Tuesday, October 8, 2019 0 komentar

Pecel Ayam

#Fiksi_Schatzi

Terik sang surya perlahan maherat. Puncak kepalaku yang terpanggang panas matahari seharian, berdenyut-denyut. Aku haus dan lapar.

Perlahan aku beringsut dari satu mobil ke mobil berikutnya yang sedang mengantri mengisi bahan bakar. Tanganku terulur memamerkan kaligrafi sederhana yang sudah seminggu ini tidak ada yang laku terjual satu pun, kepada para pengemudi. Walau setiap kali aku mendapat gelengan kepala atau tatapan acuh, aku masih terus tersenyum saat menawarkan daganganku ke pengemudi mobil berikutnya.

Nyanyian di perutku kian nyaring saat hari kian menggelap. Begitu pun, kuabaikan rasa perih di lambungku. Toh, aku telah terbiasa berpuasa berhari-hari. Tapi aku teringat Saijah, istriku, yang terbaring lemah di atas kasur karena diabetes yang dideritanya. Kata dokter di Puskes, Saijah mestinya disuntik sehari 3x sebelum makan. Hanya saja, jangankan uang untuk membeli obat suntik, untuk membeli beras setengah liter saja, kami tidak punya.

Bagi Saijah, makan atau tidak makan sama-sama membuatnya menderita. Hanya kekuasaan Sang Maha Pencipta yang membuat ia tetap bernapas di tengah ketidakberdayaannya. Mungkin karena Tuhan menginginkan ada seseorang yang menemani hidupku.

Jika tidak ada Saijah, aku tidak setabah ini menjalani hari-hari terpanggang dalam panasnya kota, tanpa harapan kehidupan kami akan berubah. Saijah dan senyum lemahnya yang membuatku bersemangat setiap pagi datang, karena kutahu ia percaya padaku. Kesabaran Saijah lah yang menyebabkanku kuat menerima garis hidup yang nyaris setiap hari harus kulewati dalam keadaan lapar.

Adzan maghrib telah lama selesai berkumandang. Aku keluar dari mushalla kecil di sudut SPBU untuk kembali mengembangkan kemungkinan akan membawa pulang sepuluh-duapuluh ribu rupiah.
Antrian mobil di SPBU tidak sebanyak tadi petang. Maka aku beringsut ke trotoar. Menawarkan dagangan pada orang-orang yang lalu lalang.
Walau berharap, aku tidak kecewa ketika nyaris semua pejalan kaki menggeleng. Hingga kulihat sepasang suami-istri berjalan ke arahku.
Aku menatap tepat ke mata si lelaki. Biru, seperti langit yang cerah. Aku tersenyum. Dia pun membalas senyumku.
“Ayat Kursi, Mister,”

“Ha?”

Lelaki itu tampak tidak paham pada kalimat tawaranku. Aku mengulurkan salah satu kaligrafiku. Menunjukkan hurup-hurup ayat Al quran itu padanya.

“Berapa?” tanya si Istri. Orang Indonesia.

“25 ribu, Bu.”

Andai dia menawar 10 ribu pun aku akan melepas barang itu. Aku butuh uang untuk membeli nasi buat istriku.

Suami-istri itu berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Lalu kulihat si Suami merogoh saku celananya, dan menyerahkan selembar uang kertas kepada istrinya, sambil mengatakan sesuatu. Si Istri kemudian memberikan uang itu kepadaku.

“Kami beli satu, ya, Pak.”

Aku ragu saat melihat uang kertas berwarna merah yang sekarang berada dalam genggamanku.
“Tidak ada kembaliannya, Bu.”

“Tidak usah. Buat Bapak saja.”

“Beneran, Bu?” aku memandang kepada si Istri lalu ke si Suami, yang mengangguk dan tersenyum. Refleks kusalami dan kucium punggung tangan lelaki itu sebagai ungkapan syukurku. Dengan uang itu, besok pagi, Saijah bisa ke Puskes, dan kami punya uang untuk beli nasi untuk 2 hari.
Suami-istri itu pun berlalu dari hadapanku.

Hatiku menyuruhku cepat-cepat pulang. Tetapi entah mengapa kakiku seolah malas melangkah. Aku masih berdiri di tepi trotoar. Mencoba menawarkan daganganku kepada orang lain lagi. Berharap masih ada yang mau membeli.

Hingga bermenit-menit kemudian, aku melihat lagi suami-istri tadi datang kembali menujuku dari arah berbeda. Tampaknya mereka dari minimarket, karena kedua tangan si suami menjinjing beberapa kantong plastik.

Mereka lewat di depanku. Aku sedikit terkejut ketika mereka tersenyum dan mengangguk menyapaku. Pandanganku mengikuti punggung mereka.

Di depan sebuah tenda penjual makanan kaki lima, mereka berhenti dan tampak berbicara.
Sekali lagi, kulihat yang perempuan mendekatiku.
“Bapak sudah makan?”

Aku terdiam. Apa maksudnya?

“Kalau belum makan, yuk, makan dengan kami di situ,” dia menunjuk ke sebuah warung tenda makanan yang didirikan di trotoar.

“Ngga usah repot-repot, Bu, terima kasih,” tentu saja aku berbasa-basi. Karena saat mendengar tawaran itu, seketika irama nyanyian di perutku bergema makin keras.

“Saya ngga repot, koq. Kan bukan saya yang masak”, kata perempuan itu dengan setengah bercanda. “Yuk, Pak.”
Dengan gembira, aku membuntuti langkah perempuan itu menuju tenda kaki lima.
“Bapak mau makan apa? Pesan aja,” katanya sambil duduk di sebelah suaminya. Aku memilih duduk di kursi sudut terjauh. Bau badanku yang terpapar panas matahari seharian, tentu tidak sedap tercium oleh orang lain.
“Pecel ayam boleh, Bu?”

“Boleh... boleh...” dia tersenyum. “Pak, pecel ayam, ya buat bapak itu,” ucapnya pada penjual makanan, menunjuk padaku.

“Apa lagi, Bu?”

“Itu saja.” Jawabnya. Lalu perempuan itu tampak berpikir. Kemudian, “Bapak tinggal di mana?”

