Monday, October 30, 2017

Kebiasaan Burukku: Memakan Beras Mentah dan Biji Kopi

Gara-gara status Facebook seorang teman, aku jadi inget pada kebiasaanku dulu, yang dimulai saat hamil. Karena ngga bisa makan tapi merasa lapar dan kekurangan zat gula, aku jadi tergerak untuk ngemilin beras. Awal-awalnya pakai beras mentah yang baru keluar dari karung.

Jorok banget ya.

Lalu beras mentah dicuci pakai air panas. Hehe, berasnya jadi lembek tapi tetap krenyes-krenyes. Rasa manis dari karbo ternyata jadi nyandu banget itu.
Kebiasaan ini masih terus kulakukan walau anak telah lahir dan makan sudah normal. Hingga suatu saat aku ngegigit batu dari beras, krak! Patahlah salah satu gigi taringku. Dan sakitnya ampuuunnn..

Kapok?
Ngga tuh.

Kebiasaan makan beras berhenti gara-gara suatu hari aku mengunjungi seorang teman lama, lalu aku dibullynya,
"Gede ya lu sekarang."
Memang dia termasuk salah satu teman yang merasa bisa cuek mengkritikku.

Kalimatnya ampuh.
Dalem banget menusuk ke sanubariku.

Hari itu juga aku langsung menghentikan kebiasaan tersebut. Dan sebagai kompesasi atas kelebihan berat badan, aku olahraga jogging 'mati-matian'. Sehari aku bisa lari 5 km demi membakar lemak.

Sadis ya.

Rasanya si Teman patut kusematkan tanda "Motivator of The Year" di jidatnya.

Lalu tibalah aku di saat-saat harus melalui malam-malam panjang untuk belajar demi menggapai cita-cita (tsahhh..). Saya begadangan nyaris setiap malam
Kan berdasarkan sugesti turun temurun, biar kuat melek ya mesti ngopi. Sayangnya lambung saya ngga tahan dengan kopi. Maksudnya bubuk kopi yang diseduh. Maka yang saya lakukan adalah mengunyah biji kopi. Saya pikir, yang bikin melek itu karena kafein yang ada di kopi. Bukan karena air panasnya. Kecuali kalau karena kelolodan air panas, ya pasti melek semalaman walau tanpa kopi.
Iya kan?
Wah, saya emang cerdas koq. Plok.. plok.. plok...

Nah, aktifitas mengunyah dan efek kerja dari kafein di biji kopi, lumayan membantu saya bertahan melewati malam demi malam.

Dan kemudian ternyata walau sedang tidak bergadang, saya pun kecanduan mengunyah biji kopi. Terutama kalau sedang suntuk.

Lalu bagaimana cara saya berhenti?
Yaitu ketika saya menyadari kulit saya menjadi lebih kering setiap saya selesai memakan biji kopi. Ya memang kan sifatnya kopi itu hidroskopis alias menarik air. Maka akibatnya kelembaban kulit saya menjadi berkurang.



Dan meskipun sesungguhnya ada efek lain dari kebiasaan yang buruk tersebut, yaitu masalah pencernaan. Tetapi dasar ya, saya memang perempuan. Terhadap gangguan pencernaan saya masih bisa cuek. Walau merasakan sembelit itu sangat ngga enak. Namun begitu kulit terasa mengering, whoaaa langsung deh hal itu menjadi konsen utama. Segala hal diperjuangkan demi mengembalikan kondisi kulit. Jangankan cuma melawan sakaw ketagihan karbo dan kafein, ngebobol tabunganpun rela dilakukan untuk membeli segala macam krim agar kulit halus, sampai nyamukpun ngga berani nempel karena takut kepleset.


0 komentar:

Post a Comment

 
;