Wednesday, July 26, 2017

Kepingin Kaya

Sebagai anak yatim dengan sederet adik-adik dalam kondisi kekurangan secara ekonomi tak jarang kami menjadikan mie instan sebagai lauk makan bersama nasi.
Aduh, jangan bahas makan karbohidrat koq lauknya karbohidrat juga. Bisa makan sehari 2x itu sudah kemewahan. Bisa makan dengan lauk mie instan dibagi berdua adalah kenikmatan. Tak jarang sebagai kakak saya mengalah pada adik-adik, saya hanya menikmati kuah mie instan, demi ada sedikit rasa pada nasi putih.  Dan sebagai pelajar yang pernah berkali-kali terlintang pukang digebah dari sekolah karena telat bayar SPP, memiliki 'kebebasan finansial' adalah impian saya.
Kami pernah sedemikian ngga punya duitnya, hingga seluruh benda yg terlihat nyaris ngga bernilai ekonomis. Karena bahkan sampai ke piring makanpun sudah digadai atau dijual. Perut lapar hanya bisa ditahan hingga besok sambil berharap ada rezeki datang. Ketika mendengar suara tingting mangkok diketuk oleh tukang bakso, laksana suara ejekan atas perihnya perut kami.
Sehingga ngga heran ketika kami sudah bisa berikhtiar, saya dan adik-adik bekerja keras supaya terlepas dari kemiskinan.  Di awal dewasa muda, saya rela dilempar ke lokasi-lokasi area “babat alas” oleh perusahaan tempat saya bekerja. Jauh dari keluarga, pun dilakoni.

Alhamdulillah, segala kondisi tersebut telah terlewati. Dan Allah mentakdirkan kami hidup 'berkecukupan' sekarang.

Kondisi sulit dulu membuat saya bisa menarik kesimpulan, punya duit itu jauh lebih enak dibanding ngga punya duit.
Sungguh!
Saya selalu berdoa agar dijauhkan dari ‘musibah’ itu lagi. Karena setelah pernah menikmati enaknya berkecukupan,  belum tentu kami bisa sekuat dahulu jika diuji kemiskinan lagi.

Pernah terlintang pukang karena serba kekurangan, membuat saya paham banget kenapa buaanyaak orang tua yang mendoakan agar anaknya kelak menjadi kaya.
"Dadiyo wong sugih yo Le" kata Emak sambil mengusap kepala Tole.
Jadilah kaya, Nak.
Harapan Emak yang diungkapkan berpuluh , beratus bahkan berjuta kali, lama-lama terendap dalam benak si Tole. Tolepun terdogma untuk menjadi kaya.

Emang masalah gitu kalau orang pengen kaya?

Nah, ini yang membuat saya tercenung sedetik. Para ahli psikologi mengatakan keinginan yang menjadi obsesi, itu yang bahaya.

Beberapa teman saya berakhir di penjara atau depresi karena terobsesi menjadi kaya.
Uang yang dimiliki sebetulnya belum mencukupi untuk bebas beli ini-itu barang bermerek mahal, tapi ia sudah tak sabar ingin terlihat kaya. 

Kaya itu ukurannya harta yang banyak. Untuk memenuhi harapan Emak menjadi orang kaya, maka Tole kemudian berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Dan untuk mengumpulkan harta yang banyak itu pilihannya bisa melalui cara legal  atau cara illegal.

Sayangnya, cara mengumpulkan kekayaan secara legal itu jalannya panjang dan ngga mudah. Banyak banget pengorbanan dan ujiannya. Banyak orang yang ngga tahan dan tepar di tengah jalan.

Tapi dogma adalah dogma. Tersimpan kuat di dalam benak. Karena jalan legal yang sudah dicobanya demikian berat, maka ngga sedikit orang yang ambil jalan gampang: korupsi, menipu atau ngepet.

Jadi, bercita-cita menjadi 'sugih' itu ngga boleh?

Ya boleh banget. Namanya juga cita-cita. Yang ngga masuk akalpun boleh koq dicita-citakan.
Tapi ingat, untuk mewujudkan cita-cita ada harga yang harus dibayar.

Yang karyawan harus bisa bekerja lebih keras dari teman-temannya agar insentif dan bonus yang diterima lebih besar. Yang pengusaha harus super rajin mencari dan memanfaatkan peluang agar pemasukan perusahaan meningkat terus. Yang jadi wakil rakyat harus, ah sudahlah.
Obsesi menjadi kaya juga sudah merasuki para anak muda sekarang. Dan mereka tahu, salah satu jalannya adalah melalui internet dan media social. Mereka melakukan berbagai cara untuk mengumpulkan duit dari Adsense, dsb, dengan cara yang aneh-aneh. Kreatifitas mereka seringkali kebablasan. Ngga sedikit yg membuat laman berisi berita hoax dan fitnah. Untuk sekedar mengundang jutaan kilik visitor, demi terdongkraknya nilai adsense. Termasuk dengan youtuber, vloger alay, yang 'menjual' tontonan gaya hidup sok cool kebablasan.

Emak-emak, yang saat ini merasa hidup susah karena kemiskinan, coba deh dipikir ulang apa sesungguhnya harapan yang ditanamkan pada anak-anak? Apa yang sesungguhnya dibutuhkan agar anak kelak bahagia, apakah uang yang banyak atau rasa kecukupan?
Uang yang banyak, relatip. Satu juta bagi A mungkin sudah banyak, sementara si B sanggup menghabiskan sejuta dalam satu jam. Angka kecukupan juga relatip. 

Tapi RASA berkecukupan itu absolut. Adanya di hati.

Emak, berdoa dan berharaplah agar kita dan anak-anak kita memiliki rasa berkecukupan, bahagia dan membahagiakan sesama.
Dorong anak-anak untuk terus berikhtiar dengan cara yang halal dan diridhoi Allah. Biarlah Allah yang akan memilihkan jalannya jika ditakdirkan menjadi kaya. Kalaupun anak tidak menjadi kaya, ajari ia untuk selalu bersyukur. Karena sesungguhnya tak jarang kekayaan malah mendatangkan fitnah yang luar biasa.
Saya tahu, jauh di lubuk hati terdalam yang diinginkan emak adalah agar anak-anaknya bahagia dunia akhirat. Itu saja.

0 komentar:

Post a Comment

 
;