“Di sebelah timur kota, Bu.”

“Jauh?”

“Kira-kira satu jam berjalan kaki dari sini.”

Aroma ayam yang sedang digoreng seketika menyeruak ke penciumanku. Perutku makin perih.

“Bapak tinggal dengan siapa di situ?"

“Istri saya.”

“Anak?”

Aku menggeleng. Sejak berbelas tahun lalu keempat anakku satu persatu berangkat merantau ke negeri jauh sebagai pembantu rumah tangga. Hanya tahun-tahun awal saja mereka masih berkirim kabar. Namun entah sudah berapa ribu hari tak ada warta dari mereka dalam bentuk selembar suratpun.

“Kalau begitu, bungkus lagi 3 porsi ayam dan nasi ya, Mas.” Perempuan itu berkata kepada penjual makanan, lalu menoleh kembali padaku, “satu porsi buat makan istri bapak, malam ini. Yang dua porsi buat sarapan, ya, Pak.”

Aku mengangguk-angguk dengan perasaan penuh terima kasih.

“Ibu dan Mister tidak makan?” tanyaku heran karena melihat mereka hanya duduk-duduk mengobrol.

“Kami sudah makan tadi di hotel,” jawab perempuan itu sambil menunjuk ke sebuah bangunan sangat tinggi yang berjarak beberapa ratus meter dari warung tenda. Aku kembali mengangguk-angguk.

Aku makan dengan cepat. Wajah Saijah menari-nari di pelupuk mataku. Sabar Saijah, tahan sebentar lagi laparmu. Malam ini aku pulang dengan membawa pecel ayam untuk mengganjal perutmu.

Sebentar lagi, sekali dalam hidup, kita mengenal kata berpesta, Saijah. Kita akan merasakan makan pecel ayam, seperti orang-orang kaya.

Tiba-tiba rasa ingin bertemu Saijah begitu kuat, membuat aku tidak sanggup mengunyah pecel ayam yang kucecap begitu nikmat di lidah. Aku ingin menikmatinya berdua dengan teman hidupku.

“Mas, punya kertas koran?” tanyaku pada penjual makanan.

“Mau dibungkus, Pak?” tanyanya.

Aku mengangguk malu-malu ketika dengan sudut mataku, kedua suami-istri yang tadi sedang mengobrol, kini memperhatikanku. Kuterima kertas cokelat pembungkus, lalu dengan hati-hati mengemas sisa separuh nasi, dan ayam goreng yang baru kunikmati kulitnya saja.

“Bawa sekalian bungkusan yang itu, Pak.” Lelaki dengan bahasa Indonesia yang aneh itu berkata padaku sambil menunjuk kantong plastik berisi bungkusan tiga porsi pecel ayam.

“Terima kasih, Mister, Bu. Saya pamit, ya?”

Mereka mengangguk.

Aku bergegas meninggalkan warung tenda. Sempat kudengar si suami bertanya berapa yang harus dibayarnya. Aku tidak mau mendengar jumlah yang disebutkan oleh pedagang pecel ayam. Aku malu menghabiskan uang orang lain sebanyak itu, selain takut menyesal jika mendengar harga makanan yang dibelikan mereka untukku dan Saijah.

Aku tengah berdiri di tepi jalan menanti lalu lintas menyepi untuk menyeberang, ketika kudengar suara seorang perempuan berteriak.

“COPET!”

Aku tidak mungkin salah, perempuan yang membelikan aku pecel ayam, yang tengah berteriak sambil menunjuk ke sebuah motor yang melaju kencang. Suaminya berlari mengejar motor itu.

Aku berada di depan mereka. Dorongan hatiku yang tidak suka perempuan itu dijahati, membuatku refleks menerjang menghadang laju datangnya motor.

Brak!

Kulihat motor terjatuh ke sisi kanan jalan. Saat yang sama kurasakan tubuhku menghempas aspal.
Napasku tersengal-sengal merasakan sakit di punggung. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku untuk bangun.

“Pak... Bapak... jangan bergerak dulu.” Kudengar suara berbahasa Indonesia yang aneh di dekat telingaku. “Kami akan memanggil ambulans.”

Ambulans?

Aku mau dibawa ke rumah sakit?

Tidak!

Jangan!

Aku harus pulang. Saijah menungguku.

Aku kembali berusaha bangkit. Tetapi sekarang bukan hanya kakiku yang tidak bisa bergerak. Dunia serasa bergelombang dan bergoyang-goyang. Bau amis tercium entah dari mana.

“Bapak... Bapak jangan bergerak. Nanti pendarahannya makin hebat. Ambulans sedang menuju kemari,” pria bersuara aneh itu berkata padaku lagi.

Oh, jadi aku berdarah? Banyakkah? Apakah pecel ayam itu terkena darahku? Aduh, jangan! Tentu rasanya akan sangat tidak enak nanti. Padahal aku ingin sekali saja seumur hidupnya Saijah makan enak.

Kemudian aku menyadari sesuatu. Sebelum terlambat, aku harus mengatakannya.

“Tolong antarkan ini ke Saijah,” aku mendorong tas plastik berisi bungkusan pecel ayam kepada lelaki itu, sebelum kegelapan yang lebih gelap dari malam tergelap menyelubungiku.
Tuesday, September 10, 2019 0 komentar

Perahu Lain


”Mega, kalau misalkan aku, kamu, dan ibumu sedang naik perahu, lalu perahu itu akan tenggelam, sementara kita cuma punya satu pelampung, kepada siapa pelampung itu akan kau berikan?” suatu hari Tristan bertanya pada istrinya.

“Gimana, sih? Kamu ngga tau peraturan keselamatan apa? Udah tahu yang mau berlayar lebih dari satu orang, kenapa pelampungnya cuma satu?” jawab Mega dengan nada bercanda.

“Andaikan kita berada dalam kondisi begitu. Tolong jawab aja pertanyaanku.” desak Tristan.

“Hm, aku yang akan memakai pelampung itu. Karena jika aku selamat, aku bisa menyelamatkan orang lain,” jawab Mega.

