Memaafkan

by - Tuesday, June 27, 2017

Di hari ke 3 Hari Raya tahun 2017 ini saya membaca postingan status Facebook dua orang Coach yaitu Coach Julie Nava dan Coach Dwiarko. Tulisan yang membuat saya menyimak ke dalam hati saya sendiri.
Tulisan kedua orang tersebut adalah tentang MEMAAFKAN.

Sebagian status Coach Julie Nava: sebagai berikut,
Saya akhirnya bisa melihat dengan jelas. Bahwa memaafkan itu tidak semudah kita mengirim kartu ucapan Lebaran atau blasting pesan massal tentang Idul Fitri melalui medsos. Sebagian bisa dengan enteng melakukan itu, namun sebagian lagi perlu mengerti WHY-nya, sebelum bisa memutuskan.
Memaafkan juga tergantung dengan apa yang kita anggap penting. Ia semacam alat tukar. Jika kita menganggap nilainya tak seberapa, maka maaf dengan mudah bisa diberikan. Sebaliknya, jika itu dianggap sangat serius, kita akan sulit melakukannya.
Contoh: ada orang bikin proyek saya melayang. Namun karena yakin bahwa rejeki selalu bisa dicari, maka dengan enteng saya bilang, "Ah biarin aja, toh cuma soal uang."
Tetapi lain halnya jika ada orang mencemarkan nama baik saya. Itu serius banget. Saya bisa mengutuk hingga tujuh turunan (ceileee...), dan itu lebih lama membekas di benak. Sampai beberapa lama, saya akan terus bicara soal itu.
Nah, sekarang tahu kan, kenapa jika ada orang masih mengungkit-ungkit sesuatu meskipun berulangkali bilang sudah memaafkan, itu sebenarnya belum beneran memaafkan?

Sedangkan tulisan Coach Dwiarko sebagai berikut:
Sebenarnya meminta maaf bukan untuk orang lain atau karena kita mempunyai salah sama orang tersebut. Tetapi saling meminta maaf sebenarnya untuk diri kita sendiri. Meminta maaf bukan untuk kepentingan orang lain, tetapi untuk kepentingan diri kita, hati dan pikiran kita. 
Dengan meminta maaf kita menanamkan energi positif dalam diri. Kita mengumpulkan kata-kata positif dan "miracle word" yang berguna buat bank data alam pikiran kita.

Sebagai manusia yang pernah menjalani naik turun kehidupan, setelah direnungkan ternyata selama bertahun-tahun saya membawa luka-luka batin. Bertahun-tahun saya masih merasa sakit hati kepada orang-orang yang menorehkan luka tersebut.

Karena tulisan dua Coach  ini saya bertekad , luka-luka itu harus saya sembuhkan sendiri.
Saya belum tahu bagaimana caranya. Pertama yang terpikir adalah saya akan meminta maaf. Dengan begitu mungkin saya bisa memaafkan.

You May Also Like

0 komentar