Wednesday, July 26, 2017 0 komentar

Ketika Anak Masuk Pesantren

Banyak ibu-ibu teman saya yang bolak-balik mengeluhkan tentang sedihnya merasa kangen pada anak-anaknya yang terpisah berbulan-bulan karena anak-anak tersebut sedang melalui pendidikan di pesantren. Tulisan ini semoga bisa jadi salah satu penghiburan buat para Emak yang merasa mellow .
Tinggal di pesantren itu banyak manfaatnya loh bagi anak-anak. Selain belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan, Anak-anak 'dipaksa' belajar on-time, on-schedule, bertenggang rasa, mudah memaafkan, 'nerimo', menyesuaikan diri dgn lingkungan. 
Ilmu non teknis begini akan selalu bisa bermanfaat dimanapun nanti mereka berada nanti saat mereka dewasa.
Alhamdulillah, memasukkan si Kembar disaat mereka usia SMP rasanya tepat.
Saat mereka masih menurut. Saat mereka masih percaya 100% bahwa keputusan orang tua adalah yg terbaik.
Masa-masa awal mereka di pesantren memang adalah saat-saat rawan anak merasa tidak betah. Biasanya mereka butuh 3-6 bulan untuk menyesuaikan diri berbulan-bulan jauh dari rumah. Jika memungkinkan rajin-rajinlah menjenguk anak yang sedang di pesantren. Agar mereka bisa curhat pada orang tua hal-hal yang menyusahkan selama di pesantren. Mereka cuma butuh bercerita dan ada yang mendengarkan, koq. 
Jika anak memaksa untuk keluar pesantren, selidiki apa sesungguhnya alasan ketidakbetahan mereka. Apakah alasan tersebut kritikal, atau masih bisa ditolerir.
Ada orangtua yang buru-buru memindahkan anak hanya karena anaknya tidak tahan makan tahu-tempe terus menerus. 



foto saat si Kembar belajar

Sekarang ketika si Kembar sudah SMA, dengan ego dan nalar ala abege, biasanya seumuran mereka mulai ributkan otoritas orang tua. Kenapa begini, kenapa tidak begitu. Aku mau begini, aku ngga mau begitu. Tapi Alhamdulillah, pengalaman dan pelajaran saat mereka di pesantren banyak banget membantu. Mereka sudah memahami sendiri bagaimana bersikap seharusnya kepada orang tua. Apa saja batasan perbuatan yang dilarang oleh agama. Dan hal apa yang menjadi perintah Allah. Kami jarang bersitegang ala ortu vs abege

Namun begitu, mereka sudah tentu tetap punya pemikiran sendiri yang kadangkala sulit dipenuhi. Dan disinilah dituntut kemampuan orang tua untuk bernegosiasi dan memberi pemahaman. Bahwa tidak semua keinginan dan kemauan anak bisa dilepas semau-mau mereka. Orang tua tetap harus memegang kontrol atas anak.

Sudah buaaanyaaaak sekali contoh ketidak berdayakan orang tua terhadap rengekan anak malah merusak jalan hidup anak. Sudah banyak sekali contoh anak yang lepas dari otoritas orang tua malah kebablasan ngga tentu arah.

Anak gadis Instaseleb yang sedang heboh itu, salah satu contoh anak yg lepas otoritas orang tuanya.
Ibu sering menasehati saya:"Rin, pengendalian orang tua terhadap anaknya adalah ibarat kita bermain layang-layang. Kita harus bisa mengarahkan layang-layang ke arah lawan angin bertiup agar layang-layang itu bisa terbang tinggi. Kita tarik talinya saat ia mulai salah arah angin agar tidak limbung, kita harus bisa menahan beban tali saat angin kencang bertiup. Rin, jangan pernah membiarkan layang-layangmu putus talinya, karena ia akan terbang tak tentu arah dan kamu sulit untuk menemukannya kembali".

Saat kami menjenguk si Kembar di pesantrennya



0 komentar

Kepingin Kaya

Sebagai anak yatim dengan sederet adik-adik dalam kondisi kekurangan secara ekonomi tak jarang kami menjadikan mie instan sebagai lauk makan bersama nasi.
Aduh, jangan bahas makan karbohidrat koq lauknya karbohidrat juga. Bisa makan sehari 2x itu sudah kemewahan. Bisa makan dengan lauk mie instan dibagi berdua adalah kenikmatan. Tak jarang sebagai kakak saya mengalah pada adik-adik, saya hanya menikmati kuah mie instan, demi ada sedikit rasa pada nasi putih.  Dan sebagai pelajar yang pernah berkali-kali terlintang pukang digebah dari sekolah karena telat bayar SPP, memiliki 'kebebasan finansial' adalah impian saya.
Kami pernah sedemikian ngga punya duitnya, hingga seluruh benda yg terlihat nyaris ngga bernilai ekonomis. Karena bahkan sampai ke piring makanpun sudah digadai atau dijual. Perut lapar hanya bisa ditahan hingga besok sambil berharap ada rezeki datang. Ketika mendengar suara tingting mangkok diketuk oleh tukang bakso, laksana suara ejekan atas perihnya perut kami.
Sehingga ngga heran ketika kami sudah bisa berikhtiar, saya dan adik-adik bekerja keras supaya terlepas dari kemiskinan.  Di awal dewasa muda, saya rela dilempar ke lokasi-lokasi area “babat alas” oleh perusahaan tempat saya bekerja. Jauh dari keluarga, pun dilakoni.

Alhamdulillah, segala kondisi tersebut telah terlewati. Dan Allah mentakdirkan kami hidup 'berkecukupan' sekarang.

Kondisi sulit dulu membuat saya bisa menarik kesimpulan, punya duit itu jauh lebih enak dibanding ngga punya duit.
Sungguh!
Saya selalu berdoa agar dijauhkan dari ‘musibah’ itu lagi. Karena setelah pernah menikmati enaknya berkecukupan,  belum tentu kami bisa sekuat dahulu jika diuji kemiskinan lagi.