“Siapa orang yang akan kau selamatkan? Aku atau ibumu?”

Pertanyaan ini membuat Mega terkesima. Ia tentu tidak ingin dianggap lebih mementingkan salah satunya, karena mereka sama pentingnya dalam hidup Mega.

“Aku tidak ingin mengesampingkanmu, Mas. Kau penting bagi hidupku. Tetapi ibuku telah sepuh. Ia belum tentu punya tenaga yang cukup untuk bertahan, maka prioritasku adalah menyelamatkan ibu. Kutahu, kau kan cukup mahir berenang. Kau akan bisa berjuang sendiri mencapai pantai. Aku juga akan berharap ada perahu lain segera datang menyelamatkanmu. Jika tidak ada, aku akan segera kembali untuk menyelamatkanmu.”

“Hm, begitu ya?”
Lalu Tristan diam termenung. Membuat Mega merasa bersalah atas jawaban yang diberikan. Ia begitu khawatir suaminya merasa tersinggung.

“Tidak... tidak... aku tidak marah. Itu kan hanya pengandaian, Sayang,” ucap Tristan ketika Mega berkali-kali membujuk meminta maaf atas jawabannya.

Mega menyeka airmatanya ketika mendengar keputusan Tristan. Ia memohon agar Tristan membatalkan niatnya. Ia mengiba. Ia hancur ketika suaminya bergeming.

“Ibuku akan tenggelam dalam kesedihannya, Mega. Ia merasa bersalah, karena ia yang menyuruh bahkan memaksa Taufik berangkat menjemputnya. Padahal adikku itu sedang sakit kepala saat menyetir. Akibatnya Taufik lalai. Dan kecelakaan itu merenggut nyawanya. Aku harus mematuhi permintaan ibuku, Mega, untuk menebus rasa bersalahnya.”

“Tetapi, mengapa keputusan itu yang kau ambil?”

“Kau tidak akan bisa kan menerima separuh aku?”
Mega menggeleng.

“Kalau begitu keputusanmu, aku yang akan tenggelam dalam kesedihan, Mas. Belum-belum hatiku sudah hancur begini.” Mega bersimpuh di lantai. Memegang lutut suaminya.

“Kau tidak akan hancur, Mega. Kau perempuan paling kuat yang kukenal. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu ada untuk membantumu, jika kau butuhkan.”

Mendengar kalimat itu, Mega seolah telah terhempas dari perahu. Jeritan minta tolong menggema di dadanya. Tetapi tidak ada yang mendengar. Karena secara perlahan, ia mulai tenggelam dalam keputusasaan.
Gelap!
Sunyi!
Dunianya mati!
Ia pun akan segera mati...
Tiba-tiba sebuah hentakan keras membawanya kembali ke permukaan kehidupan,
“Bertahanlah, Mega!” Samar-samar ia mendengar suara dari kejauhan.
Sepasang tangan terus menarik tubuhnya, menjauhkannya dari gelombang lautan tanpa harapan. Membawa Mega yang penuh luka.

“Bernapaslah. Buka matamu. Hiduplah, Mega! Kau akan baik-baik saja,” sebuah suara berbisik di telinganya. Menenangkan.

Mega membuka mata. Ia tersenyum melihat ke sekitar.
Lalu menarik napas dalam-dalam.
“Ya, aku akan terus bertahan hidup,” ucapnya dalam hati.
Ada perahu lain datang menyelamatkannya.
Monday, September 9, 2019 0 komentar

