Thursday, June 29, 2017 1 komentar

Mesin Waktuku

Pernah ada seorang teman bertanya seusai kami menonton film Back To The Future, “Kalau sekiranya ada mesin waktu, kamu mau ngga kembali ke masa lalu?”
“Iya sih. Kalau bisa kembali ke masa lalu, ada beberapa kelakuan buruk saya yang ingin saya perbaiki.”
“Tapi, kalau kamu berkelakuan baik terus di saat muda, kamu tidak akan belajar dari hasil kelakuan buruk tersebut.” Kata teman saya.
Masuk akal.

Tapi ternyata setiap orang memiliki mesin waktunya masing-masing. Bentuk mesin waktu itu dapat bermacam-macam. Bisa berbentuk sebuah rumah yang pernah disinggahi, jalan yang pernah dilewati, selembar foto lama atau sebuah lagu.

Yup. 

Bagi saya sendiri, banyak sekali lagu yang bisa menjadi mesin waktu . Sejak intro pertama sebuah lagu mengalun, mampu membuat saya tergelak, senyum miris, mengerutkan kening atau langsung kanclep karena mendadak sedih. Saya bisa mengingat lokasi, orang (atau orang-orang) yang berada di sekitar, suasana, bahkan kalimat-kalimat berkesan yang saya dengar ketika itu.

Begitupun pada lagu Since I Don’t Have You-nya Guns and Roses. Rupanya telah menjadi mesin waktu bagi suami saya.





Pagi ini saya dan suami iseng berkolaborasi  bermain gitar. Untuk lagu panduan, saya membuka laman Youtube. Nah, dari daftar berbagai lagu era 90-an yang disarankan oleh Youtube, salah satunya adalah lagu ini. Sayapun mengkliknya. Baru saja intro mengalun, partner ngegitar saya ini langsung makjengkalit,






"Ganti lagunya!"
“Kan enak lagunya. Kenapa sih?”
Wow.
Ada kenangan buruk, rupanya. Tapi koq mendengar protes darinya malah membuat saya susah berhenti ketawa. Karena saya terlibat di dalam ceritanya mengenai lagu ini.

Hhmm, rupanya ketika seorang rocker patah hati,  lagu pilihannya saat merana bukanlah lagu Betharia Sonata.
--
Curhat-an saya lainnya:
Wednesday, June 28, 2017 0 komentar

Apa sih Personal Branding saya?