Pernah terlintang pukang karena serba kekurangan, membuat saya paham banget kenapa buaanyaak orang tua yang mendoakan agar anaknya kelak menjadi kaya.
"Dadiyo wong sugih yo Le" kata Emak sambil mengusap kepala Tole.
Jadilah kaya, Nak.
Harapan Emak yang diungkapkan berpuluh , beratus bahkan berjuta kali, lama-lama terendap dalam benak si Tole. Tolepun terdogma untuk menjadi kaya.

Emang masalah gitu kalau orang pengen kaya?

Nah, ini yang membuat saya tercenung sedetik. Para ahli psikologi mengatakan keinginan yang menjadi obsesi, itu yang bahaya.

Beberapa teman saya berakhir di penjara atau depresi karena terobsesi menjadi kaya.
Uang yang dimiliki sebetulnya belum mencukupi untuk bebas beli ini-itu barang bermerek mahal, tapi ia sudah tak sabar ingin terlihat kaya. 

Kaya itu ukurannya harta yang banyak. Untuk memenuhi harapan Emak menjadi orang kaya, maka Tole kemudian berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Dan untuk mengumpulkan harta yang banyak itu pilihannya bisa melalui cara legal  atau cara illegal.

Sayangnya, cara mengumpulkan kekayaan secara legal itu jalannya panjang dan ngga mudah. Banyak banget pengorbanan dan ujiannya. Banyak orang yang ngga tahan dan tepar di tengah jalan.

Tapi dogma adalah dogma. Tersimpan kuat di dalam benak. Karena jalan legal yang sudah dicobanya demikian berat, maka ngga sedikit orang yang ambil jalan gampang: korupsi, menipu atau ngepet.

Jadi, bercita-cita menjadi 'sugih' itu ngga boleh?

Ya boleh banget. Namanya juga cita-cita. Yang ngga masuk akalpun boleh koq dicita-citakan.
Tapi ingat, untuk mewujudkan cita-cita ada harga yang harus dibayar.

Yang karyawan harus bisa bekerja lebih keras dari teman-temannya agar insentif dan bonus yang diterima lebih besar. Yang pengusaha harus super rajin mencari dan memanfaatkan peluang agar pemasukan perusahaan meningkat terus. Yang jadi wakil rakyat harus, ah sudahlah.
Obsesi menjadi kaya juga sudah merasuki para anak muda sekarang. Dan mereka tahu, salah satu jalannya adalah melalui internet dan media social. Mereka melakukan berbagai cara untuk mengumpulkan duit dari Adsense, dsb, dengan cara yang aneh-aneh. Kreatifitas mereka seringkali kebablasan. Ngga sedikit yg membuat laman berisi berita hoax dan fitnah. Untuk sekedar mengundang jutaan kilik visitor, demi terdongkraknya nilai adsense. Termasuk dengan youtuber, vloger alay, yang 'menjual' tontonan gaya hidup sok cool kebablasan.

Emak-emak, yang saat ini merasa hidup susah karena kemiskinan, coba deh dipikir ulang apa sesungguhnya harapan yang ditanamkan pada anak-anak? Apa yang sesungguhnya dibutuhkan agar anak kelak bahagia, apakah uang yang banyak atau rasa kecukupan?
Uang yang banyak, relatip. Satu juta bagi A mungkin sudah banyak, sementara si B sanggup menghabiskan sejuta dalam satu jam. Angka kecukupan juga relatip. 

Tapi RASA berkecukupan itu absolut. Adanya di hati.

Emak, berdoa dan berharaplah agar kita dan anak-anak kita memiliki rasa berkecukupan, bahagia dan membahagiakan sesama.
Dorong anak-anak untuk terus berikhtiar dengan cara yang halal dan diridhoi Allah. Biarlah Allah yang akan memilihkan jalannya jika ditakdirkan menjadi kaya. Kalaupun anak tidak menjadi kaya, ajari ia untuk selalu bersyukur. Karena sesungguhnya tak jarang kekayaan malah mendatangkan fitnah yang luar biasa.
Saya tahu, jauh di lubuk hati terdalam yang diinginkan emak adalah agar anak-anaknya bahagia dunia akhirat. Itu saja.

Tuesday, July 25, 2017 3 komentar

Biaya Masuk Al Wildan Islamic School


Kami selaku orang tua menyadari tantangan yang akan dihadapi anak-anak kami di masa depan adalah kian berat, terutama tantangan mengenai akidah dan ahlak. Di era internet sekarang ini, yang bagaikan pisau tajam bermata dua, segala informasi bisa dengan sangat mudah diakses. Termasuk informasi negatip yang bisa merusak akidah sebagai muslimat.

Untuk itu kami menganggap bahwa anak-anak kami perlu dibekali pondasi agama yang kokoh agar rumah kehidupan mereka di masa depan dapat tahan terhadap badai dan gempa fitnah akhir jaman. Mereka harus diberi kesadaran sejak dini apa saja yang dilarang oleh agama yang menyebabkan dosa, serta apa saja hal yang harus mereka lakukan agar selamat dunia dan akhirat.