Pekerjaan Terakhir


#Fiksi_Schatzi
Kebudayaan dan perilaku manusia dari zaman ke zaman semakin berubah. Manusia yang semula adalah makhluk sosial, yang saling akrab dengan lingkungan, semakin lama kian terasing satu sama lain. Mereka terisolasi oleh beban pekerjaan demi mendapatkan uang pembeli benda-benda yang menaikkan status sosial mereka. Makhluk-makhluk sosial yang kini menjadi yang berubah menjadi masyarakat materialis.
Ah, ya, maaf. Mereka tidak 100 persen berubah. Mereka tetap dengan fitrah yang selalu ingin bersosialisasi. Tapi sosialisasi dalam kungkungan semesta material. Manusia sekarang bertemu, bercakap-cakap, bercanda bahkan menangis melalui komputer, laptop, dan terbanyak melalui ponsel.
Manusia sekarang juga relatif pendiam. Mereka berbicara melalui tulisan, mengungkapkan emosi melalui simbol lingkaran kecil, atau menceritakan aktifitas melalui video beberapa detik yang bergerak berulang-ulang, yang disebut teknik boomerang.
Teknologi terbaru terus ditemukan. Maka orang modern harus juga terus memperbarui sarana penggunaan teknologi tersebut. Gawai-gawai harus selalu terkini.
Semua itu ditebus dengan harga yang tidak murah. Maka manusia modern butuh bekerja keras.
Memang para pekerja tidak perlu lagi datang ke kantor dan berdiam di sana antara pukul 9 pagi hingga 5 sore. Segala data telah terkoneksi secara online, tersimpan dalam 'cloud store', sehingga bisa diunduh dan diunggah dari mana saja.
Bekerja bisa dilakukan di kafe, di taman, di kamar tidur, atau di lobi bioskop. Bahkan kini sudah tak heran lagi jika toilet dipakai berlama-lama, karena seseorang yang sedang berada di dalam sana, melakukan aktifitas buang kotoran sambil terhubung dengan entah siapa, yang entah berada di bagian dunia mana.
Terlihat asik, tetapi sesungguhnya mereka membawa beban stress kemana-mana. Ke kafe, ke taman, ke kamar tidur, ke bioskop, termasuk juga ke toilet.
Begitulah. Manusia sekarang terkoneksi global, sekaligus kesepian. Banyak terlihat bersantai dan berlibur, namun kepalanya berputar aneka hal yang menjadi beban stres bahkan depresi.
Aku memiliki sebuah perusahaan jasa pembersihan rumah dan apartemen, berlokasi di Otorii. Bisnis ini sudah berjalan selama 7 tahun. Anak buahku 3 orang. Belakangan, Karena melihat peluang kebutuhan pelanggan, bisnisku melebar ke jasa pergudangan.
Para pelanggan kami biasanya para pekerja bujangan, yang menjadikan apartemennya hanya sebagai tempat untuk mandi dan tidur pada malam hari. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dan nongkrong di pub.
Kami jarang bertemu dengan pelanggan secara langsung. Mereka mengorder jasa kami melalui aplikasi, memilih jenis layanan yang mereka inginkan, lalu membayar. Kunci apartemen mereka titipkan di suatu tempat, sehingga kami bisa mengerjakan tugas di saat mereka sedang berkegiatan di luar rumah. Memang integritas dan kepercayaan pelanggan menjadi  modal utama kami.
Hingga di suatu hari terjadi hal yang tidak kami duga.
Sore hari itu ketika aku dan karyawanku tengah berkemas setelah selesai membersihkan sebuah apartemen di Ota-ku Nishikōjiya, seseorang mengaku inspektur dari Kepolisian menelponku.
Inspektur Hashida mengatakan bahwa ia dan anak buahnya sedang mengidentifikasi sesosok mayat yang telah membusuk di sebuah apartemen di kawasan Omorinaka. Dari ponsel yang berada di saku mayat, didapati nomor telepon perusahaan kami adalah nomor yang terakhir dihubungi dan menghubungi balik ke ponsel itu.
Sore itu juga aku dan ketiga karyawanku diinterogasi di Kantor Polisi Omori di Ota-City. Kami dicurigai karena sidik jari kami bertebaran di TKP. Kami dikenai tahanan kota dan wajib melapor setiap 2 hari sekali hingga didapat bukti kami tidak bersalah. Untunglah tidak sampai seminggu kemudian, polisi memperoleh saksi yang memberi keterangan bahwa korban, Yashori Isigawa, masih hidup dan sarapan di kedai langganannya di pagi hari setelah kami bertugas membersihkan apartemen lelaki itu.
Sebagai rasa syukur karena terbebas dari tuduhan, aku menawarkan jasa membersihkan apartemen Yashori. Polisi mengizinkan dan pemilik apartemen menyetujui.
Tak perlu waktu lama setelah membuka pintu apartemen yang telah tak berpenghuni itu, ketiga pegawaiku muntah-muntah. Bau protein dan lemak yang telah membusuk benar-benar membuat isi perut memberontak. Belatung sebesar kelingking bergeliat di berbagai sudut rumah. Dengan memakai masker oksigen kami membersihkan setiap sudut rumah.
Kami mengepak dan mencatat daftar jumlah dan merek pakaian dan sepatu. Membuat katalog buku-buku, lukisan, foto-foto, hingga peralatan makan. Kami mencatat dengan detil jenis dan jumlah setiap benda yang ada di dalam apartemen. Jika suatu saat kerabat atau ahli waris Yashori ditemukan, seluruh benda itu akan diserahkan. Butuh bekerja dua hari penuh untuk membersihkan apartemen 3 ruang itu.
Walau semula kuniatkan mengerjakan dengan gratis, namun pemilik apartemen memaksaku menerima imbalan jasa yang lumayan besar. 5 kali dari tarip normal. Dia senang melihat apartemennya telah rapi dan bersih, sehingga bisa segera disewakan kembali.
Malam hari setelah kami serah terimakan kunci apartemen yang telah bersih ke pemiliknya, aku dan ketiga karyawanku mengobati mual kami dengan meneguk bercangkir-cangkir sake di izakaya.
Sejak itu perusahaanku sering mendapat pekerjaan membersihkan apartemen atau rumah yang menjadi TKP dimana ditemukan mayat yang telah membusuk. Pekerjaan berat,  terbukti tak banyak perusahaan pembersih yang bersedia mengerjakan pekerjaan menjijikan ini.
Dari satu tugas pembersihan ke tugas pembersihan, membuat perusahaanku terkenal. Para pemilik apartemen puas dengan pekerjaan kami, karena apartemen mereka menjadi lebih bersih, dan benda-benda yang ditinggalkan tercatat dengan baik. Permintaan membersihkan bukan hanya dari Tokyo dan sekitarnya. Tak jarang kami ke Osaka, Minami Uonuma, atau Matsumoto yang berjarak ratusan kilometer dari Otorii.
Dari tugas-tugas itu aku mengamati persamaan para 'kastemer' kami. Mereka adalah orang-orang yang hidup sendiri di tengah hiruk-pikuk dan sibuknya kota Tokyo. Kerabat dan teman membersamai dalam bentuk foto-foto dalam suasana ceria yang terpajang di pigura atau tersimpan rapi dalam album foto. Kami nyaris selalu mendapati benda-benda berteknologi tinggi di dalam tas kerja atau di kamar tidur mereka. Dan sesekali boneka seukuran manusia, sebagai teman tidur.
Hingga suatu hari aku menyadari bahwa diriku tak ubahnya dengan para 'kastemer-kastemer' kami itu. Kastemer yang kutulis dengan tanda petik, karena mereka memberi kami pekerjaan justru setelah mereka tinggal berupa jasad terabaikan. Mereka membuat aku sadar, bahwa hidupku tidak ubahnya seperti mereka.
Aku telah berusia 48 tahun. Setelah lulus kuliah, aku bekerja apa saja. Dari mulai menjadi pramuniaga di toko swalayan, sales mainan anak-anak yang berjualan dari pintu ke pintu, petugas pengantar barang, hingga akhirnya aku membuat perusahaan sendiri.
Menjadi pemilik bisnis justru membuatku sibuk luar biasa. Aku harus berjuang mendapatkan order agar para karyawanku bisa digaji tepat waktu, membayar cicilan peralatan, membayar sewa kantor, biaya operasional, juga menopang biaya hidup ibu yang tinggal di Utsunomiya, kampung halaman beliau.
Maka hari-hariku dilewati dengan bekerja dan bekerja. Aku jarang berlibur karena di akhir pekan justru permintaan membersihkan apartemen lebih banyak. Aku pun lupa, kapan terakhir kali aku memiliki pacar.
