Semua Salah Si Anu

by - Saturday, July 09, 2016

Beberapa hari ini timeline Facebook saya rame lagi dengan cacian kepada Anu karena dianggap tidak becus mengerjakan tugasnya. Saya sengaja tidak menyebut nama dan jabatannya, karena ada saja orang yang sepertinya kena alergi kronis stadium IV terhadap Anu. Bahkan ada yang baru membaca inisial namanya saja, orang-orang tersebut langsung gatal ngga tahan ingin melontarkan cacian. Saya heran dengan orang-orang ini karena selalu saja menemukan kesalahan pada tindak tanduk si Anu, sehingga ia selalu dijadikan sasaran bullying berjamaah.

Bagi mereka Anu = masalah

Mereka menyalah-nyalahkan si Anu, tapi mereka ngga ada action untuk membantu mengatasi masalah. Padahal membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut bukan untuk kepentingan si Anu saja loh. Tapi untuk kepentingan dan kemashlahatan penduduk Indonesia. Mereka sama sekali ngga bergerak. Malah sepertinya mereka gembira ketika ada masalah. Ngga jarang masalah keciiill di besar-besarkan.  

Padahal bukankah tugas kita dalam hidup ini adalah menyelesaikan setiap masalah yg datang? Entah masalah keciiiillll sampai masalah segede megaloman (cuma angkatan gw yg tau megaloman).
Terus, kenapa kebanyakan kita malah hanya berpangku tangan, ya? Dan memilih opsi paling 'enak dan menyenangkan' yaitu melempar tanggungjawab dan menyalahkan pihak lain.

Enak dan menyenangkannya, pakai tanda kutip ya. 

Karena dengan melempar tanggungjawab dan menyalahkan orang lain seolah membuat diri kita terbebas dari keharusan berpikir mencari solusi. Kita cukup cuma nunggu doang sampai solusi itu datang sendiri atau masalah diselesaikan oleh orang lain.Padahal justru kepuasaan dan kebanggaan terhadap diri sendiri adalah ketika kita bisa menyelesaikan masalah dengan kemampuan berpikir dan bertindak.
---
Contohnya nih: 
Sudah tahu jumlah mobil bertumbuh beratus kali lipat dibanding jumlah pertambahan panjang jalan, yang mengakibatkan macet jika semua mobil beredar di jalan. Koq ya ngga mau membantu si Anu dengan naik kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan? 
(Kami lebih memilih naik shuttlebus dan janjian ketemuan untuk meeting di daerah yang terjangkau shuttlebus. Jadi tulisan di atas, saya sudah melakukannya) 

Katanya adalah salah si Anu yang ngga becus mengurus sehingga banyak anak miskin yang terlantar pendidikannya, banyak dhuafa yang susah untuk makan. Tapi koq mereka ngga mau membantu mengulurkan tangan. Tetapi lebih memilih bungkam dan menutup rapat dompetnya saat tim #SedekahOksigen bolak-balik posting tentang ajakan bersedekah.

Yah, gitu deh.
----
Pola pikir kita, mempengaruhi ucapan dan tindakan kita. 
Ucapan dan tindakan kita mempengaruhi kepribadian kita.

You May Also Like

0 komentar