Menurut pendapat saya, inti dari  Personal Brand  adalah tampilan apa yang ingin kita tunjukkan kepada masyarakat. 
Apakah kita ingin dilabeli  sebagai pengusaha sukses,atau ingin dikenal sebagai artis glamour seperti Syahrini, coach yang mumpuni, mentor yang sukses dan sebagainya. Supaya masyarakat percaya bahwa personal brand tersebut memiliki kemelekatan dengan diri kita, maka branding diri tersebut harus dilakukan terus menerus. Konsisten. Ngga boleh pakai capek. Ngga boleh pakai lupa. Ngga boleh pakai malas. Terutama jika image yang ingin dimelekatkan mengandung nilai ekonomi.
Lalu setelah banyak membaca dan mendengar kuliah tentang 'personal brand' membuat saya berpikir: saya ingin publik menganggap seorang 'Rinny Ermiyanti' itu sebagai apa sih?
Yang utama sih, sudah pasti saya ingin publik menganggap saya adalah manusia yang baik. Karena menurut saya menjadi dan dinilai sebagai orang baik itu sangat penting.
Alasannya, dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah, bersabda: “Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik oleh 4 orang, Allah akan memasukkan ke surga”. Kami (para sahabat) bertanya: Kalau disaksikan 3 orang? Nabi menjawab: ‘Kalau disaksikan 3 orang juga masuk surga.”. Sahabat bertanya lagi: kalau disaksikan 2 orang? Nabi menjawab: "Dua orang juga," Kami tak menanyakan lagi bagaimana kalau hanya dipersaksikan oleh satu orang.
Di zaman serba online saat ini, sosial media bisa menjadi salah satu tempat untuk proses branding. Misalkan salah seorang teman saya yang ingin dikenal sebagai pedagang. Maka secara konsisten ia menjadikan laman Facebooknya sebagai etalase dagangan.
Ada teman penulis yang 90% isi linimasanya adalah tentang artikel buku-buku yang ditulisnya. Sisanya tentang kegiatan pelatihan menulis.
Ada teman relawan yang 80% kegiatannya di sosmed adalah mem-posting foto-foto aktifitas gerakan sosialnya. Sisanya tentang ajakan peduli sesama.
Lalu bagaimana dengan isi dinding Facebook saya?
"Ini manusia ngga jelas apa maunya." Mungkin  demikian pikir teman pakar personal branding.
Mungkin loh, ya. Mungkin juga dia ngga peduli. Boro-boro ngelirik  saya buat dinilai. Haha… 
Pernah, seorang teman memberi saran begini: "Mbak, temanmu kan banyak, mbok yo ngebranding diri jadi apa keq. Biar kalau orang inget sesuatu hal, langsung mengasosiasikan ke dirimu Misalnya kalau orang ngomong tentang motivator, mereka ingat Mario Teguh atau Merry Riana. Pakar pendidikan, Pak Arif Rahman. Pakar seksologi, Dokter Boyke. Dan banyak juga temen Facebook kita yang ngebranding dirinya sebagai mastah ini-itu".
Saya cuma nyengir.
Tergerak dengan sarannya, lalu saya membaca ulang linimasa Facebook saya untuk mereview kira-kira secara saya pribadi, telah menampilkan diri sebagai apa. 
Hasilnya, aduh! Saya tepok jidat sendiri deh. Ngga usah saya tulis lagi ya, karena juga ribuan teman FB saya tahu, (meskipun yang membaca paling 2 persennya saja) betapa kacaunya postingan-postingan saya. Campur aduk semua ada.
Kalau saya menyimpulkan sendiri dari isi tulisan yang saya buat, saya ini entrepreneur (impiannya sih, sukses) tapi masih juga termehek-mehek. Iman saya sebagai orang beragama kadang naik, tapi lebih sering turun. (Kayaknya) Pintar tapi juga naif (ngga tega mau nulis 'kurang pintar'). (Berharap) Baik tapi lebih kerap jutek. Penulis status di Facebook, tapi malas banget 'menulis buku (wewww... udah 3 bukuku. Walau ngga best seller. Jauhhh). Kadang begini, tapi juga sering begitu.
Tak jarang saya merasa "malesin banget" dinilai-nilai orang. Meskipun, ya, sebenarnya saya ngga bisa juga menghentikan penilaian orang terhadap diri saya. Hingga bolak-balik saya men-deactived-kan akun FB. Tapi begitu ingat ada tanggung jawab, terutama tanggung jawab atas kegiatan #SedekahNasi ,#SedekahOksigen serta beberapa kelas berbagi ilmu yang saya kawal, sedangkan salah satu sarana komunikasinya adalah lewat FB, maka dengan suka cita saya mengaktifkan lagi akun tersebut.
Akhirnya, hari ini dengan legowo saya memutuskan: ya sudahlah.
Saya berusaha menerima teman-teman di sosial media saya  sebagai teman dunia maya yang apa adanya. Yang tak jarang nyinyir. Yang kadang-kadang mellow. Beberapa menyiratkan sedang desperado sendiri. Juga banyak yang iklaaaannn melulu tanpa pernah mau bertegur sapa. 
Jadi, saya berharap teman-teman Facebook juga menerima aku apa adanya, ya. Satu paket dengan tulisan-tulisan ke-sotoy-anku, kegalauanku, keceriaanku, keisenganku, dll, dsb.
Pesan untuk teman dunia maya saya (yang sebagian juga merupakan teman dunia nyata) kalau dirasa suatu saat saya sudah begitu memuakkanmu, jangan ragu-ragu untuk memutuskan hubungan teman di dunia online diantara kita. Begitupun kalau tiba-tiba koq aku ngga ada lagi di daftar teman medsosmu, berarti aku sudah tak suka padamu lagi. Cari saja pengganti diriku untuk menambah daftar teman facebookmu. Dan jangan ditanya kemana dan kenapa aku pergi.
Hiks. Saya jadi sedih…
--
Curhat-an saya lainnya:
0 komentar

Tanggapan Suami atas Tagging di Facebook


Kadang-kadang kalau aku sedang membuka laman Facebook, suami yang sedang duduk di sebelah, ikutan mengintip linimasaku. Kadang ia hanya membaca, namun sesekali suami mengomentari status teman Facebook saya.
"Kamu jangan begitu, ya." Katanya sambil menunjuk sebuah postingan teman perempuanku yang membagikan sebuah artikel berisi hal sensitip bagi lelaki. Lalu pada bagian akhir kalimat postingannya  ditulis “dan diberi colek Ayah XXX. Sambil menandai (tagging) nama suaminya.
"Loh, mungkin ia ingin supaya suaminya tercerahkan dengan artikel tersebut". Kata saya.
"Apa ngga bisa tho, link artikelnya dikirim lewat inbox aja? Atau pillow talk sambil nunjukkin artikel tersebut ke suaminya.” Kata suami.
“Ya, barangkali temanku ini mendapat artikel tersebut dari teman Facebooknya yang lain, lalu langsung di-share artikel tersebut. Lebih praktis.”
“Bisa sih begitu. Tapi misalnya seorang istri membagikan artikel tentang penyakit prostat sambil ngetag nama suaminya. Nah, orang lain yang ikut membaca kan langsung berpikir:  jangan-jangan suami si ibu kena gejala infeksi prostat.  Atau artikel tentang  tanggapan negatip terhadap poligami yang di-share. orang lain akan membaca pesan tersirat : wih, si ibu sedang mengancam suaminya.” Kata Suami “Lain halnya kalau nge-tag artikel atau berita yang ngga sensitip bagi lelaki. Seperti destinasi wisata, atau video humor. Kalau saya oke-oke aja kamu nge-tag saya di artikel seperti itu.
"Hhmm.."
"Oya, satu lagi" Lanjut suamiku. " Kamu jangan nge-tag saya foto-foto dari Zalora, Lazada atau apapun online shop ya. Kalau itu, saya yang langsung berpikir keras tentang keselamatan kartu debitku"
Oh, itu. Tenang aja. Saya ngga bakalan nge-tag. Soalnya saya biasanya langsung kirim pesan ke inbox penjualnya, koq.