Aku pun memutuskan merubah kebiasaanku. Aku tidak lagi memenuhi ajakan minum di izakaya, dan berhenti mengunjungi pink salon untuk mendapatkan kenikmatan seksual. Aku kini memulai rutinitas harian dengan jogging di pagi hari, lebih rajin menelpon ibu dan para tetua keluarga. Dan mulai mendelegasikan sebagian tugas kepada pegawai senior agar aku punya waktu mengunjungi kerabat dan teman.
Aku hanya tidak ingin mengalami nasib seperti para 'kastemer'ku.
Tetapi tidak sepenuhnya upayaku berhasil. Sebagian besar orang-orang yang kukunjungi tampak terganggu dengan kedatanganku. Walaupun ketika aku memberitahukan akan menjenguk, mereka tidak menolak. Maka kunjungan-kunjunganku hanyalah bertamu secara singkat. 30 menit adalah rekor terlama. Aku tidak sedih, karena aku paham mereka orang-orang sibuk. Sama seperti aku dulu.
Hari ini aku datang ke kantor setelah lebih dari seminggu berlibur. Hari masih sangat pagi ketika aku membuka pintu. Ruangan-ruangan masih lengang. Aku mengamati papan jadwal pekerjaan dengan tersenyum puas. Jadwal kerja kami penuh hingga 3 bulan ke depan.
Aku menuju ruang peralatan, dan kembali tersenyum puas. Perusahaanku telah memiliki alat-alat pembersih dengan teknologi baru, yang sebagian besar diantaranya telah dibayar lunas. Bisa dikatakan hutang usahaku kini sangat sedikit jika dibandingkan beberapa tahun terakhir saat bisnis kami melesat.
Jam 7.30, dari depan kudengar suara klik pintu terbuka, lalu dengungan suara-suara karyawanku masuk.
Aku sedikit terkejut ketika Kisenoshato membuka pintu ruang kerjaku, dia tersenyum ke arahku lalu membungkuk mengucapkan selamat pagi. Lalu berturut-turut karyawanku yang kini berjumlah 15 orang, muncul di pintu, membungkuk dan mengucapkan selamat pagi juga.
Jam 7.40 aku mendengar Shato mengumumkan rapat harian akan dilangsungkan 5 menit lagi.
Pukul 7.45 saat aku memasuki ruang rapat, kelimabelas karyawanku telah berkumpul. Aku mendengar suara napas tertahan dan sekilas tatapan terkejut dari mereka ketika aku duduk di kursi kosong di ujung meja rapat.
Setelah berdeham, Shato berdiri,
"Ah, Pak Bos, tidak kami sangka anda akan hadir di rapat hari ini. Izinkan saya memimpin rapat pagi ini." Karyawan paling seniorku itu kembali membungkuk ke arahku. Karyawan lain pun mengikuti. Aku membalas membungkuk pada mereka.
"Silakan," jawabku.
"Selamat pagi semua," Ujar Shato membuka rapat. Wajahnya tiba-tiba menjadi keruh, "Sebenarnya, aku berat menyampaikan pengumuman ini. Yah, sama seperti tiap kali kita mendapatkan pekerjaan seperti ini. Jadi pada pukul 9 semalam, aku mendapat telepon dari Inspektur Hashida. Ia mengabarkan bahwa mereka telah selesai memindahkan jenazah dari sebuah rumah di jalan Haginaka, kemarin sore. Dan menanyakan apakah kita akan mengambil pekerjaan membersihkan rumah itu? Inspektur mengatakan bahwa pihak asuransi akan membayar biayanya."
"Sudah tentu kita akan mengambil pekerjaan itu. Seandainya pun kita tidak dibayar, aku mau melakukannya."
Aku tersenyum lebar mendengar semangat dalam suara Kitaro. Tetapi tentu aku tidak setuju jika kami tidak dibayar. 
"Baiklah, Isei dan Miya, kau yang memimpin jadwal pembersihan kita di kastemee lain. Aku sendiri yang akan memimpin pembersihan rumah di Haginaka itu. Baiklah begitu saja rapat hari ini. Ayo kira bergegas." Lalu Shato membungkuk ke arahku, "Demikian rapat pagi ini, Bos." Kemudian ia ke luar ruangan.
Karyawan lain ikut membungkuk, dan pergi.
Aku terkejut.
"Hai, Shato! Hai! Kau anggap aku sudah jompokah sehingga kau tidak mengajakku melakukan pembersihan hari ini? Aku ikut!"
Tetapi tentu Shato tidak mendengar teriakanku. Ia sudah menuju ke gudang untuk mengambil peralatan kerja.
Aku menggigil ketika truk yang dikemudikan Shato berhenti di depan sebuah rumah. Tampak beberapa helai sisa pita kuning garis polisi menempel di pagar rumah, yang dicabut asal-asalan.
Shato yang telah mengambil kunci rumah di kantor polisi sebelum ke sini tadi, membuka pintu dengan tangisan tersedak-sedak di tenggorokannya. Dadaku pun serasa tercabik.
Bagaimana bisa ini terjadi?
Berapa lamakah mayat itu baru ditemukan? Apakah sudah membusuk?
Mengikuti Shato, aku masuk ke rumah yang telah sangat kukenal. Tetapi berbeda dengan suasana dulu, rumah ini sekarang tampak sangat lengang. Ruang duduk terasa lapang tanpa berbagai perabotan yang biasa kulihat.
Kemudian Shato dengan dibantu dua karyawan lain, menurunkan peralatan dari truk, lalu mereka bekerja dalam diam.
"Pekerjaan di rumah ini akan cepat selesai." Ujar salah satu karyawanku saat memandangi kotak-kotak kayu di kamar tidur. "Bos telah melakukan sebagian besar pekerjaan ini sebelum kita."
"Ya, kau benar. Bos bahkan sudah membuat katalog dan menuliskan alamat-alamat panti sosial dan perpustakaan di masing-masing kotak. Sehingga kita bisa dengan mudah menentukan akan mengirim barang-barang ini sesuai kehendaknya."
Bos? Apakah aku yang mereka maksud?
"Andaikan aku sedikit peka, mestinya aku mengeceknya ketika ia tidak datang ke kantor," Shato berujar saat ia berada di dalam ruang tidur, sambil merapikan setumpuk foto-foto.
"Kau tidak bersalah, Pak Sato, karena Bos kan pamit mau berlibur. Dan memang dia sudah pergi berlibur 2 kali dalam dua tahun ini. Dan setiap kali selalu membawa oleh-oleh buat kita." Salah satu anak buahku menghibur Shato.
"Yah, kau tahu Wan, aku berharap mengharapkan oleh-oleh darinya. Bukan berita duka cita tentangnya." Timbal karyawanku lainnya.
"Hush! Sudah-sudah!" Hardik Shato. "Kau tahu, aku masih saja merasa ia berada di kantor setiap hari. Itulah sebabnya aku selalu mampir ke ruangannya untuk mengucapkan selamat pagi dan selamat petang."
Dan lalu segalanya menjadi jelas bagiku.
Ya, Memang. Di hari ulang tahunku ke 50, aku memutuskan mengakhiri cerita hidupku di dunia ini.
Aku izin cuti selama 3 hari, yang kupakai untuk merapikan barang-barangku, memasuki ke kotak-kotak dan melabeli kotak tersebut. Semula aku ingin mengirimkan sendiri barang-barang tersebut melalui jasa kurir, tetapi aku khawatir di saat terakhir aku berubah pikiran. Tak mungkin kan meminta kembali barang-barang yang sudah kau sumbangkan? Sedangkan barang itu bermanfaat saat kau hidup, yang jika kau membeli baru, tentu akan menghabiskan sebagian tabunganmu.
Maka aku membuat surat wasiat mengenai seluruh harta bendaku, dan melimpahkan operasional perusahaan kepada Shato.
Segala hal ini kupelajari semua dari mantan-mantan kastemerku, yang seringkali meninbulkan begitu banyak masalah di akhir dan setelah kehidupan mereka. Bukan hanya masalah mengurus jenazah yang telah membusuk karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu tak diketahui kematiannya. Namun seringkali barang-barang peninggalan mereka tak terurus, dan memenuhi gudang penyimpanan perusahaan kami. Karena bertahun-tahun barang tersebut tak bertuan, dengan persetujuan pengacara, satu persatu barang-barang yang memiliki nilai, kami jual sebagai biaya ganti sewa gudang.
Aku tak ingin semua itu terjadi padaku. Maka aku memutuskan sendiri akhir cerita hidupku.
Ketika seluruh barang-barang telah selesai kukemas dan kulabeli, serta seluruh sudut rumah telah bersih kusikat dan kuseka, sebelum menelan segenggam pil tidur, aku membuat email yang kuatur akan mengirim surat elektronik itu pada waktu tertentu, meminta inspektur agar memeriksa rumahku, sehingga ia bisa menemukan jenazahku ketika tubuhku masih hangat dan bakteri pembusuk belum sempat menggerogoti daging-dagingku.
Aku puas dengan pekerjaan terakhirku
0 komentar

