Antara Saya dan Agus

by - Saturday, July 09, 2016

Saat remaja, saya bukan jenis gadis yang mudah jatuh cinta. Saya tahan bertahun-tahun berjomblo-ria. Entah mengapa, saya ngga pernah ngiri tuh dengan teman yang kesono-sini rendeng-rendeng macam truk gandeng, dengan pacarnya. Toh, saya juga kesitu-kemari bergerombol dengan sahabat-sahabat saya. Kalau pas kebetulan mereka sedang sibuk dengan pacarnya, ya saya bepergian sendiri saja. 

No problemo.

Tapi sebagai high quality jomblo (yaah, pede kan is my middle name) selalu saja ada jomblo pejantan yang berusaha mendekati saya. Dan uniknya, lelaki yang pertama naksir saya dan lelaki terakhir di hidup saya, InsyaAllah, memiliki nama depan yang sama , yaitu AGUS

Tapi bukan cuma mereka berdua, melainkan ada empat Agus yang pernah  bersenggolan dalam hidup saya.

Mereka adalah:

Agus Libels

Hehe, sebenarnya saya masih ingat nama lengkap para Agus tersebut, cuma saya lebih suka menyebutnya begini aja. Biar gampang identifikasinya.

Agus Libels 
adalah teman sekelas di kursus bahasa Inggris di LIA Matraman. Anak A1 SMA 15 kelas 2 (waktu itu). Agus ini saat kursus tunggangannya memakai motor Honda CB. Dan karena kami sama-sama dari Tanjung Priok, maka setiap pulang kursus saya selalu nebeng membonceng ama dia. Beberapa kali mengantar pulang, eh kemudian, setiap mau berangkat kursus dia juga datang menjemput. 

Ya saya sih senang-senang aja diantar jemput begitu. Lumayan bisa menghemat ongkos bis cepek.

Tapi Bapak saya yang ngga senang. 

Suatu hari Bapak menunggui saya pulang dari kursus. Begitu saya turun dari boncengan motor, Agus Libels dipanggil Bapak. Dinasehati.
"Kalau Agus sudah pantas punya pacar. Sudah kelas 2 SMA. Tapi kalau Rinny masih terlalu kecil. Masih kelas enam SD. Agus sebaiknya cari pacar yang seumuran aja, ya."

Ya. Kelas 6 SD!!!

Hahaha.

(Sekarang saya bisa membayangkan bagaimana cemasnya perasaan Bapak dan Ibu setiap melihat anaknya yang masih piyik diantar jemput bujang.) 

Setelah kejadian itu, saya dan Agus Libels ya tetap berteman baik. Saya ngga merasa patah hati sama sekali. Lah wong saya juga belum tahu soal "jatuh cinta". Saya juga masih sering nebeng ikut motor dia, tapi naik-turunnya di ujung gang.
Backstreet?
Big No!
Sekali lagi, biar jelas : kami cuma temenan.

Sampai suatu saat dia ngaku kalau mulai pacaran dengan kawan sekelas kursus lainnya. Yaitu Fryda.
Iya, Fryda yang penyanyi itu. Yang bahkan salah satu lagu (luaaamaaa)nya masih kadang-kadang saya nyanyikan kalau lagi iseng. Setelah itu berakhirlah masa penghematan cepek rupiah seminggu dua kali, karena saya harus kembali 'ngebis.
Saya adem-adem aja ngelihat posisi di boncengan Agus Libels kemudian ditempati Fryda Penyanyi. Sampai sekitar setahun kemudian saya berhenti melanjutkan kursus.
  
Agus Penyiar.

Agus yang ini adalah seorang penyiar salah satu stasiun radio anak muda yang sedang ngetren saat itu. Stasiun radio ini terletak di Jalan Wijaya - Kebayoran Baru. Sayangnya stasiun radio tersebut sudah almarhum sekarang. 

Jaman dulu kan ada ya program radio yang kirim-kiriman lagu dan titip pesan, gitu. Di rumah saya kebetulan sudah masuk jaringan telepon (wuuaaahh...masih jarang dulu rumah yang punya telepon. Masih 5-6 digit nomor teleponnya.) Dan karena  masa abege saya lebih banyak dihabiskan di kamar, maka saya adalah penggemar berat siaran radio sebagai hiburan. Jadi ngga heran kan kalau saya sering menelpon stasiun radio untuk request lagu.

