Kebaikan Menular

by - Monday, July 17, 2017

Masa-masa sekolah SD dan SMP, Alhamdulillah, bisa saya lewati dengan nyaris mulus. Meski di akhir semester pertama kelas 3 SMP, Bapak kami meninggal. Namun warisan yang ditinggalkan masih bisa membiayai biaya pendidikan 7 anak dan 1 keponakannya.  Masalah mulai muncul ketika saya memasuki kelas 2 SLTA.

Ibu yang awalnya adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurusi domestic rumah, semenjak kematian Bapak harus juga mengambil peran sebagai pencari nafkah keluarga. Dan keluguan Ibu dalam berbisnis malah dimanfaatkan orang-orang yang awalnya dikira bisa membantunya. Beberapa kali Ibu mengalami kebangkrutan. Akhirnya harta yang ditinggalkan Bapak habis juga untuk membiayai sekolah dan “makan” kami. 
Ketika lulus SMP, saya sudah menyadari bahwa setamat SLTA saya harus segera mendapat pekerjaan agar bisa membantu Ibu membiayai hidup kami semua. Maka saya memilih sekolah kejuruan. Sayangnya biaya sekolah ini cukup mahal. Saat mendaftar dan selama kelas 1, masalah biaya belum menjadi kendala. Namun ketika mulai kelas 2, Ibu mulai keteteran membayar SPP saya tiap bulannya.
Ditambah lagi, peraturan di sekolah adalah pembayaran SPP paling lambat setiap tanggal 10. Dan peraturan ini strict. Tanpa bisa ditawar. Siswa yang pada tanggal 11 pagi pukul 07.00 belum membayar SPP,maka dilarang mengikuti pelajaran. Harus pulang. Akibat peraturan tersebut, setiap tanggal 8 dan 9 tiap bulan adalah hari-hari yang bikin ketar-ketir  bagi saya dan Ibu. Setiap hari kami sibuk mencari cara agar bisa mendapat uang pembayar SPP. Jika ada barang yang bisa dijual atau digadaikan, kami masih bisa tenang. Tapi ketika segala piring-piring, mesin jahit, kain-kain halus Ibu sudah habis dijual, kami mulai kebingungan. Tak jarang kami harus merendahkan diri mencari pinjaman ke kerabat. Bahkan ke rentenir.
Astaghfirullah al adzim.

Bukan hanya SPP, masalah ongkos sekolah justru kendala terbesar. Saya sekolah full-day,  karena selain belajar teori nyaris tiap hari ada kelas praktikum. Rumah saya di Tanjung Priok- Jakarta Utara sedangkan lokasi sekolah di Pulo Gebang-Jakarta Timur, perbatasan Jakarta Bekasi. Setiap hari saya harus naik 2 kali bus untuk satu kali perjalanan. Dan sudah pasti saya juga harus punya uang untuk beli makan siang.

Sungguh saya tidak tahu bagaimana caranya bisa lulus sekolah ditengah kendala mengenai biaya. Mungkin memori  tentang hal ini secara tidak sadar telah saya kubur jauh-jauh ke dasar file- file kenangan di otak saya, karena terasa menyedihkan. Tetapi tentu saya tidak bisa memungkiri bahwa ada tangan-tangan para malaikat  yang hatinya digerakkan oleh Allah untuk membantu.

Saya ingat Nenek atau Bulik yang entah berapa ratus subuh bersedia membukakan pintu rumahnya dan memberikan saya uang untuk ongkos bus ke sekolah.
Saya ingat Yu Tirah, seorang rentenir tapi baik hati karena bersedia hutangnya dicicil bertahun-tahun tanpa bunga lagi, hingga saya bekerja (karena dia juga kasihan melihat kami sudah tidak sanggup membayar). Ia bersedia meminjami uang untuk membayari daftar ulang di tahun terakhir kenaikan kelas. Serta beberapa kali pinjaman uang SPP.
Saya ingat kakak tertua, Kak Iwan, yang selama beberapa bulan di tahun terakhir saya sekolah, bersedia menanggung biaya kos, ongkos dan makan 25 ribu per minggu.
Saya ingat Tante Ros yang bersedia meminjamkan kalung emasnya untuk biaya ujian akhir. Pinjaman itu dibayar secara mencicil dari dari gaji setelah saya bekerja.
Saya juga ingat Bu Kardi, salah seorang tetangga kami yang sampai merelakan gelang emasnya dijual untuk membayar tagihan rumah sakit saat saya dioperasi radang usus. Akibat stress dan kebiasaan makan mie instan sebagai lauk makan sehari-hari saat jadi anak kos.
Dan banyak lagi orang lain yang saya ingat, yang entah dengan cara apa dan bagaimana, mereka bisa hadir dalam hidup saya dan keluarga, sebagai para penolong di saat kami sedang kesulitan.

Alhamdulillah, sekarang kondisi saya secara ekonomi sudah lebih baik. Tetapi jasa mereka yang pernah hadir sebagai tangan-tangan malaikat­  tidak akan pernah saya lupakan. Dulu mungkin peran mereka tidak saya ketahui, karena hal itu menjadi urusan Ibu.  Saya hanya tahu bahwa uang yang saya butuhkan telah ada. Tapi Ibu selalu menceritakan siapa para penolong-penolong kami. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali nama-nama mereka selalu diselipkan Ibu dalam kisah-kisah nostalgianya.


Cerita ini juga yang menyebabkan suami sangat mengerti akan kebutuhan saya membalas budi. Setiap pekan saya mendapat jatah nominal tertentu sebagai uang jajan. Terkadang uang ini saya pakai untuk menyenangkan diri, membeli sesuatu atau nyalon. Tapi lebih sangat sering uang ini berakhir dengan transfer ke rekening bank orang lain entah siapa.
“Entah siapa”  itu bisa saja seorang dhuafa yang sedang butuh biaya pengobatan. Atau seorang ibu single parent yang sedang butuh biaya sekolah untuk anaknya. Atau siapapun yang Allah mencondongkan hati saya untuk membantunya.

Saat saya mendengar kisah orang-orang ini, saya selalu teringat kisah saya sendiri. Saat seorang ibu single parent meminta bantuan untuk biaya anaknya sekolah, yang terbayang adalah seolah Ibu yang sedang berbicara meminta bantuan pada temannya untuk biaya sekolah saya.

Begitulah akibat kebaikan yang diceritakan. Saya tidak bisa berterima kasih dengan beberapa orang yang pernah membantu membiayai sekolah saya dulu karena sebagian besar sudah meninggal dunia. Saya hanya bisa berterima kasih dengan cara mencoba mencontoh apa yang pernah mereka lakukan.

Belajar dari ini, saya akan menceritakalah kebaikan yang pernah saya terima pada anak-anak saya. Bukan karena agar anak-anak saya memuji si pemberi kebaikan. Tapi agar kebaikan itu bisa menular untuk dilakukan juga oleh anak-anak kelak.


You May Also Like

0 komentar