Curhat-an saya lainnya: 

Tuesday, June 27, 2017 0 komentar

Memaafkan

Di hari ke 3 Hari Raya tahun 2017 ini saya membaca postingan status Facebook dua orang Coach yaitu Coach Julie Nava dan Coach Dwiarko. Tulisan yang membuat saya menyimak ke dalam hati saya sendiri.
Tulisan kedua orang tersebut adalah tentang MEMAAFKAN.

Sebagian status Coach Julie Nava: sebagai berikut,
Saya akhirnya bisa melihat dengan jelas. Bahwa memaafkan itu tidak semudah kita mengirim kartu ucapan Lebaran atau blasting pesan massal tentang Idul Fitri melalui medsos. Sebagian bisa dengan enteng melakukan itu, namun sebagian lagi perlu mengerti WHY-nya, sebelum bisa memutuskan.
Memaafkan juga tergantung dengan apa yang kita anggap penting. Ia semacam alat tukar. Jika kita menganggap nilainya tak seberapa, maka maaf dengan mudah bisa diberikan. Sebaliknya, jika itu dianggap sangat serius, kita akan sulit melakukannya.
Contoh: ada orang bikin proyek saya melayang. Namun karena yakin bahwa rejeki selalu bisa dicari, maka dengan enteng saya bilang, "Ah biarin aja, toh cuma soal uang."
Tetapi lain halnya jika ada orang mencemarkan nama baik saya. Itu serius banget. Saya bisa mengutuk hingga tujuh turunan (ceileee...), dan itu lebih lama membekas di benak. Sampai beberapa lama, saya akan terus bicara soal itu.
Nah, sekarang tahu kan, kenapa jika ada orang masih mengungkit-ungkit sesuatu meskipun berulangkali bilang sudah memaafkan, itu sebenarnya belum beneran memaafkan?

Sedangkan tulisan Coach Dwiarko sebagai berikut:
Sebenarnya meminta maaf bukan untuk orang lain atau karena kita mempunyai salah sama orang tersebut. Tetapi saling meminta maaf sebenarnya untuk diri kita sendiri. Meminta maaf bukan untuk kepentingan orang lain, tetapi untuk kepentingan diri kita, hati dan pikiran kita. 
Dengan meminta maaf kita menanamkan energi positif dalam diri. Kita mengumpulkan kata-kata positif dan "miracle word" yang berguna buat bank data alam pikiran kita.

Sebagai manusia yang pernah menjalani naik turun kehidupan, setelah direnungkan ternyata selama bertahun-tahun saya membawa luka-luka batin. Bertahun-tahun saya masih merasa sakit hati kepada orang-orang yang menorehkan luka tersebut.

Karena tulisan dua Coach  ini saya bertekad , luka-luka itu harus saya sembuhkan sendiri.
Saya belum tahu bagaimana caranya. Pertama yang terpikir adalah saya akan meminta maaf. Dengan begitu mungkin saya bisa memaafkan.

Monday, June 26, 2017 0 komentar

Lucky I'm in Love With My Best Friend



Lelaki itu menjemput Perempuan untuk melewatkan akhir pekan bersama. Hal ini biasa mereka lakukan jika mereka tidak mempunyai janji lain di akhir pekan. Mereka adalah dua orang yang berhubungan sangat akrab selama bertahun-tahun. Sejak mereka masih SMA.

L : "Mau kemana kita?" Tanya Lelaki saat mobil yang mereka naiki mulai keluar dari tempat kos Perempuan
P : "Terserahlah. Yang penting jalan-jalan."
L : "Lu lapar, ngga?"
P : "Iyalah, jam berapa ini? Jam makan siang udah lewat dari tadi."
L : "Mau makan apa?"
P : "Pecel lele di ujung gang itu aja lah."

Maka Lelaki menepikan mobilnya di depan sebuah warung pecel lele. Tak jauh dari tempat Perempuan kos. 

