Saturday, August 19, 2017

Keliru Bag.1

Kisah Deswita:

Ya, aku mencintainya. Konyolnya, sejak menit pertama aku menerima cintanya, aku sudah tahu bahwa aku tak akan bisa memilikinya utuh. Aku tahu suatu saat ia akan pergi dan melupakanku. Maka aku menikmati saat-saat ia bersamaku.

Aku mencintai lelaki itu. Jika kau bertanya kenapa aku jatuh cinta padanya, yah, aku tak tahu bagaimana harus menjawabannya. Mungkin aku bodoh karena membiarkan diriku terlena pada perasaan yang memabukkan. Perasaan bahagia karena diperhatikan, disayangi dan dicintai oleh lawan jenis yang juga kucintai. Perasaan yang di usiaku 28 tahun ini, nyaris tak kukenali.

Saat awal mengenalnya, perasaanku padanya sama seperti perasaanku pada ratusan teman lelaki lain. Dengan semakin intens kebersamaan kami, rasa menyayangipun mulai tumbuh perlahan. Lalu cinta mulai berakar dan menyemak di hatiku

Ia tampan, tentu saja. Karena sebagai wanita, akupun menyukai wajah pria  yang menarik untuk dilihat.  Apakah ia kaya, sungguh aku tak tahu. Lebih tepatnya, aku tak peduli. Aku jujur jika aku mengatakan bahwa aku hanya menginginkan cinta dan kasih sayangnya. Aku hanya menginginkan dirinya. Maka aku memasabodohkan uangnya. Toh, aku punya penghasilan yang lebih dari cukup untuk membiayai diriku. Bahkan tak jarang aku yang membayari kencan-kencan kami. Agar gajinya untuk menafkahi keluarganya tidak berkurang dan menyebabkan keributan diantara kekasihku dan istrinya.

Memang disayangkan, kekasihku telah beristri.

Aku Pelakor, Perampas lelaki orang?
Sembarangan! 
Aku tidak suka dituduh begitu. Aku tidak merampas apapun dari tangan siapapun. Cinta itu datang sendiri. Lelaki itulah yang mendatangiku. Ia lebih dahulu menyatakan cinta padaku. Walau aku hanya mendapatkan sebagian, entah seberapa besar potongannya, hati lelaki itu. 

Sebelum kisah kasih kami berjalan sekian lama, aku pernah menolak cintanya. Bukan cuma sekali, tetapi berkali-kali. Tetapi rasa pedih yang menyengat hati setiap kali aku mengatakan penolakan-penolakan itu, membuat aku menyerah. Akhirnya kuterima cinta lelaki beristri itu. 

Dan kemudian hari-hariku memang lebih indah. Karena ada seseorang yang padanya aku bisa bermanja. Darinya aku mendapat limpahan perhatian dan kasih sayang. Dan padanya aku berbagi cerita hidup. Bersamanya, aku berbagi tawa, berbagi berahi, juga berbagi keresahan.

Adalah bodoh kalau kamu pikir aku tak resah dengan menjadi orang ketiga. Tentu saja aku pun ingin menjadi perempuan utama dalam hidupnya.  Aku juga berharap padakulah ia pulang setiap malam melepas lelahnya. Aku juga  ingin  namakulah yang disebut sebagai Nyonya Kekasih.  Aku juga mau kami bisa berjalan bersisian bergandeng tangan tanpa perlu sembunyi-sembunyi.

Banyak hal yang tidak mungkin kudapati dari hubungan dengan lelaki yang kucintai ini. Tapi aku juga tak ingin menuntutnya untuk memenuhi semua keinginanku. Karena seperti yang kukatakan di awal, aku menyadari posisiku sebagai Perempuan Kedua. 

Bersambung.....


0 komentar:

Post a Comment

 
;