Sejak awal usia sekolahnya, anak-anak perlu Pendidikan pemahaman Al Qur’an sebagai landasan perintah dan larangan Allah. Serta  Al Hadist sebagai contoh perilaku Rasulullah. Untuk itu kami memutuskan anak kami bersekolah di SD Al Wildan Islamic School yang memiliki  program  unggulan Tahfidz  Qur’an dan Kurikulum Internasional.
Hari pertama sekolah, ketika belum mendapat seragam

Sekolah yang memiliki gedung belajar yang terpisah antara murid lelaki dan perempuan ini, berlokasi di Jalan Bidar II No. 1 Perum Kelapa Dua - Tangerang (kampus untuk akhwat) dan di Jalan Layar VI No 8 Perum Kelapa Dua - Tangerang (kampus Ikhwan). Lokasi sekolah tidak jauh dari Summarecon Mall Serpong - Gading Serpong. Sehingga mudah dijangkau dari area seputaran Karawaci dan Bumi Serpong Damai (BSD)
Di sekolah ini bahasa pengantar adalah Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Mereka memiliki target hapalan Al Qur'an hingga 30 Juz. Di samping kegiatan ekstra kulikuler yang bisa dipilih : memanah, bela diri, berenang, futsal dan basket.

Namun tentu untuk segala program tersebut ada biaya yang harus kami keluarkan sebagai orang tua.

Adapun sekolah di Al Wildan Islamic School  untuk tahun ajaran 2017 – 2018 adalah sebagai berikut: 
JENIS
SEKOLAH
JENIS  PEMBIAYAAN
PEMBAYARAN
UANG PANGKAL
PG
TK A
TK B
Formulir : Rp.     500.000,-
SPP       : Rp. 1.200.000
PG    :    Rp.  17.500.000
TK A :    Rp.  17.500.000 (Daftar Baru)
TK B :    Rp.   12.500.000 (Daftar Baru)

SD (Fullday)
Formulir : Rp.     500.000
SPP       : Rp. 1.400.000
Kelas 1 : Rp. 27.500.000
Kelas 2 : Rp. 27.500.000 (Pindahan)
Kelas 3 : Rp. 24.000.000 (Pindahan)
Kelas 4 : Rp. 24.000.000 (Pindahan)
Kelas 5: Rp. 20.000.000 (Pindahan)
Kelas 6 : Rp. 15.000.000 (Pindahan)

SMP
(Fullday)
Formulir : Rp.     500.000
SPP       : Rp. 1.700.000
Kelas 7 : Rp. 27.500.000
Kelas 8:  Rp. 22.000.000 (Pindahan)
Kelas 9 : Rp. 20.000.000 (Pindahan)

SMA
(Fullday)


Formulir : Rp.     500.000
SPP       : Rp. 1.900.000
Kelas 10 : Rp. 27.500.000
Kelas 11: Rp. 23.000.000 (Pindahan)
Kelas 12 : Rp. 17.500.000 (Pindahan

BOARDING
   SMP - SMA

Formulir            : Rp.      750.000
Uang Pangkal : Rp. 35.000.000
SPP                  : Rp.   3.500.000

Biaya SPP sudah termasuk Biaya Pendidikan, biaya asrama, konsumsi laundry dan bimbingan Musyrif



 

Ketika Safira di test hapalan Al Qur'annya
Jasmine saat setoran hapalan Al Qur'an

Saturday, July 22, 2017 0 komentar

Tersingkir Karena Berbeda Aliran Agama?


Di “kampung” dulu, ketika kanak-kanak, saya berteman akrab dengan empat orang teman sekelas. Rumah kami berdekatan di dusun yang sama. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki beramai-ramai. Jarak 1 kilometer terasa dekat karena kami berjalan sambil bersenda gurau. Sore hari kami pun berbarengan mengaji di mushala. Jika sedang tidak ada jadwal mengaji kami bermain di sawah mencari buah ciplukan. Atau ikut memanen tebu secara illegal. Hehe… 

Lalu perjalanan nasib membuat kami tinggal berjauhan. Berbelas tahun kami putus kontak.

Namun dengan semakin majunya era sosial media, kami bisa terhubung lagi dengan sangat mudah. Ada Facebook  dan Whatsapp sebagai sarana kami menyambung siaturahim. Awalnya kami intens berbagi cerita kembali, lalu kemudian satu persatu mereka menjauhi saya secara perlahan.

Pagi ini saya kembali merasa baper dengan postingan salah satu sahabat saya tersebut. Ia mem-post beberapa foto keempat sahabat tersebut sedang berwisata di suatu tempat. Sebelumnya melalui FB juga, saya tahu mereka pernah reuni dan sekedar hangout, tanpa pernah mengajak saya. Padahal mereka tahu saya aktif di Facebook, tentu mereka tidak akan kesulitan jika mau menghubungi saya.

Postingan foto salah satu sahabat itu hari ini, dengan menambahkan tag akun FB ketiga teman lainnya. Yang kemudian saat saya klik satu persatu, karena lama tidak mendengar kabar mereka. Oalah, ternyata mereka sudah tidak ‘berteman’ dengan akun saya. Jadi saya sudah di-unfriend oleh mereka.

Tentu saya jadi bertanya-tanya, kenapa sih mereka segitunya? 
Kemudian saya ingat bahasan percakapan kami suatu hari beberapa waktu lalu. Kami membahas tentang kelompok pengajian. Untuk menegaskan, mereka sampai perlu bolak-balik menanyakan apakah saya masih mengaji? Tentu saja. Bagaimana nasib bacaan Al Qur’an saya jka saya tidak pernah mengaji lagi? Bagaimana penuntun hidup saya jika saya tidak pernah mengkaji hadist-hadist lagi, sebagai tempat saya mencontoh perilaku Rasulullah? 

Nampaknya disitulah awalnya. Saya dianggap tidak sealiran dengan mereka. Sehingga mereka tidak bisa lagi berteman dengan saya.
Betapa menyedihkan bukan?
Saya menjadi minoritas di kalangan sahabat-sahabat saya sendiri. Karena saya bukan segolongan aliran. Saya bukan teman seagama, meskipun kami sama-sama Islam. Agama  saya dianggap berbeda, padahal ya saya bernabi Rasulullah Muhammad S.A.W dan bertuhan Allah SWT.
Tegasnya, saya dianggap kafir.

Astaghfirullah!!!