Sambil makan mereka bercakap-cakap tentang berbagai hal. Diantaranya tentang lelaki dan perempuan lain yang "ada diantara" mereka. 
L : "Jadi Lu pacaran ama dia? Lu bukannya pacar Guwe ya?"
P : "Hah?"
L : "Lah iya, perasaan Guwe sih, Lu pacar Guwe."
P : "Gitu ya?"
L : "Jadi, kenapa Lu pacaran juga ama dia?"
P : "Kagak, ah. Guwe cuma jalan bareng ama dia beberapa kali."
L : "Dia naksir ama Lu?"
P : "Ya mestinya, gitu."
L : "Terus?"
P : "Tapi ngga mungkin Guwe bisa lanjut ama dia. Bakalan stuck kagak kemana-mana. Lu ama si Anu, gimana? Dia masih sering Lu anter jemput?"
L : "Kagak anter jemput kaleee. Kalau pas ketemu saat pulang kerja, paling dia nebeng doang."
P : "Tapi kan Lu nganter ke rumahnya!"
L : "Guwe kan cowok. Masa Guwe turunin cewek di pinggir jalan. Ngga gentle amat."
P : "Cieee, pake alasan gentle. Dia naksir Lu. Lu naksir dia juga kagak?"
L : "Kemaren dia ngajak Guwe nonton. Ngga asik. Enakan nonton ama Lu."
P : "Gini, Bro, kalau Lu pengen lanjut ama dia. Ngomong aja terus terang ama Guwe. Biar Guwe jelas."
L : "Iya. Gampang."
P : "Gampang kata Lu. Kalau misalnya kalian jadian, terus dia 'ngelihat pas kita ngobrol kayak gini, dia ngga seneng, lalu dia ngelabrak Guwe, apa kagak mokal Guwe?" 
Mokal adalah bahasa slank untuk kata 'malu' di jaman itu.
L : "Iye. Terus rencana Lu 'gimana ama orang itu?"
P : "Kagak pake gimana-gimana. Having Fun aja."
L : "Having Fun? Umur kita udah hampir 30. Udah saatnya mikir berumah tangga, tau."
P : "Haha, Guwe belum kepikiran. Emangnya Lu udah pingin kawin? Ama siapa?"
L : "Tau nih. Guwe kayaknya stuck ama Lu. Muter kanan-kiri, balik lagi ke Elu. Ngga tau kenapa setiap Guwe jalan ama cewek lain, Guwe merasa bersalah ama Lu. Kepikiran terus."
P : "Sama. Guwe juga naksir si Anu, batal. Si Itu kayaknya keren tapi gagal lanjut. Lu siiih.."
L : "Koq Guwe? Emang Guwe kenapa?"
P : "Udah hampir sepuluh tahun, kagak jelas. Kita ini pacaran beneran atau cuma sahabatan?"
L : "Ya Lu juga gitu. Tebar pesona kanan-kiri. Guwe pikir kita juga kan masih muda. Kali aja jodoh Lu bukan ama Guwe. Biar ngga sakit-sakit amat kalau ditinggal kawin.". 


Begitulah uniknya hubungan mereka. Mereka dua orang yang begitu dekat. Yang satu akan selalu ada jika yang lain sedang membutuhkan tempat berbagi.
Mereka bisa saling bebas bercerita isi pikiran dan isi hati masing-masing. Termasuk jika ada diantara mereka yang tertarik atau ditaksir oleh orang lain.
Mereka saling terikat namun tidak mengikat. Karena mereka menyadari umur mereka masih begitu muda dan banyak kemungkinan yang akan terjadi.


Hingga siang itu, ketika Lelaki merasa bahwa waktu untuk melangkah ke masa depan harus segera ditentukan 

Pecel lele sudah habis disantap. Tapi Lelaki dan Perempuan belum juga beranjak dari warung kaki lima di pinggir jalan itu.
L : "Lu pernah ngga ngebayangin kalau kita nikah?"
P : "Hah?"
L : "Kalau Guwe ngelamar Lu, gimana?"
P : "Hah?"
L : "Lu terima ngga?"
P : "Lu lagi ngelamar Guwe ini?"
L : "Kalau Lu mau."
P : "Kapan kita nikahnya?"
L : "Nanti Guwe ngomong ke Ibu Guwe dulu. Minta ngelamarin Elu. Lu maunya kapan?"
P : "Bulan depan?"
L : "Oke. Akhir Juli ya? Deal
P : "Lu serius?"
L : " Iya lah. Lu udah tau jeleknya Guwe. Guwe juga udah paham kejelekan Lu. Selama ini kita oke-oke aja kan?"

Siang itu, Lelaki merasa bahagia atas keputusannya hari itu. Walau sinar matahari menyilaukan matanya saat menyetir. Walau lalu lintas macet, ia sama sekali tidak merasa terganggu.   

