Sunday, November 26, 2017 0 komentar

Berbisnis Dengan Modal Minim dan Tanpa Produk Sendiri

Ngga punya produk tapi pingin bisa jualan? Dan mestinya yang menguntungkan .
Caranya udah buanyak yang tau dong ya...
Hu uh, tulll....
Anda bisa jadi Reseller, Dropshipper, Atau Affiliate.

Ngga punya banyak modal, tapi pingin jualan? Ya bisa dooong.
Di Zaman milenial sekarang, banyak banget fasilitas gratisan yang bisa dimanfaatkan. Anda bisa memakai cara sebagai berikut:

1. Manfaatkan wifi gratisanSstt..kadang saya melipir di sekitaran warung kopi cuma buat connect ke internet (kalau cuma buat 1-2 menit online). Kalau ngga masuk ke dalamnya, ngga mesti membeli kopi juga kan? 

2. Laman Facebook, Instagram dll Bisa jadi etalase gratisan anda
Whatsapps, messenger, Telegram Bisa jadi saluran komunikasi anda ke pelanggan, Lewat ketiga aplikasi ini telepon sudah bisa gratis kan?

3. Perbanyak database. Manfaatkan teman-teman maya dan teman yang bukan maya (maksudnya tetangga, teman sekolah, teman arisan, dll) untuk mendapatkan Calon Pelanggan Potensial anda.

4. Belajar Copy writing dan membuat visualisasi produk. Zaman online, ketertarikan Calon Pembeli terhadap produk bisa diprovokasi melalu emosi yang tertangkap secara visualmelalui foto atau video.Dan dari hasil olahan imajinasi karena membaca uraian anda tentang produk.

5. Dan sudah pasti, untuk berjualan anda butuh produk. Namun produk tersebut tidak harus punya anda. Maka carilah VENDOR (produsen). Dengan syarat produk tersebut harus memiliki kualitas terbaik, harga terbaik, komisi terbaik serta fitur yang diminati oleh pasar.

Selamat Berjualan.
0 komentar

Hadiah Ulang Tahun Buat Istri

Jono adalah seorang multi-trilyuner yang sangat sayang pada istrinya, sehingga segala barang yang dijual di dunia ini pernah dihadiahkan Jono kepada Si Istri.
Bulan November adalah bulan kelahiran Nyonya Jono, dan biasanya Jono memberikan hadiah ulang tahun kepadanya. Tahun lalu Jono pun menghadiahi istrinya sebuah lahan tanah di San Diego Hills.

Tentu saja istri Jono mencak-mencak mendapat hadiah tersebut, "Mengapa kali ini kau berikan aku hadiah ulang tahun berupa tanah itu?"
"Segala benda yang bisa dibeli di dunia ini sudah pernah kuhadiahkan padamu. Aku sudah kehabisan ide. Untung saja Sekretarisku adalah seorang yang cerdas, dia memberi usul tentang tanah itu. Selain itu, saat kusurvey, wilayah itu adalah daerah yang sangat indah, Sayang.
Si Istripun terdiam.

Bulan November tahun berikutnya, hari ulang tahun Nyonya Jono terlewati tanpa ia mendapat hadiah apapun dari Jono.


Saat istrinya menanyakan hal tersebut, Jono menjawab, "Bagaimana mungkin aku memberi hadiah padamu lagi? Sedangkan hadiah ulang tahunmu tahun lalu saja, sama sekali belum kau pakai."
Friday, November 24, 2017 0 komentar

Trotoar Milik PKL atau Pejalan Kaki?

Asal kata "Kaki Lima" itu adalah berdasarkan peraturan pada jaman Penjajahan Belanda mewajibkan setiap jalan besar harus menyediakan lahan selebar 5 kaki untuk trotoar (1 kaki = 30.48 cm. Jadi 5 kaki kurleb sekitar 1.5 meter).

Trotoar zaman dulu itu dikhususkan sebagai sarana berlalu lintas bagi rakyat jelata yang ngga punya kereta kuda. Makanya tempatnya di tepi. Tempat dimana manusia-manusia dipinggirkan. Sedangkan badan jalan digunakan untuk dilalui kereta kuda. Dengan demikian, untuk bisa merasakan lewat di badan jalan, ya mesti punya kereta kuda. Dan biasanya yang punya kereta kuda adalah para meneer yang kaya atau para priyayi.