Begitu eksklusifnya kalangan pengajian ini, sehingga untuk penyaluran sedekah dan infak pun tidak boleh ke luar kalangan mereka. Saya beberapa kali membagikan broadcast message berisi ajakan bersedekah melalui SEDEKAH OKSIGEN, tetapi mereka selalu merespon dengan jawaban yang mirip : “Sedekah dan infak sudah disalurkan ke pengajian”.

Suatu saat saya bertanya, bagaimana jika ada teman yang di luar pengajian yang butuh bantuan. Mereka menjawab normatif, sih. Tetapi tetap saja ajakan bersedekah saya tidak pernah mendapat respon positip.

Dengan postingan foto-foto salah satu sahabat tersebut (oya, saya masih menganggapnya sebagai sahabat) makinmenegaskan bahwa posisi saya sudah berada diluar mereka.  
Duhai, sedihnya.

Tuesday, July 18, 2017 1 komentar

Rupiah Tidak Laku DI Luar Negeri? Memang!


Pagi ini saya baca di timeline  Facebook, sudah ada 4 orang teman yang nge-share tentang uang rupiah seri baru yang katanya ngga laku di luar negeri. Berita dari situs abal-abal ini (yaiyalah, mana ada situs credible  mau memberikan hoax kayak gini.) sayangnya dishare puluhan kali dan diberi komen oleh teman-teman pemilik akun dengan kalimat hujatan pada pemerintah. Maka saya jadi tergerak untuk membuat tulisan tanggapan dri pengalaman saya ini.

Kebetulan karena pekerjaan, juga karena hobi, maka saya lumayan sering ke luar negeri. Sudah tentu bekal wajib untuk saya bawa ketika bepergian ke luar negeri selain passport (dan visa jika dibutuhkan), adalah mata uang local. Atau paling tidak membanwa sangu USD.

Tetapi, tak jarang saya membawa bekal uang Rupiah juga, terutama jika berkunjung hanya di wilayah negara jiran dan perjalanan singkat saja.  Misalnya untuk urusan cuma meeting dengan klien atau submit  dokumen untuk tender yang harus secara fisik dikirim, lalu harus disaksikan proses tendernya, maka ngga jarang subuh saya berangkat ke Singapore atau KL, sore sudah terbang balik ke Jakarta. Waktu persiapan yang mepet, atau karena lupa, sehingga saya ngga sempat ke money changer di Jakarta untuk tukar Rupiah ke RM atau SGD. Jadilah saya hanya membawa Rupiah.

Pengalaman saya, uang rupiah seri baru di tempat penukaran uang di Singapore dan KLIA, laku tuh ditukar ke SGD atau RM.

Saya juga pernah menukar Rupiah seri baru ke Bath Thailand di money changer di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, diterima.

Begitupun saya menukar Rupiah ke Dong saat di Vietnam, bisa juga

Apalagi menukar  Rupiah ke Real Saudi di money changer di Zamzam tower, bisa banget.

Kalau dikatakan dalam artikel tersebut bahwa rupiah tidak laku di luar negeri, jawaban saya: yaiyalaaahhh. Memang uang RI tidak diterima di luar negeri, kalau ingin berbelanja disana. Karena harus pakai mata uang lokal. Sama kan perumpamaannya, punya USD juga ngga bisa koq buat membeli Aqua di Indomaret.

Mata uang yang harus dibawa bagi orang yang sering travelling adalah USD. Karena mata uang ini  berlaku secara universal. Bisa ditukar di money changer negara manapun. Dan dari beberapa tahun lalu juga memang ngga semua money changer di beberapa negara terutama Eropa dan Amerika yang terima Rupiah. Karena bukan mata uang yang sering mereka perdagangkan.

Koq Rupiah ngga mereka perdagangkan? Ngga laku disana? 

Bukaaan, tetapi karena demand masyarakat lokal yang sangat rendah untuk memperjual-beli rupiah di negara tersebut. Gini aja contohnya, coba deh ke money changer terus tukar Dong ke Rupiah. Jarang yang mau terima. Atau tukar deh Egyptian Pound ke Rupiah di Jakarta, susah Bu. Karena kedua mata uang itu jarang diperdagangkan di Jakarta.

Kalau beneran uang rupiah seri baru ngga diterima di luar negeri, pasti para jamaah umroh yang tiap bulan ratusan ribu orang akan heboh. Saat saya di Makkah, dalam 5 menit saya di berdiri di Money Changer di Zamzam Tower, ada sekitar 2-3 orang Indonesia yang berbarengan menukar uang. Jadi tiap hari entah berapa puluh orang Indonesia yang menukar uang disana. Dan saya yakin transaksi banyak juga dari IDR ke SAR.  Dan ngga terdengah heboh-heboh kan?



Monday, July 17, 2017 0 komentar

Surat Keterangan Sehat

Di ruang praktek dokter B, masuk seorang perempuan bernama A. Ingat ya inisialnya A, bukan R.

