Wednesday, February 22, 2017 0 komentar

Mirah


Kabut turun perlahan
mencumbui pucuk-pucuk bunga jagung
tonggeret pun berjerit cemburu
dari sela rumput yang dibasahi hujan
seolah tak rela gelap segera menjelang
Aku yang sedang berdiri mendengarkan suara alam,
tetiba merasa kaku menegang
ketika dari pintu belakang warung
sebuah teriakan bergema,
"Miraaaahhhh, pacarmu datang!"
Pacar?
Mungkin aku akan berlari gembira jika yang datang adalah Sang Pujaan Hati.
Tapi 'pacar' yang diteriakkan oleh Yu Anah sesungguhnya adalah lelaki yang sedang lelah.
Ups, bukan lelaki. Tetapi lelaki-lelaki.
Mereka lelaki-lelaki yang butuh dipeluk dan dipuji. Walau mereka tahu pelukan dan pujianku palsu.
Mereka lelaki yang ingin menumpahkan hasrat. Walau mereka tahu aku tak sepenuhnya sudi menampung sisa berahi mereka.
Aku perempuan yang memetik rupiah dari erangan lelaki.
Mungkin kau menilaiku hina.
terserah.
Ini pekerjaanku sementara, sampai bunga-bunga jagung gugur
dan melahirkan bonggol jagung ranum.
Asalkan tonggeret mau berbaik hati tidak menggigit habis bakal jagungku
Asalkan harga jagung tidak anjlok saat panen nanti
Sementara itu, biarlah kuisi perutku dengan nasi yang kubeli dari uang para lelaki pacarku itu.
terserah apa pikirmu
kau tidak pernah tahu perjuangan hidupku.

Wednesday, February 1, 2017 1 komentar

Pengagum Rahasia






“Selamat pagi. Bersyukurlah, karena pagi ini kita masih diberi kesempatan melalui satu hari lagi. Semoga kesuksesan mengiringimu hari ini” tulisnya di aplikasi pesan singkat.
Dipejamkan mata dan digigit bibirnya. Ia ragu, apakah akan dikirim atau dihapus saja pesan ini.
Dikirim?
Jangan!
Dikirim?
Jangan!
Tetapi tetap saja ibu jarinya mengklik tombol “Send Message”.
Lalu semburat merah muncul di wajahnya. Ia malu.
Ah, ia merasa telah bertindak bodoh. Lagi.

Selalu begitu.
Perasaan sama yang ia rasakan setiap mengirim pesan ke nomor ponsel yang telah dihapalnya itu. Telah belasan kali, puluhan kali, ia membodoh-bodohi diri. Namun ia tak jera juga.
Ia merasa bodoh karena ia tahu walau pesan itu mungkin dibaca oleh si Penerima, namun tidak akan pernah dibalasnya.
Tak akan pernah.
Ia seperti mengirim pesan kepada angin.
Ia menjadi bodoh karena merindu yang tak sanggup dilawannya.
Kadang-kadang jika telah berbulan-bulan  memendam kerinduan, ia akan nekat menelpon.  Hanya sekedar ingin mendengar suara si Penerima berkata, “Hallo, Nova. Ada yang bisa kubantu?”

Lalu ia akan tergagap.
Sibuk mencari setrilyun alasan agar mereka bisa bercakap satu - dua menit.
Namun saat percakapan itu selesai, ia akan menyesali diri lagi.
Kembali membodoh-bodohi dirinya.
Tapi juga sekaligus ia merasa bahagia. karena si Penerima masih mau menjawab panggilan telepon darinya. Dan langsung menyapa dengan,  "Halo, Nova"
Aha. Bukankah itu berarti si Penerima masih menyimpan nomor ponselnya, walau telah bertahun-tahun?



***
Dua puluh tahun lalu, suatu pagi di sebuah halte bus

Ia bersemangat ketika melihat seseorang turun dari becak lalu melangkah mendekati halte. Sebuah harapan terbit di dadanya. Berharap orang ini mau membeli dagangannya.
"Kak, mau beli susu kacang? Masih hangat."
Diulurkannya sebungkus susu kacang ke lelaki berseragam SMA.
Remaja itu menggeleng. "Ngga, Dik. Makasih"
Ia mundur kembali ke sudut halte. Tempat ia menaruh dua buah termosnya. Keduanya masih terisi penuh. Belum satupun terjual.
Untuk membunuh waktu, ia menyibukkan diri. Dimasukkan masing-masing sebungkus susu kacang dan sebatang sedotan ke dalam kresek. Bersiap-siap jika ada pembeli.
"Susu kacangnya berapaan?"
Ia terlonjak kaget. Suara si Kakak SMA itu tiba-tiba menyapanya.
"Sebungkus, seratus. Mau beli,Kak?" Ia kembali menawarkan dengan semangat.
"Satu aja." Diulurkan selembar uang kertas merah seratus rupiah.
"Jauh Kak, sekolahnya?"
"Di Pasar Baru."
"Naik PPD 63 dong, Kak.” 
“Iya.”
“Sekolah apa, Kak?”
“STM” Ditunjukkan badge di lengan kirinya. Tertulis nama sebuah sekolah teknik negeri.
“Oooh.. “ Ia manggut-manggut.
Padahal sesungguhnya ia belum paham apa yang dimaksud dengan kata STM itu.
“Itu bisnya datang, Kak." Ia menunjuk sebuah bus biru yang mendekat. Asap hitamnya mengepul, memenuhi udara di halte itu. Ia terbatuk-batuk.
"Jualan di halte begini, kamu pasti kena debu dan asap kenalpot bus. Ini pakai saputanganku untuk menutup hidungmu." Kakak berseragam SMA, ups STM, itu mengulurkan saputangannya.
“Aku berangkat, ya.” Pamitnya. “