P : "Kenapa sih Lu senyum-senyum terus dari tadi?" 
L : "Ya Guwe seneng lah bulan depan mau kawin. Lu ngga seneng?"
P : "Belum mikirin."
L : "Payah Lu. Jangan lupa ngomong ke si Anu, kalau Lu mau nikah ama Guwe ya. Dan mulai sekarang Lu Guwe larang jalan bareng ama si Anu. Titik. Lu kan calon istri Guwe!"


*16 years and still counting
Saturday, June 24, 2017 1 komentar

Salah Satu Penemuan Hebat di Dunia: Panci Presto

Tradisi dalam keluargaku, rendang dan buras adalah dua jenis makanan yang wajib ada saat Lebaran. Disamping NASTAR, tentu. Perkawinan makanan Minang dan Makassar  yang entah bagaimana ceritanya selalu bertemu di meja makan kami di saat Hari Raya. Makanan-makanan bersantan yang pasti akan membuat kadar kolesterol darahku naik.

Saya ingat ketika saya masih gadis muda, kedua jenis makanan ini akan membuat Ibu bergadang saat memasaknya. Dan saya biasanya menemani beliau sebagai wujud toleransi sebagai anak (pletak!). Pada hari terakhir puasa, Ibu berangkat ke pasar saat tengah hari. Lalu mulai memasak setelah waktu Ashar. Untuk merebus buras (dan sedikit ketupat) ibu biasanya memasaknya selama minimal 6 jam! Api yang digunakan berasal dari kompor berbahan minyak tanah, dalam kaleng blek bekas minyak sayur.

Sekarang tradisi ini menurun pada keluarga saya. 

Walau tidak dikatakan terus terang, tapi dari permintaannya berulang-ulang, suami pun seperti mewajibkan saya menyediakan rendang dan buras setahun dua kali. Tiap Hari Raya.  Hanya saja jika saya harus memasak buras selama 6 jam, waduh, kapan saya sempat ngeblog dan ber-sosmed-an
"Nyerah Adek, Bang." 

Untunglah setiap masalah selalu dilengkapi jalan keluar. Maka untuk memangkas waktu memasak, saya menggunakan panci bertekanan alias Presto Cooker.  Dengan panci presto, saya hanya butuh waktu 3 jam untuk memasak. 2 jam untuk segala preparation dan 1 jam untuk merebus buras. Begitupun dengan rendang. Jadi sementara 2 panci presto itu bekerja beriringan, saat yang sama saya bisa mengerjakan hal lain. Diantaranya  mengetik artikel ini. Tak terasa, satu jam kemudian, ting!  Kelar deh kedua masakan tersebut.


Oya, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada James Watt  atas penemuan revolusionernya tentang mesin uap. Yang merupakan prinsip dasar dari cara kerja panci presto ini. Ya tentu juga diikuti oleh para inventor penyusulnya hingga packing presto cooker terbentuk. Dan sudah pastinya segala puji kepada Allah Subhanawata’ala yang memberi ilham kepada para ilmuwan tersebut sehingga panci  presto hadir ada di dunia ini dan bisa dimanfaatkan oleh emak-emak sejagat, termasuk saya.

Terima kasih.
0 komentar

Kenangan Surat Penawaran Ke Kastemer

Lagi bongkar-bongkar file sebuah perusahaan Oil & Gas, menemukan selembar konsep surat penawaran harga yang pertama kali kami kirimkan kepada perusahaan tersebut di Tahun 2003.

Kalau dilihat dari alamat ‘kantor’ kami saat itu adalah masih di rumah kontrakan. Rumah kecil ber- tipe 45. Ruang kerja ‘kantor’ kami adalah sebuah sudut dekat dapur dan kamar mandi. Di atas sebuah meja belajar knock-down merek Olimpic. Kami bekerja dengan menggunakan sebuah komputer pentium 2, 2 buah telepon Flexi dan jaringan internet. Printer dan mesin fax "menyewa" dari sebuah gerai warnet MultiPlus di Supermal Karawaci .Jadi jika akan memprint dokumen atau mengirim fax kami harus bolak-balik jalan kaki ke warnet tersebut. Jaraknya sekitar 1,5 KM dari rumah.

Dari penawaran harga untuk segambreng bahan kimia, akhirnya kami lolos di satu item saja. Untuk memenuhi kebutuhan modal atas pemesanan barang dari perusahaan tersebut, kami harus menjual seperangkat perhiasan yang saya dapat sebagai mas kawin. 
Keuntungan penjualan, sebagian kami pergunakan sebagai DP untuk membeli sebuah mobil pick up merek Daihatsu Grand Max. Mobil usaha pertama ber STNK atas nama saya. Mobil inilah yang menjadi sarana transportasi kami kemana-mana. Selain untuk mengantar barang ke kastemer, juga untuk mengantar si Kembar sekolah di Playgroup. Bahkan untuk berwisata ke Puncak. Kami berempat duduk berdesak-desakkan. Walau begitu, rasanya dunia terlihat indah.
Persis seperti ini mobil Grand max pertaa kami
foto dari mobil1123.com

Friday, June 23, 2017 1 komentar

SAYA BENCI KORUPTOR

Membaca berita kasus tertangkapnya Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istri dalam Operasi Tangkap Tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, benar-benar membuat saya kembali merasa mangkel. Gimana ngga mangkel, itu yang dikorupsi kan walau uang berasal dari Perusahaan Swasta, tapi nanti ujung-ujungnya rakyat juga yang akan membayar. 