Mbak A: “Selamat siang, Dokter.”
Dr.B : “Selamat siang, Mbak. Silakan duduk.”
Mbak A: “Terima kasih, Dok.”
Dr. B: “Apa keluhannya, Mbak?”
Mbak A: “Ah, saya sih ngga mau banyak mengeluh, Dok. Saya ikhlas aja menjalani hidup ini.”
Dr. B: “Jadi apa keperluan Mbak datang kesini?”
Mbak A: “Cuma kangen aja koq, Dok.  Eh, bukan, maksud saya mau minta surat keterangan sehat, Dok. Buat bikin SIM”
Dr. B: “SIM apa, Mbak?”
Mbak A: “Surat Ijin Mengemudi, Dok.  (Dalam hati Mbak A: Kalau Pak Dokter masih jomblo, boleh aja sekalian saya minta Keterangan Surat Ijin Mencintai).”
Dr. B: “Saya harus menuliskan dengan jelas  tujuan surat keterangan sehat ini, Mbak. Agar tidak disalahgunakan. Mbak mau bikin SIM apa?”
Mbak A: SIM A dan SIM C, Dok.”
Dr. B: “Nah begitu, kan jelas.  Sekarang saya cek tensinya dulu ya.”
Si Mbak A pun dengan pasrah menyerahkan lengannya untuk diukur tensi oleh Pak Dokter.
Dr. B “Hhmm normal, koq “Dokter menuliskan angka 120/80
Dr. B: “Tinggi badan berapa,Mbak?”
Mbak A: “157cm”
Dr. B: “Berat badan?
Mbak A: “piiipp. kilogram, Dok. Awas ya jangan menawari saya obat pelangsing. Saya juga sudah boseeen juga disuruh diet. Sudah biarlah saya seperti ini apa adanya.”
Dr. B “Hhhmm, baiklah. Mbak pakai kaca mata. Minus atau Plus?”
Mbak A: “Yah namanya manusia, Dok. Ada minus, ada plus nya juga. Tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah semata.”
Dr.B “Maksud saya, lensa kaca mata Mbak minus berapa?”
Mbak A: “Minusnya 8, Dok.”
Dr. B. “Plus juga?”
Mbak A: “Yaelah, Dok. Saya tuh 17 poreper. Mata saya ngga plus.”
Dr.B menuliskan beberapa kalimat lagi, lalu menandatangi dan menstempel surat keterangan tersebut.
Dr.B “Ini, Mbak, surat keterangannya. Selamat siang.”
Mbak A: “Berlaku berapa hari surat keterangannya ini, Dok?”
Dr.B “Itu ada tertulis masa berlakunya. Tapi kalau Mbak kembali lagi kesini, nanti saya pasti sudah pindah tugas ke Timbuktu. Selamat siang,Mbak. Pasien berikutnya….”

Si Mbakpun dengan riang gembira keluar dari ruang praktek dokter sambal membawa selembar surat keterangan sehat.
Lahir batin.


 *diketik di  Favehotel -Cilacap, saat sedang bete to the max.
0 komentar

Kebaikan Menular

Masa-masa sekolah SD dan SMP, Alhamdulillah, bisa saya lewati dengan nyaris mulus. Meski di akhir semester pertama kelas 3 SMP, Bapak kami meninggal. Namun warisan yang ditinggalkan masih bisa membiayai biaya pendidikan 7 anak dan 1 keponakannya.  Masalah mulai muncul ketika saya memasuki kelas 2 SLTA.

Ibu yang awalnya adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurusi domestic rumah, semenjak kematian Bapak harus juga mengambil peran sebagai pencari nafkah keluarga. Dan keluguan Ibu dalam berbisnis malah dimanfaatkan orang-orang yang awalnya dikira bisa membantunya. Beberapa kali Ibu mengalami kebangkrutan. Akhirnya harta yang ditinggalkan Bapak habis juga untuk membiayai sekolah dan “makan” kami. 
Ketika lulus SMP, saya sudah menyadari bahwa setamat SLTA saya harus segera mendapat pekerjaan agar bisa membantu Ibu membiayai hidup kami semua. Maka saya memilih sekolah kejuruan. Sayangnya biaya sekolah ini cukup mahal. Saat mendaftar dan selama kelas 1, masalah biaya belum menjadi kendala. Namun ketika mulai kelas 2, Ibu mulai keteteran membayar SPP saya tiap bulannya.
Ditambah lagi, peraturan di sekolah adalah pembayaran SPP paling lambat setiap tanggal 10. Dan peraturan ini strict. Tanpa bisa ditawar. Siswa yang pada tanggal 11 pagi pukul 07.00 belum membayar SPP,maka dilarang mengikuti pelajaran. Harus pulang. Akibat peraturan tersebut, setiap tanggal 8 dan 9 tiap bulan adalah hari-hari yang bikin ketar-ketir  bagi saya dan Ibu. Setiap hari kami sibuk mencari cara agar bisa mendapat uang pembayar SPP. Jika ada barang yang bisa dijual atau digadaikan, kami masih bisa tenang. Tapi ketika segala piring-piring, mesin jahit, kain-kain halus Ibu sudah habis dijual, kami mulai kebingungan. Tak jarang kami harus merendahkan diri mencari pinjaman ke kerabat. Bahkan ke rentenir.
Astaghfirullah al adzim.

Bukan hanya SPP, masalah ongkos sekolah justru kendala terbesar. Saya sekolah full-day,  karena selain belajar teori nyaris tiap hari ada kelas praktikum. Rumah saya di Tanjung Priok- Jakarta Utara sedangkan lokasi sekolah di Pulo Gebang-Jakarta Timur, perbatasan Jakarta Bekasi. Setiap hari saya harus naik 2 kali bus untuk satu kali perjalanan. Dan sudah pasti saya juga harus punya uang untuk beli makan siang.

Sungguh saya tidak tahu bagaimana caranya bisa lulus sekolah ditengah kendala mengenai biaya. Mungkin memori  tentang hal ini secara tidak sadar telah saya kubur jauh-jauh ke dasar file- file kenangan di otak saya, karena terasa menyedihkan. Tetapi tentu saya tidak bisa memungkiri bahwa ada tangan-tangan para malaikat  yang hatinya digerakkan oleh Allah untuk membantu.

