Thursday, July 6, 2017

Hati-hati Memilih Hati

Saya bukanlah penggemar jerohan .Termasuk hati sapi atau ayam. Kalau ada masakan yang harus saya makan, misalnya saat dijamu oleh teman, yang mengandung jerohan sapi atau ayam, diam-diam saya akan menyingkirkannya dari piring saya.
Suami saya sudah paham, dan Alhamdulillah ngga pernah komplain kalau ia tidak bisa mengharapkan istrinya mau memasakkan Sambal Goreng Hati . Kalau Beliau lagi kabita’an dengan sambal goreng hati, dengan suka cita dia akan mampir makan di rumah ibunya. Dan saya ikhlas, demi integritas terhadap ketidaksukaan terhadap jerohan. Hehe …

Sambal Goreng Hati
Sumber foto: resepcaramasak.info

Alasan saya tidak suka terhadap segala masakan yang memakai hati sapi adalah,
Satu,
Hati pada sapi merupakan pusat metabolism karbohidrat, lemak dan protein. Obat-obatan dan hormon yang disuntikkan oleh peternak, juga di proses di hati untuk kemudian sisa-sisa “zat beracun”nya akan disekresikan ke empedu dan ginjal. 
Bayangkan, saya memakan suatu benda dimana bertumpuk zat kimia dari obat-obatan dan hormon penggemuk sapi di situ!
Dua,
Biasanya dalam hati sapi terdapat cacing hati. Cacing hati (Fasciola hepatica) adalah sejenis cacing pipih yang hidup dan berhabitat di dalam sistem hati dan empedu hewan mamah biak herbivora.
Cacing hati ini masuk ke dalam sapi melalui rumput dan dedaunan yang tercemar larva cacing. Larva Metaserkaria yang tertelan sapi inilah yang kemudian menginfeksi hati sapi. Berdasar riset yang dikembangkan oleh LIPI,  cacing hati sapi memang termasuk salah satu jenis cacing berbahaya yang bisa merusak sel hati dengan cepat. Cacing hati sendiri termasuk jenis cacing yang sangat agresif dalam menyerap sari-sari makanan dalam tubuh, sekaligus merusak sel-sel dalam hati dengan cepat sehinga memicu kerusakan hati yang kronis.
Meskipun, cacing hati sapi tidak mudah menulari tubuh manusia., karena konon cacing ini hanya hidup dalam hati sapi. Namun, agak ngeri juga kan saat memoptong dan membersihkan hati sapi, eh menemui makhluk hidup mungil lagi ngulet-ngulet. IIhh...

Tiga, 


Rutin konsumsi hati sapi lebih dari 100 gram per hari dapat menyebabkan penumpukan zat mineral tembaga dan vitamin A dalam sistem tubuh. Keracunan tembaga terbilang langka pada orang dewasa sehat, namun dapat menyebabkan kerusakan sel hati. Selain itu, turunan vitamin A dalam hati sapi — retinol — dapat menjadi racun bagi tubuh jika diserap oleh tubuh dalam dosis tinggi dalam waktu singkat, atau dalam dosis rendah namun teratur dalam jangka panjang. Batas toleransi asupan vitamin A per hari adalah 10,000 IU.
Empat,

Selain itu mengonsumsi hati sapi dalam jumlah banyak, atau rutin bisa mengakibatkan kenaikan jumlah kolesterol dalam darah. Sepotong hati sapi ukuran sedang memiliki 90 persen kolesterol. Namun demikian, sama seperti kolesterol dalam makanan laut dan telur, kandungan kolesterol dalam hati (ayam dan sapi) termasuk jenis yang mudah untuk dipecah tubuh, sehingga biasanya tidak akan membawa pengaruh buruk terhadap kadar LDL dalam darah, yang bisa menyumbat arteri.
Begitu alasan secara ilmiahnya (mohon dikoreksi jika ada kesalahan). Selain itu saya punya alasan lain yang non ilmiah.
Saat memilih-milih hati sapi di pasar, saya juga merasa bimbang apakah hati sapi yang dipilih ternyata pernah disakiti? Bagaimana jika ternyata si sapi pernah patah hati? Atau jangan-jangan sebelum disembelih ia sedang jatuh hati? Dan saya juga bingung, bagaimana memilih hati yang tidak keras, karena belum dapat hidayah?
Ah terlalu rumit memang berurusan dengan hati.

Ya sudah, akhirnya saya batalkan saja bikin sambal goreng hati.  Ngga apa-apa ya? Toh, akan selalu ada hatiku yang hanya untukmu.

Mari kita masak tempe penyet aja.

Tempe Penyet
foto dari Resepkoki.id



0 komentar:

Post a Comment

 
;