Tanggapan Suami atas Tagging di Facebook

by - Wednesday, June 28, 2017


Kadang-kadang kalau aku sedang membuka laman Facebook, suami yang sedang duduk di sebelah, ikutan mengintip linimasaku. Kadang ia hanya membaca, namun sesekali suami mengomentari status teman Facebook saya.
"Kamu jangan begitu, ya." Katanya sambil menunjuk sebuah postingan teman perempuanku yang membagikan sebuah artikel berisi hal sensitip bagi lelaki. Lalu pada bagian akhir kalimat postingannya  ditulis “dan diberi colek Ayah XXX. Sambil menandai (tagging) nama suaminya.
"Loh, mungkin ia ingin supaya suaminya tercerahkan dengan artikel tersebut". Kata saya.
"Apa ngga bisa tho, link artikelnya dikirim lewat inbox aja? Atau pillow talk sambil nunjukkin artikel tersebut ke suaminya.” Kata suami.
“Ya, barangkali temanku ini mendapat artikel tersebut dari teman Facebooknya yang lain, lalu langsung di-share artikel tersebut. Lebih praktis.”
“Bisa sih begitu. Tapi misalnya seorang istri membagikan artikel tentang penyakit prostat sambil ngetag nama suaminya. Nah, orang lain yang ikut membaca kan langsung berpikir:  jangan-jangan suami si ibu kena gejala infeksi prostat.  Atau artikel tentang  tanggapan negatip terhadap poligami yang di-share. orang lain akan membaca pesan tersirat : wih, si ibu sedang mengancam suaminya.” Kata Suami “Lain halnya kalau nge-tag artikel atau berita yang ngga sensitip bagi lelaki. Seperti destinasi wisata, atau video humor. Kalau saya oke-oke aja kamu nge-tag saya di artikel seperti itu.
"Hhmm.."
"Oya, satu lagi" Lanjut suamiku. " Kamu jangan nge-tag saya foto-foto dari Zalora, Lazada atau apapun online shop ya. Kalau itu, saya yang langsung berpikir keras tentang keselamatan kartu debitku"
Oh, itu. Tenang aja. Saya ngga bakalan nge-tag. Soalnya saya biasanya langsung kirim pesan ke inbox penjualnya, koq.

Curhat-an saya lainnya: 

You May Also Like

0 komentar