Friday, November 24, 2017

Pengalaman Dua Sisi Rel

Saat ini sedang diputar Film Naura and The Gank yang kabarnya adalah film bergenre film untuk anak-anak. Sempat terbit harapan di hati saya untuk membawa Safira dan Jasmine menonton film tersebut sebagai hiburan, mengingat sudah sangat jarang sekali ada film sejenis itu saat ini. Bahkan sekalipun film yang diimport dari Hollywood sana, sepanjang tahun 2017 ini rasanya belum ada lagi film baru buat anak-anak. Apalagi pada saat pemutaran film Perdana, saya membaca apresiasi dari salah satu penonton yang diundang, bahwa film tersebut mengandung unsur Pendidikan, sehingga layak untuk ditonton anak-anak.

Namun, belum lagi niat tersebut terlaksana, tiba-tiba saya membaca status Facebook salah satu teman saya yang memberikan penilaian negative terhadap film tersebut. Bahkan menghimbau agar film itu tidak ditonton, dengan alasan mendiskreditkan Islam, karena para tokoh antagonisnya berjenggot dan mengatakan beberapa kalimat talbiyah saat melakukan kejahatan. Dan himbauan dari status ini menjadi viral .

Disisi lain, pagi ini saya membaca lagi sebuah status Facebook juga yang justru memberikan pendapat berbeda. Menurutnya film ini layak ditonton. Dengan berbagai alasannya. Dan status ini pun kembali menjadi viral.

Akibatnya kedua kubu dari status pertama dan kedua pun saling bersitegang. Kasus seperti ini sudah biasa banget terjadi di media social. Pendapat A vs Pendapat B.
Yang disayangkan adalah kedua pihak lupa, bahwa tiap orang punya pendapat dan persepsi masing-masing berdasarkan pengalaman hidup, pembelajaran hidup serta keyakinan masing-masing.
Saya sebetulnya jenis orang yang tidak mudah setuju dengan pendapat orang lain. (Itu semacam 'kutukan' dari hasil didikan belasan tahun di bangku sekolah). Tetapi, walaupun saya MEMBANTAHnya, belum tentu saya MENYALAHKANnya. Saya  memahami, bahwa bisa saja pendapat tersebut menurutnya benar, karena pengalaman, pengetahuan serta pengetahuan yang didapatnya seperti itu. Saya membantah karena pengalaman yang saya alami, pengetahuan yang saya miliki, serta hal yang saya yakini bisa saja berbeda.
Seperti halnya dua orang -misalkan saya dan Mbak A- yang berjalan bersisian di dua sisi rel yang berbeda. Walaupun tujuan akhir sepasang rel tersebut sama, tapi pengalaman yang saya dapatkan tentu berbeda dgn pengalaman Mbak A yang berjalan di sisi yg berbeda. Kerikil yang kami injak berbeda. Mungkin saat berjalan di sisi saya, ada kotoran kambing di titik tertentu, sementara di sisinya tak ada. Bisa juga di titik lain ia harus melompati kubangan air, sementara di sisi saya lajurnya berpasir.
Teman yang mendengarkan cerita berdasarkan pengalaman saya, bisa mengatakan, "Kata  Rinny, jalur kereta itu banyak kotoran kambingnya, selain itu tracknya berpasir."
Sementara, teman lain yang mendengarkan cerita versi Mbak A, akan membantah dan mengatakan, "Ah mosok, Mbak A bilang jalur kereta itu banyak kubangannya loh. Berbatu-batu lagi. Saya sih percaya kalau Mbak A benar, wong itu pengalamannya koq."
Maka dua orang itu saling berbantahan berdasarkan dalil 'Cerita Mbak Rinny vs Cerita Mbak A'.
Apakah Mbak Rinny dan Mbak A salah? 
Lah, itu kan pengalaman 'kami' sendiri.

Apakah kedua mbak-mbak yang bertengkar salah?
Kan mereka mengutip pernyataan dari orang yang sama-sama mereka percayai koq.

Lalu siapa yang salah?
Yang salah adalah perilaku malas yang tidak mau check dan recheck.

Begitulah.
Buat saya, berita yang benar-benar absolut saya percayai adalah 'berita' yang dibawa Jibril kepada Rasulullah, yang tertulis dalam Al Qur'an, dan cerita yang dikisahkan oleh para Perawi Hadist shahih. Dua itu thok.
Sisanya -walau itu tertulis dalam Wikipedia, Majalah Times, Majalah Intisari, apalagi blog dan status orang yang tidak dikenal-, saya biasanya akan melakukan (dan saya menyarankan) check dan recheck.
Bila diperlukan, buatlah pengalamanmu sendiri. Agar pendapatmu shahih bagi dirimu sendiri.
(Saya jadi pingin menonton film tersebut, untuk memiliki pengalaman dari sisi rel saya.)


0 komentar:

Post a Comment

 
;