Sunday, July 16, 2017

Mainnya Kurang Jauh

Sering travelling membuat saya jadi banyak belajar hal-hal baru. Belajar seperti apa sih kebiasaan masyarakat lokal, bahasa -paling tidak kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan kegiatan rutin sehari-hari, atau mencoba makanan khas setempat. Dan yang paling menarik buat saya adalah situs-situs yang populer di daerah tersebut. Seperti pusat kuliner (walah!), lokasi pariwisata, atau apapun yang menarik “mata” saya. Untuk mengetahui hal-hal tersebut,  biasanya saya bertanya pada penduduk setempat. Atau -ya sudah pasti- googling.
Tak jarang hal yang saya tanyakan sebenarnya sudah pernah saya ketahui sebelumnya, tapi sudah terlupakan. Jadi, manfaat lain travelling buat saya, paling tidak bisa remainding file-file di otak.
Seperti travelling  yang lalu yaitu ke Cilacap. Biasanya saya menggunakan kereta api, kalaupun mengendarai mobil, ya saya cuma duduk manis di bangku belakang karena sudah ada driver yang bertanggung jawab mengantar saya dengan selamat sampai tujuan.  Nah, kemarin itu saya bergantian dengan suami mengemudi, sehingga saya berkesempatan belajar (lagi, karena sebetulnya saya pernah 2x ikut kelas safety driving), bagaimana "berbicara" dengan sesama pengemudi melalui bahasa lampu.

Sedangkan dalam perjalanan pulang saya menjadi penumpang di bangku belakang. Sehingga mempunyai kesempatan tolah-toleh melihat pemandangan yang dilalui. 


Ketika sampai di kota Cirebon, dari kejauhan saya melihat guning Ceremai. Timbul keisengan saya untuk browsing tentang Gunung Ciremai. Hasilnya saya jadi tahu bahwa sebenarnya Gunung Ceremai itu berada di perbatasan Majalengka – Kuningan.  Semula saya mengira gunung tersebut berada di Cirebon. Dan baru tahu juga bahwa nama yang benar adalah Ceremai, dan bukan Ciremai, seperti yang biasa saya ucapkan.
Begitu punwaktu kami keluar dari kota Cirebon untuk memasuk tol Cipali ke arah Jakarta. Kami kembali melihat dengan jelas sebuah gunung lain setelah Gunung Ceremai. Kepo  dengan nama gunung yang tampak indah tersebut,  maka saya kembali googling. Hasilnya ternyata gunung tersebut adalah Gunung Tamponas yang terletak di kota tahu, Sumedang.

Nah, kata Tamponas, bukankah mengingatkan kita pada nama sebuah kapal yang tenggelam, yang juga menjadi judul lagunya Iwan Fals?


Menyadari betapa banyak hal yang saya ngga tahu dalam satu kali perjalanan itu saja, membuat saya menyadari bahwa mestinya saya ngga boleh mara, jika ada orang yang ngeledek "Wuh, mainnya kurang jauh sih, gitu aja ngga tau."
(Kalau sedih, kayaknya boleh kali yaaaa)

"Bermain yang jauh"
 sebetul bisa juga sih melalui membaca buku dan artikel-artikel. Karena dari bacaan tersebut saya bisa belajar melalui pengalaman orang lain. Apalagi jika dilengkapi foto-foto.

Jadi begitu lah. Kalau tidak sempat atau sedang tidak ada duit buat sering-sering travelling, saya mau rajin-rajin membaca buku aja deh. Biar pinter. Dan dikira sudah bermain sangaaat jauh.



0 komentar:

Post a Comment

 
;