Saya ingat Nenek atau Bulik yang entah berapa ratus subuh bersedia membukakan pintu rumahnya dan memberikan saya uang untuk ongkos bus ke sekolah.
Saya ingat Yu Tirah, seorang rentenir tapi baik hati karena bersedia hutangnya dicicil bertahun-tahun tanpa bunga lagi, hingga saya bekerja (karena dia juga kasihan melihat kami sudah tidak sanggup membayar). Ia bersedia meminjami uang untuk membayari daftar ulang di tahun terakhir kenaikan kelas. Serta beberapa kali pinjaman uang SPP.
Saya ingat kakak tertua, Kak Iwan, yang selama beberapa bulan di tahun terakhir saya sekolah, bersedia menanggung biaya kos, ongkos dan makan 25 ribu per minggu.
Saya ingat Tante Ros yang bersedia meminjamkan kalung emasnya untuk biaya ujian akhir. Pinjaman itu dibayar secara mencicil dari dari gaji setelah saya bekerja.
Saya juga ingat Bu Kardi, salah seorang tetangga kami yang sampai merelakan gelang emasnya dijual untuk membayar tagihan rumah sakit saat saya dioperasi radang usus. Akibat stress dan kebiasaan makan mie instan sebagai lauk makan sehari-hari saat jadi anak kos.
Dan banyak lagi orang lain yang saya ingat, yang entah dengan cara apa dan bagaimana, mereka bisa hadir dalam hidup saya dan keluarga, sebagai para penolong di saat kami sedang kesulitan.

Alhamdulillah, sekarang kondisi saya secara ekonomi sudah lebih baik. Tetapi jasa mereka yang pernah hadir sebagai tangan-tangan malaikat­  tidak akan pernah saya lupakan. Dulu mungkin peran mereka tidak saya ketahui, karena hal itu menjadi urusan Ibu.  Saya hanya tahu bahwa uang yang saya butuhkan telah ada. Tapi Ibu selalu menceritakan siapa para penolong-penolong kami. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali nama-nama mereka selalu diselipkan Ibu dalam kisah-kisah nostalgianya.


Cerita ini juga yang menyebabkan suami sangat mengerti akan kebutuhan saya membalas budi. Setiap pekan saya mendapat jatah nominal tertentu sebagai uang jajan. Terkadang uang ini saya pakai untuk menyenangkan diri, membeli sesuatu atau nyalon. Tapi lebih sangat sering uang ini berakhir dengan transfer ke rekening bank orang lain entah siapa.
“Entah siapa”  itu bisa saja seorang dhuafa yang sedang butuh biaya pengobatan. Atau seorang ibu single parent yang sedang butuh biaya sekolah untuk anaknya. Atau siapapun yang Allah mencondongkan hati saya untuk membantunya.

Saat saya mendengar kisah orang-orang ini, saya selalu teringat kisah saya sendiri. Saat seorang ibu single parent meminta bantuan untuk biaya anaknya sekolah, yang terbayang adalah seolah Ibu yang sedang berbicara meminta bantuan pada temannya untuk biaya sekolah saya.

Begitulah akibat kebaikan yang diceritakan. Saya tidak bisa berterima kasih dengan beberapa orang yang pernah membantu membiayai sekolah saya dulu karena sebagian besar sudah meninggal dunia. Saya hanya bisa berterima kasih dengan cara mencoba mencontoh apa yang pernah mereka lakukan.

Belajar dari ini, saya akan menceritakalah kebaikan yang pernah saya terima pada anak-anak saya. Bukan karena agar anak-anak saya memuji si pemberi kebaikan. Tapi agar kebaikan itu bisa menular untuk dilakukan juga oleh anak-anak kelak.


Sunday, July 16, 2017 0 komentar

Mainnya Kurang Jauh

Sering travelling membuat saya jadi banyak belajar hal-hal baru. Belajar seperti apa sih kebiasaan masyarakat lokal, bahasa -paling tidak kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan kegiatan rutin sehari-hari, atau mencoba makanan khas setempat. Dan yang paling menarik buat saya adalah situs-situs yang populer di daerah tersebut. Seperti pusat kuliner (walah!), lokasi pariwisata, atau apapun yang menarik “mata” saya. Untuk mengetahui hal-hal tersebut,  biasanya saya bertanya pada penduduk setempat. Atau -ya sudah pasti- googling.
Tak jarang hal yang saya tanyakan sebenarnya sudah pernah saya ketahui sebelumnya, tapi sudah terlupakan. Jadi, manfaat lain travelling buat saya, paling tidak bisa remainding file-file di otak.
Seperti travelling  yang lalu yaitu ke Cilacap. Biasanya saya menggunakan kereta api, kalaupun mengendarai mobil, ya saya cuma duduk manis di bangku belakang karena sudah ada driver yang bertanggung jawab mengantar saya dengan selamat sampai tujuan.  Nah, kemarin itu saya bergantian dengan suami mengemudi, sehingga saya berkesempatan belajar (lagi, karena sebetulnya saya pernah 2x ikut kelas safety driving), bagaimana "berbicara" dengan sesama pengemudi melalui bahasa lampu.

Sedangkan dalam perjalanan pulang saya menjadi penumpang di bangku belakang. Sehingga mempunyai kesempatan tolah-toleh melihat pemandangan yang dilalui. 


Ketika sampai di kota Cirebon, dari kejauhan saya melihat guning Ceremai. Timbul keisengan saya untuk browsing tentang Gunung Ciremai. Hasilnya saya jadi tahu bahwa sebenarnya Gunung Ceremai itu berada di perbatasan Majalengka – Kuningan.  Semula saya mengira gunung tersebut berada di Cirebon. Dan baru tahu juga bahwa nama yang benar adalah Ceremai, dan bukan Ciremai, seperti yang biasa saya ucapkan.
Begitu punwaktu kami keluar dari kota Cirebon untuk memasuk tol Cipali ke arah Jakarta. Kami kembali melihat dengan jelas sebuah gunung lain setelah Gunung Ceremai. Kepo  dengan nama gunung yang tampak indah tersebut,  maka saya kembali googling. Hasilnya ternyata gunung tersebut adalah Gunung Tamponas yang terletak di kota tahu, Sumedang.

