengantar pulang, eh kemudian, setiap mau berangkat kursus dia juga datang menjemput. 

Ya saya sih senang-senang aja diantar jemput begitu. Lumayan bisa menghemat ongkos bis cepek.

Tapi Bapak saya yang ngga senang. 

Suatu hari Bapak menunggui saya pulang dari kursus. Begitu saya turun dari boncengan motor, Agus Libels dipanggil Bapak. Dinasehati.
"Kalau Agus sudah pantas punya pacar. Sudah kelas 2 SMA. Tapi kalau Rinny masih terlalu kecil. Masih kelas enam SD. Agus sebaiknya cari pacar yang seumuran aja, ya."

Ya. Kelas 6 SD!!!

Hahaha.

(Sekarang saya bisa membayangkan bagaimana cemasnya perasaan Bapak dan Ibu setiap melihat anaknya yang masih piyik diantar jemput bujang.) 

Setelah kejadian itu, saya dan Agus Libels ya tetap berteman baik. Saya ngga merasa patah hati sama sekali. Lah wong saya juga belum tahu soal "jatuh cinta". Saya juga masih sering nebeng ikut motor dia, tapi naik-turunnya di ujung gang.
Backstreet?
Big No!
Sekali lagi, biar jelas : kami cuma temenan.

Sampai suatu saat dia ngaku kalau mulai pacaran dengan kawan sekelas kursus lainnya. Yaitu Fryda.
Iya, Fryda yang penyanyi itu. Yang bahkan salah satu lagu (luaaamaaa)nya masih kadang-kadang saya nyanyikan kalau lagi iseng. Setelah itu berakhirlah masa penghematan cepek rupiah seminggu dua kali, karena saya harus kembali 'ngebis.
Saya adem-adem aja ngelihat posisi di boncengan Agus Libels kemudian ditempati Fryda Penyanyi. Sampai sekitar setahun kemudian saya berhenti melanjutkan kursus.
  
Agus Penyiar.

Agus yang ini adalah seorang penyiar salah satu stasiun radio anak muda yang sedang ngetren saat itu. Stasiun radio ini terletak di Jalan Wijaya - Kebayoran Baru. Sayangnya stasiun radio tersebut sudah almarhum sekarang. 

Jaman dulu kan ada ya program radio yang kirim-kiriman lagu dan titip pesan, gitu. Di rumah saya kebetulan sudah masuk jaringan telepon (wuuaaahh...masih jarang dulu rumah yang punya telepon. Masih 5-6 digit nomor teleponnya.) Dan karena  masa abege saya lebih banyak dihabiskan di kamar, maka saya adalah penggemar berat siaran radio sebagai hiburan. Jadi ngga heran kan kalau saya sering menelpon stasiun radio untuk request lagu.

Nah, saat menerima request lagu dari saya, penyiarnya sering tanya "Lagunya dikirim buat siapa, nih?"
Karena saya ngga punya pacar yang bisa saya kirimi lagu, maka dengan centilnya saya menjawab "Nggg...Buat Mas Penyiar aja deh, kiriman lagunya."
Lama-lama saya dan Agus Penyiar sering telepon-teleponan. Saya suka suaranya yang merdu 'ngebas gimana gitu..
Naksir?
Bisa iya, andai situasinya ngga begini: Suatu Sabtu siang kami janji ketemuan di Pasar Baru. Di halte bisnya. Dia janji pakai kemeja biru, celana panjang biru dongker dan pakai rompi berlogo radio tempatnya bekerja.  Untuk memenuhi janji ini, hari itu saya dan sahabat saya, Ruli, bolos sekolah. (Karena harusnya saya masih sekolah siang itu) 

