Buat Apa Susah, Lebih Baik Kita Bergembira.

by - Tuesday, May 02, 2017

"Tak berguna, kau bersedih hati
Tertawalah, Sayang.
Buat apa susah,
Buat apa susah.
Lebih baik kita bergembira"


Dalam berbagai acara yang saya ikuti, selalu saja ketemu orang-orang yang mengeluhkan kondisi sekarang. Jaman susah, krisis dan sebagainya.
Dilain sisi, semalam saya ke Supermal Karawaci. UNtuk mendapatkan parkir kendaraan yang kosong, kami harus muter-muter beberapa kali. Saat akan makan di foodcourt, pengunjung yang sedang makan menyemut, sehingga kesulitan mencari meja kosong.

Libur Mayday -2 Mei 2017-  ini,yang kebetulan jatuh hari Senin sehingga menjadi Long Weekend, jalan-jalan menuju luar kota Jakarta macet. Tiket kereta pun habis. Karena ribuan orang mengadakan perjalanan ke luar kota. Berarti orang-orang masih memiliki cadangan dana untuk kebutuhan tersier.

Oke.. Oke... Masih banyak sih orang-orang yang jauh lebih susah dari itu.
Tapi bukankah orang miskin sudah ada sejak dulu, sehingga kita dianjurkan untuk menyantuni mereka?

Yang ingin saya tekankan dalam status kali ini adalah "kita", tepatnya "pola pikir kita"
Seorang teman menulis : Seburuk apapun krisis, sikap mental seorang entrepreneur, pengusaha atau pejuang adalah melihat PELUANG di balik krisis.

Pada saat krisis, memang ada ribuan atau jutaan orang yang terpuruk. Tetapi tidak sedikit juga yang melambung. Disamping ada sebagian besar yang di tengah-tengah tidak naik, tidak turun.

Ini pun yang saya lihat di lingkungan saya.

Kecenderungan untuk selalu mengeluh akan menambah berat hidup yang memang tidak mudah.

Sebagai manusia biasa setiap hari kita harus berjuang. Karena jika kita tidak pernah miskin, tidak pernah menderita, tidak pernah sakit maka kita akan menjadi Fir'aun. (Ah, bahkan seorang Fir'aun pun menghadapi penderitaan ketakutan sehingga ia membunuh semua bayi lelaki yang lahir di jaman kelahiran Musa)

You May Also Like

0 komentar