Sebagai Pengusaha, saya juga tahu bahwa setiap sen uang yang keluar untuk sebuah proyek akan dihitung . Dan diusahakan mendapat laba dari setiap uang yang keluar itu. Nah, yang membiayai proyek kan uang APBD. 

Nah, Pemimpin Propinsi memakan uang rakyat, koq tega! Padahal menurut data BPS pada September tahun 2016, jumlah penduduk miskin di Bengkulu adalah 325,6 ribu dari total jumlah penduduk 1,9 juta jiwa.  Atau sekitar 17% penduduk. 17% yang dihitung itu adalah orang yang mempunyai pendapatan DIBAWAH Rp. 437.000/bulan yang merupakan ambang garis kemiskinan di Bengkulu.
Miris banget. Juga gemes banget. Marah. Jadi benci walau ngga pernah kenal. pada Pak Ridwan ini.



Banyaknya para pejabat dan wakil rakyat yang tertangkap, tersangka dan terpidana sebagai koruptor, membuat saya bertanya-tanya, ada ngga sih Pemimpin, Pejabat, Wakil Rakyat apapun namanya, yang harta kekayaannya makin berkurang dibanding saat sebelum menjabat karena ia rela mengorbankan diri dan harta bendanya buat rakyatnya?
Ada ngga ya Pejabat, Pemimpin, Wakil Rakyat yang bersedia tidak akan makan kenyang selama rakyatnya masih ada yang dhuafa?
Adakah Pejabat, Pemimpin, Wakil Rakyat yang memilih duduk bersama keluarganya dalam gelap, disebabkana minyak lampu tersebut dibayar oleh negara. Dan ia khawatir rakyatnya tidak ridho uang mereka dipakai oleh kebutuhan pribadinya, seperti yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz?
Adakah Pejabat, Pemimpin, Wakil Rakyat yang takut pada akhir hayatnya disaksikan sebagai koruptor oleh rakyatnya? Padahal kesaksian orang bahwa seseorang itu dzolim bisa menjebloskannya ke neraka.
Ada ngga sih yang meneladani Seperti halnya Rasulullah yang semula pemuda kaya raya lalu setelah diangkat menjadi Rasul malah hanya tidur diatas tikar pelepah kurma?
Kalau mau memupuk kekayaan karena pekerjaan, ya jangan jadi Pejabat Publik atau Wakil Rakyat dong. Jadi Pebisnis saja lah, Pak, Bu.


0 komentar

Jadilah Orang Kaya

Dari pengajian malam ini:

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” Hadist riwayat al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).
Jika Allah menjadikanmu orang yang berkecukupan dalam harta, maka jadilah orang kaya yang bertakwa, orang kaya yang dermawan, orang kaya yang rendah hati, orang kaya yang sederhana, orang kaya yang rela hartanya menjadi alat perjuangan kemashlahatan umat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَال
Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah hartaHR. Tirmidzi no. 2336, shahih
Jadilah orang kaya yang mengasihi orang miskin. Karena tak jarang kemiskinan bisa mengakibatkan keputusasaan. Tidak sedikit orang miskin yg rela menukar imannya dengan .
.sekarung beras


Thursday, June 22, 2017 0 komentar

Cek Mundur dan Anak Kerbau

Perusahaan kami sering sekali mendapat pembayaran dari Customer dalam bentuk cek atau giro mundur. Jadi sesuai dengan perjanjian, kolektor kami datang sesudah 30 hari dari tanggal pengiriman barang. Tetapi saat penagihan kami diberikan cek atau giro yang tanggal mundurnya hampir 30 hari dari tanggal kolektor menagih. Jadi total bisa 60 hari.
Tapi, kemunduran ini masih termasuk mending sih.
Karena ada sebuah perusahaan yang saat penagihan memberikan giro dengan tanggal mundur setahun ke belakang.
Itu pun masih mending.
Karena ada juga sebuah perusahaan milik konglemat besar, tanggal invoice kami hingga ulang tahun ketiga, belum dibayar juga. Makanya sejak itu kami ogah berurusan dengan kelompok usaha tersebut.
Itu juga masih mending.
Malah ada perusahaan yang mengemplang. Sebagai jawaban tagihan kami, mereka mengirimi surat keterangan sedang mengajukan pailit. Yah mesti berproses untuk dibayar, kalau dapat.
*Tepok jidat*😛
Peternak sedang Menghibur Emak Kerbau
yang baru kematian anaknya.

