When We Met

by - Monday, July 11, 2016


Beberapa hari lagi menuju  tanggal 21 Juli yang merupakan salah satu tanggal keramat bagi keluarga kami. Tanggal penting karena merupakan tonggak sejarah (cieee...) awal mula komitmen bahwa Aku dan Kamu menjadi Kita atau Kami

Awalnya saya ingin menuliskan kisah nostalgia kami dari kenangan versi saya, sebagai bagian dari cerita saya disini. Tetapi ketika sedang bersiap akan menulis, mata saya mendapat pemandangan suami yang sedang melayani AMing dan APin (2 dari 4 anak kami) makan. Tiba-tiba saya mendapat ide untuk menuliskan dari versi kami berdua.

Menulis kenangan awal mula cerita 'jadian kami' menurut versi saya, mudah saja. Alhamdulillah saya dikaruniai ingatan yang kuat. Yang agak susah adalah mengorek kenangan dari suami.

Bukan karena suami ngga ingat. Melainkan suami adalah tipe orang yang malas bernostalgia. Tapi jika ada pemicunya, dia bisa menjabarkan dengan detail kejadian demi kejadian. Namun  jika secara sengaja ditanya soal roman-romanan, seringkali dia enggan menjawab.
"Apaan sih, nanya-nanya begituan. Kan kita udah sama-sama tahu juga." Begitu jawabannya.

Saat pacaran hingga awal menikah, sebelum kami heboh dengan kehamilan, mengurus anak-anak hingga jatuh-bangun menata hidup, kami punya diary yang kami tulis berdua dengan isi berbagai macam cerita. Dari mulai kegiatan kami di kantor masing-masing, curhat kekesalan pada pasangan, bahkan bertengkar melalui tulisan disaat kami ngambeg mogok bicara. Ketika pernikahan kami di ujung tanduk, cerita-cerita di dalam diary tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa kami diketemukan dan diikat oleh takdir selain cinta. (yaiyalaahhh)


Kembali ke niat saya menulis tentang Kami di blog ini. Setelah dirayu beberapa kali, akhirnya suami setuju saya wawancarai. Dengan syarat saya harus mentraktir di tempat kongkow favoritnya.
Ya sudahlah.
Deal.
Toh, sumber uangnya dari dia juga. *Ketawa licik*
---
Interview Day 1:

Ternyata mewancarai suami ngga semudah mewawancarai narasumber lain untuk tulisan-tulisan saya sebelumnya. Malam ini saya hanya dapat satu jawaban dari beberapa pertanyaan. Sisanya dijawab dengan 'nyengir, lalu suami konsen nonton pertandingan final Euro 2016, Perancis vs Portugal.


Ask  : Kapan kamu 'ngeh kalau saya ada di dunia ini diantara sekian milyaran manusia?

Jawaban Rinny:

Saya ingat pertama kali 'ketemu' Aa (Setelah pacaran tapi sebelum menikah, saya memanggil suami begitu) adalah pada masa orientasi siswa baru setelah penataran P4. Sebagai anak baru, adik-adik kelas ini diwajibkan untuk berkenalan dengan para kakak kelasnya.

Yup. Aa adalah adik angkatan. Hihi.

Saya ingat, waktu itu saya duduk bergerombol dengan beberapa teman sekelas di pinggir lapangan basket. Kemudian seorang adik kelas cowok, tinggi dan kurus, datang mendekati kami.
"Kakak-kakak, minta tandatangannya dong" Katanya. 
Mereka memang harus mengumpulkan tandatangan para senior. Sebagai kakak kelas yang baik hati, maka kami dengan sukarela membubuhkan tandatangan kami di buku tulisnya.
"Hobinya apa, Dik?" Tanya saya.
"Ngeband, Kak." Jawabnya
"Ooo..kamu punya grup band?"
"Ada, Kak."
"Kamu bisa main alat musik apa?"
"Gitar, Drum. Tapi paling sering saya jadi drummer, Kak"
"Wih, keren. Coba kamu peragakan saat kamu main drum."
Si Adik kelas cemberut.

Entah mengapa, diantara puluhan adik kelas yang meminta tandatangan , saya terkesan dengan si Drummer ini. Yang lain udah blass lupa, tapi koq ya scene yang ini masih ingat teruuusss.
Bertahun-tahun setelah itu, bisa dikatakan kami ngga pernah sama sekali berkomunikasi. Lah wong circle dia beda dengan saya. 

Hingga tiga tahun kemudian.

Waktu itu suasana sekolah sedang sepi karena adik-adik kelas sedang ujian semesteran. Siang itu saya, Suroto dan George yang sudah 'merdeka dari ujian' sedang kasak-kusuk di kantin tentang rencana kami untuk Praktek Penelitian di LAPAN. Tiba-tiba si Drummer mendekati kami dan berbicara dengan George.
"Kalian rencananya mau praktek dimana? Gw ikutan dong" Pintanya.
Sebenarnya saya agak berat hati karena dia berasal dari luar circle kami. Tapi karena kedua teman saya setuju, yah terpaksa deh saya juga setuju.
Beberapa pekan kemudian, kami berempat bergabung sebagai Trainee dalam tim riset LAPAN yang saat itu sedang uji coba bahan bakar dan motor untuk engine roket terbaru.

And the story begin....
--
Jawaban Suami:

"Saya ngga inget sama sekali tentang kejadian masa orientasi itu." (*Rinny: huaaaaaa......hiks).
"Soalnya semua senior kayaknya sama jahilnya."
(Pause...lamaaa...dia serius nonton bola dari layar proyektor yang disediakan oleh restoran untuk nobar Liga Euro 2016. Sampai kemudian saya colek,.Dia pura-pura berpikir mengingat-ingat)
"Saya sering lihat kamu jalan bareng ama Petrus. Saya pikir kalian pacaran, loh. Untungnya kalian engga pacaran, ya. Kalau kalian pacaran, kan saya jadi merasa bersalah kepada Petrus."
(Pause lagi. Nonton bola lagi. Sa
mpai saya colek lagi. Mmppffhh)
"Saya baru tahu nama lengkap kamu ya saat kita diabsen dan dijadikan satu tim di LAPAN. Jadi saya baru 'ngeh sama kamu, ya saat kita di LAPAN. Gitu"

Segitu doang jawabannya. Setelah itu BELIAU asik nonton bola.Saya pikir wawancara disudahi saja. Karena narasumbernya ngga konsen menjawab. Saya juga sudah males mencolek-colek dia buat mengingatkan. Memangnya sabun colek apahhh..Rugi saya, padahal kan sudah mentraktirnya makan malam *gigit sendok


Bersambung ke:  When We Met (Part II)

You May Also Like

0 komentar