Pengaruh Rhoma Irama Pada Hobi saya Menonton Film di Bioskop

by - Monday, August 21, 2017

Kali ini saya mau cerita ah tentang pengalamanku bersama Bang Rhoma Irama. Ee.. cie... macam betul aja.
Manusia Indonesia yang tumbuh besar di tahun 1973-1990an pasti deh tahu kiprah Rhoma Irama dan Soneta Grupnya. (Aduuuuh ketahuan umur guweee). Menurut pendapat saya, Bang Oma adalah salah satu artis Indonesia yang fenomenal. Ia bukan hanya cerdas dalam bermusik, tetapi juga pandai akting dan mengelola bisnis musik hingga Soneta Grup pernah menjadi grup band yang paling moncer di zamannya.

Sampai sekarang, belum ada pemusik dalam genre apapun, yang sefenomenal Sang Raja Dangdut Rhoma Irama ini. Selama 40 tahun bermusik, diskografinya panjaaaaang sekali. Albumnya bersama Soneta Grup saja berjumlah 16 album. Belum lagi album-album lain sebelum ia membentuk band ini. Ia juga membuat lagu-lagu untuk soundtrack film serta  album solo.
Sebagai anak yang tumbuh di Tanjung Priok yang terkenal sebagai daerah kelas pinggiran (memang di pinggir laut, sih), nyaris semua tetangga saya adalah penggemar Rhoma Irama. Sehingga saya yang saat itu masih imut-imut, mau tidak mau mendapat limpahan "polusii suara" dari lagu-lagu RI. Akhirnya ya saya sampai hapal, pal, pal beberapa lirik lagunya.
Bukan cuma dalam hal musik, Rhoma Iramapun bermain film. Dimana nyaris seluruh filmnya selalu membludak oleh penonton. Bukan cuma satu atau dua film, melainkan Rhoma Irama bermain dalam 29 film layar lebar, yang dimulai dari Film "Krisis X" di tahun 1975, hingga "Sajadah Ka'bah 2" di tahun 2014. Serta 3 serial televisi.  Kutipan dialog-dialog serta adegan-adegan film RI sampai sekarang masih dikenang loh. Dijadikan meme. Nah, biasanya kan kejadian, kata-kata atau orang yang dijadikan meme adalah  yang meninggalkan 'rasa khusus' di khalayak. Film 'Satria Bergitar' yang cetar itu, adalah film pertama yang saya tonton di bioskop. Nama bioskopnya adalah Bioskop Permai. Lalu ada satu lagi Film yg dibintangi Rhoma yang juga saya tonton, Judulnya 'Gitar Tua' kalau tidak salah. Film ini saya tonton di Bioskop Lido. Kedua bioskop tersebut sudah ambruk dan diganti menjadi bangunan ruko.
Saya inget banget, nonton film 'Satria Bergitar' ketika Lebaran. Hasil panen 'salam tempel lebaran' saya belikan tiket bioskop. Mungkin umur saya saat itu sekitar 8 atau 9 tahun. Nonton beramai-ramai teman seumur sekitar 6-7-8 anak. Selain adik saya Yanti dan Yuli, saya lupa siapa lagi yang berangkat nobar tersebut.
Bisa dibayangkan jika sebagian anak-anak yang biasa wira-wiri, lari-lari di sepanjang gang, tiba-tiba menghilang bareng, tentu membuat panik para orang tua. Dan kemudian dari hasil investigasi terhadap para tukang becak yang merupakan sarana transportasi paling masuk akal buat mengantarkan kami, maka para ayah berhasil menemukan anak-anaknya di dalam bioskop.
Kejadian menghebohkan terjadi ketika film tiba-tiba dimatikan kemudian lampu dinyalakan hingga bioskop terang benderang. Lalu kami melihat Bapak berdiri di depan layar lebar, sementara terdengar pengumuman dari loud speaker biokop, "Kepada anak-anak bernama Rini, Yanti dan Yuli, diharap segera keluar bioskop karena sudah dijemput orang tuanya."
Serentak terdengar koor merdu dari penonton lain: "Huuuuuuu... Anak kecil, hayo pulang!"

Nah, kalau saya kemudian menjadi hobi nonton film di bioskop, bisa disebabkan "pengalaman traumatis" tersebut.


You May Also Like

0 komentar