Kemudian seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dan pertumbuhan urbanisasi yg membutuhkan peningkatan lapangan kerja, maka para pedagang melihat peluang berjualan di area tempat orang berlalu lalang. Yaitu trotoar. Mereka disebut Pedagang Kaki Lima, untuk menandai bahwa tempat mereka berdagang, ya, di area selebar 5 kaki itu.

Jadi, kalau sekarang ada yang merelokasi para PKL ke pasar, jelas salah besar lah. Tempat mereka harus di area trotoar, agar sesuai dengan namanya. Kalau PKL dipindah ke pasar, ya harus diganti dong namanya menjadi Pedagang Pasar.

Lalu mengenai Pejalan Kaki. Sesuai istilahnya, Pejalan Kaki adalah orang yang berjalan dengan menggunakan kaki. Kalau jalan dengan naik motor, itu namanya Ngojek.
Jadi, kalau namanya PeJALAN Kaki, seharusnyalah tempatnya melangkahkan kaki itu di JALAN. Mosok Pejalan Kaki berada di trotoar? Ya jadi Petrotoar. Ngga ada itu. Wagu.

Sekarang kan udah zaman milenial. Di zaman now, kereta kuda yang dulu melintas di badan jalan, udah diganti mobil. Bagaimana dengan trotoar?
Ya tetap lah difungsikan buat rakyat jelata yang selain naik mobil. Kalau jaman dulu naik sepeda onthel, karena sudah dimesinkan, maka sekarang jadi sepeda motor.

Untuk pejalan kaki dimana?
Hadeugh, masa sih masih mau berjalan kaki? Ngga capek? Lagian sekarang segalanya udah pakai mesin, mosok Situ masih pakai cara tradisional? Udah ngga ada tempatnya.


Plis, jangan jadi manusia jadul, deh.


sumber Facebook


0 komentar

Ketika Artis Itu Buka Jilbab, Saya Melakukan Hal Ini

Saya ingat saat itu 1 Ramadhan ketika saya memutuskan mengenakan jilbab. Tahun 1995. Saya dipanggil oleh Supervisor, lalu Sales Manajer bahkan Marketing Director yang dari Jepang, untuk menanyakan alasan saya memutuskan berjilbab.

Saat itu sayalah karyawan "Kantor Pusat" yang pertama memakai jilbab. Perusahaan mengkhawatirkan performa saya akan menurun jika berjilbab
Saya katakan, "Pak, andai karena memakai jilbab lalu penjualan saya menurun dalam tiga bulan, saya akan mengundurkan diri."

Nyatanya, memang sih saya mengundurkan diri setahun kemudian, tetapi karena saya mendapat 'posisi' dan gaji yang lebih baik di perusahaan lain.

Sejak kecil saya tinggal di lingkungan para santri, memakai "tutup kepala" bagi perempuan, adalah budaya keluarga kami. Lalu ketika saat SMP, SLTA dan (awal) bekerja saya melepas jilbab, setiap hari bathin saya mengganjal. Jujur saja saya sering malu sendiri dengan 'ketelanjangan' saya. Terutama jika tanpa sengaja bertemu dengan tetangga lama yang para santri itu. Dan ketika akhirnya saya memberanikan diri berhijab lagi, saya lega.
--
Ketika membaca berita Seseartis melepas hijabnya, buat saya bukan hal yang perlu dirumpiin. Hal ini bukan kejadian pertama, bukan? Beberapa tahun lalu ada Marshanda, misalnya.

Begitulah, keimanan dalam hati Seseartis tersebut mungkin saat ini sedang turun rendah. (Ups, bukan berarti iman saya tinggi. Iman saya juga kayak roller coaster, koq). Dan urusan iman itu hak prerogative nya Allah.  Adapun alasan yang dia kemukakan inilah-itulah, hanyalah kata-kata yang dia gunakan untuk menutupi kegundahan hatinya sendiri. Lalu, ada orang gundah, koq malah dihujat sana-sini. Ya akibatnya dia makin merasa resah.

Bukankah orang yang sedang galau to the max ini sebaiknya digandeng tangannya? Mengapa tidak kita sediakan telinga untuk mendengar curhatnya? Atau kita sediakan bahu untuk tempatnya menangis mengeluarkan unek-uneknya?