Berikut ini ada juga cerita lain tentang penggunaan cek mundur.
Pada suatu hari di suatu masa, ada seorang pengendara mobil, mengemudi melewati sebuah peternakan, tanpa sengaja ia menabrak seekor anak kerbau yang sedang menyeberang jalan. Anak kerbau tersebut langsung tewas di tempat. Karena merasa bertanggung jawab, Pengendara itu menemui pemilik anak kerbau dan menjelaskan apa yang terjadi. Dia kemudian bertanya harga hewan itu.
"Oh, karena ia masih anak kerbau, maka harganya sekitar empat juta hari ini." kata Peternak itu.
“Wah, masa sih harganya segitu, Pak?  Harga 4 juta sangat mahal.” Kata si Pengendara.
"Ya,Pak. Saya juga tidak ingin anda membayar sebanyak empat juta.” Kata si Peternak.
“Jadi berapa?”
“Begini Pak, seandainya anda tidak menabrak anak kerbau itu sampai mati, dalam enam tahun yang akan datang kerbau itu akan bernilai delapan juta. Jadi yang saya inginkan adalah uang sebesar 8 juta rupiah."
Tanpa banyak membantah Pengendara itu segera menulis cek dan memberikannya kepada peternak tersebut.
"Ini," katanya, "Cek senilai 8 juta rupiah, yang saya beri tanggal mundur dan bisa dicairkan 6 tahun dari sekarang. Sekarang kita impas" Si Pengemudipun berlalu meninggalkan si Peternak yang hanya bisa bengong memandangi cek di tangannya.
4 komentar

Dalil Pembenaran Bagi Penggemar Bakwan

Setiap makan sahur saya  selalu menyantap quaker oatmeal  dicampur  jus buah atau susu UHT. Beneran, ini bukan iklan. Dan setiap saya buka puasa selalu dengan bakwan disiram sambal kacang buatan sendiri. Plus minumnya air kelapa hijau.
Ngga pernah bosan.
Malah kalau bakwan cuma 4 biji sih, masih kurang.
Maklum saya memang blasteran Barat dan Timur.  Antara Jakarta Barat dan Bekasi Timur.
Kalau anda adalah penggemar bakwan seperti saya, maka anda harusnya bangga. Bakwan itu bukanlah panganan kelas rendahan walau sering dijual di gerobak pinggir jalan. Mau tahu kenapa bakwan itu sesungguhnya adalah panganan terhormat?
Sumber Foto dari Resepmembuat.com

Kesatu.
Kandungan gizi bakwan itu lengkap loh. Ada karbohidrat dari tepung. Ada vitamin dan serat dari irisan wortel dan kol. Ada protein hewani dari telur (saya selalu menambahkan telur ke dalam adonan bakwan) dan dari udang (kalau pakai udang) serta protein nabati dari bumbu kacang. Dan pasti lemak juga ada.(Banyak banget sih kadar lemaknya, tapi kan bisa ngegorengnya pakai minyak bunga matahari, seperti saya. Saya agak menghindari minyak goreng dari sawit).
Kedua.
Jika memungkinkan, buatlah bakwan sendiri untuk kemudian dinikmati bersama keluarga. Banyak manfaat tambahannya, loh. Selain bisa bikin bakwan versi suka-suka,lebih higienis, harga lebih murah daripada beli, juga menguatkan cinta kasih antara keluarga. Karena anak-anak dan suami pasti happy memakan makanan hasil kreasi bunda. Dengan catatan kalau rasa bakwannya enak. Kalau rasanya ngga karu-karuan yah mending beli aja, deh.
Ketiga.
Bakwan itu adalah salah satu pilar penting dalam ketahanan ekonomi negara.
Ngga percaya?
Pedagang bakwan (dan gorengan lain) adalah salah satu pemutar roda uang yang tahan terhadap segala macam krisis. Mau harga nilai tukar 1 dolar 15.000 rupiah, mereka tetap jualan. Mau harga cengek 100.000/kg, mereka tetap jualan. Selain itu, coba dihitung berapa puluh ribu pedagang bakwan seluruh Indonesia? Kalau saya sih ngga tahu jawabannya. BPS aja ngga pernah koq sensus berapa jumlah pedagang bakwan.
Walau pedagang bakwan sudah berjasa memutar uang cukup banyak di seluruh Indonesia, mereka ngga pernah merugikan negara akibat mengemplang kredit bank hingga bank bankrut lalu dananya ditalangi oleh BPS. Pedagang bakwan ngga bakalan bikin bail-out.
Keempat,
Selama Ramadan, bakwan adalah makanan yg paling berkah karena paling dicari oleh orang yang hendak berbuka puasa (setidaknya saya  yang paling mencari bakwan saat mau buka puasa). Kedudukan bakwan 11-12 dengan kolak. Ramadan tahun ini, saya belum sama sekali makan kolak, demi integritas saya terhadap bakwan.
Nah, baru empat dalil yang saya tulis, tapi sudah sepanjang ini.

