Friday, November 24, 2017

Trotoar Milik PKL atau Pejalan Kaki?

Asal kata "Kaki Lima" itu adalah berdasarkan peraturan pada jaman Penjajahan Belanda mewajibkan setiap jalan besar harus menyediakan lahan selebar 5 kaki untuk trotoar (1 kaki = 30.48 cm. Jadi 5 kaki kurleb sekitar 1.5 meter).

Trotoar zaman dulu itu dikhususkan sebagai sarana berlalu lintas bagi rakyat jelata yang ngga punya kereta kuda. Makanya tempatnya di tepi. Tempat dimana manusia-manusia dipinggirkan. Sedangkan badan jalan digunakan untuk dilalui kereta kuda. Dengan demikian, untuk bisa merasakan lewat di badan jalan, ya mesti punya kereta kuda. Dan biasanya yang punya kereta kuda adalah para meneer yang kaya atau para priyayi.

Kemudian seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dan pertumbuhan urbanisasi yg membutuhkan peningkatan lapangan kerja, maka para pedagang melihat peluang berjualan di area tempat orang berlalu lalang. Yaitu trotoar. Mereka disebut Pedagang Kaki Lima, untuk menandai bahwa tempat mereka berdagang, ya, di area selebar 5 kaki itu.

Jadi, kalau sekarang ada yang merelokasi para PKL ke pasar, jelas salah besar lah. Tempat mereka harus di area trotoar, agar sesuai dengan namanya. Kalau PKL dipindah ke pasar, ya harus diganti dong namanya menjadi Pedagang Pasar.

Lalu mengenai Pejalan Kaki. Sesuai istilahnya, Pejalan Kaki adalah orang yang berjalan dengan menggunakan kaki. Kalau jalan dengan naik motor, itu namanya Ngojek.
Jadi, kalau namanya PeJALAN Kaki, seharusnyalah tempatnya melangkahkan kaki itu di JALAN. Mosok Pejalan Kaki berada di trotoar? Ya jadi Petrotoar. Ngga ada itu. Wagu.

Sekarang kan udah zaman milenial. Di zaman now, kereta kuda yang dulu melintas di badan jalan, udah diganti mobil. Bagaimana dengan trotoar?
Ya tetap lah difungsikan buat rakyat jelata yang selain naik mobil. Kalau jaman dulu naik sepeda onthel, karena sudah dimesinkan, maka sekarang jadi sepeda motor.

Untuk pejalan kaki dimana?
Hadeugh, masa sih masih mau berjalan kaki? Ngga capek? Lagian sekarang segalanya udah pakai mesin, mosok Situ masih pakai cara tradisional? Udah ngga ada tempatnya.


Plis, jangan jadi manusia jadul, deh.


sumber Facebook


0 komentar:

Post a Comment

 
;