Wednesday, May 30, 2018 0 komentar

Keliru Bag. 2


Kisah Trisha:
Kembali aku melirik ke aplikasi pesan Whatsapp-ku. Hmm, masih belum ada respon darinya. Padahal pesanku telah bertanda dua centang biru. Berarti ia telah membacanya. Sampai kapan ia mengacuhkanku? Padahal sekarang aku cemas karena bagian penagihan kartu kreditku telah dua kali menelpon. Berarti tagihan kartu kreditku belum dibayarnya.

“Yang, lagi sibuk ya, sampai-sampai pesanku belum dibalas. Ngga apa-apa deh. Nanti malam aja ya telepon kamu. Kangen nih.” Kuketik sebaris kalimat ini, lalu SEND. 
Haha, ini adalah trikku agar ia mau menelponku. Karena ia sangat tidak ingin kutelepon di malam hari.

Dan benar saja, dua menit kemudian ponselku berbunyi.
Dari dia.
“Hallo, Yang. Ih, kemana aja sih? Udah seminggu lebih kita engga ketemu.”Aku menyambut panggilannya dengan suara manja. Ia pernah bilang, dia suka padaku karena aku manja seperti kucing. Kau tahu, padahal yang sesungguhnya seperti kucing itu dia. Ia suka jika kupeluk dan kubelai. Ia bilang, istrinya sudah tidak sempat memesrainya karena selalu sibuk dengan berbagai organisasi yang diikuti dan 3 perusahaan yang dikelolanya.

“Aku sibuk. Kau tahu kan, aku bukan pengangguran!” Dia menjawab kalimatku dengan nada tegas.
Uh, tegas apaan. Dia sering menunduk-nunduk pada atasannya. Pada cukong-cukong. Daaan, di kakiku. Tapi tentu aku harus berperan dengan baik kan? Demi tagihan kartu kreditku yang sudah jatuh tempo.

“Iya, dong tau. Mosok  Ayangku pengangguran sih. Seindonesia juga kenal siapa kamu. Semalam kamu muncul di wawancara di KosmoTV kan? Bahas undang-undang tenaga kerja kalau tidak salah ya, Yang?”

“Kamu menonton acara itu?” Aku menangkap nada bangga dalam suaranya.

“Yaiyalah. Seperti kata Ayang, aku harus tahu perkembangan dunia politik tanah air, jadi Ayang bisa ajak aku diskusi. Begitu kan?”

“Nah, itu baru benar Trisha Cantik.”

“Huuu…mana bisa Trisha jadi cantik kalau engga perawatan ke salon. Tapi mau ke salon engga punya duit.”

“Baru awal bulan aku kirimin duit 5 juta. Mosok sudah habis?”

“Iya, aku udah terima. Terima kasih Ayang. Tapi uangnya udah aku belikan baju. Kita kan mau ke San Fransisco tanggal 18?”

“Loh, emangnya aku mengajak kamu?”

“Iyaaaaa. Kan Ayang sendiri yang bilang. Ayang berangkat dengan rombongan kantor, nanti aku menyusul. Aku udah bikin visa, loh, Yang.”

“Aduh, aku lupa! Aku sudah membelikan tiket buat Diandra dan Mamanya. Kami akan berangkat barengan rombongan.”

“Yaaa, Ayang koq gituuu? Aku sedih banget, Yang. Padahal aku udah siap-siap. Udah cerita-cerita juga mau diajak pacarku ke San Francisco.”

“Apa! Kamu cerita sama siapa saja soal kita?”

“Idiiih, ngga kusebut namalah , Yang. Aku tahu. Aku harus menjaga kredibitasmu di mata public. Lagian. Emangnya aku bodoh? Terus kalau sampai MBak Dewi tahu, aku pasti dilabraknya. Aku ngga bisa ketemu kamu lagi. Padahal aku udah cinta banget ama kamu.” Aku menambahkan sedikit suara sedih dan isakan di ujung kalimatku. Sedikit saja. Tidak terlalu sedramatis di sinetron kan?

“Jangan sedih dong, Trisha Cantik. Maaf ya, aku benar-benar lupa kalau sudah mengajakmu.”

“Terus visa yang sudah aku buat bagaimana?”

“Ya, sudah, nanti kita pergi lain kali, berdua, ya. Kali ini aku mau ajak Diandra dulu. Sebentar aku transfer 20 juta, ya. Jadi kamu bisa ke Sogo berbelanja.”

Yess!
Tunggu dulu, aku harus tahan diri.

“20 juta? Tiket ke San Francisco saja berapa?”
“Jadi maumu berapa?”
“Aku kan sayaaaang banget pada Ayang. Aku ngga maulah merongrong orang yang kusayangi. Aku terima berapapun yang Ayang kasih. Tapi Ayang jangan juga jahat dong ama aku. Katanya sayang ama aku.”

“Baiklah. 30 juta. Nanti aku pulang dari San Francisco kutambahi. Tapi selama aku pergi kamu jangan dugem. Jangan dekat temamu si Sisil yang pakai shabu-shabu. Nanti kamu ketularan. Aku terseret-seret juga.”

“Si Sisil mah bodoh, Yang. Mau aja dibujuk pakai narkoba. Aku ngga sebodoh itu. Kau tahu aku bersih kan?”