Biaya Masuk SMK Caraka Nusantara

Memilih sekolah yang tepat adalah salah satu tugas orang tua dalam mempersiapkan masa depan anak-anaknya. Sekolah menengah tingkat atas adalah titik awal yang cukup menentukan arah sebelum anak duduk di bangku kuliah. Sehingga sejak di SMA anak diarahkan untuk mengambil jurusan IPA, IPS atau Bahasa. Penjurusan ini memberikan pondasi bagi anak jika ingin mengikuti perkulihan sesuai minatnya.

Namun, selain SMA Umum, pemerintah juga menyediakan alternatip sekolah tingkat menengah yang mengajari keahlian dan keterampilan tertentu, yang disebut dengan Sekolah Menengah Kejuruan, atau disingkat SMK, yang bertujuan menyiapkan tenaga kerja muda yang berketerampilan dan handal.

Menurut pendapat penulis, salah satu SMK terbaik di Jakarta adalah SMK Caraka Nusantara.

SMK Caraka Nusantara memiliki 2 jurusan yaitu Kimia Analisis dan Farmasi. 

Adapun kesempatan bekerja bagi jurusan Kimia Analisis adalah:
- Industri Kimia
- Industri makanan dan minuman
- Industri Farmasi
- Industri Kosmetik
- Industri Plastik
- dan sebagainya.

Sedangkan para lulusan SMK jurusan Farmasi dapat bekerja pada
- Apotek
- Rumah Sakit
- Industri Farmasi
- Industri Alat Kesehatan
- Industri Kosmetik
- Industri Jamu

Bersekolah di SMK sangat membantu berakselerasi jika siswa bermaksud melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Adapun persyaratan masuk sekolah ini adalah:

-Memiliki Ijazah SMP dengan nilai Matematika dan IPA minimal 7.
-Umur maksimal 16 tahun
-Berkelakuan baik
-Dinyatakan oleh pihak berwenang bahwa calon siswa bebas dari penggunaan narkoba
-Tidak buta warna, tidak tuna fisik dan tidak ada gangguan pendengaran
-Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama pendidikan.
-Bersedia ditempatkan di luar wilayah DKI Jakarta saat Praktek Kerja Industri

Adapun biaya masuk SMK Carana Nusantara untuk tahun ajaran 2020-2021 adalah sebesar Rp. 7.500.000
Biaya tersebut sudah termasuk
-SPP bulan Juli 2020
-Biaya Praktikum
-Biaya Ekstrakuliler : OSIS, Mading, Marching Band.

Namun belum termasuk
-Buku-buku
-Pakaian seragam (kurang lebih 1.2 juta rupiah ).

Lama Pendidikan:
Jurusan Kimia Analisis : 4 tahun
Jurusan Farmasi: 3 tahun

Catatan:
-Bagi murid yang membawa 1 orang teman, akan dikenakan potongan bea masuk sebesar Rp. 1.000.000,-
-Early Bird untuk pendaftaran adalah sebesar 6.500.000 (masa akhir program ini bisa ditanyakan langsung ke pihak sekolah.)