Kalau orang yang sedang gelap pikir malah dicaci, yaaah, maka makin masuklah ia ke dalam "goa" pengasingannya. Ia akan makin menjauh. Dan bukan tak mungkin, saya yakin 99,9%, kemudian Syaiton pun datang meniupkan hasutan di telinganya,
"Tuuuuh lihat, orang-orang yang dulu kamu pingin menirunya, ternyata kelakuan mereka begitu. Super nyinyir. Mereka mana mau tahu kegelisahan hatimu dalam mencari identitas kemuslimanmu. Yakin mau mengikuti ustadz itu? Lah, buktinya kamu sekarang jadi bahan ceramahnya, disindir-sindir sana-sini."
Yang paling ngeri adalah jika Syaiton berhasil menghasutnya untuk menjadi murtad. Audzubillah min dzalik.

Cukuplah apa yang dilakukan Seseartis itu menjadi muhasabah buat diri kita. Eh, diri aku deh, yang utama.
"Rin, tuh lihat. Kamu jangan begitu ya. Tetap istiqomah. Malah sebaiknya, usahakan tingkatkan ketakwaanmu."
-
Kadang-kadang, dalam upaya untuk menjadi manusia yang lebih baik, kita perlu mendapat contoh NYATA dari perbuatan buruk orang lain. Agar kita bisa mengambil pelajaran. Misalkan, anak-anak gadis saya perlu mendapat contoh kisah nyata dari gadis yang "MBA" di usia sangat muda. Sehingga mereka menjadikannya sebagai acuan untuk tidak melakukan hal yang sama.

Jadi kamu, eh saya ding, beruntung, bahwa yang memutuskan membuka jilbab akibat tekanan apapun itu, adalah dirinya, bukan terjadi pada saya. Sehingga saya bisa belajar darinya.




0 komentar

Jika Seluruh Dunia Abai Padamu

Tips lama ini masih relevan hingga sekarang. Trust me it works
---
Kurangi level bahagia dan perbanyak "ngersulo" maka kamu akan segera merasa mellow.
Kalau kau merasa dunia ini begitu kejam padamu. Tak ada seorangpun yang peduli. Rasanya semuaaaaa orang di dunia ini begitu abai. Telepon darimu tak dijawab. SMS tak berbalas. Pesan WA tak dibaca. Pokoknya mereka benar-benar acuh padamu.

Kau ada tapi tak terlihat.

Kau dianggap angin lalu?
Lebih parah dari itu. Angin itu ada dan terasa walau ia tak terlihat. Malah banyak orang yang berharap datangnya angin. Terutama setelah tercium ada orang yang buang angin.

Kalau kamu mengalami tragedi diabaikan seperti ini, jangan dulu putus asa lalu bergabung dengan teroris agar dijadikan jihadis pembawa bom. Itu bukan jihad yang dijanjikan surga. Malah mungkin malaikatpun tak sudi menyempatkan untuk menimbang amalmu. Bisa-bisa kau langsung ditendangnya ke neraka.

Tapi, kalau kau memakai caraku ini, percayalah, dalam waktu singkat teleponmu akan berdering terus tiada putus. Suara tang-ting-tung terdengar setiap setengah menit dari ponselmu, tanda ada pesan masuk. Beberapa hari kemudian orang-orang akan berbondong mendatangimu. Yang tadinya abai akan sontak peduli banget. Kau akan menjadi pusat perhatian mereka.

Mau tau caranya?
Sebenarnya cuma satu saja tips dariku.
Yaitu,
"Jangan bayar segala tagihanmu!"
Sederhana kan?
Nah. Selamat mencoba!


0 komentar

Kita Butuh Orang Brengsek

Iya, kita butuh mereka.
Butuh banget malah.
Kita butuh kelakuan mereka yang brengsek agar kita bisa memilih bertingkah sopan.
Kita butuh mulut-mulut brengsek yang selalu yang mencaci, agar kita bisa memilih bertutur  ucap secara santun.
Kita butuh mendengar kalimat-kalimat brengsek, agar bisa memilih memperdengarkan perkataan menyejukkan.
Kita butuh otak-otak yang berpikir ala brengsek agar kita bisa memilih bernalar secara waras.
Kita butuh orang-orang brengsek agar kita tidak menjadi Brengsek.
Dan apakah akan menjadi manusia yang brengsek atau tidak, kita yang memilih sendiri.