Begitu bis mendekati halte Pasar Baru, kami mulai searching cowok berpakaian seperti yang Agus Penyiar sebutkan. Nah, ternyata dia sudah menunggu di pojokan halte. Dia pun mengamati satu persatu penumpang bis yang turun. Sebelum turun dan mendekati Agus Penyiar,  sekali - duakali lagi kami memandanginya diam-diam.
"Yakin lu itu orangnya?" Kata sobat saya, Ruli.
"Dari baju, celana dan rompi yang dipakainya sih, iya itu orangnya. Tapi koq dia kayak gitu ya"
Maaf, antara suara nya -yang saya taksir- berbanding dengan tampangnya, sekitar 100 derajat bertolak belakang. Ngga sampai 180 derajat sih. Ngga sejelek itu koq.
"Ngga jadi ah ketemuannya." Putus saya.
Dan kami akhirnya tidak turun, melainkan ikut kembali dengan bis yang sama ke Tanjung Priok.

Silly, banget ya.
Tapi mohon dimaklumkan, waktu itu saya masih kelas 2 SMP. (Waks!!!)

Dan sampai berminggu-minggu kemudian, Agus Penyiar rupanya kecewa berat dengan janji yang tak tuntas itu. Saya dibullynya habis-habisan setiap dia siaran. Sayapun berhenti menelpon stasiun radio tersebut.

Agus Supervisor

Kayaknya kisah persinggungan saya dengan Agus Supervisor ini ngga semenarik cerita dua Agus di atas, deh. Tapi ya tetap akan saya ceritakan juga, sih.

Saya dan Agus Supervisor adalah sama-sama karyawan divisi Sales di sebuah perusahaan farmasi. Sebagai teman satu divisi kadang-kadang kami makan siang bareng atau mengunjungi customer bareng.
Suatu hari selesai meeting mingguan divisi kami, dia mentraktir saya makan siang di sebuah rumah makan sekitar Blok M. Kantor kami di Sudirman, jadi ya lumayan jauh.
Sambil makan Agus Supervisor bertanya kepada saya, "Rin, guwe denger lu lagi deketan ama dokter itu ya?"
"Lu denger dari siapa?"
"Gosipnya. Tapi guwe mau denger sendiri jawaban lu"
"Apa urusannya guwe kudu klarifikasi ama lu?" Saya jadi sewot dong ya, saat urusan pribadi diobok-obok orang lain.
"Gini, kalau seandainya lu ngga ada apa-apa ama tuh dokter, ya mendingan lu ada apa-apa ama guwe aja."
"Maksud lu?"
"Gimana kalau guwe ngelamar lu? Guwe pusing nih ditodong disuruh merit melulu ama bokap." Keluhnya.
"Emangnya lu ngga punya pacar?"
"Ngga. Guwe naksir lu sih, sebenernya."

Hahaha..
Hebat! 

Selanjutnya hubungan kami masih terus seperti biasa. Saya ngga grogi kalau bertemu dia (Yah ngga bisa ngelak juga, kan tiap hari seruangan kerja). Dia juga ngga over-acting sok baper. Sampai beberapa bulan kemudia dia mengulangi omongan diatas. Tapi kali ini alasannya pingin kawin adalah karena dia mau resign dari pekerjaan saat itu dan mau mendaftar menjadi anggota DPR Dapil Sumatera (Bagian sebelah mana, ngga usah saya sebutkan.) Dia butuh Nyonya untuk memuluskan rencananya berpindah haluan profesi.

Tentu dengan ringan hati saya tolak lamarannya. 
Gila aja, ada gitu alasan mau ngajak nikah karena urusan "kayak gitu".
Tahun lalu, saat kampanye legislatif, saya dengar Agus Supervisor mencalonkan diri kembali menjadi Caleg Dapil Sumatera.

Dan kini tibalah cerita saya pada, 

The Last and The Best 'Agus' in my life.

Ah, kayaknya cerita tentang Agus yang ini dibikin satu judul postingan sendiri : When I Met My Husband.
Gitu aja kali ya..Soalnya Agus ini very-very-very special.
cie...cie....
 
;