Informasi pendaftaran bisa langsung ke
Komplek Pulogebang Permai Blok H4 No. 10, Kec. Cakung,  Jakarta Timur

Monday, September 2, 2019 0 komentar

Pelangi Hitam (Bagian 1)


Aku berbaring di kamarku di Moore-Hill Dormitory dengan pikiran lalu-lalang. Menimbang-nimbang apakah akan turun ke kantin untuk membeli makanan, atau mengisi lambungku dengan minum berliter-liter air hangat saja. Selain karena sedang malas untuk bergerak ke kantin, aku juga tahu bahwa sisa uang jatah bulan ini mulai menipis. Memang aku bisa menelpon ke Jakarta untuk minta tambahan uang saku, tetapi aku merasa gengsi. Masak aku tidak bisa seperti ribuan mahasiswa lain yang sanggup membiayai hidup hanya dengan mengandalkan uang beasiswa.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarku
"Siapa?" Tanyaku setengah berteriak.
"Special delivery service," jawab suara dari arah depan pintu.
"Sebentar!"
Aku segera gerubukan mengganti kaos usang dan celana pendekku dengan pakaian yang lebih pantas. Dengan terburu-buru aku memupurkan bedak ke wajah dan mengoleskan lipstik ke bibirku.
Aku mengenali suara itu.
Aku membuka pintu dengan senyum lebar, karena yakin pertolongan terhadap laparku telah datang.
Benar saja. "Chicken fajita dari Arturo's," seru orang yang berdiri di depan pintu sambil mengulurkan kantong kertas berwarna cokelat. "Aku tahu pemalas sepertimu pasti belum makan karena enggan beranjak ke kantin."
Dengan suka cita aku membongkar bungkusan itu.
"Oh, Drei. Kau memang penyelamat hidupku. Kau selalu bisa membaca jalan pikiranku."
"Tidak gratis, Nona." Drei ikut mengambil satu potong Chicken Fajita, lalu duduk di sebelahku. "Aku sedang suntuk. Dua pekan ini tugas bertubi-tubi datang ke mejaku. Jadi aku membawa ini sebagai sogokan agar kau mau menemaniku jalan-jalan."
"Ke mana?" tanyaku sambil mengunyah.
"Entah. Aku juga belum punya ide. Kita ke Zilker, atau keliling kota? Aku cuma ingin ada seseorang duduk di sisiku, berbagi cerita tentang apa saja."
"Oh, kasihan sekali. Kau jomblo yang merana."
"Jangan didramatisir. Hidupku tidak sesengsara itu. Aku punya seseorang yang bisa kuandalkan."
"Kalau itu, aku sudah tahu. Betapa berartinya aku bagimu kan?" Aku berkata dengan nada bangga, sambil mengambil sepotong lagi fajita.
"Jangan besar kepala! Hei, jangan dihabiskan! Aku juga masih mau!" Ia menatap fajita terakhir yang siap masuk ke mulutku.
"Nih, kubagi separuh." Aku menggigit separuh dan sisanya kusuapkan ke mulutnya. Ia mengunyah dengan cepat lalu minum dari gelasku.
"Aku masih lapar. Cari makanan, yuk." Drei menarik tanganku agar aku berdiri. Aku buru-buru meraih sandal di bawah meja dengan kakiku.
"Cari? Beli!" Godaku.
"Iya, kita beli makanan. Kau yang bayar." ujarnya sambil mengunci pintu kamarku.
"Kau tak kasihan padaku, mahasiswa bermodalkan beasiswa? Kalau malam ini aku mentraktirmu, bisa-bisa aku akan menanggung kelaparan selama dua minggu tersisa hingga jatah beasiswa bulan depan datang."
"Oh, air mataku hampir jatuh mendengar penderitaanmu," olok Drei.
Lelaki itu meraih bahuku saat kami berjalan bersisian di sepanjang lorong kamar-kamar asrama yang riuh. Beberapa kali ia mengangguk dan membalas sapaan teman-teman yang berpapasan dengan kami.
Kami memutuskan membeli kebab dari food truck yang parkir tidak jauh dari asrama. Lalu memakan makanan yang rasanya telah dimodifikasi menjadi lebih mirip daging barbeque ala Texas, namun dengan tambahan kulit kebab, sambil berkendara menuju ke pusat kota.
"Kita akan kemana, Drei?"
"Entah. Nanti aku akan berhenti, kalau ingin berhenti. Yang jelas, aku tidak akan menculikmu."
"Aku tidak khawatir soal itu."
"Oya? Kenapa?"
"Kalau kau menculikku, tak ada jalan lain, orang tuaku akan memaksamu menikahiku. Enak saja, mana bisa kau lolos setelah menculik anak perempuan orang?"
"Aku pernah berpikir, mungkin sebaiknya aku menikahimu saja, daripada pacaran dan putus berkali-kali karena merasa tidak cocok dengan mereka."
Aku tertawa tergelak-gelak hingga air mataku menggenang.
"Lalu kau akan melepas predikat high quality jomblomu, yang telah kau pertahankan bertahun-tahun? Kau akan kehilangan kesempatan menaklukan para barbie dengan lirikan mautmu, Drei."
"Brengsek! Aku tidak pernah memacari barbie!"
"Yah, satu-dua orang diantaranya memang punya otak. Tetapi sebagian besar mereka hanya bermodalkan dada membusung dan tubuh aduhai."
"Tidak semua perempuan bisa membahas tentang teori quantum-nya Planck atau tentang fotolistrik sebagai obrolan kala senggang, sepertimu, Jihan!" Balasnya dengan kesal.
"Aku seburuk itukah bagimu, Drei?" Aku menatapnya pura-pura ngeri.
"Bagiku, efek kehadiranmu jauh lebih mengerikan dibandingkan mereka, Jihan. Belakangan kusadari, aku takut jika hidup tanpamu. Lihatlah pada siapa aku berlari setiap kali aku mengalami saat-saat berat dalam hidup? Padamu. Begitupun, kau orang pertama yang selalu kucari jika aku mendapat kabar gembira. Aku selalu ingin membagikannya kepadamu, sebelum kepada orang lain. Bukan kepada orang tuaku atau pacarku saat itu."