Nah, kata Tamponas, bukankah mengingatkan kita pada nama sebuah kapal yang tenggelam, yang juga menjadi judul lagunya Iwan Fals?


Menyadari betapa banyak hal yang saya ngga tahu dalam satu kali perjalanan itu saja, membuat saya menyadari bahwa mestinya saya ngga boleh mara, jika ada orang yang ngeledek "Wuh, mainnya kurang jauh sih, gitu aja ngga tau."
(Kalau sedih, kayaknya boleh kali yaaaa)

"Bermain yang jauh"
 sebetul bisa juga sih melalui membaca buku dan artikel-artikel. Karena dari bacaan tersebut saya bisa belajar melalui pengalaman orang lain. Apalagi jika dilengkapi foto-foto.

Jadi begitu lah. Kalau tidak sempat atau sedang tidak ada duit buat sering-sering travelling, saya mau rajin-rajin membaca buku aja deh. Biar pinter. Dan dikira sudah bermain sangaaat jauh.



7 komentar

Menarik Saldo Gopay Bagi Customer Gojek

Adalah memang benar nasehat orang tua agar kita tidak terburu-buru ketika mengerjakan sesuatu. Karena bisa mengakibatkan kesalahan dan ujungnya penyesalan. Saya sendiripun sudah beberapa kali mengalami kejadian tidak enak ketika melalukan sebuah pekerjaan terburu-buru. Biasanya saya menjadi tidak teliti.
Demikianpun, Abu Ya’la meriwatkan dari Anas R.A, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda  “Sifat perlahan-lahan(sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.”
Tapi entah mengapa, dengan begitu banyaknya pelajaran, koq ya seringkali mengulang-ulang perbuatan jelek ini. Misalnya beberapa hari lalu.
Sore itu saya bermaksud memesan jasa ojek dengan menggunakan aplikasi Gojek, karena saldo Gopay sudah minim maka saya bermaksud menambahkan sejumlah uang yang saya maksudkan agar bisa digunakan untuk beberapa kali transaksi. Saya pun melakukan transfer ke rekening virtual account  atas nama saya.
Saya berencana mentransfer sejumlah Rp. 300.000. Tapi rupanya saya memencet angka 0 enam kali. Sehingga menjadi Rp. 3.000.000. Saat tampil dialog box konfirmasi transfer, tanpa membacanyanya lagi, saya klik “OK”.
Ketika membaca SMS laporan transfer yang dikirim bank, barulah saya merasa JEGER!  Waduh!
Untuk meminta pembantalan transfer dari bank, tentu prosesnya akan panjang dan sulit. Maka saya mencoba menghubungi Call Centre Gojek.
Alhamdulillah, sejak 2 Maret 2017 mereka memiliki fitur withdraw saldo gopay.

Tetapi ada beberapa tahapan yang harus saya lakukan untuk bisa mengakses fitur ini. 

1. Memverifikasi akun

Klik "GOPAY" 
Lalu Klik "Verifikasi"
Verifikasi dilakukan dengan pengenalan wajah pemilik akun, sehingga kita harus selfie.  Lalu kita harus memfoto KTP/SIM/Passport. Foto selfie harus berbeda dengan foto yang tertera pada kartu identitas..
Proses verifikasi ini membutuhkan waktu hingga 3x24 jam. Proses verifikasi saya sekitar 2 hari.

2. Memasukkan nomor rekening Bank yang dituju dan nama pemilik rekening bank.
Nomor rekening bank yang didaftarkan maksimal hingga 4 akun. Nama pemilik bank ditulis dalam huruf kapital. (Huruf besar)
Tetapi nomor rekening bank yang sudah didaftarkan tidak dapat diganti atau dihapus. 
Proses ini menunggu 2x24 jam.


3. Melakukan Proses Withdraw
Tidak ada limit minimum untuk melakukan withdraw GO-PAY. Namun, limit maksimum untuk melakukan withdraw GO-PAY adalah sejumlah saldo GO-PAY Anda. Proses ini membutuhkan waktu maksimum 3x24 jam jika rekening yang dituju adalah bank besar. Tapi untuk bank kecil bisa lebih dari 3x24 jam. Tidak dijelaskan berapa hari maksimum proses uang akan masuk ke dalam rekening kita. 
Saya harus menunggu selama 2 hari hingga dana withdraw masuk ke rekening BCA saya. 

Total waktu seluruh proses hingga saldo gopay masuk kembali ke rekening BCA saya adalah 5 hari. Huuuaa....*icon nangis*. Sambil menunggu proses hingga rekening terverifikasi saja, saya sudah keburu melakukan transaksi isi saldo paket data ponsel saya. Serta beberapa kali memanggil jasa Go-food.

Saran saya sih, kalau melakukan ketelodoran seperti ini, agar uang segera kembali, lebih baik saldo Gojek-nya dipakai untuk jualan pulsa. Daripada menunggu proses withdraw yang berhari-hari.

Saya juga tidak tahu apakah proses menunggu hingga 3x24 jam sejak withdraw juga berlaku pada driver gojek. Kalau masa menunggunya sama selama itu, waduh kasihan sekali mereka. 
0 komentar