Nah, saat menerima request lagu dari saya, penyiarnya sering tanya "Lagunya dikirim buat siapa, nih?"
Karena saya ngga punya pacar yang bisa saya kirimi lagu, maka dengan centilnya saya menjawab "Nggg...Buat Mas Penyiar aja deh, kiriman lagunya."
Lama-lama saya dan Agus Penyiar sering telepon-teleponan. Saya suka suaranya yang merdu 'ngebas gimana gitu..
Naksir?
Bisa iya, andai situasinya ngga begini: Suatu Sabtu siang kami janji ketemuan di Pasar Baru. Di halte bisnya. Dia janji pakai kemeja biru, celana panjang biru dongker dan pakai rompi berlogo radio tempatnya bekerja.  Untuk memenuhi janji ini, hari itu saya dan sahabat saya, Ruli, bolos sekolah. (Karena harusnya saya masih sekolah siang itu) 

Begitu bis mendekati halte Pasar Baru, kami mulai searching cowok berpakaian seperti yang Agus Penyiar sebutkan. Nah, ternyata dia sudah menunggu di pojokan halte. Dia pun mengamati satu persatu penumpang bis yang turun. Sebelum turun dan mendekati Agus Penyiar,  sekali - duakali lagi kami memandanginya diam-diam.
"Yakin lu itu orangnya?" Kata sobat saya, Ruli.
"Dari baju, celana dan rompi yang dipakainya sih, iya itu orangnya. Tapi koq dia kayak gitu ya"
Maaf, antara suara nya -yang saya taksir- berbanding dengan tampangnya, sekitar 100 derajat bertolak belakang. Ngga sampai 180 derajat sih. Ngga sejelek itu koq.
"Ngga jadi ah ketemuannya." Putus saya.
Dan kami akhirnya tidak turun, melainkan ikut kembali dengan bis yang sama ke Tanjung Priok.

Silly, banget ya.
Tapi mohon dimaklumkan, waktu itu saya masih kelas 2 SMP. (Waks!!!)

Dan sampai berminggu-minggu kemudian, Agus Penyiar rupanya kecewa berat dengan janji yang tak tuntas itu. Saya dibullynya habis-habisan setiap dia siaran. Sayapun berhenti menelpon stasiun radio tersebut.

Agus Supervisor

Kayaknya kisah persinggungan saya dengan Agus Supervisor ini ngga semenarik cerita dua Agus di atas, deh. Tapi ya tetap akan saya ceritakan juga, sih.

Saya dan Agus Supervisor adalah sama-sama karyawan divisi Sales di sebuah perusahaan farmasi. Sebagai teman satu divisi kadang-kadang kami makan siang bareng atau mengunjungi customer bareng.
Suatu hari selesai meeting mingguan divisi kami, dia mentraktir saya makan siang di sebuah rumah makan sekitar Blok M. Kantor kami di Sudirman, jadi ya lumayan jauh.
Sambil makan Agus Supervisor bertanya kepada saya, "Rin, guwe denger lu lagi deketan ama dokter itu ya?"
"Lu denger dari siapa?"
"Gosipnya. Tapi guwe mau denger sendiri jawaban lu"
"Apa urusannya guwe kudu klarifikasi ama lu?" Saya jadi sewot dong ya, saat urusan pribadi diobok-obok orang lain.
"Gini, kalau seandainya lu ngga ada apa-apa ama tuh dokter, ya mendingan lu ada apa-apa ama guwe aja."
"Maksud lu?"
"Gimana kalau guwe ngelamar lu? Guwe pusing nih ditodong disuruh merit melulu ama bokap." Keluhnya.
"Emangnya lu ngga punya pacar?"
"Ngga. Guwe naksir lu sih, sebenernya."

Hahaha..
Hebat! 

Selanjutnya hubungan kami masih terus seperti biasa. Saya ngga grogi kalau bertemu dia (Yah ngga bisa ngelak juga, kan tiap hari seruangan kerja). Dia juga ngga over-acting sok baper. Sampai beberapa bulan kemudia dia mengulangi omongan diatas. Tapi kali ini alasannya pingin kawin adalah karena dia mau resign dari pekerjaan saat itu dan mau mendaftar menjadi anggota DPR Dapil Sumatera (Bagian sebelah mana, ngga usah saya sebutkan.) Dia butuh Nyonya untuk memuluskan rencananya berpindah haluan profesi.

Tentu dengan ringan hati saya tolak lamarannya. 
Gila aja, ada gitu alasan mau ngajak nikah karena urusan "kayak gitu".
Tahun lalu, saat kampanye legislatif, saya dengar Agus Supervisor mencalonkan diri kembali menjadi Caleg Dapil Sumatera.

Dan kini tibalah cerita saya pada, 

The Last and The Best 'Agus' in my life.

Ah, kayaknya cerita tentang Agus yang ini dibikin satu judul postingan sendiri : When I Met My Husband.
Gitu aja kali ya..Soalnya Agus ini very-very-very special.
cie...cie....

You May Also Like

0 komentar