0 komentar

Manusia Oportunis


Jaman bangkrut dulu (amit-amit jangan terjadi lagi) kami menjual apa saja benda yang bisa dijual untuk segera menutup hutang. Juga untuk membiayai hidup agar tidak menambah hutang lagi, saat orderan baru belum bisa kami kerjakan karena kami kehabisan modal kerja. Yang kami jual bukan cuma rumah dan kendaraan, bahkan termasuk juga handphone.
Saat saya menjual handphone ke konter hape, saya selalu kehilangan posisi tawar. Berapapun harga yang diberikan, saya terima.
"Kalau Ibu mau jual, saya terima harga segitu. Kalau ngga mau, ya saya ngga bisa beli." Adalah kalimat skakmat dari pedagang henpon.
Karena saya butuh harus dapat uang jam itu juga, maka saya ngga punya pilihan lain harus terima. Wong kadang ongkos aja cuma punya untuk satu kali jalan. Kalau hape sampai tak terjual, balik ke rumah ya bakalan jalan kaki.

Ketika ayah saya meninggal, beliau mewarisi 2 rumah dan beberapa bidang tanah yang akhirnya habis juga untuk menghidupi kami. Yang baru saya sadari belakangan ini, orang-orang yang membeli warisan tersebut, yang masih terhitung sepupu dan kerabat Bapak, semuanya menawar dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Ibu yang sedang terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup, ya akhirnya menjualnya juga.

Nampaknya menjadi hal biasa saat ini, manusia oportunis mencari keuntungan besar dari ketidakberdayaan orang lain.

Makanya ketika saya membaca kisah seorang sahabat Rasulullah saat didatangi seseorang yang sedang kesusahan lalu menawarinya untuk membeli seekor untanya, beliau malah mau membayar dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran, membuat saya tertampar. Inilah salah satu sikap muslim yang menjadi rahmatan lil'alamin.

Saya sendiri sering sekali masih berpikir bolak-balik ketika ada orang yang menjual barangnya kepada saya, padahal orang itu butuh bantuan.
"Saya kayaknya ngga perlu barang ini, deh."
Ini alasan yang paling sering.

Atau,

"Dia beli tahun lalu 1000 rupiah, masa sekarang dijual 850 rupiah. Kayaknya kemahalan deh."
Tapi ya saya ngga berani menawar. Ujung-ujungnya membiarkan orang itu tetap dalam kesusahannya.

Nah gitu deh, ternyata saya 11-11 sama orang-orang yang saya keluhkan di atas. Ternyata saya juga berharap mendapat harga lebih murah dari orang yang 'jual BU'. Alias ingin dapat untung dari ketidakberdayaan orang lain. Ah, ternyata bahkan saya juga adalah seorang "oportunis" dan belum bisa menjadi khalifah yang rahmatan lil’alamin.


Astaghfirullah...
Wednesday, June 21, 2017 0 komentar

Permen Karet di Pesawat


Jika tahu akan bepergian menggunakan alat transportasi pesawat, biasanya anak-anak saya agak ogah-ogahan untuk ngikut. Mereka selalu khawatir akan merasa sakit di telinga ketika pesawat mencapai ketinggian tertentu. Untuk mengantisipasinya saya selalu menyediakan permen untuk mereka hisap ketika telinga mereka terasa sakit.

Berbeda dengan Kang Kabayan. Biasanya perjalanan Bandung - Jakarta ditempuhnya dengan menggunakan mobil melalui jalur tol Cileunyi. Tapi karena Kang Kabayan mendengar sedang ada perbaikan jalan tol yang menyebabkan kemacetan parah, maka ia memutuskan untuk naik pesawat saja.

Awalnya Kang Kabayan menikmati perjalanan dengan pesawat tersebut. Apalagi dari ketinggian, dia bisa menikmati indahnya Bumi Parahiyangan. Namun tiba-tiba Kang Kabayan merasakan telinganya tersumbat dan merasa sangat kesakitan. Ia pun memanggil Pramugari.
"Teh, Teteh, gimana atuh, telinga saya sakit banget ini?"
"Bapak sedang pilek?"
"Hah?" Kang Kabayan kurang bisa mendengar perkataan Teteh Pramugari.
Pramugaripun memaklumi. Lalu diulurkan dua buah permen karet kepada Kang Kabayan.
"Ini untuk Bapak. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Kang Kabayan pun menerima permen karet itu.

Ketika pesawat sudah tiba di Bandara Halim, kembali Kang Kabayan tampak kalang kabut. Hingga penumpang terakhir ia belum turun juga dari pesawat. Pramugari pun kembali mendekati Kang Kabayan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Aduh, Teteh. Punten. Kumaha atuh caranya ngeluarkeun permen karet dari telinga saya? Mani lengket pisan ieyeu."
 
;