Ketika Artis Itu Buka Jilbab, Saya Melakukan Hal Ini

by - Friday, November 24, 2017

Saya ingat saat itu 1 Ramadhan ketika saya memutuskan mengenakan jilbab. Tahun 1995. Saya dipanggil oleh Supervisor, lalu Sales Manajer bahkan Marketing Director yang dari Jepang, untuk menanyakan alasan saya memutuskan berjilbab.

Saat itu sayalah karyawan "Kantor Pusat" yang pertama memakai jilbab. Perusahaan mengkhawatirkan performa saya akan menurun jika berjilbab
Saya katakan, "Pak, andai karena memakai jilbab lalu penjualan saya menurun dalam tiga bulan, saya akan mengundurkan diri."

Nyatanya, memang sih saya mengundurkan diri setahun kemudian, tetapi karena saya mendapat 'posisi' dan gaji yang lebih baik di perusahaan lain.

Sejak kecil saya tinggal di lingkungan para santri, memakai "tutup kepala" bagi perempuan, adalah budaya keluarga kami. Lalu ketika saat SMP, SLTA dan (awal) bekerja saya melepas jilbab, setiap hari bathin saya mengganjal. Jujur saja saya sering malu sendiri dengan 'ketelanjangan' saya. Terutama jika tanpa sengaja bertemu dengan tetangga lama yang para santri itu. Dan ketika akhirnya saya memberanikan diri berhijab lagi, saya lega.
--
Ketika membaca berita Seseartis melepas hijabnya, buat saya bukan hal yang perlu dirumpiin. Hal ini bukan kejadian pertama, bukan? Beberapa tahun lalu ada Marshanda, misalnya.

Begitulah, keimanan dalam hati Seseartis tersebut mungkin saat ini sedang turun rendah. (Ups, bukan berarti iman saya tinggi. Iman saya juga kayak roller coaster, koq). Dan urusan iman itu hak prerogative nya Allah.  Adapun alasan yang dia kemukakan inilah-itulah, hanyalah kata-kata yang dia gunakan untuk menutupi kegundahan hatinya sendiri. Lalu, ada orang gundah, koq malah dihujat sana-sini. Ya akibatnya dia makin merasa resah.

Bukankah orang yang sedang galau to the max ini sebaiknya digandeng tangannya? Mengapa tidak kita sediakan telinga untuk mendengar curhatnya? Atau kita sediakan bahu untuk tempatnya menangis mengeluarkan unek-uneknya?

Kalau orang yang sedang gelap pikir malah dicaci, yaaah, maka makin masuklah ia ke dalam "goa" pengasingannya. Ia akan makin menjauh. Dan bukan tak mungkin, saya yakin 99,9%, kemudian Syaiton pun datang meniupkan hasutan di telinganya,
"Tuuuuh lihat, orang-orang yang dulu kamu pingin menirunya, ternyata kelakuan mereka begitu. Super nyinyir. Mereka mana mau tahu kegelisahan hatimu dalam mencari identitas kemuslimanmu. Yakin mau mengikuti ustadz itu? Lah, buktinya kamu sekarang jadi bahan ceramahnya, disindir-sindir sana-sini."
Yang paling ngeri adalah jika Syaiton berhasil menghasutnya untuk menjadi murtad. Audzubillah min dzalik.

Cukuplah apa yang dilakukan Seseartis itu menjadi muhasabah buat diri kita. Eh, diri aku deh, yang utama.
"Rin, tuh lihat. Kamu jangan begitu ya. Tetap istiqomah. Malah sebaiknya, usahakan tingkatkan ketakwaanmu."
-
Kadang-kadang, dalam upaya untuk menjadi manusia yang lebih baik, kita perlu mendapat contoh NYATA dari perbuatan buruk orang lain. Agar kita bisa mengambil pelajaran. Misalkan, anak-anak gadis saya perlu mendapat contoh kisah nyata dari gadis yang "MBA" di usia sangat muda. Sehingga mereka menjadikannya sebagai acuan untuk tidak melakukan hal yang sama.

Jadi kamu, eh saya ding, beruntung, bahwa yang memutuskan membuka jilbab akibat tekanan apapun itu, adalah dirinya, bukan terjadi pada saya. Sehingga saya bisa belajar darinya.




You May Also Like

0 komentar