Ketika Anak Masuk Pesantren

by - Wednesday, July 26, 2017

Banyak ibu-ibu teman saya yang bolak-balik mengeluhkan tentang sedihnya merasa kangen pada anak-anaknya yang terpisah berbulan-bulan karena anak-anak tersebut sedang melalui pendidikan di pesantren. Tulisan ini semoga bisa jadi salah satu penghiburan buat para Emak yang merasa mellow .
Tinggal di pesantren itu banyak manfaatnya loh bagi anak-anak. Selain belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan, Anak-anak 'dipaksa' belajar on-time, on-schedule, bertenggang rasa, mudah memaafkan, 'nerimo', menyesuaikan diri dgn lingkungan. 
Ilmu non teknis begini akan selalu bisa bermanfaat dimanapun nanti mereka berada nanti saat mereka dewasa.
Alhamdulillah, memasukkan si Kembar disaat mereka usia SMP rasanya tepat.
Saat mereka masih menurut. Saat mereka masih percaya 100% bahwa keputusan orang tua adalah yg terbaik.
Masa-masa awal mereka di pesantren memang adalah saat-saat rawan anak merasa tidak betah. Biasanya mereka butuh 3-6 bulan untuk menyesuaikan diri berbulan-bulan jauh dari rumah. Jika memungkinkan rajin-rajinlah menjenguk anak yang sedang di pesantren. Agar mereka bisa curhat pada orang tua hal-hal yang menyusahkan selama di pesantren. Mereka cuma butuh bercerita dan ada yang mendengarkan, koq. 
Jika anak memaksa untuk keluar pesantren, selidiki apa sesungguhnya alasan ketidakbetahan mereka. Apakah alasan tersebut kritikal, atau masih bisa ditolerir.
Ada orangtua yang buru-buru memindahkan anak hanya karena anaknya tidak tahan makan tahu-tempe terus menerus. 



foto saat si Kembar belajar

Sekarang ketika si Kembar sudah SMA, dengan ego dan nalar ala abege, biasanya seumuran mereka mulai ributkan otoritas orang tua. Kenapa begini, kenapa tidak begitu. Aku mau begini, aku ngga mau begitu. Tapi Alhamdulillah, pengalaman dan pelajaran saat mereka di pesantren banyak banget membantu. Mereka sudah memahami sendiri bagaimana bersikap seharusnya kepada orang tua. Apa saja batasan perbuatan yang dilarang oleh agama. Dan hal apa yang menjadi perintah Allah. Kami jarang bersitegang ala ortu vs abege

Namun begitu, mereka sudah tentu tetap punya pemikiran sendiri yang kadangkala sulit dipenuhi. Dan disinilah dituntut kemampuan orang tua untuk bernegosiasi dan memberi pemahaman. Bahwa tidak semua keinginan dan kemauan anak bisa dilepas semau-mau mereka. Orang tua tetap harus memegang kontrol atas anak.

Sudah buaaanyaaaak sekali contoh ketidak berdayakan orang tua terhadap rengekan anak malah merusak jalan hidup anak. Sudah banyak sekali contoh anak yang lepas dari otoritas orang tua malah kebablasan ngga tentu arah.

Anak gadis Instaseleb yang sedang heboh itu, salah satu contoh anak yg lepas otoritas orang tuanya.
Ibu sering menasehati saya:"Rin, pengendalian orang tua terhadap anaknya adalah ibarat kita bermain layang-layang. Kita harus bisa mengarahkan layang-layang ke arah lawan angin bertiup agar layang-layang itu bisa terbang tinggi. Kita tarik talinya saat ia mulai salah arah angin agar tidak limbung, kita harus bisa menahan beban tali saat angin kencang bertiup. Rin, jangan pernah membiarkan layang-layangmu putus talinya, karena ia akan terbang tak tentu arah dan kamu sulit untuk menemukannya kembali".

Saat kami menjenguk si Kembar di pesantrennya



You May Also Like

0 komentar