Wednesday, July 5, 2017

Uang Kas


Sore ini salah seorang teman sesame alumni  menghubungi saya melalu aplikasi pesan Whatsapp. Percakapan kami sebagai berikut:
Teman : "Rin, teman-teman sepakat mengumpulkan uang kas besarnya Rp.10.000/ bulan."
Saya :" Buat apa uang kas?"
Teman : "Ya, barangkali ada teman yang sakit, kita bisa pakai uang tersebut buat membelikan buah saat menjenguk. Atau mungkin ada teman yang anaknya nikahan, kita kasih 'angpao dari uang kas. Yah kayak gitu lah."
Saya : "Selain itu?"
Kawan : "Kalau ketemuan, kita ngga usah iuran lagi buat konsumsi.”
Saya. "Terus Bendaharanya siapa?"
Teman : "Si Anu."
Saya "Uangnya disimpan di siapa?"
Teman : "Si Anu."
Saya.: “Oke Fix. Gw ngga mau bayar uang kas. Kecuali untuk pengeluaran yg udah jelas peruntukkannya. Kalau ada teman sakit, atau mau iuran apa gitu, lu hubungin Gw aja. Kali aja pas Gw ada rezeki, gw bisa ikutan urunan."
Teman : "Lu ngga percaya ama si Anu?"
Saya : "Bukan karena itu. Uang adalah sumber fitnah. Gw terlalu sayang ama teman Gw untuk mengelola sumber fitnah."
--
Memang dari kasus-kasus yang sering dihadapi saat berorganisasi, uang adalah sumber fitnah utama. Apalagi sudah pernah terbukti koq di grup alumni tersebut. Sudah pernah ada kasus fitnah hanya gara-gara uang ngga sampai 500.000 rupiah. Akhirnya saling merasa ngga enak. Sehingga pemegang uang kas dari si Dia di pindah ke si Anu.
Hal tersebut adalah alasan pertama saya ngga mau membayar uang kas.

Alasan kedua adalah pemanfaat uang kas tersebut tidak jelas dan tidak terencana. 
Jauh-jauh hari mengumpulkan uang untuk teman/keluarga teman yang sedang sakit? Jiaaah, berarti mengharap dong supaya ada teman yang sakit?. 
Atau untuk angpau saat anak teman nikahan? Berapa orang anak-anak teman yang sudah siap menikah? Mungkin ngga sampai 10. 
Buat uang konsumsi saat reuni? Mau seberapa rajin bereuni? Tiap bulan? 6 bulan sekali? Setahun sekali? Bukankah saat reuni bukan Cuma uang konsumsi yang dibutuhkan, tapi ada ongkos jalan, dan sebagainya. Kalau teman yang ngga bisa datang, kenapa juga diminta ikutan membiayai makanan yang dimakan oleh peserta ketemuan? Kenapa ngga yang datang saat itu yang iuran apa yang mereka makan?

Saya bukannya pelit loh. (Ngeles..hehe) Tetapi saya setuju diadakan uang kas, jika pemanfaatannya jelas. Misalnya menabung bersama dana bergulir untuk modal kegiatan usaha. Karena sebagian teman di kelompok alumni yang ini, sedang dalam kesulitan ekonomi.

Sekali lagi, karena jika uang dikumpul di satu orang, lalu dia juga yang mencatat, ngga menutup kemungkinan dia akan tergoda untuk memanfaatkan uang tersebut untyuk kebutuhan pribadi. Awalnya mungkin niat meminjam, lalu jika teman-teman alumni akibat kesibukan masing-masing kurang control, tidak menutup kemungkinan akan terjadi penggelapan. Yang ujungnya malah merusak ukhuwah diantara teman-teman alumni.
Hehe. Kesannya su’udzon ya terhadap si Anu. Tapi inilah kenyataan yang sangat buuuaaanyaaak terjadi di masyarakat.


Untuk itu saya tidak setuju pengadaan iuran uang kas  dalam grup alumni ini, (perlu ditekankan pada kalimat 'grup alumni ini') karena saya tidak mau memfasilitasi teman saya suatu saat terjebak dalam fitnah dunia.

2 komentar:

Yati said...

Betul sekali

Dian Restu Agustina said...

Saya juga sependapat kalau peruntukan uang kas bisa jadi sumber fitnah. Lebih baik saat ada penggalangan dana diinfokan saja, yang bersedia silakan, juga laporan peruntukkannya jadi jelas:)

Post a Comment

 
;