Monday, June 19, 2017

Kangen sebagai Manisfestasi dari Swing Mood saat Menstruasi?

Yang enak buat saya saat sedang menstruasi adalah biarpun seharian tiduran, ngga akan diusilin oleh Suami. Karena papanya anak-anak tuh senang jika saya menemaninya pergi kemana-mana. Kalau melihat saya sedang tiduran sambil sosmed-an, biasanya dia akan usil
"Ma, lagi ngga ada pekerjaan ya? Yuk ikut saya."
Maka seharian itu kami bepergian. Atau kadang-kadang cuma duduk-duduk di warung kopi, ngobrol ngalor-ngidul.  Tetapi jika ia tahu hari itu saya sedang haid, maka dia akan mendiamkan saja jika seharian saya ngumpet di kamar. Malah bolak-balik ditanyain mau makan apa. Mau diambilin minum ngga. Karena saat saya haid biasanya Hb saya melorot. Jadi daripada nggeblak saat jalan-jalan, ya lebih baik diam di tempat tidur. Sekalian anggap aja lagi 'me time'. Bonus keliyengan.

Tetapi yang ngga enak bagi saya saat haid adalah swing mood. Mellow dan galau ngga jelas juntrungan-nya. Selain itu,  yang bikin sedih adalah sering merasa kangen ama orang-orang yang ngga bisa ditemui lagi.

Misalnya, saya sering kangen Bapak. Bapak meninggal saat saya masih kelas 3 SMP. Rasanya mendadak. Karena Kamis subuh beliau kena serangan stroke. Dioperasi dan dirawat di RS selama sehari. Hari Jum'at pagi beliau sudah dinyatakan meninggal. 
Walau ngga banyak memori yg aku ingat, tapi satu-dua kejadian scene-nya selalu kuulang-ulang dalam kenangan.
Bapak itu seorang yang mobile. Pekerjaannya mengharuskan beliau ke luar kota berhari-hari. Suatu siang saat pulang sekolah, saat aku masih jajan di pedagang asongan depan sekolah, tiba-tiba namaku ada yang memanggil. Ternyata Bapak datang menjemput dengan Vespanya. 
Waktu itu aku sekitar kelas 3 atau kelas 4 SD. Dapat surprise begitu, tak terlupakan sampai sekarang.

Atau tak jarang saya merasa kangen pada  Nenek.
Nenek adalah  seorang perempuan keturunan Madura yang tangguh. Aku pernah 2 tahun tinggal bersama Beliau. Nenek beda banget dengan Ibu yang lembut. Istilah senggol bacok, kayaknya berlaku buat Beliau.
Suatu hari ada anak lelaki yang membullyku, lalu aku mengadu ke Nenek. Wah, begitu aku kelar ngomong, Nenek langsung mencingcing kainnya, melaju ke rumah si anak bandel itu. Si Bocah beserta Emak dan Bapaknya habis di'cuci bersih' oleh Nenek. Hingga makjleb mereka ngga bisa berkata-kata lagi.
Disamping sangat protektif terhadap cucunya, Nenek juga pendukung militan untuk urusan sekolah. Beliau rela menyisihkan uang pensiunnya buatku supaya bisa membayar ongkos bus ke sekolah tiap hari.

Sesekali aku merasa kangen Kakek. Kakek meninggal saat aku menjelang tamat SMA.
Kakek seorang pelaut asal Buton yang pendiam. Jaman muda beliau adalah jagoan berjudi dengan menyabung ayam. Beliau juga pernah punya "ilmu pegangan". Yah, tipikal pelaut jaman baheula. Namun Alhamdulillah, Beliau menjadi 'alim di usia tuanya. Beliau lumayan dikenal di lingkungan sebuah pesantren di Jawa Timur sebagai seorang dengan pemahaman agama yang cukup baik. Ketika aku kecil dulu, saat sore hari setelah ashar, ritual bersama beliau adalah membersihkan gelas semprong lampu-lampu minyak. Sambil tangannya bekerja ngelap-ngelap lampu, Beliau akan bercerita tentang berbagai hikayat. Hikayat nabi-nabi, cerita kenangannya di kampung dulu, atau cerita masa kecil ibuku. 
Ketika aku patah hati untuk pertama kalinya, beliau menangisi aku di depan Ibu. 
Katanya, "Rasanya saya ikut sakit hati".

Oya, kadang-kadang aku juga kangen pada beberapa teman masa "muda". Teman-teman yang dengannya aku mewarnai perjalanan masa-masa belajar pada kehidupan.

Dengan beberapa teman SMA

0 komentar:

Post a Comment

 
;