Thursday, June 22, 2017

Manusia Oportunis


Jaman bangkrut dulu (amit-amit jangan terjadi lagi) kami menjual apa saja benda yang bisa dijual untuk segera menutup hutang. Juga untuk membiayai hidup agar tidak menambah hutang lagi, saat orderan baru belum bisa kami kerjakan karena kami kehabisan modal kerja. Yang kami jual bukan cuma rumah dan kendaraan, bahkan termasuk juga handphone.
Saat saya menjual handphone ke konter hape, saya selalu kehilangan posisi tawar. Berapapun harga yang diberikan, saya terima.
"Kalau Ibu mau jual, saya terima harga segitu. Kalau ngga mau, ya saya ngga bisa beli." Adalah kalimat skakmat dari pedagang henpon.
Karena saya butuh harus dapat uang jam itu juga, maka saya ngga punya pilihan lain harus terima. Wong kadang ongkos aja cuma punya untuk satu kali jalan. Kalau hape sampai tak terjual, balik ke rumah ya bakalan jalan kaki.

Ketika ayah saya meninggal, beliau mewarisi 2 rumah dan beberapa bidang tanah yang akhirnya habis juga untuk menghidupi kami. Yang baru saya sadari belakangan ini, orang-orang yang membeli warisan tersebut, yang masih terhitung sepupu dan kerabat Bapak, semuanya menawar dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Ibu yang sedang terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup, ya akhirnya menjualnya juga.

Nampaknya menjadi hal biasa saat ini, manusia oportunis mencari keuntungan besar dari ketidakberdayaan orang lain.

Makanya ketika saya membaca kisah seorang sahabat Rasulullah saat didatangi seseorang yang sedang kesusahan lalu menawarinya untuk membeli seekor untanya, beliau malah mau membayar dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran, membuat saya tertampar. Inilah salah satu sikap muslim yang menjadi rahmatan lil'alamin.

Saya sendiri sering sekali masih berpikir bolak-balik ketika ada orang yang menjual barangnya kepada saya, padahal orang itu butuh bantuan.
"Saya kayaknya ngga perlu barang ini, deh."
Ini alasan yang paling sering.

Atau,

"Dia beli tahun lalu 1000 rupiah, masa sekarang dijual 850 rupiah. Kayaknya kemahalan deh."
Tapi ya saya ngga berani menawar. Ujung-ujungnya membiarkan orang itu tetap dalam kesusahannya.

Nah gitu deh, ternyata saya 11-11 sama orang-orang yang saya keluhkan di atas. Ternyata saya juga berharap mendapat harga lebih murah dari orang yang 'jual BU'. Alias ingin dapat untung dari ketidakberdayaan orang lain. Ah, ternyata bahkan saya juga adalah seorang "oportunis" dan belum bisa menjadi khalifah yang rahmatan lil’alamin.


Astaghfirullah...

0 komentar:

Post a Comment

 
;