Aku tergagap.
"Kurasa itu karena kebiasaan kita bertahun-tahun saja, Drei."
"Ya, kita sudah terbiasa bersama bertahun-tahun. Lalu bagaimana jika suatu saat nanti kau menikah, lalu suamimu melarang aku menemuimu lagi? Atau jika istriku cemburu padamu?"
"Jika saat itu tiba, mungkin kita akan berubah, Drei," jawabku dengan lemah. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan hal itu mungkin terjadi kelak.
Drei terdiam. Ia berkonsentrasi pada lalu lintas yang macet. Menyetir di sini, harus ekstra waspada. Karena tak jarang mobil di depan menyalakan lampu sinyal akan berbelok, hanya sedetik sebelum sopir memutar setirnya.
Setelah hampir satu jam kami membelah keramaian lalu lintas kota yang masih sangat padat pada pukul sepuluh malam itu, Drei memutuskan memarkirkan mobilnya di tepi jalan di samping Zilker Park.
"Melanjutkan pembicaraan kita tadi," Drei menarik napas dalam. Setelah menghembuskannya perlahan, dia mengucapkan kalimat yang membuatku tergugu, "Menikahlah denganku, Jihan. Agar hal itu tidak terjadi pada kita."
Apa-apa ini?
Aku kalut ketika kulihat ada keseriusan di matanya.
Oh, tidak!
Tidak!
Aku bukan perempuan setipe pacar-pacar Drei selama ini. Jauh dari itu.
"Kita tidak saling mencintai, Drei."
"Tetapi setidaknya kita saling menyayangi," bantah Drei dengan keras kepala. "Dengan meyayangi, kita tidak akan saling menyakiti, Jihan. Seperti halnya yang telah pernah kita alami dengan kekasih-kekasih kita sebelumnya."
"Kau memaksa, ya? Seperti biasa." Aku memelototinya.
"Aku berjanji akan berubah. Apapun, agar kau lebih nyaman. Karena kalau kita bertengkar terus, kepada siapa lagi aku akan mengadu nanti?"
"Rayuan gombal! Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Grace, pacar edisi terbarumu?"
"Oh." Drei nyengir. "Kami bertengkar beberapa hari lalu."
"Tentang?"
"Kami berbantahan gara-gara kebijakan imigrannya Trump si Brengsek itu. Dan perempuan itu, kau tahu, pendukung berat Trump. Huh! Dengan kulit pucatnya, dia pikir dia warga asli Amerika, sehingga merasa lebih superior dibanding para imigran? Kukatakan padanya, untuk menelusuri nenek moyangnya, bukan tidak mungkin mereka berasal dari Inggris atau negara Eropa lain. Tapi yah..." dia mengangkat bahunya.
Aku tergelak-gelak, "Kau memutuskan pacarmu hanya gara-gara dia pendukung Trump?"
"Kau tahu, aku selalu alergi berhadapan dengan orang rasis."
"Tapi kau pernah jatuh cinta padanya kan?"
"Mungkin baru sampai pada tahap menyukainya. Belum benar-benar mencintainya. Buktinya aku baik-baik saja ketika putus darinya," jawab Drei.
"Karena ada aku yang selalu jadi tempat pelarianmu untuk curhat." Kataku menyombongkan diri.
"Ya, Jihan, ya. Dalam keadaan bagaimana pun, aku akan selalu baik-baik saja. Karena aku tahu, aku memiliki sahabat terbaikku." Drei mengenggam tanganku, lalu mengecupnya.
Aku menarik napas panjang. Sebal pada irama jantungku yang tiba-tiba berdebar kencang.
Bukan baru sekali ini Drei melakukannya, biasanya aku menanggapinya dengan tanpa pretensi. Tetapi kenapa sekarang aku merasa berbeda?
Malam Sabtu, suara keramaian anak-anak asrama yang sedang bercengkerama dan membakar sosis di taman Moore Hills terdengar riuh hingga ke kamarku di lantai 3. Biasanya aku ikut bergabung dengan mereka. Bergosip atau bermain kartu. Tetapi malam ini aku ingin segera tidur.
"Ting!"
Suara tanda ada pesan masuk ke ponselku.
"Kau punya janji kencan malam ini?"
Demikian isi pesan pendek dari Drei, yang baru masuk di aplikasi WeChat.
"Aku ngantuk. Semalam begadang, dan tadi nyaris 6 jam aku bekerja di lab membantu Kate," balasku.
"Oke. Kubawakan TacoBell saja, ya. Tidak ada pilihan lain, karena aku sudah order." Isi pesan berikutnya dari Drei.
Begitulah cara kami bertukar pesan. Sering tak 'nyambung', tapi kami saling paham maksud yang tersirat.
Sambil makan makanan yang dibawa Drei, kami nonton film di Netflix. Tiba-tiba, aku teringat pada tugas kuliahku, aku segera menyalakan komputer di meja belajar.
"Drei, aku punya pertanyaan yang kuyakin kau bisa membantu menjawabnya. Begini, jika ada masalah di operation unit yang mengalami triple efek dari evaporator yang biasanya menggunakan 7% sodium hidroxide, lalu...."
Drei memperhatikan layar komputer dari belakang punggungku, ikut menganalisa masalah yang kuperlihatkan padanya.
"Kenapa?" bisiknya di telingaku.
"Apakah dibutuhkan pemanasan agar efek yang diinginkan bisa memberikan hasil seperti yang diharapkan? Uap panas dari boiler terpasang sebesar 125 psi..."
"Bukan itu pertanyaanku. Kenapa kamu gemetar?"
"Sialan! Karena kamu menempel di punggungku!"
"Biasanya tidak berpengaruh padamu. Kenapa sekarang berbeda?"
"Entah. Aku..."
Tiba-tiba aku merasa seperti tercekat dan sesak napas sekaligus, ketika kusadari bibir Drei mendarat di bibirku.
"Haha, bernapas, Jihan. Bernapas." Drei menepuk-nepuk pipiku. "Aku cuma mengecupmu. Belum menciummu."
Aku belum benar-benar pulih dari shock, saat terdengar suara pintu kamarku ditutup, dan langkah ringan Drei menjauh.
Brengsek kau, Drei!
 
;