Sejak hari itu, ia memiliki pelanggan tetap susu kacangnya. Sesekali Kakak SMT itu membeli hingga 10 bungkus.
"Untuk dibagiin ke teman-teman" Katanya.
Sejak hari itu, walau mereka tidak banyak saling berbicara, tapi harapan ada seseorang yang akan membeli dagangannya setiap pagi membuatnya selalu bersemangat memulai hari.

Suatu pagi di bulan Desember,  Kakak SMT datang dengan wajah yang berkerut-kerut dan mata sembab.
"Sebentar lagi aku mau ujian." Katanya
"Ooo" Pantas saja sambil berdiri menanti bus pun, ia masih membaca kertas catatan.
"Kamu ngga sekolah? Atau sekolah siang?"
Ia menggeleng. Dadanya selalu sesak jika ada yang menyinggung tentang pendidikannya.
"Aku cuma tamat SD, Kak. Mestinya sih sekarang kelas 1 SMP"
"Orang tuamu kerja dimana?"
Ia kembali menggeleng.
"Aku tinggal dengan Nenek. Abah dan Mamak sudah meninggal ditabrak truk kontainer."

Ah, walau kehidupannya menjadi  pahit setelah kepergian kedua orangtuanya, tetap saja setiap kali menyebut nama mereka membuat lidahnya kelu.
Dengan mudah ia bisa memutar kembali kenangan di hari kepergian mereka. Sore hari sehabis Ashar 6 bulan lalu, beberapa temannya meneriakkan namanya. Memanggil agar ia segera pulang dari halaman musola tempat mereka bermain.
"Abah ama Mamak lu ketabrak kontainer" Teriak mereka.
Ia berlari secepat kilat ke rumahnya. Kemudian diilihatnya beberapa tetangga mereka baru saja menurunkan jenazah Abah  dan Mamak yang berlumuran darah, dari angkot. Beserta sepeda ontel hijau mereka yang telah patah.
 --
"Punya kakak atau adik" Kalimat tanya itu mengusir lamunannya.
"Adikku satu. Lelaki. Namanya Tegar." Ia tersenyum. Tegar kecil tersayanglah yang membuatnya selalu bisa tersenyum.
"Itu busnya datang, Kak"
Bus biru yang setiap pagi dan sore selalu penuh sesak dengan penumpang, mendekat. Kakak SMT itu naik dengan lincah. Lalu masuk ke dalam bis dengan cara  menyelipkan badannya yang kurus tinggi diantara penumpang yang berjejal.

***
Ketukan di pintu ruang kerjanya memutuskan rasa gamangnya. Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu dihembuskan dengan kuat.
"Ya, masuk"
Seraut wajah manis milik Laili muncul di ambang pintu.
"Mbak, ngingetin aja, sekarang hampir jam sembilan. Sebentar lagi jadwal Mbak meeting ama Mr. JB."
Ia mengangguk. 
Tiba-tiba jantungnya berdetak. Adrenalinnya bekerja cepat. Meeting dengan Mr JB -Jacob Bryanson- seorang profesional dari Amerika yang direkrut untuk menjadi Regional Marketing Director perusahaan ini- biasanya akan berlangsung dengan seru dan alot. Ia bisa menguliti strategi pemasaran yang dibuatnya, selapis demi selapis, hingga tertinggal keperihan menghadapi kenyataan karena ternyata begitu banyak kelemahan yang bisa ditemui pikiran cerdasnya.
"Oya, aku lupa Mbak, Pak Gilang juga akan hadir nanti."
"Pak Gilang? Koq aku baru dikasih tahu sekarang sih?"
"Yah, aku juga baru diberitahu lewat telepon 5 menit lalu." Secercah cengiran muncul di sudut bibit Laili. Ia sangat paham bahwa kehadiran Pak Gilang akan membuat Manajernya ini merasa sangat tidak nyaman.

Bersambung..
 
;