Saturday, July 22, 2017

Tersingkir Karena Berbeda Aliran Agama?


Di “kampung” dulu, ketika kanak-kanak, saya berteman akrab dengan empat orang teman sekelas. Rumah kami berdekatan di dusun yang sama. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki beramai-ramai. Jarak 1 kilometer terasa dekat karena kami berjalan sambil bersenda gurau. Sore hari kami pun berbarengan mengaji di mushala. Jika sedang tidak ada jadwal mengaji kami bermain di sawah mencari buah ciplukan. Atau ikut memanen tebu secara illegal. Hehe… 

Lalu perjalanan nasib membuat kami tinggal berjauhan. Berbelas tahun kami putus kontak.

Namun dengan semakin majunya era sosial media, kami bisa terhubung lagi dengan sangat mudah. Ada Facebook  dan Whatsapp sebagai sarana kami menyambung siaturahim. Awalnya kami intens berbagi cerita kembali, lalu kemudian satu persatu mereka menjauhi saya secara perlahan.

Pagi ini saya kembali merasa baper dengan postingan salah satu sahabat saya tersebut. Ia mem-post beberapa foto keempat sahabat tersebut sedang berwisata di suatu tempat. Sebelumnya melalui FB juga, saya tahu mereka pernah reuni dan sekedar hangout, tanpa pernah mengajak saya. Padahal mereka tahu saya aktif di Facebook, tentu mereka tidak akan kesulitan jika mau menghubungi saya.

Postingan foto salah satu sahabat itu hari ini, dengan menambahkan tag akun FB ketiga teman lainnya. Yang kemudian saat saya klik satu persatu, karena lama tidak mendengar kabar mereka. Oalah, ternyata mereka sudah tidak ‘berteman’ dengan akun saya. Jadi saya sudah di-unfriend oleh mereka.

Tentu saya jadi bertanya-tanya, kenapa sih mereka segitunya? 
Kemudian saya ingat bahasan percakapan kami suatu hari beberapa waktu lalu. Kami membahas tentang kelompok pengajian. Untuk menegaskan, mereka sampai perlu bolak-balik menanyakan apakah saya masih mengaji? Tentu saja. Bagaimana nasib bacaan Al Qur’an saya jka saya tidak pernah mengaji lagi? Bagaimana penuntun hidup saya jika saya tidak pernah mengkaji hadist-hadist lagi, sebagai tempat saya mencontoh perilaku Rasulullah? 

Nampaknya disitulah awalnya. Saya dianggap tidak sealiran dengan mereka. Sehingga mereka tidak bisa lagi berteman dengan saya.
Betapa menyedihkan bukan?
Saya menjadi minoritas di kalangan sahabat-sahabat saya sendiri. Karena saya bukan segolongan aliran. Saya bukan teman seagama, meskipun kami sama-sama Islam. Agama  saya dianggap berbeda, padahal ya saya bernabi Rasulullah Muhammad S.A.W dan bertuhan Allah SWT.
Tegasnya, saya dianggap kafir.

Astaghfirullah!!!

Begitu eksklusifnya kalangan pengajian ini, sehingga untuk penyaluran sedekah dan infak pun tidak boleh ke luar kalangan mereka. Saya beberapa kali membagikan broadcast message berisi ajakan bersedekah melalui SEDEKAH OKSIGEN, tetapi mereka selalu merespon dengan jawaban yang mirip : “Sedekah dan infak sudah disalurkan ke pengajian”.

Suatu saat saya bertanya, bagaimana jika ada teman yang di luar pengajian yang butuh bantuan. Mereka menjawab normatif, sih. Tetapi tetap saja ajakan bersedekah saya tidak pernah mendapat respon positip.

Dengan postingan foto-foto salah satu sahabat tersebut (oya, saya masih menganggapnya sebagai sahabat) makinmenegaskan bahwa posisi saya sudah berada diluar mereka.  
Duhai, sedihnya.

0 komentar:

Post a Comment

 
;