0 komentar

Pengalaman Dua Sisi Rel

Saat ini sedang diputar Film Naura and The Gank yang kabarnya adalah film bergenre film untuk anak-anak. Sempat terbit harapan di hati saya untuk membawa Safira dan Jasmine menonton film tersebut sebagai hiburan, mengingat sudah sangat jarang sekali ada film sejenis itu saat ini. Bahkan sekalipun film yang diimport dari Hollywood sana, sepanjang tahun 2017 ini rasanya belum ada lagi film baru buat anak-anak. Apalagi pada saat pemutaran film Perdana, saya membaca apresiasi dari salah satu penonton yang diundang, bahwa film tersebut mengandung unsur Pendidikan, sehingga layak untuk ditonton anak-anak.

Namun, belum lagi niat tersebut terlaksana, tiba-tiba saya membaca status Facebook salah satu teman saya yang memberikan penilaian negative terhadap film tersebut. Bahkan menghimbau agar film itu tidak ditonton, dengan alasan mendiskreditkan Islam, karena para tokoh antagonisnya berjenggot dan mengatakan beberapa kalimat talbiyah saat melakukan kejahatan. Dan himbauan dari status ini menjadi viral .

Disisi lain, pagi ini saya membaca lagi sebuah status Facebook juga yang justru memberikan pendapat berbeda. Menurutnya film ini layak ditonton. Dengan berbagai alasannya. Dan status ini pun kembali menjadi viral.

Akibatnya kedua kubu dari status pertama dan kedua pun saling bersitegang. Kasus seperti ini sudah biasa banget terjadi di media social. Pendapat A vs Pendapat B.
Yang disayangkan adalah kedua pihak lupa, bahwa tiap orang punya pendapat dan persepsi masing-masing berdasarkan pengalaman hidup, pembelajaran hidup serta keyakinan masing-masing.
Saya sebetulnya jenis orang yang tidak mudah setuju dengan pendapat orang lain. (Itu semacam 'kutukan' dari hasil didikan belasan tahun di bangku sekolah). Tetapi, walaupun saya MEMBANTAHnya, belum tentu saya MENYALAHKANnya. Saya  memahami, bahwa bisa saja pendapat tersebut menurutnya benar, karena pengalaman, pengetahuan serta pengetahuan yang didapatnya seperti itu. Saya membantah karena pengalaman yang saya alami, pengetahuan yang saya miliki, serta hal yang saya yakini bisa saja berbeda.
Seperti halnya dua orang -misalkan saya dan Mbak A- yang berjalan bersisian di dua sisi rel yang berbeda. Walaupun tujuan akhir sepasang rel tersebut sama, tapi pengalaman yang saya dapatkan tentu berbeda dgn pengalaman Mbak A yang berjalan di sisi yg berbeda. Kerikil yang kami injak berbeda. Mungkin saat berjalan di sisi saya, ada kotoran kambing di titik tertentu, sementara di sisinya tak ada. Bisa juga di titik lain ia harus melompati kubangan air, sementara di sisi saya lajurnya berpasir.
Teman yang mendengarkan cerita berdasarkan pengalaman saya, bisa mengatakan, "Kata  Rinny, jalur kereta itu banyak kotoran kambingnya, selain itu tracknya berpasir."
Sementara, teman lain yang mendengarkan cerita versi Mbak A, akan membantah dan mengatakan, "Ah mosok, Mbak A bilang jalur kereta itu banyak kubangannya loh. Berbatu-batu lagi. Saya sih percaya kalau Mbak A benar, wong itu pengalamannya koq."
Maka dua orang itu saling berbantahan berdasarkan dalil 'Cerita Mbak Rinny vs Cerita Mbak A'.
Apakah Mbak Rinny dan Mbak A salah? 
Lah, itu kan pengalaman 'kami' sendiri.

Apakah kedua mbak-mbak yang bertengkar salah?
Kan mereka mengutip pernyataan dari orang yang sama-sama mereka percayai koq.

Lalu siapa yang salah?
Yang salah adalah perilaku malas yang tidak mau check dan recheck.

Begitulah.
Buat saya, berita yang benar-benar absolut saya percayai adalah 'berita' yang dibawa Jibril kepada Rasulullah, yang tertulis dalam Al Qur'an, dan cerita yang dikisahkan oleh para Perawi Hadist shahih. Dua itu thok.
Sisanya -walau itu tertulis dalam Wikipedia, Majalah Times, Majalah Intisari, apalagi blog dan status orang yang tidak dikenal-, saya biasanya akan melakukan (dan saya menyarankan) check dan recheck.
Bila diperlukan, buatlah pengalamanmu sendiri. Agar pendapatmu shahih bagi dirimu sendiri.
(Saya jadi pingin menonton film tersebut, untuk memiliki pengalaman dari sisi rel saya.)


 
;