Perhiasan Para Perantau

Bapak saya 100% berdarah Makassar, ibu berdarah Madura -Buton. Darah-darah para petualang yang gigih.Cerita kegigihan mereka sejak muda sudah kudengar sejak aku kanak-kanak.
Dikisahkan bahwa Bapak saya sejak kecil hijrah beserta Pamannya ke Jambi. Lalu membantu pamannya berjualan kopra ke berbagai kota di Sumatera juga Kalimantan. Saat ditugaskan ke kota Tanjung Balai Karimun – Riau, Bapak bertemu dan jatuh cinta pada gadis yang sedang latihan baris berbaris sebagai calon petugas Bea Cukai.
Ibu saya bisa berada di Riau, ya karena sebagai anak AL harus rela mengikuti kemanapun kakek ditugaskan. Saat konfrontasi Indonesia – Malaysia di tahun 1960-an, Kakek yang awalnya bermarkas di seputaran Tanjung Priok, lalu dipindahkan ke Riau. Di sinilah Ibu dan Bapak menikah hingga lahirlah kakak sebagai anak sulung mereka.
Sedangkan Kakek adalah Pelaut Buton yang tentu sebagai pelaut selalu mengembara ke berbagai pelabuhan. Hingga suatu hari, Beliau mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak, lalu saat berjalan-jalan di Kota Surabaya, bertemu dan jatuh cinta dengan seorang Perantau asal Madura.
Kisah di atas cuma prolog yang menjelaskan asal muasal keluarga saya adalah terdiri dari berbagai suku yang dikenal sebagai perantau. Saya ceritakan kisah romantis biar ada yang mau baca aja sih. Hehe.

Padahal paragraf dibawah berikut bukan itu yang mau saya bahas. Tetapi saya sedang ingin nyinyir aja.
Nyinyir tentang apa?

Cekidot ya...
Masih tentang perantau.
Tetangga saya saat kecil terbanyak dari tiga suku tertentu yang terkenal sebagai suku perantau. Saya ingat satu rumah kontakan petak tiga, ukuran lebar 3 meter, panjang 10 meter, bisa diisi oleh 10 orang. Biasanya awalnya hanya 2-3 orang mengisi rumah kontakan tersebut. Lalu beberapa bulan kemudian datanglah kerabat-kerabat mereka untuk tinggal disitu juga. Mereka kebanyakan berprofesi sebagai pedagang.
Sesekali istri-istri mereka secara bergantian berkunjung. Datang dari kampung. Dan selalu saya takjub dengan gemerlapnya perhiasan yang dikenakan oleh para istri tersebut. Pokoknya W O W deh.
Yup, begitulah yang saya banyak dengar dan saksikan. Walau di tempat perantauan mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan dan seirit mungkin, tapi mereka orang yang berada  saat di kampung.
Kemampuan finansial yang menunjukkan keberhasilan mereka selama di perantauan akan ditunjukkan oleh tampilan keren abis.
Bagi para perempuan, baju yang dipakai berbahan silk mengkilap, model desain terbaru, warna ter-ngejreng. Kulit hitam terpapar matahari karena tiap hari keliling jualan door to door, ngga masalah dipakaikan baju warna merah membara, jilbab kuning, tas tangan dan ikat pinggang hijau daun pisang. Ditambah gelang kaki sebesar jempol, dua lusin gelang keroncong di pergelangan tangan kiri-kanan, dan 10 buah cincin. Mengendarai motor sport atau mobil merek terbaru serta menenteng ponsel tercanggih.
Hal ini bisa terjadi karena didukung kebiasaan penerimaan keluarga besar di kampung. Misalnya, kalau berani datang ke acara keluarga besar tanpa perhiasan berkilo-kilo gram menempel di bagian tubuh perempuan, dan penampilan mewah bling-bling, siap-siap aja diberi tatapan miris.

Seperti yang saya alami sendiri saat pulang kampung dengan untukmenghadiri pernikahan salah seorang anak kerabat.

Selain dua iris cincin belah rotan dari Platina, saya tidak punya segram-pun PERHIASAN emas. Melihat kepolosan saya datang ke kondangan seperti itu, saya ditegur oleh salah satu datuk, "Kasihan sekali kau mi. Ada kudengar usaha ko sedang bangkrut, Nak. E tapi jangan ko datang seperti ini. Puang Aji mau menangis ini. Belilah ko emas-emas itu di pasar mi."
Wuiiih, saya seneng banget mendengar saran dari sesepuh ini.

Walau kejadian bangkrut itu sudah tahunan berlalu, dan Alhamdulillah sekarang kami lebih lumayan, tapi ya ngga nolak kalau dikasih uang buat beli emas. Toh Datuk saya ini punya hektaran kebon kelapa dan kebon jeruk di kampungnya. Dibelikan 5 gram emas kan sudah lumayan tuh.
"E itu gelang-gelang macam punya Eda di pasar paling 25.000 ribu sepasang. Beli ko itu." Lanjutnya.
Jiaaah, saya disuruh beli "emas" palsu.


Ilustrasi salah satu TKI
yang memakai uang sumbangan masyarakat untuk
membeli perhiasan

Sebenarnya bukan ngga bisa membeli dua-tiga gram emas. Tapi saya selalu risih mengenakannya. Saya pernah memakai gelang emas tahunan lalu. Yang ada tangan saya tidak bisa bergerak karena saya berusaha sedapat mungkin menyembunyikan gelang itu ke dalam lengan baju saya. 

Saya risih, terutama jika gara-gara memakai perhiasan, teman berbicara saya bolak-balik melirik perhiasan tersebut. Dan jauh lebih risih lagi, jika teman yang saya ajak bicara adalah orang yang sedang kesusahan. Saya langsung malu padanya. Saya merasa tidak punya nurani, saat mendengar teman bicara tentang kesulitannya, sementara pergelangan saya bling-bling. Saya langsung merasa perhiasan itu seolah mengejek kemalangan teman saya.
Dan karena tidak pernah nyaman dengan memakai perhiasan maka saya tidak pernah lagi mau membeli perhiasan. Untuk investasi, saya memilih porto folio investasi lainnya saja. Misalnya investasi " membangun rumah di surga" (Aamiiin... ya Allah...semoga kita dipantaskan jadi salah satu penghuninya).
Dalam hal memiliki perhiasan, memang saya ini ngga mirip sebagian keluarga besar saya.
Toh saya di kota Jakarta saya tidak lagi merasa sebagai perantau. Karena saya lahir, besar, sekolah, menikah hingga memiliki anak, ya di kota ini.   


 
;