“Iya, sih. Justru karena itu aku sayang ama kamu.”
“Aku juga Cuma cinta ama Ayang. Ngga ada lelaki lain dihatiku.”
Pret! Dalam hatiku sendiri menertawai kalimatku. Tentu saja, selama ia masih menjadi tambang uangku, aku tidak butuh lelaki lain. Selain itu, aku hanya akan berhubungan intim dengan satu lelaki dalam satu rentang waktu. Demi kesehatanku sendiri.

Berhubungan intim?

Yaiyalaah…
Lelaki mana yang mau mengeluarkan uang puluhan juta tiap bulan tanpa mendapat imbalan apa-apa? Dan imbalan yang bisa diberikan oleh perempuan apalagi jika bukan alat kelaminnya? Memangnya dia ayahku?

“Ok deh. Aku kerja dulu, ya. Nanti kutelepon lagi.”

“Yang, tunggu!” aku harus buru-buru menegaskan sebelum ia lupa dengan berbagai urusannya. “Kapan mau transfer? Sekarang, yak an?” aku harus mensetel kembali suara merayuku.
“Ok. Nih, aku sambil transfer.”

“Yang, kamu lupa kartu kreditku be;lum dibayar ya? Cuma 15 juta.”

“Ya ampuuunn.. Uang lagi!”

“Tapi debt collector udah nelponin aku terus, Yang. Nanti kalau mereka sampai datang ke rumah, terus tahu aku sering didatangi kamu, gimana?”

“Baik. Aku bayar juga, sekarang.”
“Terima kasih, ya Yang. Kamu memang kekasihku yang paliiing baik. Nanti malam ke rumah?”

“Mana bisa. Aku ada rapat koordinasi dengan kementerian. Mungkin sampai malam.”

“Besok siang aja, kalau gitu. Gimana? Di Mahakam?”

“Engg…nanti kukabari deh.”

“Aku kangen, loh, Yang. Kamu engga kangen?”

“Iya. Iya. Udah dulu, ya. Aku ada tamu.”

“Ok, Sayangku. Pujaanku. Selamat bekerja. Hihi, jangan lupa transfer dan bayar kartu kreditku, ya?”

“Iya. Iya.”

Byee.. Sayang.”

Aku menutup telepon dengan perasaan puas. Dan makin puas ketika ponselku berbunyi karena ada sebuah notifikasi dari bank yang menyatakan ada dana masuk sebesar 30 juta ke rekeningku.

Muuaaah, I luv you, Ayang Dewan.
Hemm, maksudku, I luv your money.
Hehe…

Saturday, January 27, 2018 0 komentar

IQRA - Bacalah!

Perintah pertama Allah kepada Rasululullah Sallahu 'alaihi wassalam adalah: "Iqra!" -
"Bacalah'
Agar pengetahuan bertambah.

Dengan membaca, kita bisa belajar hal yang baru. Ilmu-ilmu agama yang belum kita tahu, kita baca (pelajari) dari Al Qur'an dan Al Hadist. Begitupun dengan membaca kita bisa menambah ilmu pengetahuan lainnya. Sekarang mudah saja untuk mencari bahan bacaan. Selain kita bisa membaca buku"fisik", kita juga bisa membaca buku elektronik, membaca dari blog-blog dakwah para ustadz, bisa nonton di youtube, dsb.

Dengan membaca, seorang lulusan teknik seperti saya, bisa mempelajari cara membuat kue, bahkan bagaimana cara membuat laporan keuangan, misalnya.

Asalkan kita MAU.
Jadi kuncinya adalah MAU atau TIDAK MAU membaca. Mau atau tidak mau belajar.

"Iqra!"
Bacalah.

Dengan membaca kita jadi tahu. Asalkan kita pandai MEMILIH referensi yang tepat. Kalau kita salah memilih acuan bacaan, yang terjadi adalah malah jadi SOK TAU. Merasa tahu padahal salah.

Indikator salah atau tidaknya pengetahuan yang kita miliki adalah DI HATI. Karena seperti kata Dorce : "Kebenaran itu milik Allah".

Jika kita belajar ilmu pengetahuan yang benar, maka kita makin dekat dengan Allah. Sebaliknya ilmu pengetahuan yang salah, akan menyesatkan. Karena ilmu pengetahuan yang salah, ya, sudah pasti merupakan hasil olahan syetan. Sudah sunatullah, bahwa "hobi" syetan yang utama adalah menyesatkan.

‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. [Al-A’râf/7:16-17]

Jadi, ketika kita baru belajar sedikit ilmu, koq malah jadi sombong, semua orang dianggap goblok, sedikit-sedikit mengkritik, merasa tinggi hati, coba dicek jangan-jangan ilmu kita salah.

Dicek aja, salahnya dimana: sumber bacaan kitakah yang salah? 
Guru yang mengajarkan yang salah? 
Atau jangan-jangan HATI kita yang salah karena niat belajar yang salah? 

Niat belajar salah misalnya tujuannya untuk "menghabisi" seseorang dalam perdebatan untuk memuaskan ego agar dianggap sebagai orang yg paling alim (arti alim: berilmu). Nah pada ego lah menjadi celah bagi syetan untuk masuk. Outputnya, praktek ilmu dalam tingkah laku sehari-hari jadi salah.

"Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
---
Note:
*sebetulnya 'kita' ini adalah 'AKU ', cuma aku terlalu malu untuk otokritik, sehingga mengajak kamu.
Maafkan hatiku yang salah.




 
;